Kearifan Lokal itu Sebuah Nilai

K. A. Dardiri Zubairi

Rulis, Sumenep
; “Di wilayah manapun di dunia ini, apakah dalam komunikasi masyarakat, suku atau etnis tertentu bahkan  negara tertentu, pasti memiliki kearifan, dan berbeda dari kelompok satu dengan kelompok lain,” demikian dikatakan K.A. Dardiri Zubairi pada tayang siaran langsung Bincang Literasi melalui saluran instagram, Minggu malam (28/5/23) di kanal Rumah Literasi Sumenep. (Rulis).

Bincang Literasi dengan mengambil topik “Menjaga dan Merawat Kearifan Lokal” itu dipandu oleh Bintu Assyatthie, perempuan penulis, yang juga aktivis Rumah Literasi Sumenep, diikuti puluhan warganet.

Menurut Dardiri, kearifan lokal itu di bagi tiga bentuk. Pertama, nilai-nilai dalam sebuah komunikasi masyarakat berbeda antar satu komunitas dengan komunitas yang lain

“Yang saya maksud dengan nilai itu adalah adanya prilaku. Dalam masyarakat manapun pasti ada acuan, apakah sebuah perilaku itu dianggap patut atau tidak patut menurut komunitas itu?
Itulah yang kemudian disebut nilai,” jelasnya

Kemudian yang  kedua, tambah penulis yang melahirkan beberapa buku itu, yaitu pengetahuan. Setiap komunitas pasti memiliki pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan  hidupnya.

“Misalnya setiap komunitas mungkin cara bertaninya berbeda, karena pengetahuan yang diwariskan melalui kearifan dari satu generasi ke generasi itu sangat tergantung bentuknya. Kadang beda, kadang juga sama. Tergantung konteks tempat di mana mereka tinggal, misalnya di masyarakat pesisir mata pencahariannya mungkin berbeda dengan pegunungan,” ungkap pemerhati budaya Madura itu..

Jadi karakter masyarakat tersebut dari generasi ke generasi membentuk sifat situasi, dan pengetahuan yang digunakan oleh komunitas itu untuk menyelesaikan masalah hidupnya.

“Entah itu soal mencari nafkahnya, bisa soal membangun relasi dengan masyarakatnya, termasuk juga seni, tradisi, budaya,  kearifan lokal, yang berbeda antara satu komunitas dengan komunitas yang lain.

Yang ketiga, bentuk kearifan itu sebenarnya menyangkut keterampilan. Jadi nilai pengetahuan itu sebenarnya akan menjadi keterampilan hidup, antar komunitas, meski kadang berbeda.

Misalnya yang saya sebut tadi antara masyarakat yang hidup di pesisir dengan masyarakat yang hidup di tanah pegunungan, itu pasti mempunyai keterampilannya berbeda. Masyarakat pesisir memiliki kearifan atau pengetahuan atau keterampilan bagaimana cara melaut, yaitu cara memanfaatkan sumber sumber penghidupan, sedang masyarakat daratan bagaimana mereka memiliki pengetahuan cara menggarap saswah atau tegalan.

“Jadi bentuk kearifan lokal itu menurut saya seperti yang tadi ada nilai-nilai, ada pengetahuan juga yang ada keterampilan. Satu komunitas tertentu dengan komunitas yang lain, termasuk juga tradisi seninya termasuk pengalaman keberagamaannya karena nilai nilai itu sebenarnya sumbernya bisa dari mana-mana termasuk dari agama,” salah satu pengasuh Pesantren Nasy’atul Mutha’alimin Gapura Sumenep itu.

Namun demikian, kata Dardiri, melihat perkembangan zaman seperti sekarang ini, tidaklah dapat ditolak, karena masyarakat harus berkembang, tapi jangan sampai kearifan lokal ditinggalkan, sebab dalam kearifan itu terkandung banyak nilai. Jadi nilai itulah yang mengantar untuk hidup yang lebih baik dalam komunitas maupun antar komunitas masyarakatnya. 

Jadi sekarang ini, kearifan lokal memnghadapi tantangan yang tidak ringan. Setiap komunitas masyarakat di mana-mana sedang berjuang untuk mempertahankan dan merawat kearifan lokalnya.

“Ini sebenarnya bukan hanya kasus di Madura, tetapi di banyak tempat komunitas yang lain juga  sama sama berjuang untuk mempertahankan kearifan lokalnya. Entah bahasanya, misalnya yang sulit bahasa di Jawa maupun Sunda dan lainnya, anak anak muda sekarang sudah jarang juga menggunakan bahasa ibunya,” ujarnya menjawab pertanyaan peserta pada kolom chat.

Bincang Literasi yang berlangsung selama satu jam, mulai pukul 19.30 – 20.30 itu, merupakan agenda rutin Rumah Literasi Sumenep melalui siaran langsung instagram.

“Kami memanfaatkan media sosial sekedar untuk berbagi dan tukar pikiran, yang barangkali setidaknya menambah informasi dan pengetahuan yang mungkin bermanfaat, meski hanya pertemua online sesaat,” kata Ketua Rumah Literasi Sumenep, Lilik Rosida Irmawati, ketika dikonfirmasi melalui seluler.

Penulis: Auli Dindy

POSTING PILIHAN

Related

Utama 3025503205080481783

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item