Lima Pentigraf Tika Suhartatik


Pentigrafis
Tika Suhartatik

Sampah dalam Mobil Mewah

Sambil tertatih perempuan tua itu memungut botol-botol bekas yang berserakan di area keramaian semalam. Meski gerimis perempuan itu tak peduli, bahkan dengan lalu lalang orang yang melihatnya dengan pandangan trenyuh. Sesekali tangan keriputnya mengusap wajah tuanya yang basah air hujan bercampur peluh. Sampah yang dikumpulkan sudah memenuhi kantong plastik yang dia bawa. Taman itu sudah terlihat bersih kembali. Pelan-pelan aku beranjak menghampiri, membawakannya sebotol air mineral yang tak sempat kubuka. “ Tega sekali anak-anaknyamembiarkan nenek setua ini mencari sampah  hanya untuk sesuap nasi”, begitu pikirku.

Nenek Aisyah, begitu ia  memperkenalkan dirinya padaku. Sudah puluhan tahun ia selalu mencari sampah. Ia begitu perduli pada lingkungan. Di manapun melihat sampah berserakan, ia akan berhenti memungutnya. Sampah pernah membawa petaka dalam hidupnya, banjir di desanya merenggut suami yang dicintai. Saat itu suaminya hendak menolong dirinya dan anak-anak, namun justru terseret arus banjir yang deras. Sejak itu hidupnya seakan penuh trauma setiap melihat sampah. Dirinya kemudian bertekad untuk terus memburu sampah selama ditemui. Dia tak ingin bencana yang sama terulang kembali menimpa dirinya atau pun orang lain. “Kebersihan lingkungan harus terus dijaga dan dipelihara”, tekad Nenek Aisyah.

Setelah meneguk beberapakali air mineral yang kuberikan, nenek Aisyah mulai merapikan dan mengikat kantong plastik itu. Aku mencoba menawarkan bantuan untuk membawakannya. Namun dia menolak. Kulihat dia melambaikan tangan dan berteriak memanggil seseorang yang tak jauh dari tempat kami. Seorang lelaki paruh baya datang tergopoh-gopoh sambil menenteng plastik besar yang juga berisi sampah. Sambil tersenyum, nenek Aisyah kembali mengucapkan terimakasih dan beranjak menuju mobil BMW yang terparkir di seberang jalan. Aku hanya melongo melihat mobil mewah itu berlalu dari hadapanku.

 

 

Gadis Pohon Penunggu Waduk

Hampir setiap malam aku mendengar langkahnya. Berdetum, kadang terseok. Aku tak mengira dia secantik itu. Aku mulai jatuh hati, tapi tak berani mengatakannya. Ibuku selalu melarang aku mendekati pohon tua itu. Angker begitu katanya. Tidak hanya mendekati, bahkan aku mulai mencintai gadis yang tinggal di dalam pohon tua itu. Dulu kakek yang menanamnya. Pohon ini harus dipelihara, begitu pesan kakek dulu padaku. Aku terus menyiram pohon itu meski hujan semalam sudah mengguyurnya.

Ibuku marah setiapkali aku duduk berbicara dengan gadis pohon dekat waduk tepat di belakang rumah. Entah apa sebabnya. Padahal gadis itu cantik dan baik. Aku ingin melamarnya. Ibuku makin marah. Pohon itu akan ditebang jika aku menikahi gadis itu. Ancaman emak tak kupedulikan karena aku hanya menginginkan gadisku bukan pohon itu. Pohon itu sekali tebas akan roboh jika aku mengayunkan kapak besar yang kubeli dari pasar kemarin. Aku memang berniat menebang pohon itu karena gadisku ada di sana dan tak mau keluar karena ibu memarahiku.

Satu ayunan sudah kuarahkan pada batang pohon itu, tapi bergeming. Kembali kuayunkan sambil berteriak agar Tiara gadisku keluar dari pohon itu. Aku terus mengayun..dan braaaak..pohon tua itu pun tumbang..hujan  membasahi batang dan daun-daunnya yang berserakan kemana-mana.  Gerimis kian lebat, aku tak perduli..aku cari-cari Tiara di tumpukan dahan. Tetap tak kutemukan. Air semakin tinggi. Ibu berteriak-teriak di atap rumah. Aku hanya tergelak melihat ibu melambaikan tangan padaku. Aku belum puas jika belum menemukan gadisku. Banjir makin besar, waduk jebol. Pohon tua tak ada lagi jadi penahan waduk. Gadisku pun lenyap.

 

 
 

Papan Permohonan Simon

Akhir-akhir ini Simon kesal sekali. Bagaimana ia tidak dongkol luar bisa, setiap pagi selalu  ditemukan sampah berserakan di depan rumahnya. Tidak hanya sekali sampah itu berada di halaman rumahnya, tapi hampir setiap pagi ia temukan sampah itu. Entah dari mana datangnya. Simon tak ingat ada angin ataupun badai semalam. Lalu dari mana sampah-sampah itu datang, pikirnya. Sudah satu bulan ini teror sampah di rumah Simon terus berlanjut. Simon sudah tak mampu membersihkannya sendiri. Bahkan Ia sampai mendatangkan petugas kebersihan. Namun akhirmya mereka ikut menyerah dengan keadaan itu. Mereka tak mampu membersihkan sampah-sampah yang setiap hari datang lebih banyak, bahkan lebih bau dari sebelumnya.

Simon mencoba mencari tahu asal usul sampah-sampah itu dengan berjaga tiap malam agar bisa mengintip dan mengetahui dalang dari semua kejadian itu. Akan tetapi sungguh mencengangkan, tak ada satu pun manusia yang ia lihat membuang sampah di rumahnya. Namun tiba-tiba saja sampah-sampah itu ada dan menumpuk. Sampah itu seperti datang dari langit. Simon semakin putus asa. Ia mulai berpikir untuk pindah rumah. Namun bagaimana jika peneror itu juga mengikutinya? batinnya. Simon  berpikir keras mencari penyebab datangnya sampah-sampah itu. Ia mencoba mengingat-ingat kegiatan yang dilakukan sebelum kejadian datangnya sampah.

Keesokan harinya Simon bergegas menuju hutan tempat ia piknik bersama kawan-kawannya bulan lalu. Ia sendirian. Hanya ditemani papan besar yang dibawanya. Perlahan papan itu ia tancapkan di area yang pernah ditempatinya. Terlihat tulisan besar dan jelas terpampang di papan tersebut. “SAYA MOHON MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA ATAS KESALAHAN YANG PERNAH DILAKUKAN DI HUTAN INI. SAYA BERJANJI TIDAK AKAN MENGULAGI PERBUATAN SAYA MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN”. Demikian pesan singkat yang ditulis Simon.

 

 
 

Mencari Kencing di Semak-Semak

Malam semakin pekat menguar aroma kemenyan di sekeliling rumah Mbah Warno. Terlihat seorang pemuda meniarap di pojok ruangan. Badannya sesekali gemetar layaknya orang demam. Mulutnya komat-kamit, sepintas seperti orang membaca doa, tapi tak jelas bacaannya. Tiba-tiba Mbah warno berdiri tak jauh dari pojok itu menghentakkan kaki berkali-kali. “pergi kau...pergi sekarang juga”. Teriak Mbah warno memecah keheningan malam. Tubuh pemuda itu pun terjungkal dari tempat tiarap sedari sore. Tubuhnya kian menggigil. Mukanya menampakkan ketakutan teramat sangat.

Risno, pemuda pencinta alam dari luar kota yang tak kuasa menahan kencing ditemukan warga tergeletak di semak-semak. Tidak ada bekas penganiayaan, hanya tubuhnya bersimpah keringat dingin. Barang-barangnya pun masih utuh. Teman-temannya satu tim mencari sekeliling hutan, tapi tak menemukan Risno. Mata mereka terhalang, meski sudah melewati semak tempat Risno tak sadarkan diri.

Mata Rsino mengerjap silau tersorot lampu teplek yang dipegang Mbah Warno. Satu tangan lainnya memegang segenggam bunga aneka warna yang ditaburkan di atas tubuh Risno. Tak henti-hentinya mulutnya meramal mantra. Wajahnya sudah terlihat putus asa. Sejenak Ia terdiam dan mengangguk-angguk, kemudian menggeleng dan mengangguk kembali. Dia kemudian menemui warga meminta agar Risno dikembalikan ke semak. Tempat itu harus dibersihkan karena telah mengotori tempat tinggal pemiliknya. Risno manggut-manggut dan tergelak-gelak sambil memungut bunga yang ditabur dan memasukkan ke mulutnya. Semua orang bergidik melihatnya.

 

 

Toko Kelamin

Sejak kebakaran itu, toko Roni tak terurus. Seperti sengaja dibiarkan mangkrak begitu saja. Dia tak ikut asuransi seperti toko tetangga lainnya. Pelanggannya satu-persatu meninggalkannya dan pindah ke toko lain yang sudah kembali dibangun. Roni tak tahu harus berbuat apa. Kebakaran itu banyak membawa petaka baginya. Toko itu satu-satunya usaha yang dimiliki Roni. Setelah tragedi, istrinya kabur dengan lelaki lain yang lebih menjanjikan kehidupan nyaman. Sedangkan ibunya mulai sakit-sakitan dan Roni sendiri benar-benar kehilangan arah.

Sambil berjalan gontai, Roni masih terus mencoba mengajukan bantuan pada lembaga pemerintah di kotanya. Namun tak satupun ada yang bersedia memberikan bantuan. Hanya janji yang mereka suguhkan ke hadapan Roni setiapkali datang.  Hari ini Roni sudah benar-benar putus asa. Andai tak ingat ibunya yang sakit, ingin rasanya bunuh diri. Tak sengaja ia kemudian ingat dengan sahabat kecilnya, Surya yang kini tinggal di ibu kota. Hanya bermodalkan keyakinan ia mendatangi rumah Surya. Tempatnya berada di lingkungan elite di seputaran alun-alun kota. Surya ternyata tak menikah, meskipun dikelilingi perempuan-perempuan cantik di tempat kerjanya. Dia tak mampu menjadi lelaki sewajarnya. Surya menyanggupi untuk membangun kembali toko milik Roni dengan persyaratan yang diajukan.

Ibu Roni merasa heran melihat toko sudah kembali seperti semula. Bahkan lebih besar dari sebelumnya, isinya pun banyak dan lengkap. Roni mencoba menghindar setiapkali ibunya bertanya dari mana dia mendapatkan uang untuk membangun toko kembali. Roni mencoba mengalihkan perhatian ibunya, tapi ibunya tetap memaksa Roni bercerita. Kini Roni tak mampu lagi mengelak. Tak kuasa menatap ibunya, Roni pun membuka suara, “ Aku menjual kelaminku, Bu”. Ucap Roni hampir tak terdengar.

_____

 

*) Suhartatik dengan nama pena Tika Suhartatik, perempuan desa yang lahir di sebuah kampung kecil di Kabupaten Sumenep, “ Satu Catatan Lebih Baik dari Seribu Ingatan” menjadi Motto dalam hidupnya. Sejak tahun 2010 sampai sekarang ia mengabdikan diri di almamaternya STKIP PGRI Sumenep dan saat ini ia aktif sebagai pegiat literasi dan pengurus di Rumah Literasi Sumenep (Rulis)  dan juga tergabung sebagai  Anggota Komunitas Kampung Pentigraf Indonesia. Ia juga menjadi editor sekaligus penulis di majalah berbahasa Madura “Jokotole” terbitan Balai Bahasa Jawa Timur. Karya sastra berupa puisi-puisinya yang berbahasa Madura dan juga berbahasa Indonesia  terkumpul dalam berapa buku antologi puisi. Puisi tunggalnya yang berjudul “Seteguk Kopi Emak” masuk dalam 25 Nominator Hari Puisi Indonesia tahun 2020.  Karya-karya pentigrafnya dimuat pada beberapa Kitab Pentigraf yang diterbitkan oleh  Kampung Pentigraf Indonesia Tahun 2018, 2019, 2020, 2021, dan 2022. Selain menulis karya sastra  dia juga aktif menulis karya ilmiah  yang dimuat dalam prosiding dan jurnal ilmiah. Dia saat ini tinggal di Dusun Bonmalang Desa Saronggi – Sumenep Madura, alamat surelnya tikasuhartatik5@gmail.com. No kontak yang bisa dihubungi 08175218828.

 

 

 

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5871928900194036418

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item