Peran Agama dalam Kesehatan Mental

 Widhie Elysia Alva


Agama pada hakikatnya bertujuan membina serta mengembangkan kehidupan yang sejahtera di dunia serta diakhirat. Secara universal agama memberi tuntutan kepada insan melakukan yang baik serta menghindari hal-hal yang tidak boleh oleh agama, termasuk persoalan kesehatan. Rakyat Indonesia seringkali dikatakan sebagai masyarakat religius karena setiap masyarakat masyarakat menganut suatu agama atau kepercayaan serta menjalankan ajarannya sesuai dengan agama serta kepercayaan yang dianutnya itu. Sifat yang demikian sudah dinyatakan pada sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan yg Maha Esa.

Banyak keyakinan serta kepercayaan yang terdapat di muka bumi ini beserta dengan ribuan pengikutnya, pastinya memberikan pengaruh sendiri bagi masing-masing penganutnya. Ajaran keagamaan pula banyak diterapkan para warga demi kebaikan masing-masing individu, misalnya dengan menganjurkan untuk hidup sehat dan menjauhi segala sesuatu yang mengakibatkan penyakit, serta masih banyak lagi anjuran kebaikan lainnya.

Agama bisa berperan menjadi alat untuk menyembuhkan jiwa melalui ajaran-ajaran kepercayaan setiap orang. Mereka yang tidak beragama memiliki kebutuhan material yang terpenuhi, tetapi tidak dengan kebutuhan batinnya, maka mereka akan lebih mudah terkena penyakit hati (gangguan Kesehatan mental). Penyakit jiwa yang melanda manusia yang tidak beragama akan senantiasa menghantui mereka. Pada hal ini, umumnya saat mereka menerima persoalan hidup mereka akan mudah putus harapan dan akhirnya akan melakukan penyimpangan atau tingkah laku yang tidak sinkron dengan norma-norma mereka.

Aspek ilmu Kesehatan terdapat dua bentuk pengobatan yaitu fisik seperti obat-obatan. Sedangkan psikoterapi adalah pengobatan berupa psikis/mental emosional menggunakan pedoman di kajian ilmu psikolog. Apapun kepercayaan anda, banyak bukti yang menunjukkan bahwa keyakinan anda bisa membantu sebagai “obat” yang kuat, serta meningkatkan kemampuan anda buat mengatasi aneka macam penyakit depresi. Keimanan anda bisa membantu mengatasi akibat penyakit, bahkan bisa membantu anda hidup lebih lama.

Satu rangkaian penelitian menemukan bahwa seeorang yang religius atau spiritual memiliki penurunan resiko penyakit jantung coroner (PJK), tekanan darah (BP), fungsi kekebalan yang lebih baik. Serta rentang hidup yang lebih lama bila dibandingkan dengan orang tidak religius atau spiritual. Para peneliti menemukan bahwa peserta yang religius atau spiritual cenderung lebih banyak makan-makanan bergizi, melakukan lebih banyak latihan fisik, dan mempunyai fungsi kognitif yang lebih baik dibandingkan yang sebaliknya.

Pada studi ini, orang-orang yang religius pula lebih kecil kemungkinannya untuk merokok, yang menempatkan mereka di resiko yang lebih rendah dari penyakit yang berhubungan dengan merokok seperti seluruh jenis kanker, penyakit kardiovaskular, dan penyakit paru-paru. Mempertahankan gaya hidup sehat terkait dengan kualitas hidup yang lebih baik serta umur yang lebih panjang. Agama juga berperan dalam Kesehatan mental, ada banyak faktor yang dapat memperbaiki Kesehatan mental.

Salah satu faktor yang dapat memperbaiki Kesehatan mental adalah dengan pelaksanaan kegiatan keagamaan atau dengan pemanfaatan waktu istirahat yang cukup. Agama pula dapat mensugesti kesehatan mental baik secara positif maupun negatif. Agama bisa sebagai sumber ketenangan dan kekuatan saat orang berada di bawah tekanan. Di sisi lain, hubungan ini mungkin kurang membantu atau bahkan berbahaya bila mengakibatkan stress atau Mengganggu pengobatan.

Studi menunjukkan bahwa agama mempunyai potensi untuk membantu Kesehatan mental serta kesejahteraan. Gangguan mental pula berpengaruh terhadap fungsi keseharian individu serta kemampuan individu tadi dalam berinteraksi dengan orang lain, penggunaan obat-obatan terlarang bahkan jika tidak ditangani dengan segera gangguan mental bisa mengakibatkan seseorang mengalami gangguan kejiwaan/skizofrenia.

Peran agama dalam memperbaiki sikap serta perilaku seseorang begitu penting. dia akan memahami apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Dalam bersikap tidak jarang orang yang melakukan hal buruk dan tidak disukai. Dengan kepercayaan, perilaku buruk bisa diperkuat menggunakan aturan serta ajaran yang mengatakan bahwa sikap tersebut buruk atau bermanfaat. Setidaknya dia mampu berhenti serta mengingat hal-hal jelek yang mungkin menimpanya suatu hari nanti. Contoh lain dampak agama terhadap kesehatan mental bisa diukur dengan sabar terhadap kepribadian seorang.

Mengenal Allah serta ajaran Nya dan menjalankan segala perintah Nya akan menuntun di perilaku sabar. Sikap ini memungkinkan anda untuk mengikuti arus dan dengan sabar mencapai tujuan anda. Memang sulit untuk membuat hati yang lebih lapang dada, namun dengan banyak tekad dan tekad, semuanya akan menjadi kenyataan. Keikhlasan merupakan sikap menerima kondisi, dengan rendah hati, berpikiran luas, dan berpikir ke arah yg baik. Akibatnya, pikiran serta jiwa menjadi lebih damai dan hening.

Korelasi antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan jiwa, terletak di perilaku penyerahan diri seseorang terhadap suatu kekuasaan Yang Maha Kuasa. Sikap tersebut akan memberikan sikap optimis pada diri seorang sebagai akibatnya ada perasaan positif seperti rasa senang, puas, sukses, merasa dicintai, atau merasa aman.

Kepercayaan mempunyai peran yang sangat dominan dalam pembentukan kepribadian manusia karena agama menjadi asal pijakan utama pada dimensi kehidupan manusia dalam membentuk kepribadian manusia, melalui penanaman nilai spritual, nilai akidah, praktek ibadah, sehingga melahirkan pribadi yang taat dan tekun menjalankan nilai-nilai keagamaan. Ketidaksehatan mental seseorang akan semakin sulit dihindari jika seseorang tidak mempunyai daya tahan mental serta spiritual yang tangguh. salah satu cara yang paling efektif dalam menemukan solusi kesehatan mental dalam agama adalah dengan cara pandang Healty Minded. Yaitu pola pikir yang melihat agama dengan penuh optimisme, harapan dan semangat hidup, dan kegembiraan.

Hal itu akan mengakibatkan pemeluk agama mempunyai semangat serta arah tujuannya. Puncaknya, pemeluk agama akan menemukan jati diri, arah, pegangan, serta makna dari kehidupannya. Selain itu, wajib hati-hati bagi pemeluk agama saat menafsiri teks-teks sucinya. Jika hal itu tidak diperhatikan, maka akan menerima kesan yang justru mampu mengakibatkan gangguan kesehatan mental.

Istilah ini pada Psikologi agama, seringkali dianggap Sick Soul. Yaitu kesan yang diperoleh pemeluk agama, seakan-sekan yang kuasa yang disembahnya adalah tuhan yang pemarah, tuhan yang selalu mengancam. Secara tidak sadar, hal ini akan mengakibatkan seseorang dihantui dengan ketakutan dosa yang berlebihan, pesimis, sedih, atau pun terlalu reflektif mengingat-ingat masa lalu yang kelam.

Menurut pendapat saya sebagai seorang mahasiswi kesehatan, kesehatan mental terkadang tidak hanya bisa diobati oleh tim medis melainkan juga dari sumber yang dapat dipercaya oleh orang itu sendiri bisa dari tabib, kiyai atau paranormal untuk mendapatakan kesembuhan dan ketenangan, maka dari itu sebagai umat beragama dan berakal kita harus saling menghargai segala usaha yg bersangkutan untuk bisa mendapatkan kesembuhan untuk dirinya agar bisa sehat kembali seperti yang diharapkan sebelum mengalami gangguan kesehatan mental dan kita sebagai umat beragama harus melaksanakan ibadah agar kesehatan mental kita terjaga. 

___

Widhie Elysia Alva mahasiswi UMM, jurusan Farmasi angkatan 2022,

 

 

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 6915560561277957479

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item