Tirani Maut

  Cerpen Kinan Kulayangkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Aneka senjata menggantung di dinding. Ada pedang, tameng, kapak, busur, pana...

 


Cerpen Kinan

Kulayangkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Aneka senjata menggantung di dinding. Ada pedang, tameng, kapak, busur, panah, dan bermacam-macam jenis senjata lainnya. Kujulurkan tanganku untuk menyentuh senjata-senjata itu satu persatu sebelum akhirnya kuputuskan senjata terbaik yang akan kupilih untuk kugunakan dalam duel. Pilihanku jatuh pada sebilah pedang dan dua buah belati yang kemudian kuselipkan di pinggang.

Setelah kupilih senjataku, pintu jeruji besi di depanku terangkat. Pintu yang mengarahkan ruanganku dengan arena pertempuran. Tak ada pilihan lain selain keluar. Atau algojo di belakangku akan menusukku sehingga berakhir mengenaskan bahkan sebelum bertarung. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Memalukan. Aku tak berdiam diri terlalu lama, karena siapapun lawanku di sana, dia sudah menungguku. Lawan yang bahkan tak kuketahui.

Seorang gladiator bertubuh besar dan berotot berdiri persis di depanku. Kapak besar yang tajam nan mengkilap berada dalam genggaman tangannya. Sejenak ia menyunggingkan senyum mengejek. Bahkan ia tertawa sambil memainkan kapaknya, melemparnya ke kanan dan ke kiri. “Haha. Jadi gadis kecil ini lawanku? Kalian pasti bercanda!” ejeknya sambil tertawa.

Aku menatapnya datar. Genggamanku pada pedang menguat. Entah kenapa ketika gladiator tertawa tiba-tiba seperti ada dorongan kuat dalam tubuhku, dorongan yang memompa semangatku memenangkan duel. Tidak sedikit pun rasa takut terbersit dalam pikiranku. “Apa masalanya kalau aku gadis kecil?” tanyaku menantang. Kupersiapkan ancang-ancang menyerang dengan pedang di tanganku. Bisa saja aku menggunakan temeng, tapi aku tidak mau menggunakannya. Kurasa temang hanya akan mempersulit gerakanku.

Pria besar itu masih tertawa terbahak-bahak sambil mengayunkan kapaknya. Dalam duel ini kurasa aku lebih. Perbedaan tubuh kami yang jauh akan membuatku lebih cepat bergerak. Dan mempermudahkan aku memenangkan pertarungan.

Trang! Trang!

Bunyi logam yang beradu memenuhi udara arena pertempuran seirama dengan  teriakan penonton. Aku sudah berhasil melukai kaki dan pinggangnya karena darah kini mengalir dari dua titik itu. Sepertinya aku berhasil membuatnya marah. Kemarahan membuat gerakannya semakin membabi-buta, tak beraturan. Tapi karena itu juga ia tak peduli pada darah yang merembes keluar dari zirahnya. Darah merah segar menetes ke tanah berdebu membuatku tersenyum. Melawan orang yang emosional dan terluka parah itu sangat mudah, gumamku dalam hati.

Dengan cepat aku melompat ke belakangnya sambil mengayunkan pedang. Sabetanku berhasil menyobek punggungnya. Membuatnya menjerit kesakitan. Sekali lagi kudesak ia dan kuayunkan pedangku hingga mengenai bagian tubuhnya yang lain. Kali ini tidak berteriak. Suara penonton bergemuruh. Darah menyembur ke segala arah dan mengenai pakaianku. Para penonton berhamburan mendekati sesosok tubuh yang tidak lagi bernafas. Mereka memperhatikan setiap serpihan belulang, dan tubuhnya yang terkoyak. Aku mengibaskan pedangku yang berlumuran darah seolah tak terjadi apapun sebelum akhirnya berjalan ke ruangan tadi. Sekali lagi penonton bersorak-sorai menyambut kemenanganku.

***

Aku menatap kosong ke depan. Ke sela-sela cahaya besi jeruji pemisah arena dan ruanganku. Pikiranku melayang ketika pandanganku beralih pada pedang yang masih berlumuran darah. Juga darah segar setengah kering yang masih melekat di tubuh dan pakaianku, tapi aku tak peduli dengan bau anyir yang menyengat. Dua belati yang tadi kuambil masih setia di pinggangku.

Byurr!!

Kurasakan air membasahi rambut dan pakaianku. Lalu aku mendengar samar-samar suara orang, “Bersihkan tubuhmu budak! Kau harus bertarung setelah ini!” Suara itu terdengar seperti membentak. Tapi aku tak peduli. Aku bukan budak siapapun! Kupejamkan mataku sambil menunduk. Membiarkan air menyapu sisa darah di rambut, wajah, dan pakaianku.

***

Aku mendengar teriakan penonton, memintaku bangun, juga dentangan besi pintu yang sangat memekakkan telinga. Aneh, sesaat kemudian, suara-suara dentangan besi dan pekik orang-orang itu pelan-pelan terdengar seperti suara ketukan di pintu. Dengan malas aku membuka mata. Lalu kugenggam erat pedang di sampingku. Ya, senjataku sama seperti sebelumnya. Sebilah pedang dan dua belati.

Aku berdiri di depan jeruji dengan wajah datar. Menyaksikan tubuh-tubuh bermandikan darah di arena. Mereka tak bercanda soal pertarungan ini. Yang kuatlah yang bertahan. Jadi, tak peduli siapapun yang menjadi lawanku, akulah yang akan menang!

Pintu kembali terangkat. Setelah terbuka lebar, aku melangkahkan kakiku ke arena. Sorak sorai penonton menggema di seluruh stadium. Sepertinya sekarang adalah babak terakhir. Kulihat kalau lawanku masih bersimbah darah segar. Bukan. Itu bukan darahnya. Itu adalah darah musuhnya yang mati dengan kondisi leher di gorok. Sepertinya dia sangat tangguh.

Lawanku kali ini adalah seorang pemuda. Masih muda tapi lebih tua dariku. Dia berdiri di seberangku sambil menggenggam pedang berlumur darah. Hal yang menarik, Ia memasang wajah datar sama sepertiku. Lalu tanpa aba-aba dia menyerang dengan pedang terhunus. Dengan cepat aku menyadari arah serangannya dan mengunci pedangnya menggunakan pedangku.

Setelah serangan itu, aku mengamatinya lebih teliti. Ia memandangku dengan tatapan nanap. Kuperhatikan ia menyimpan beberapa pisau yang di sembunyikan di balik ikat pinggangnya. Sejenak aku melompat kebelakang ketika tiba-tiba ia mendekatiku.

“Kurasa, kau tidak seharusnya berada di sini, Nona.”

“Aku juga berpikir begitu, Tuan.”

Trangg!!

Bilah pedang kembali beradu menciptakan percikan bunga api. Bisa dibilang kami seimbang. Meski dia unggul di kekuatan, aku lebih unggul dalam kecepatan memainkan pedang.

“Kau tahu kan, Nona? Aku tak akan menahan diri padamu.”

“Tentu, Tuan, karena aku juga tak akan mengalah.”

Kami saling mengadu pedang. Berkali-kali bunga api terlepas di udara. Penonton sedikit lebih tenang karena ketegangan yang di sebabkan pertunjukan hebat.

“Aku tak akan mati di sini, Nona. Adik-adikku membutuhkanku di rumah.”

“Jujur aku tak peduli dengan itu, Tuan. Karena aku juga harus pulang ke rumahku.”

Hanya orang munafik yang memohon belas kasih di tengah pertarungan. Hanya orang naif yang akan mengikuti keinginan mereka. Aku di sini mempertaruhkan hidup. Hidupku dan Ia yang dipertaruhkan di sini!

Sabetan pedang semakin cepat beradu. Saling menggores, menusuk, menyabet, dan menghunus. Kini tak ada yang mengalah. Bahkan sampai pedang kami tumpul dan tak bisa di pakai lagi. Sebagai pengganti pedang, kami menggunakan double weapon. Dua belati di tanganku dan dua pisau di tangannya. Keadaan baru membuat kami harus cepat menyesuaikan diri dan strategi.

Setelah beberapa kali kembali saling menghunus, kami sama-sama kembali melompat ke belakang. Tubuh kami sama-sama penuh luka dan darah. Bahu, punggung, kaki, tak ada yang terlewat dari goresan. Semua tertutup darah dan keringat. Tapi sekarang posisiku lebih unggul. Dua belati masih utuh di tangaku dan hanya tersisa satu pisau di tangan pemuda itu.

Ketika musuh di depanku lengah segera kumengambil kesempatan menyerang. Kutingkatkan tempo seranganku sampai ia kewalahan. Hingga seranganku tak bisa ia elak. Kuayunkan belatiku ke arah lehernya,  dan yang terjadi berikutnya benar-benar tak terduga olehku. Seolah diperlambat, pemuda itu mengambil satu lagi pisau yang tersembunyi di balik rompi besinya dan melemparkannya ke arah jantungku.

Slasshhh.....

Darah memancar dari dadaku, dan belatiku mengenai lehernya. Kami jatuh limbung ke tanah panas berdebu dengan tubuh yang sudah bermandikan darah. Aku masih memiliki kesadaran, sedangkan pemuda  itu sudah terkapar tak bernyawa. Tentu saja ia mati, siapa yang masih hidup kalau lehernya terpenggal. Hal yang sama terjadi padaku. Pisau yang ia lempar cukup kuat dan menancap agak dalam nyaris menyentuh jantungku. Pendarahan hebat membuat tempatku berdiri dipenuhi darahku sendiri. Pandangan dan pendengaranku memburam. Sorakan penonton terdengar semakin samar. Rasa sakit di dadaku tak terasa lagi. Perlahan tapi pasti, kututup mataku perlahan dengan senyum terkembang di wajahku.

Haaahh... hah... hah... hah...

Aku terbagun sambil terengah. Keringat dingin telah membasahi pakaianku. Kuangkat tanganku untuk menahan kepalaku yang terasa sakit. ‘Jadi, aku hanya mimpi?’ pikirku sambil merenung. Kulirik jam yang tergantung di dinding kamar.

Dengan agak malas aku turun dari kasur empukku untuk mengambil segelas air di dapur. Mataku masih terasa berat untuk terbuka, tapi tenggorokanku yang kering berkata mendorongku untuk tetap melangkah. Mau tak mau aku arus ke dapur. Perasaan aneh dalam diriku menyalakan alarm bahaya. Reflek aku mengambil pisau dapur di atas meja sebelum berjalan pelan ke ruang tamu. Instingku berkata ada yang tak beres disana.

Dengan pencahayaan minim, aku melihat bayangan seorang pria mengendap-endap. Perlahan aku mendekatinya. Pisau dapur kugenggam semakin erat. Sasaranku adalah bagian belakang pria itu. Lalu saat kurasa timing untuk menyerang tepat, aku keluar dari persembunyianku. Hal yang tak terduga, pria itu menoleh dan menusukkan pisaunya ke dadaku.

Slasshh....

Darahku muncrat dari tubuhku, dan tentu dari tubuh pria itu juga. Kesadaranku masih tersisa untuk merasakan rasa sakit dan perih. Sedangkan pria itu sudah pergi lebih dulu lantaran kepalanya yang putus akibat pisauku. Pandanganku semakin memburam.

Dan untuk kali ini, aku benar-benar akan mati.

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 2012074092930451878

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item