Remaja dan Makanan Cepat Saji

Aisyah Leilani Salsabilah

Mengonsumsi makanan merupakan suatu kegiatan untuk mencukupi kebutuhan gizi seseorang yang kedepannya akan bermanfaat pada tubuh sebagai prioritas pemenuhan primer manusia. Perilaku mengonsumsi secara berulang-ulang mengakibatkan terbentuknya kebiasaan konsumsi. Manusia ingin semua hal menjadi serba instan merupakan penyebab dari pola pemikiran masyarakat yang serba cepat.

Mayoritas anak maupun remaja berperilaku buruk saat makan seperti sebanyak 24,5% remaja mengonsumsi makanan asin, sebanyak 65,2% remaja mengonsumsi makanan dan minuman manis, sebanyak 93,6%  remaja jarang mengonsumsi sayuran dan buah-buahan 62,1% serta sebanyak 60% remaja melewatkan sarapan (Kemenkes RI, 2011).

Fase remaja merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan sehingga kebutuhan gizinya harus diperhatikan. Tidak sedikit remaja memerlukan asupan khusus sehingga disarankan untuk giat dalam berolahraga dan juga melaksanakan aktivitas jasmani yang lainnya (Almatsier et a. 2011). Asupan nutrisi remaja dipengaruhi oleh kebiasaan makan yang tidak sehat.

Remaja pada umumnya mengonsumsi makanan cepat saji atau biasa disebut makanan tidak sehat. Pada saat zaman yang serba canggih seperti sekarang, remaja ingin melakukan apapun dengan lekas dan salah satunya dalam memilah makanan. Makanan instan (cepat saji) merupakan nama lain dari junk food yang dikenal oleh masyarakat.

Makanan instan dianggap sebagai makanan tidak layak (tidak sehat) karena mengandung nilai gizi rendah atau tidak ada. Selain sia-sia, junk food juga dapat merusak kebugaran tubuh. Makanan instan umumnya menyimpan kandungan lemak dan kalori tinggi yang berasal dari negara barat.  Banyak faktor yang dapat mempengaruhi akibat mengonsumsi junk food. Beberapa risiko penyakit akibat makan-makanan cepat saji, seperti diabetes, obesitas, gangguan lemak darah atau dislipidemia, dan hipertensi (Nkoke et al. 2017).  

Faktor Penyebab

  1. Pengetahuan

Pengetahuan gizi yang dimiliki oleh remaja dapat mempengaruhi perilaku mengonsumsi makanan. Mencari sebuah informasi terkini bukankah hal yang sulit. Perpustakaan baik di sekolah maupun umum dan lab komputer sekola merupakan fasilitas penunjang yang dapat digunakan remaja. Tubuh juga dapat menimbulkan penyakit akibat rendahnya asupan nutrisi karena kurangnya pengetahuan tentang gizi serta mengonsumsi makanan yang tidak bergizi.

  1. Tempat untuk berkumpul

Tempat untuk berkumpul bersama keluarga ataupun teman pada saat ini adalah restoran junk food. Restoran cepat saji memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen diantaranya, tempat makan yang nyaman, penataan ruang yang memiliki estetika, serta tidak lupa dengan adanya wifi gratis membuat konsumen lebih betah.

Pelajar maupun mahasiswa mencari tempat nyaman untuk mengerjakan tugas seperti yang disediakan oleh restoran. Hal ini merupakan penyebab tingginya gelombang konsumsi makanan instan pada remaja. Selain kenyamanan tempat, kestrategisan letak restoran juga menyebabkan tingginya konsumsi makanan instan pada remaja, seperti letak restoran yang berada di sekitar area sekolah.

  1. Praktis dan cepat

Masyarakat mengonsumsi makananan instan dipengaruhi oleh cara pelayanannya yang cepat serta kepraktisan dalam penyajian. Karena keterbatasan waktu yang dimiliki oleh para remaja maka mengonsumsi makanan instan sudah menjadi aklternatif bagi mereka. Tidak jarang orang tua pada zaman sekarang mengajak buah hatinya untuk makan atau hanya sekedar berkumpul di restoran. Proses pembuatan makanan cepat saji dilakukan secara cepat, terlihat bersih, dan akan selalu tersedia karena proses pembuatannya menggunakan mesin.

Kecepatan dalam menyajikan makanan menjadi alasan mengapa kebanyakan para remaja mengonsumsi makanan cepat saji. Remaja tidak perlu menanti dalam waktu yang lama untuk menunggu makanan yang dipesan dan makanan datang untuk dihidangkan (Lutfi, 2011).

  1. Kenikmatan rasa

Kenikmatan rasa juga menjadi alasan remaja mengapa sering mengonsumsi makanan cepat saji ini (Pratiwi, 2018). Remaja berpikir bahwa makanan instan merupakan makanan yang memiliki rasa yang lezat, tidak sulit didapatkan, dan dapat menggugah selera makan karena terbiasa untuk mengonsumsinya. Tingginya kandungan gula, minyak, dan garam menjadi faktor penyebab makanan memiliki rasa yang begitu lezat. Pada umumnya, restoran makanan pada saat ini bersaing menciptakan inovasi dan keberagaman makanan terkini untuk menyesuaikan selera masyarakat.

  1. Ekonomis sehingga cocok dengan kantong pelajar

Terbiasanya mengonsumsi makanan instan dipengaruhi dengan harga ramah di kantong dan porsi jumbo yang ditawarkan restoran saat ini. Selain itu, agar pelanggan membeli makanan untuk memaksimalkan hastrat atau keinginan maka restoran cepat saji memiliki banyaknya penawaran diskon yang menarik. Terutama para remaja menjadi semakin terdorong untuk datang ke restoran dan dengan lahap mengonsumsi makanan dengan variasi yang telah ditawarkan.

  1. Brand restoran

Seseorang mengonsumsi makanan cepat saji dapat dipengaruhi oleh brand ternama dari media massa. Pergaulan para remaja saat ini sudah menjadi ajang bergengsi untuk berkecenderungan makan makanan dari sebuah brand ternama. Brand tersebut menjadi populer karena para remaja tersebut telah mendatangi dan mengonsumsi makanan yang ada di restoran sehingga mengetahui brand mana yang memiliki kualitas terbaik.

Solusi

Sebagian masyarakat maupun remaja telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi konsumsi makanan cepat saji, yaitu dengan membatasi konsumsi junk food dalam periode tertentu, mengganti makanan ringan dengan sayur dan buah, memasak sendiri, berpuasa, memperbanyak konsumsi air putih, berhemat, memilih katering yang menyediakan makanan sehat, mencari referensi makanan lain, atau saling mengingatkan antar sesama agar dapat menjalankan pola makan yang sehat. Akan tetapi, remaja masih mengalami banyak kendala dalam menjalankan pola hidup yang sehat, antara lain aktivitas yang padat, kelelahan, kurangnya disiplin diri, pilihan makanan yang terbatas, dan banyaknya godaan dari lingkungan sekitar.

Mayoritas remaja sering mengonsumsi makanan cepat saji. Ada perbedaan proporsi, di mana remaja obesitas lebih banyak yang memiliki kebiasaan konsumsi makanan cepat saji. Remaja obesitas dan bukan obesitas memiliki kebiasaan jajan makanan utama atau lengkap di sekolah. Remaja obesitas dan remaja bukan obesitas memiliki kebiasaan jajan ketika di rumah. Upaya edukasi dalam bentuk penyuluhan dan konseling pada remaja secara kontinu, diharapkan dapat mengubah perilaku makan dan gaya hidup remaja menjadi lebih sehat.

_____

Aisyah Leilani Salsabilah, Mahasiswa Jurusan  Teknik Industri  Universitas Muhammadiyah Malang


POSTING PILIHAN

Related

Utama 5441322964046029187

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item