Pagi yang Terkoyak


Cerpen:  Lilik Soebari

Pagi masih menyisakan keheningan nan syahdu. Di ufuk timur semburat kemerahan muncrat menjadikan kaki langit disemburi warna-warni indah.

Hamid selalu terpaku dan terpesona  menatap keindahan semburat pagi di hamparan air yang permukaannya serupa dengan langit diatasnya. Bakda subuh selepas dari masjid, ia akan berlama-lama duduk di amben bambu sampai matahari terasa menyengat. Setelah itu beranjak pergi seraya melambaikan tangan pada gerombolan bangau yang melintas terbang.

"Jangan kemana-mana, tetaplah disini, bersamaku." Hamid tersentak, dan refleks menoleh kesana kemari mencari sumber suara. Tak ada apapun dan siapapun.

Untuk menuntaskan rasa penasarannya, Hamid kembali duduk dan menatap alunan air yang dihembus angin. Hening.

Sesekali terdengar derum kendaraan yang melintas. Lalu kembali senyap.

Hamid menoleh ke arah masjid di seberang jalan, terlihat beberapa orang duduk di tangga, bercengkrama, dan sayup-sayup suaranya  terdengar lirih terhembus angin.

Mengapa aku selalu berhalusinasi?

Sembari menatap gumpalan awan kemerahan yang jatuh di permukaan air, Hamid seakan menatapi alur kehidupannya yang semakin senja serta diselimuti kesedihan, kesepian dan kesendirian.

Hamid Handoko, dikenal sebagai sosok individualis  dan arogan saat berada di puncak kejayaannya. Empat jabatan penting pernah digenggamnya sebagai kepala dinas instansi. Meski demikian Hamid juga dikenal cerdas, pemberani dan ulung ketika berdiplomasi. Hingga kasus apapun bisa ditanganinya. Tak heran, Hamid menjadi kepercayaan bupati.

Ini dapat dibuktikan ketika  memimpin instansi-instansi gemuk tak ada yang berani mengusiknya, terutama kalangan wartawan dan LSM.

Pagi itu, salah satu stafnya menghadap.

"Maaf, pak ada tamu,"

"Darimana? Tanya Hamid tanpa mengalihkan perhatiannya dari lak top.

"Mungkin wartawan," duga Andi. Hamid pun menyuruh Andi mempersilahkan tamu masuk.

"Apa kamu kenal?" Tanya Hamid.

Andi memggeleng.

Sosok bertubuh jangkung,  berbalut baju kotak-kotak dipadu celana jeans yang sudah pudar warnanya menyalami Hamid.

Sekilas Hamid melihat tato di lengan laki-laki itu, dibalik gulungan lengan baju. Dan Hamid tidak mengenalinya sebagai salah satu kuli tinta di daerahnya.

"Mari silahkan, ada yang bisa saya bantu?"

"To the point ya, pak," lalu laki-laki yang memperkenalkan dirinya sebagai Anton mengeluarkan dokumen dan foto-foto kemudian menatanya di atas meja.

Mata Hamid melotot dan terpaku.

"Penanaman hanya beberapa pohon, mengapa proyeknya sangat besar, sekian ribu pohon, sekian hektar? Sangat fantastis anggaran tiga ratus juta hanya untuk puluhan pohon jati emas."

Hamid menatap manik mata didepannya. Ada geram marah membara yang memancar di mata Anton.

"Selicin-licinnya belut, bahkan kecebur oli pun akan tetap menemui ajalnya." Kata Anton sarkas.

"Maumu apa?" Tanya Hamid dengan nada gusar.

Anton terbahak-bahak.

"Berapa? Sebutkan?" Seru Hamid  marah  " Seratus juta?

"Anda pikir saya perampok? Anton menatap licik dan menyeringai, "saya memegang semua kartu asmu."

Hamid terlihat frustasi. Nama baiknya yang terjaga selama ini sedang di ujung tanduk. Semua yang dijaganya akan hancur di sisa pengabdiannya sebagai pejabat yang tinggal dua tahun memasuki purna tugas.

Sesaat ruangan menjadi hening.

"Anda akan selamat, asal bersedia memenuhi syarat yang saya ajukan. Ini simbiosis mutualisme." Urai Anton.

"Satu sisi, anda tidak hancur, satu sisi anda menyelamatkan harga diri dan martabat seseorang," tambah Anton yang semakin membuat Hamid bingung.

"Jangan berputar-putar, langsung pada pokok masalah." Geram Hamid. Pikirannnya sudah mulai bekerja lagi untuk mengambil langkah bagaimana melenyapkan laki-laki didepannya.

Ketika hendak menjangkau gawai di meja ternyata kalah cepat. Gawai itu kini berada di tangan Anton dan ditimang-timang.

"Tenanglah pak Hamid, solusi yang saya berikan akan ssngat menyenangkan dan membahagiakan." Kembali Anton berteka-teki.

Sesaat kemudian  Anton nengeluarkan sebuah foto perempuan cantik. Di taksir usianya sekitar tiga puluhan, tersenyum. Ada dekik di kedua pipinya.

Hamid menatap foto itu lalu psndangannya dialihkan pada manik mata hitam didepannya.

"Semuanya akan aman jika anda bersedia menikahi perrmpuan itu!" Hamid syok mendengar permintaan Anton.

"Tidak!" Tolak Hamid tegas.

"Perempuan itu sedang hamil lima bulan," jelas Anton, "dan itu akibat pemerkosaan."

Tiba-tiba Hamid menarik krah baju laki-laki itu, menatap matanya nanar dan tangan satunya mencekik leher Anton.

Dalam kondisi seperti itu bibir Anton menyunggingkan senyum penuh ejekan.

Hamid nelepaskan Anton ketika pintu ruangannya ada yang mengetuk. Bergegas Hsmid ke pintu dan melongokkan wajahnya.

"Jangan mengganggu!" Perintahnya ketika melihat salah satu staf berdiri di depan pintu. Laki-laki berseragam batik itu mengerlingkan ekor mengangguk. Sebelum berlalu ia mengerlingkan ekor mata ke dalam ruangan.

"Anda saya beri waktu tiga hari untuk memikirkannya," pinta Anton setelah keduanya duduk berhadapan kembali. Lalu laki-laki itu berpamitan pulang.

"Brengsek ... " Hamid menggebrak meja hingga buku-buku ditangannya memerah.

Kegelisahan kini mendera batinnya, dan itu terlihat dari wajahnya yang pucat pasi. Kali ini martabat dan nama baiknya berada di bibir jurang.

Semalaman Hamid tidak bisa memejamkan mata karena sangat heran dari manakah Anton mendapatkan semua data- data itu? Apakah ada yang menusuknya dari belakang. Atau orang-orang kepercayaannya berkhianat? Dan siapakah Marta?

Karena sangat frustasi Hamid berteriak-teriak seperti orang kesurupan. Hayati, sang istri terbangun dan menatap suaminya, lalu bergegas memeluknya supaya tenang. Dalam pelukan  Hayati yang telah membersamainya selama kurun waktu tiga puluh tahun Hamid tergugu. Tangisnya pecah.

Hayati membingkai wajah suaminya, tersenyum lembut dan menghapus bulir air mata yang terjatuh.

"Ada apa, kak?" Hayati merebahkan kepala Hamid dipangkuannya seraya mengelus-elus rambut suaminya supaya lebih tenang.

Hamid hanya membisu dan tidak berani menyampaikan permasalahan berat yang menimpanya. Lebih baik memikulnya sendiri.

Menjelang Subuh Hayati membangunkannya dengan ciuman penuh kasih sayang dan menatap wajah suaminya yang memucat.

"Kak, temani aku ke masjid," rajuk Hayati.

Kali ini Hamid tidak menolak dan membuat mata Hayati berembun.

Selepas sholat Subuh, Hayati mengajak Hamid duduk-duduk di gazebo bambu di seberang jalan yang didepannya membentang hamparan air berkilau penuh warna.

Dalam suasana pagi yang hening dan sshdu, Hamid nemberanikan diri mengungkapkan niat menikah lagi dengan perempuan bernama Marta. Jalan itu satu-satunya untuk menyelamatkan martabat dan harga dirinya, meski nanti di tebus kehilangan keluarganya.

"Aku harus bertanggungjawsb karena dia telah hamil lima bulan," ungkap Hamid terbata-bata.

"Kau berzina?"

"Tidak! Tegas Hamid.

"Bagaimana mungkin hamil lima bulan, lalu kau bertanggungjawab. Dia bukan Maryam kan yang namanya tertoreh di kitab suci?"

Hamid terbungkam.

Hamid tak berani curhat masalah sebenarnya yang terjadi karena akan menjadi bumerang. Karakter istrinya sangat kokoh dan tak tergoyahkan serta tidak mentolerir segsla bentuk penyimpangan. Ketika mendapatkan rejeki di luar gaji misalnya, akan bertanya sangat detail. Kalau dirasa subhat maka uang itu akan langsung diberikan pada orang lain.

"Aku, Hayati Salma, mulai detik ini haram kau  sentuh, meski kita masih terikat tali pernikahan," teriak Hayati dengan suara bergetar.

Perempuan itu kemudian menangkupkan wajahnya terbenam dalam tangis.

Hamid hanya terpaku menatap istrinya dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena telah mengambil keputusan bulat memenuhi permintaan Anton.

"Pulanglah, biarkan aku disini," usir Hayati.

"Tolong, maafkan aku," iba Hamid penuh pengharapan.

"Pergi...!"

Selepas menikahi Marta yang berdomisili di kabupaten lain, hubungan dengan Hayati dan kedua putri kembarnya menjadi dingin dan renggang. Bahkan saat seusai ijab kabul pernikahan kedua putrinya, Hamid hanyalah sosok  di luar keluarga kecilnya.

Pernikahan dengan Marta pun hanya berjalan tiga tahun. Pasca pensiun Marta tidak mau mengurus dirinya yang mulai sakit-sakitan. Begitu pun dengan kedua putrinya, hanya sekedar menjenguk dan mengirimkan seorang perawat. Sedangkan Hayati pulang ke kampung halamannya, di tanah rencong Aceh.

Cericit burung dan kepakan sayap gerombolan bangau yang melintas menyadarkan lamunannya.

Kini di tengah kesendirian dan kesepian yang demikian panjang, waktu Hamid lebih banyak digunakan di masjid. Berjam-jam duduk bersimpuh dan menangis memohon ampunan dan belas kasihNya, dan hanya satu keinginanya, bertemu Hayati.

"Jangan  pergi, kak,"

Mata Hamid terbeliak, di atas awan yang berarak demikian jelas sosok Hayati mengambang, tersenyum dan melambaikan tangan.

Hamid pun berlari mengejar menerabas genangan air yang semakin lama semakin dalam. Seraya menyibak air yang mulai setinggi leher  mata Hamid tak terlepas mènatap  senyum Hayati di awang-awang.

Dan Hamid pun  tak mempedulikan teriakan-teriakan yang menggema memenuhi udara pagi.

Sumenep, April, 2022

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5475304632605561789

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item