Upacara Adat Kasada Suku Tengger, Gunung Bromo


Dliya Jauza

Gunung bromo adalah salah satu tempat wisata yang ada di Indonesia tepatnya Jawa Timur dan meliputi empat kabupaten yaitu kabupaten Probolinggo, kab. Pasuruan, kab. Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung bromo menjadi salah satuwisata yang tidak pernah sepi setiap harinya, Gunung Bromo memiliki daya tarik tersendiri. Para wisatawan tertarik mengunjungi gunung bromo karena bromo memiliki pemandangan yang sangat cantik, sunrise yang sangat cantik dan selain pemandangan nya yang cantik gunung bromo adalah salah satu gunung berapi aktif yang ada di Indonesia. Tengger ialah masyarakat yang tinggal di daerah Gunung Bromo. Sebagian besar masyarakatnya mencari nafkah sebagai petani, seperti petani kentang, petani jagung dan ubi, namun ada juga yang bekerja selain petani seperti pegawai, pedagang, jasa, dan lainnya.

Gunung Bromo juga menjadi kawasan wisata Gunung Bromo yang didatangi oleh masyarakat dalam negeri atau orang-orang dari luar negeri yang datang melihat keindahan kawasan tersebut. Masyarakat Suku Tengger juga memiliki bahasanya sendiri, yaitu bahasa Tengger. Salah satu contonya, jika dalam bahasa Indonesia kata “mengumpulkan”, dalam bahasa Jawa adalah “nglumpukke”, dan dalam dialek Tengger adalah “nglumpuken”. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Tengger juga dibagi dua tingkat, yaitu bahasa Ngoko dan Kromo. Sama seperti Bahasa Jawa pada umumnya, dimana Ngoko digunakan pada orang yang sebaya atau orang tua pada anaknya, dan Kromo digunakan anak-anak kepada orang yang lebih tua atau orang yang dihormati. Masyarakat Suku Tengger juga memiliki kepercayaan yang dianutnya sejak lama oleh nenek moyang mereka.

 Bagi masyarakat Tengger, Gunung Bromo dipercayai sebagai gunung suci, maka dari itu pada waktu setahun sekali, mereka melaksanakan upacara Yadnya Kasada atau yang lebih banyak kita kenal dengan upacara Kasodo. Upacara Kasodo dilakukan untuk mengirimkan kurban atau sesajen kepada leluhur yang berada di kawah Gunung Bromo, yang awalnya ditempatkan di sebuah pura, yaitu Pura Luhur Poten Bromo yang kemudian menuju ke puncak dari Gunung Bromo.

Upacara ini dilakukan setiap hari ke-14 bulan Kasodo dalam penanggalan Jawa. Sesembahan tersebut ditujukan kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur dari masyarakat Tengger, yaitu Rara Anteng dan Jaka Seger.             Yadnya Kasada sudah digelar secara turun temurun sejak Kerajaan Majapahit masih eksis beberapa ratus tahun silam. Asal-usul Upacara Kasada eratkaitannyadengan legenda RaraAnteng dan Jaka Seger. Kedua sosok ini juga menjadi nenek moyang Suku Tengger, yang berasal dari gabungan nama keduanya, yaitu Anteng dan Seger menjadi Tengger. Konon Rara Anteng merupakan putri Prabu Brawijaya, Raja Majapahit. Sedangka nJaka Seger adalah anak seorang Brahmana asal Kediri. Setelah menikah, keduanya tinggal di dekat Gunung Bromo.

Hanya saja keduanya tak kunjung dikaruniai anak. Kemudian Rara Anteng dan Jaka Seger beruja rkepada Sang Hyang Widhi Wasa dan berjanjijikadiberianakakanmengorbankan salah satunya. Singkatcerita, suami istri itu akhirnya hamil dan melahirkan 25 orang anak.

Namun RaraAnteng dan Jaka Seger tak kunjung menepati janji. Sikap keduanya yang ingkar itu membuat Dewa marah. Lalu terjadilah bencana di Gunung Bromo, sehingga membuat salah satu anak mereka bernama Raden Kusuma lenyap. Raden Kusuma lantas dianggap telah berkorban dan menjadi penyelamat saudara-saudaranya yang lain. Sejak saat itu, keturunan Rara Anteng dan Jaka Seger selalu memberikan sesembahan setiap bulan Kasada hari ke-14, yang sekarang dikenal dengan nama Upacara Kasada atauYadnya Kasada.Upacara Kasada berasal dari Jawa Timur. Upacara ini merupakan salah satu upacara adat dari suku Tengger yang masih lestari sampai sekarang. Ada 5 suku yang mendiami Provinsi Jawa Timur. Kelimanya adalah suku Jawa, sukuMadura, sukuTengger, sukuOsing,sukubawean.

Ada beberapa tahapan dalam pelaksanaan upacara Kasada. Mulai daripengambilan air suci hingga selamatan. Berikut tahapannya:

  1. Sebelum upacara Kasada dilaksanakan, masyarakat Tengger akan mengambil air suci di Gunung Widodaren untuk melakukan ritual nglukat umat, sebuah upacara penyucian jiwa yang dilakukan di Poten.
  2. Upacara pembukaan. Upacara ini dibuka oleh panitia dan dihadiri oleh seluruh elemen masyarakat maupun pemerintah. Termasuk dukun-dukun adat dari seluruh desa di wilayah Tengger. Acara dibuka dengan pertunjukkan tari Rara Anteng dan Jaka Seger. Dukun adat akan memimpin peserta upacara yang telah membawa berbagai hasil bumi untuk dilarungkan ke kawah Gunung Bromo.
  3. Upacara ritual Kasada dilakukan di Poten, sebuah pura yang terletak di kaki Gunung Bromo. Adapun rangkaiannya meliputi persiapan upacara, pembacaan kidung-kidung religi diiringi gamelan, mensucikan tempat persembahyangan, pembacaan kitab suci Weda, pembacaan sejarah Kasada serta perkawinan Rara Anteng dan Jaka Seger yang merupakan cikal bakal suku Tengger.
  4. Nglukat umat kedua. Acara ini dilakukan dengan membagikan bija yang ditempelkan pada bagian wajah. Memberikan wewangian atau bunga di sebelah kanan, membakar dupa di perapen, dan memercikkan tirta di kepala dan wajah umat.
  5. Muspa atau sembahyang yang dipimpin oleh pinandhita dan dibantu oleh para pemuka.
  6. Pembacaan mantra pasca sembahyang. Mantra ini terdiri dari lima mantra yang berisi puji-pujian terhadap Tuhan dan permohonan agar diberikan kehidupan yang damai.
  7. Pemilihan calon dukun adat yang menggantikan dukun sebelumnya.
  8. Lelabuhan sesajen di kawah Gunung Bromo. Lelabuhan merupakan acara inti dari upacara Kasada. Acara ini dimulai dengan berjalan dari Poten menuju kawah Gunung Bromo dengan membawa sesajen. Sesajen biasanya berisi hasil bumi maupun hewan ternak. Perjalanan ini diiringi bacaan doa sesuai niat masing-masing.
  9. Slametan atau selamatan yakni merupakan akhir dari ritual Kasada. Slametan dilaksanakan di masing-masing desa dengan dipimpin oleh dukun adat masing-masing.

Masyarakat mengunjungi Bromo bukan hanya karena pemandangan gunungnya saja yang sangat menarik selain itu Upacara Kasada juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Bromo. Menurut saya upacara kasodo ini sangat menarik, dan juga sangat membuka wawasan kita sebagai mahasiswa yang tidak tau apa apa menjadi tau beberapa hal tentang apa saja yang dilakukan warga suku tengger saat mereka mengucap syukur kepada tuhannya.

Ini menjadi warisan budaya bagi negara kita untuk bisa di lestarikan sampai kedepannya, agar generasi – generasi yang akan datang juga tahu apa saja budaya yang ada di indonesia.

_____

Dliya Jauza mahasiswa UMM dari jurusan Agroteknologi angkatan 2020,

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5800252205080668248

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item