Tontonan Khusus ”Dewasa”, Menurunkan Tingkat Kecerdasan Otak pada Anak


Naura Dwi Kamilah

Hello readers, seperti kita ketahui kehidupan sekarang adalah era digital dimana dunia telah banyak mengalami perubahan. Tanpa kita pungkiri penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari menjadi  begitu penting, semua pekerjaan yang dilakukan membutuhkan media elektronik terutama pada para pekerja kantoran. Perkembangan teknologi membuat apapun yang dilakukan menjadi lebih mudah, kita bisa mendapatkan suatu informasi dengan cepat hanya dengan mencarinya di google.

Selain memiliki dampak positif, perkembangan teknologi juga memberikan dampak negative bukan kepada orang dewasa akan tetapi pada anak-anak dan remaja yang masih dibawah umur. Banyak dari mereka yang menyalahgunakan teknologi internet melalui smartphone untuk mengakses konten-konten dewasa yang sebenernya masih belum boleh mereka tonton.

Kenapa terdapat larangan yang muncul dalam mengakses hal-hal yang hanya boleh di akses oleh orang yang sudah cukup umur untuk anak-anak / remaja yang masih dibawah umur?  Karena dapat menurunkan tingkat kecerdasan dan kreatifitas otak mereka. Tentunya dalam masa pertumbuhan mereka itu membutuhkan kreatifitas dan kecerdasan otak dalam menilai, merespon, dan berpikir secara sehat dalam menghadapi setiap keadaan serta dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan diri sendiri.

Perlu kita ketahui bahwa sekali mereka melihat/mengaksesnya maka secara langsung akan berdampak pada otak mereka. Dimana volume otak pada daerah striatum akan mengalami penyusutan, striatum adalah bagian otak yang berkaitan dengan motivasi dan hal lain yang dapat terjadi adalah terjadi peningkatan dopamine.

Dopamine adalah adalah salah satu senyawa neurotransmitter yang memainkan peran penting terhadap pola motoric, motivasi, kekuatan,serta fungsi yang lebih sederhana termasuk laktasi. Peningkatan dopamine akan membuat suasana hati bahagia, namun bila terlalu sering ditonton maka sensitivitas otak terhadap rangsangan seksuak akan menurun.

Dari penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa melihat video tersebut yang moderat sekalipun dapat menyusutkan gray matter di area yang terkait dengan fungsi kognitif serta kemampuan kita untuk focus. Penontonnya dapat juga terkena brainfog( kabut otak) atau kesulitan berpikir jernih dan mudah pecah konsentrasinya dikutip dari ( Galamedia New.com). Adapun dampak negative yang diakibatkan oleh keseringan melihat hal-hal tersebut ialah:

  • Mudah stres
  • Menurunkan kecerdasan otak dalam berpikir
  • Tidak focus dalam mengerjakan suatu hal
  • Tidak bisa mengontrol kecemasan pada diri

Maka dari itu perlu adanya pengawasan dari orang tua maupun lingkungan sekitar karena jika tidak maka akan semakin berdampak pada mereka. Sebenarnya tidak salah dalam pemberian smarthphone kepada anak-anak karena mereka juga membutuhkannya sebagai media pembelajaran disekolah maupun dirumah. Tapi perlunya diterapin pemabatasan usia pada setiap pengaturan teknologi yang digunakan.

Setidaknya dengan begitu kita dapat mencegah agar tidak berkelanjutan pada tahap yang lebih parah. Seseorang yang sudah mengalami kecanduan melihat hal-hal tersebut maka akan sulit untuk menyembuhkannya. Penyembuhannya membutuhkan waktu yang lama dan juga peran orang sekitar juga akan berdampak pada penyembuhannya, ketika mereka tidak memiliki lingkungan yang baik akan semakin mempersulit tahap penyembuhan tersebut dan memerlukan bantuan psikolog.

Selain itu menurut pendapat saya sebagai mahasiswa melihat bahwa, lingkungan pertemanan juga dapat  membuat mereka terjerumus untuk mengakses hal-hal diluar batas umur mereka, timbulnya rasa penasaran diantara salah satu dari mereka kemudian mengajak untuk mengaksesnya. Sehingga pentingnya dalam pemilihan pertemanan bijaklah dalam memilih lingkup pertemanan tanpa kita sadari perteman yang kita pilih akan membuat kita ikut terjerumus.

 Selain itu control dari diri sendiri juga berperan penting dalam hal ini ketika mereka dapat mengkontrol dirinya sendiri untuk berani mengakatakan tidak untuk menonton konten tersebut, maka itu lebih bagus lagi sebab mereka sudah berani berkata tidak untuk hal-hal yang tidak seharusnya dilihat. Dilansir dari (kompas.com) hasil survey nasional KPAI pada tahun lalu menunjukkan 22 persen anak Indonesia masih melihat tayangan yang tidak sopan. Tayangan tidak sopan tersebut meliputi tayangan atau konten yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia.

 “ KPAI melakukan survei nasional, tampaknya terpotret hal yang butuh dicermati bagi penyelenggara daerah, ada 22 persen anak kita yang masih melihat tayangan tidak sopan, bermuatan negatif” ujar Susanto saat ditemui pada IJF dengan KPAI.

Dari data diatas sudah terlihat begitu banyak anak-anak yang kecanduan terhadap konten-konten negatif, oleh karena itu khusunya kepada orang tua patutulah untuk membimbing serta mengedukasikan kepada mereka. Karena mereka adalah penerus generasi apa yang terjadi sekarang kepada mereka akan berdampak begitu besar kelak ketika mereka sudah besar nanti. Mencegah adalah hal yang lebih baik dan bimbing mereka kearah yang lebih baik lagi karena masa depan mereka lebih penting dari segalanya.

Dan jika kita mendapati ada yang sudah masuk ditahap kegemaran jangan sesekali mengucilkan mereka, bantu dengan bimbing mereka sehingga bisa pulih kembali. Dengan memberikan harapan kepada mereka secara tidak langsung kita juga ikut serta dalam membantu proses penyembuhan mereka, kadang dengan kepedulian kita terhadap mereka juga dapat memberikan mereka sekecil harapan untuk keluar dari zona yang negatif tersebut. Jadi ayo kita tingkatkan lebih lagi kepedulian kita dengan selalu perhatian dengan lingkungan sekitar kita.

Kemungkinan besar anak untuk terjerumus kembali ke hal-hal yang sama bisa saja terjadi kembali. Mereka tidak langsung berhenti detik itu juga, disinilah peran orang tua diaktifkan untuk kembali membimbing mereka dengan menjadi teman terbaik mereka.

Sehingga mereka akan merasa nyaman untuk bercerita kepada orangtua apabila perasaan itu muncul kembali. Mengajarkan hal-hal positif yang dapat mereka lakukan untuk menghilangkan perasaan/keinginan untuk melihat hal-hal negatif ketika muncul kembali, misal saja dengan olahraga, melukis, dll yang dapat dilakukan bersama-sama.

Menasehati dan memberitahukan kepada mereka hal-hal yang seharusnya dan tidak seharusnya dilihat mereka akan lebih baik lagi, usahakan pemilihan waktu yang tepat juga untuk menasehati mereka, karena anak-anak akan merespon dengan baik jika mood/perasaan  mereka dalam keadaan bahagia. Pengevaluasi setiap perubahan anak  juga tidak dapat disampingkan dari orang tua, dimana mereka harus terus melihat perubahan yang terjadi kepada anak mereka.

Apabila orang tua merasa ada hal positif dari anaknya jangan ragu untuk memberikan mereka semangat dan perhatian, cinta, dan kasih sayang. Hal ini bertujuan untuk membuat anak-anak lebih merasa diperhatikan dan semangat untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Selain itu pembatasan dalam penggunaan smarthphone juga perlu adanya pembatasan, buatlah aturan main dengan anak-anak. Sepakatilah konsenkuensi atau hukuman yang akan didapatkan anak jikalau melanggar batasan tersebut. Dengan begitu anak akan berpikir untuk tidak melanggar aturan tersebut sehingga tidak akan mendapatkan hukuman dari orang tuanya.

Kesimpulan yang dapat kita tarik adalah tidak dapat dipungkiri peran orang tua berperan aktif disetiap perbuatan dan tindakan anaknya, bertumbuh dengan menyesuaikan perkembangan teknologi tidaklah salah. Akan tetapi perlunya kewaspadaan dalam penggunaan teknologi tersebut agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak kita inginkan.

_____

Naura Dwi Kamilah mahasiswa UMM dari jurusan Farmasi angkatan 2022

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5099848576896364824

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item