Kiat Menulis Bebas


Secara umum, konsep menulis bebas mengedepankan niat atau semangat untuk menulis. Jadi, jika Anda sudah punya semangat menulis, Anda sebetulnya sudah punya modal yang sangat penting.

Misalnya: “Saya bingung nih, mau nulis apa. Apa yang harus saya tulis, ya? Kenapa ide sama sekali tidak muncul? Padahal kemarin saya ada ide, lho. Kenapa sekarang idenya hilang tak berbekas? Kenapa? Kenapa saya jadi blank begini?…..” Berdasarkan pengalaman dan orang-orang yang sudah mengaplikasikan kiat menulis bebas, dari tulisan semacam di atas ide akan memancar dengan sendirinya.

Lupakan dulu aturan-aturan tentang penulisan dan teori-teori baku. Ekspresikan dulu spontanitas dan letupan-letupan pikiran yang ada pada saat itu. Pada tahapan ini, Anda tidak perlu mempermasalahkan semua teori tersebut bahkan Anda tidak perlu memeriksa dulu tulisan Anda.

Mungkin Anda akan bertanya kenapa kita tidak memeriksa tulisan kita sejak tahap pertama ini? Bukankah akan lebih efisien? Memang jika kita mementingkan efektifitas itu merupakan langkah yang tepat. Namun, terkadang ketika kita memeriksa tulisan di tengah proses pertama ini, justru akan menghambat ide-ide yang juga muncul karena terganggunya ritme menulis kita. Hasilnya adalah kemandekan-kemandekan dan berdampak berkurangnya semangat menulis. Jadi, daripada kita malah justru berhenti menulis karena mandek, lebih baik tunda dulu memeriksa tulisannya.

Setelah semua tertuang di kertas, beristirahatlah untuk menyegarkan lagi pikiran Anda. Nanti ketika pikiran kembali rileks dan siap diajak “kerja” kembali, barulah mulai memeriksa tulisan Anda tadi.

Pada tahapan inilah Anda mulai kembali menggunakan semua teori yang Anda ketahui tentang penulisan seperti melihat kepaduan dari tiap kalimat, tanda baca, ejaan-ejaan, dan ide besar tulisan Anda sendiri. Karena mungkin saja pada tahapan ini Anda akan melihat bahwa justru tulisan Anda memiliki dua ide besar yang bisa dipisah untuk menjadi tulisan yang berbeda. Hal yang menguntungkan bukan? Jadi Anda tidak kesulitan untuk menulis tulisan Anda selanjutnya.

Cara menulis secara dua tahap ini pada dasarnya hanya langkah awal bagi Anda untuk menemukan ritme menulis Anda sendiri. Pada nantinya ketika Anda sudah lebih mahir, Anda tidak perlu terpaku lagi dengan kiat ini. Anda bisa mengedit tulisan Anda di tengah-tengah proses menulis jika memang hal ini ternyata tidak mengganggu lagi bagi Anda. Jadi silahkan memulai menulis dan tidak perlu ragu lagi. Karena sejatinya kita tidak perlu menjadi ahli untuk memulai tapi kita perlu memulai untuk menjadi ahli.

Mandeg menulis, blank, tak tahu harus menulis apa, banyak ide tapi bingung bagaimana cara menuangkannya menjadi tulisan, dan seterusnya? Itu semua adalah penyakit paling kronis dalam menulis. Atasi persoalan tersebut dengan cara menerapkan kiat menulis bebas. Insya Allah, semua masalah seperti itu akan hilang. Anda akan bisa menulis secara lancar selancar- lancarnya!

Kiat menulis bebas itu didukung teori penggunaan otak kanan dan otak kiri. Intinya kektika dituntut untuk menulis maka gunakan “Otak Kanan Dulu Baru Otak Kiri”.

Tulisan bersambung:

  1. Yuk Pahami; Kiat Menumbuhkan Minat Menulis
  2. Kiat Menulis Bebas
  3. Merevisi Draf Tulisan

Kiat Menulis Bebas = Kembali ke Fitrah Manusia

Saya yakin Anda semua sudah paham, bahwa otak manusia memiliki dua belahan, yakni otak kanan dan otak kiri.

Otak kanan = menyukai spontanitas, penuh kebebasan, tanpa aturan.

Otak kiri = sistematis, runut, penuh pertimbangan.

Secara naluriah, sebenarnya setiap manusia sudah “diprogram” oleh Tuhan untuk menggunakan otak kanan dulu baru otak kiri, DALAM HAL APAPUN.

Secara hukum alam, kita para manusia ini memang terbiasa mengerjakan apapun dengan otak kanan dulu baru otak kiri. Spontan dulu baru mikir-mikir. Ini adalah hukum alam, sangat sesuai dengan fitrah manusia.

Masalahnya: Dalam menulis kita justru melawan hukum alam. Kita melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia!

Kita mulai menulis dengan berbagai macam pikiran dan pertimbangan:

Tulisan ini nanti jadinya bagus tidak ya?

Bagaimana kalau hasilnya jelek?

Bagaimana kalau nanti tulisan ini diejek oleh orang lain?

Bagaimana kalau tulisan ini tidak sesuai dengan tata bahasa dan ejaan yang berlaku?

Kalau tulisan ini saya kirim ke Kompas, dimuat enggak ya?

Saya ingin membuat tulisan sebagus tulisan Andrea Hirata. Tapi bagaimana kalau tulisan saya nantinya tidak bagus, jauh dari kualitas Andrea Hirata?

Dan seterusnya!

Dengan kata lain, belum apa-apa kita sudah pakai otak kiri! Padahal, hukum alam justru mengajarkan kita untuk menggunakan otak kanan dulu baru otak kiri. Ini berlaku dalam hal apapun, termasuk dalam MENULIS.

Maka, ketika saya belakangan ini rajin memasyarakatkan KIAT MENULIS BEBAS kepada teman- teman penulis, itu didorong oleh keinginan saya agar para penulis kita kembali ke fitrahnya, kembali ke hukum alam dalam hal menulis.

Memang, kecenderungan kita untuk MELAWAN HUKUM ALAM ketika menulis sedikit banyaknya dipengaruhi oleh sistem pendidikan kita di sekolah. Sejak kecil, kita diajarkan oleh Guru Bahasa Indonesia bahwa menulis harus pakai kerangka karangan, harus mematuhi EYD, harus taat pada tata bahasa, dan seterusnya dan seterusnya. Ajaran seperti ini membuat kita berpikir bahwa menulis itu rumit, membingungkan, dan sulit untuk dipraktekkan.

Padahal sebenarnya, menulis itu sangat gampang! (seperti kata Arswendo Atmowiloto pada bukunya “Mengarang Itu Gampang!”). Bagaimana caranya agar gampang? Ya tentu saja dengan KEMBALI KE HUKUM ALAM. Kikislah habis “aliran sesat” yang diajarkan oleh guru kita di sekolah dulu. Mulai sekarang, menulislah dengan otak kanan dulu baru otak kiri.

Tulisan bersambung:

  1. Yuk Pahami; Kiat Menumbuhkan Minat Menulis
  2. Kiat Menulis Bebas
  3. Merevisi Draf Tulisan

 Bagaimanakah Cara Menulis Bebas Tersebut? Kiat menulis bebas caranya adalah sebagai berikut:

Tahap ke-1: Otak Kanan:

Mulailah menulis secara spontan. Apapun yang muncul di pikiran Anda, langsung ditulis saja. Bahkan ketika Anda bingung harus menulis apa, coba tulis saja:

“Saya bingung nih, mau nulis apa. Apa yang harus saya tulis, ya? Kenapa ide sama sekali tidak muncul? Padahal kemarin saya ada ide, lho. Kenapa sekarang idenya hilang tak berbekas? Kenapa? Kenapa saya jadi blank begini?…..”

Apa susahnya menulis seperti itu?

Tentu saja Anda tidak harus menulis persis seperti kalimat-kalimat yang saya tulis. Itu hanya contoh untuk menjelaskan bahwa menulis bebas itu SANGAT MUDAH. Oke?

Ketika menulis bebas tersebut, HILANGKAN SEMUA BEBAN PIKIRAN ANDA.

Ya, SEMUANYA. Jadi apapun itu yang menghantui Anda ketika menulis, yang membuat tangan Anda berhenti menulis, yang membuat Anda bengong dan kembali blank atau bingung harus menulis apa lagi, LUPAKAN ITU SEMUA. BUANG JAUH-JAUH.

Yang tak kalah penting: Jangan diedit atau direvisi sebelum selesai.

Walau tulisan Anda kacau balau, kalimatnya ngelantur ke sana ke mari, banyak salah ketik, atau Anda merasa tulisan tersebut sangat jelek, membosankan dan tak ada bagus-bagusnya, bahkan bila banyak kalimat yang berisi kata-kata vulgar, berbau SARA, membuka aib, dan seterusnya, BIARKAN SAJA. Jangan diedit atau direvisi dulu. Lanjutkan saja proses menulis Anda hingga semua ide tertuang dalam bentuk tulisan.

Kenapa tidak boleh diedit? Sebab begitu Anda mulai mengedit, maka itu akan menjadi sumber kemandegan yang baru.

Tahap ke-2: Otak Kiri:

Setelah tahap ke-1 selesai, diamkan dulu naskah Anda sekitar satu atau dua hari. Atau kalau buru-buru, satu atau dua jam cukup deh. Lalu baca lagi tulisan tersebut. Kini, mulailah MEREVISI dengan otak kiri. Buatlah tulisan tersebut menjadi lebih bagus. Bila ada salah ketik, saatnya diperbaiki. Bila topiknya melebar ke mana-mana, saatnya difokuskan ke tujuan semula. Bila Anda merasa tulisannya kurang menarik, kini saatnya dibuat lebih menarik. Dan seterusnya dan seterusnya.

“Bagaimana cara merevisi? Apa saja yang harus saya edit?” Caranya:

Edit atau revisi saja tulisan tersebut semampu Anda. Tidak ada patokan bagian mana yang harus direvisi atau bagaimana cara mengeditnya dan seterusnya. Pokoknya edit dan revisi saja semampu Anda. Yang penting Anda merasa bahwa hasil editing atau revisi tersebut membuat tulisan Anda lebih bagus dari sebelumnya. Itu saja. Titik.

Hasil Otak Kanan = Draft (atau Ruang Privat) Tahap pertama adalah Tahap Otak Kanan.

Pada tahap otak kanan ini, tulisan yang dihasilkan adalah DRAFT. Atau meminjam istilah Hernowo, tulisan hasil otak kanan adalah untuk konsumsi ruang privat. Atau bahasa gamblangnya, “Ini adalah tulisan untuk diri Anda sendiri. Bila misalnya Anda hendak mengirim tulisan ke Kompas, bukan draft atau hasil otak kanan tersebut yang Anda kirim.”

Tulisan bersambung:

  1. Yuk Pahami; Kiat Menumbuhkan Minat Menulis
  2. Kiat Menulis Bebas
  3. Merevisi Draf Tulisan

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 2696478841822796751

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item