Pembalut Pembawa Petaka


Sukma Riamansyah Marsuki, S.Pd

Pubertas atau akil balig pasti akan dialami oleh setiap menusia, laki atau perempuan. Proses perubahan Melatiisik saat tubuh anak berubah menjadi tubuh dewasa (datang dewasa) yang mampu melakukan reproduksi seksual

Hal ini itu terjadi pada murid-muridku di sekolah, dan tentu yang tampak secara Melatiisik terjadi dari kalangan perempuan. Yang menarik, ada suatu peristiwa yang membuat geli dan sekaligus prihatin.

Suatu ketika salah satu muridku pamit untuk pulang lebih awal, sebut saja namanya si Melati. Si Melati pamit pulang untuk mengganti pembalut karena sudah berlebih dan rembes. Setelah pamit untuk keperluan hal tersebut maka ia sudah berangkat pulang pada saat jam istirahat.

Setelah jam istirahat selesai dengan ditandai bunyi bel sekolah sebagai tanda semua siswa masuk kedalam kelas untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya. Pada saat aku mengajar kok merasa kekurangan 5 siswa. Padahal pada awal pembelajaran di pagi hari hanya satu siswa yang terpantau tidak masuk karena sakit.

Lalu aku menanyakan kepada siswa tentang keberadaan 4 orang yang hilang dalam kelas. Mereka lalu melaporkan bahwa 3 orang yang hilang tersebut ikut mengantar pulang si Melati yang tadi telah pamit pulang untuk mengganti pembalut. Sontak aku merasa terkejut atas laporan teman- temannya, sehingga aku terbersit pikiran akan memberikan hukuman nantinya jika mereka sudah kembali ke sekolah.

Akhirnya waktu yang ditunggu - tunggu sudah datang, dengan tersenyum si Melati dan teman – temannya datang menghapiri aku.

“Kenapa kamu yang tiga orang tidak pamit kepada aku,” kata ku dengan nada setengah kesal.

“Oh iya Pak...tadi si Melati sudah pamit katanya,” jawab salah seorang siswa

“Memang si Melati sudah pamit pulang untuk mengganti pembalut yang sudah penuh, tapi hanya si Melati dan bukan yang 3 orang ini,” ujarku.

“Lain kali jangan berbuat begitu lagi, jadi kalau ingin mengantar harus juga pada pamit kepada bapak,”

 “Baik pak, “ kata mereka serempak menjawab.

 “Jadi apa kesalahan kalian..?,”.

“Kesalahan kami bahwa kami tidak pamit tadi kepada bapak dan secara tidak langsung kami telah ketinggalan 2 jam pelajaran,” mereka menjawab sambil menunduk.

 “Baiklah semoga kalian tidak akan mengulangi lagi perbuatan kalian di lain waktu, oleh karena itulah maka orang yang bersalah seyogyanya harus mendapat hukuman”.

 Lalu aku bertanya kepada semua siswa yang ada di dalam kelas.” Anak – anak...kira – kira hukuman apa yang pantas dikenakan kepada mereka ini..?,”

Mereka semua serempak menjawab, “Hukum suruh membersihkan toilet pak.....ha..ha., “ jawabnya serentak.

 “Baiklah anak – anak, karena kamu sudah sepakat maka saya akan mengabulkan permintaanmu...apalagi toilet kita memang saatnya untuk dibersihkan...kan sudah kotor,” sahutku

Akhirnya dengan perasaan gembira mereka bergegas mempersiapkan diri untuk membersihkan toilet sekolah yang kotor. Mengapa mereka gembira, mungkin mereka gembira karena pekerjaan itu dilakukan secara bersama – sama.

Mulailah mereka mencari persiapan untuk membersihkan toilet, suara risih selalu terdengar di belakang. Ini menandakan mereka sudah mulai bekerja menjalankan tugas atau hukuman yang telah dibebankan kepada mereka.

Toilet sekolah ku ada 3 ruangan, 2 ruangan toilet khusus diperuntukkan untuk siswa, sementara 1 ruangan toilet dikhususkan untuk guru dan karyawan lainnya. Sekitar 15 menit kemudian 4 orang yang dihukum membersihkan toilet menghadap kepadaku.

 “Ada apa ...kenapa kamu kesini ,“ tanyaku.

Salah satu dari mereka menjawab

“Maa Melati pak, kami butuh sabun colek untuk membersihkan toilet guru dan siswa pak...”. “

Ya sudah sana...minta kepada ibu Kepala Sekolah”,

 “Mungkin Ibu Kepala Sekolah masih ada di kantor”.

“Baik Pak....saya akan minta ke Ibu....”, Tuturnya.

Akhirnya mereka sambil berlari menuju ke kantor untuk meminta disediakan sabun colek untuk membersihkan toilet. Sekitar 10 menit kemudian mereka terdengar berlari keluar dari kantor Kepala Sekolah dan menuju ke toilet yang berada di belakang sekolah. 

Mereka nampak membawa bungkusan plastik yang diperkirakan isinya adalah sabun colek. Setelah itu aku tidak memperdulikan anak – anak yang membersihkan toilet sekolah namun aku Melatiokus lagi kepada proses pembelajaran yang dilakukan di kelas.

Pada proses pembelajaran di Tema 7 aku mengajar mengenai materi pubertas anak laki – laki dan perempuan. Mungkin ini sebuah kebetulan karena materi yang aku ajar kepada semua siswa adalah mengenai pubertas dan kejadian yang menyangkut anak – anak yang mendapat hukuman membersihkan toilet sekolah dikarenakan disebabkan oleh pembalut wanita yang identik dengan ciri – ciri pubertas anak perempuan.]

Nah ini merupakan materi bagus untuk pembelajaran yang berhubungan dengan tema. Bagaimana jika  kejadian yang tadi pagi dijadikan materi atau contoh dalam materi pubertas. Akhirnya aku bertanya kepada siswa, “ anak – anak....apakalah ciri – ciri dari masa pubertas perempuan?”.

Mereka menjawab bahwa salah satu ciri yang umum terjadi adalah terjadinya menstruasi pada anak perempuan. Di materi ciri – ciri ini adalah merupakan ciri – ciri primer pubertas pada perempuan karena ciri yang timbul dari dalam tubuhnya, sedangkan ciri – ciri yang berkaitan dengan perubahan tubuh Melatiisik adalah merupakan ciri – ciri sekunder pubertas pada anak perempuan.

Lantas aku menerangkan kepada siswa bahwa peristiwa menstruasi adalah peristiwa keluarnya darah kotor dari rahim seorang perempuan, ini dikarenakan sel telur atau ovum tidak dibuahi oleh sel kelamin jantan atau sperma sehingga ovum yang tidak dibuahi akan menempel di rahim atau  uterus. Lama kelamaan akhirnya ovum yang menempel tadi akan luruh ke bawah melalui vagina.

Dari penjelasan ku tadi banyak diantara siswa yang tersipu malu karena baru kali ini materi pubertas berisi yang agak tabu untuk dibicarakan. Namun materi itu mau tidak mau harus disampaikan kepada siswa karena itu merupakan materi yang termaktub dalam kurikulum.

Sementara sayup sayup terdengar bunyi – bunyian gayung bak mandi yang terbentur benda keras, suara sikat yang digoreskan ke lantai toilet, sepertinya mereka yang menjalankan tugas membersihkan toilet sedang melaksanakan tugasnya dengan baik.

Setelah beberapa saat kemudian saat pembelajaran berjalan keempat siswa yang dihukum membersihkan  toilet itu datang menghampiriku dan berkata salah satu dari mereka,

 “Bapak...toilet sudah kami bersihkan, apakah kami sudah boleh mulai masuk untuk mengikuti pelajaran?”, tanyanya.

“Ok lah...baiklah kalian boleh masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pembelajaran...”, kataku.

Mereka akhirnya masuk bergabung dengan teman – temannya dengan kondisi baju setengah basah karena terkena ciptratan air saat membersihkan toilet.

Hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa tersebut bahwa meskipun kita membantu orang, maka lihat – lihat dahulu resiko yang timbul. Kita harus pandai – pandai memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk.

Keluasan berfikir dan wawasan merupkan suatu hal yang penting untuk dikembangkan agar kita lebih hati – hati dalam bertindak dan berbuat.

 *****

Sukma Riamansyah Marsuki, S.Pd, Tempat/Tgl. Lahir Sumenep/28 Desember 1975, tempat tinggal: desa  Paberasan, tempat Tugas SDN Paberasan I

POSTING PILIHAN

Related

Utama 740281521229687741

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item