Mengenal CPR, Sebagai Pertolongan Pertama dalam Kondisi Darurat

CPR pertolongan pertama dalam kondisi darurat (foto: google.image)

Dhiny Aprilia Maharani

CPR singkatan dari cardiopulmonary resuscitation atau juga biasa dikenal dengan istilah RJP (resusitasi jantung paru), merupakan teknik yang telah dikembangkan sejak tahun 1732 oleh ahli bedah stiktlandia,yaitu William Tossach . Yang dimana waktu itu ia mencobamenghidupkan kembali seseorang penambang batu bara yang tidak sadar, dengan cara resutitas mouth-to-mouth (pertolongan dari mulut kemulut) . Beberapa abad setelah penemuan Tossach ,dokter Edward Schafer mengembangkan metode baru dan teknik pertolongan pertama, yaitu dengan menekan dada untuk merangsang aliran pernafasan.

 Dengan ini karena banyaknya korban jiwa, pertolongan CPR di sebut sebagai langkah yang cepat dan tepat untuk pertolongan pertama dalam keadaan darurat Ketika pasien mengalami henti jantung. Lalu apa sajakah langkah yang harus kita lakukan Ketika melakukan CPR ? 

Tindakan pertolongan pertama yang tepat dapat menunda implikasi yang lebih buruk terhadap korban ketika jantung berhenti, tubuh tidak lagi mendapatkan darah yang kaya oksigen. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan otak hanya dalam beberapa menit. Nah, tujuan melakukan CPR adalah untuk menjaga supaya darah yang kaya oksigen dapat mengalir ke otak dan organ lain sampai perawatan medis darurat datang.Oleh karena itu, ada baiknya Anda mengetahui pedoman dasar pertolonga pertama dengan metode CPR.ini Langkah-langkah yang harus dilakukan Ketika melakukan CPR: 

  1. Sebelum menolong korban, pastikan lingkungan sekitar aman untuk Anda maupun orang lain. Jangan dekati korban bila melihat bahaya, seperti kabel listrik yang menjuntai, percikan api, longsoran batu, dan lainnya.
  2. Cek respons atau kesadaran korban. Jika tingkat kesadaran korban menurun, tepuklah bahunya. Jika korban masih tidak merespons, mintalah bantuan orang sekitar untuk menelepon ambulans, mengambilkan kotak P3K, dan alat Automated ExternalDefibrillator (AED).
  3. Sembari menunggu bantuan, lanjutkan dengan mengecek napas korban selama 5-10 detik. Jika tidak bernapas segera lalukan resusitasi jantung dan paru atau CPR dengan kompresi dada. Agar kompresi dada efektif, korban harus dalam posisi terlentang pada permukaan yang rata dan keras.
  4. Berikan 30 kali kompresi dada pada pertengahan dada (pertengahan bagian bawah tulang sternum), dengan kecepatan minimal 100-120 kali per menit.
  5. Setelah memberikan 30 kali kompresi dada, buka jalan napas dengan metode head tilt - chin lift. Caranya letakkan tangan di dahi korban dan tengadahkan kepala korban. Letakkan ujung jari di bawah dagu, dan angkat dagu korban.
  6. Pastikan tidak ada sisa makanan sekitar area mulut.
  7. Berikan dua kali bantuan napas. Tutup hidung dengan ibu jari dan telunjuk. Tiup sekitar 1 detik untuk membuat dada terangkat, kemudian lanjutkan dengan tiupan berikutnya.
  8. Lanjutkan 30 kali kompresi dada dan 2 kali bantuan napas dalam 2 menit atau sekitar 5 kali pengulangan. Setiap 2 menit, lakukan pengecekan napas kembali.
  9. CPR baru bisa dihentikan saat korban memberi respon (biasanya terbatuk) atau mulai bernapas lagi, saat penolong tidak mampu lagi memberikan pertolongan, saat tim medis sudah datang, atau sudah ada keputusan dari dokter.
  10. Jika korban mulai bernapas setelah diberikan CPR, lakukan posisi pemulihan. Tarik lengan terjauh korban melewati dada, dan punggung tangannya menempel pada pipi. Dengan tangan satunya, tekuk lutut kaki bagian terjauh korban.
  11. Balikkan atau miringkan korban ke arah penolong. Biarkan lutut kaki yang sudah ditekuk tetap dalam posisi demikian. Tengadahkan kepala korban untuk mempertahankan jalan napas. Pantau keadaan korban hingga bantuan medis tiba.

Pertolongan pertama yang cepat, khususnya penggunaan teknik resusitasi jantung paru (CPR) adalah faktor penting untuk meningkatkan peluang bertahan hidup dan pemulihan. Dokter spesialis jantung Jetty R.H. Sedyawan mengungkapkan bahwa dalam CPR dikenal tentang masa emas, yaitu tiga menit pertama setelah terjadinya henti jantung mendadak. Artinya jika CPR dilakukan dalam rentang waktu tersebut, korban mungkin akan bertahan hidup dan tak mengalami kerusakan otak. Hanya saja ketika masa emas ini lewat, maka risiko kerusakan otak akan semakin tinggi

Tidak ada salahnya membekali diri dengan pengetahuan mengenai cara melakukan CPR, karena bisa saja suatu saat Anda dihadapkan pada situasi di mana keterampilan ini sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Pada kondisi di mana seseorang mengalami henti napas dan henti jantung, Anda dapat melakukan CPR hingga dokter atau tenaga medis tiba di lokasi.

 Dengan prosedur CPR ini akan membantu mengembalikan kemampuan bernafas dan sirklus aliran darah dalam tubuh , hal ini juga akan membuat organ tubuh tetap hidup dan berfungsi,meskipun tidak menjamin keselamatan seseorang hingga 100%, paling tidak resusitasi jantung dan paru-paru alan meningkat, serta meningkatkan keselamatan korban dibandingkan tidak melakukannya sama sekali.

Maka dinyatakan dengan ini tidak semua dalam kondisi darurat CPR (cordio pulmonary resuscitation) dilakukan tanpa bantuan alat medis lainnya. Jadi pahami situasi anda sebelum bertindak jangan sampai kesalahan fatal tersebut terjadi pada diri anda.

___

Dhiny Aprilia Maharani,mahasiswa UMM dari jurusan Farmasi angkatan 2022

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5998267589339297218

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item