Cukup Satu Kali Saja


Cerpen: Lilik Soebari

Kerlap-kerlip lampu jalanan memanjang dan jatuh di hamparan air. Begitu pula dengan bayangan pepohonan membentuk siluet bergerak-gerak searah angin bertiup menciptakan suasana semakin hening. Suara kecipak air ulah ikan berlompatan demikan jelas memantul di tengah riak air berkilauan.

Mata Dini berkerjab-kerjab, berpendar seperti hamparan kilau air bermandikan cahaya bulan. Ada riak-riak kecil berlompatan, dan lompatan-lompatan itu saling membentur membentuk kilauan dan genangan.

Aku menangkap kesedihan yang demikian mendalam di balik senyumnya.

Sembari mengaduk lemon tea hangat tatapanku tak beralih dari kerjab bola matanya yang selalu membiusku. Kerjab bintang Kejora.

Senyum tipis dibibirnya menyembunyikan luka hati serta kesedihan mendalam. Aku menatapnya dalam kebisuan yang melelapkan.

"Ini ke lima kalinya hatiku tercabik," ujarnya getir.

Kugenggam tangannya.

"Untuk kali ini aku tidak memberinya restu," ucapnya lirih sembari menyeruput kopi.

"Perempuan itu seumuran Cita," kisah Dini. Cita, gadis bungsu Dini yang saat ini duduk di bangku SMA kelas XI..

Kembali kugenggam tangannya dengan perasaan yang entah dan membayangkan diriku diposisinya. Andaikan aku jadi Dini, sanggupkak aku memikul semua kesedihan dan penderitaan batinnya?

Derum suara truk-truk besar melintas dan menimbulkan getaran di lapak yang kami duduki.

Keheningan kembali menyergap.

Dini, sosok pendiam kukenal sejak du bangku SMP.  Karakternya yang lembut dsn kalem serta tidak mau ribut membuat  dirinya sering dibully oleh teman sekelas yang nakal. Meski pendiam Dini merupakan salah satu siswa yang pintar di kelas. Ketekunan belajarnya patut diacungi jempol. Dan akulah yang paling beruntung, tanpa belajar pun nilai-nilai ulanganku tak pernah jeblok.

Dan persahabatan kami semakin erat setelah memasuki Aliyah, meski beda kelas. Aku dan Dini seperti Mimi dan Mintuno versi koplak.

Hamdan menikahi Dini, pasca perempuan cantik nan lembut itu lulus SMA. Kala itu Hamdan tidak mau menundanya lagi karena secara finansial sudah mampu memberikan nafkah yang cukup kalau menikah.

Deretan 3 toko besar suplier bahan sembako berdiri megah yang letaknya sangat strategis  setelah pintu masuk pelabuhan Talango  Hamdan juga membantu manajemen usaha sang Abah mengelola perahu-perahu penyebrangan yang beroperasi melintasi pulau-pulau kecil, seperti rute Kalianget ke pulau Gili Genteng, pulau Raas, pulau Gili Labak maupun pulau Sapudi.

Meski tajir melintir karakter laki-laki berwajah gelap itu sangat sederhana dan tidak menampakkan diri sebagai sosok pengusaha muda yang sukses.

Itu dibuktikan saat pertemuan pertama.

Bermula bersitatap di perahu kecil dengan kapasitas tak lebih dari 20 orang.

Waktu itu, kami bersama rombongan teman sekelas yang baru lulus bermaksud mengunjungi Pasarean Asta Yusuf  sekaligus mengunjungi  teman yang sakit.

Hamdan kala itu dengan berbalut kaos lusuh dan bertopi membantu para penumpang masuk ke perahu yang terus bergoyang karena hempasan gelombang.

Dari cara menatap Dini yang kala itu berbaju gamis hijau tosca dipadu jilbab senada bermotif bunga, aku meyakini  laki-laki dengan tinggi badan standar itu naksir Dini.

"Tuh, liatin kamu terus," usikku. Semburat rona merah muncul di pipi Dini.

"Cakepan Joni," bisikku membandingkan kakak kelas yang naksir mati-matian namun tak bisa menyentuh hati Dini untuk membukanya.

Tiba-tiba saja Hamdan mendekati kami yang duduk di bagian belakang perahu. Karena kurang hati-hati kakinya tertsit pada seutas tali dan menyebabkan tubuhnya oleng. Dini terpekik.

Melihat insiden itu sebagian penumpang tertawa. Bagi mereka yang terbiasa mondar-mandir ke pulau Poteran, baik penduduk lokal maupun pedagang hal seperti itu lumrah. Namun bagi yang pertama kali menyeberang bikin hati panas dingin.

Sekilas kulihat wajah Dini pias, dan dari jarak dekat mereka sama-sama terpaku..

Sebulan kemudian Dini datang ke rumah dengan rona wajah berbinar. Ditangannya ada selembar kertas warna ungu. Dini menjulurkan padaku. Mataku terbeliak memandangi nama yang tertera di kartu undangan. Hamdan Ramdani dan Nurdini Arsyad.

Aku memeluknya kemudian menatap kerjab kejoranya yang berpendar. Kerjab bahagia.

"Selamat," kembali ku rengkuh Dini dalam pelukan. "Semoga berbahagia, menjadi keluarga yang samawa."

Pesta perkawinan pun di gelar  besar-besarsn selama tiga hari berturut-turut. Dalam acara itulah aku baru mengetahui kalau Hamdan ternyata kaya raya.

Dini sangat beruntung. Kehidupan sosialnya berubah drastis. Hamdan sangat memanjakan istrinya dan melimpahi kellahagiasn yang utuh secara lahir dan batin. Hadiah perkawinannya saja mobil sedan, kala itu hanya orang-orang tertentu saja ysng mampu membelinya.

"Malah ngelamun," Dini mencipratkan air dari sedotan. Aku tersadar lalu tertaws.

"Aku ingin berenang mengejar ikan yang berkecipak riang, tapi aku sendiri terkurung di keramba." Tiba-tiba saja Dini membaca puisi, entah puisi siapa.

"Keramba emas," olokku. Dini hanya menanggapi candaanku dengan mengangkat alis mata.

Suasana kembali hening.

Pikiranku kembali mengembara pada sosok Hamdan. Magnet terbesar bagi kaum hawa yang kepincut kemudian mengejarnya karena Hamdan demikian royal dan pandai merayu. Perempuan yang tidak teguh dalam sekejab dibuat klepek-klepek dan mabuk. Jadi tersenyum sendiri ketika mengingat pada suata masa Hamdan juga sempat merayuku.

Dia hanya terbahak ketika mendengar penolakan yang kusampaikan sangat halus, "Belum cukupkah empat perempuan yang menghuni hatimu?"

Dini kembali mencipratkan air dari sedotan, membuyarkan lamunanku. . Sembari tersenyum  kutatap kerjab bola matanya. Ada irisan luka yang mengambang  lebih menganga dari peristiwa lima belas tahun silam. Saat Hamdan membawakan, "madu" dan membangunkan istana di samping rumahnya.

Sedu sedan Dini pecah bak hujan di senja kelabu, namun tangis itu hanya sesaat karena Dini berusaha menegakkan hati dan  ikhlas untuk mendapatkan ridho sang suami.

Bahkan ketika Hamdan ingin menikah untuk yang ketiga dan keempat kali, Dinilah yang membantu persiapan prosesi pernikahan Hamdan.

Hamdan tetap memposisikan Dini menjadi permaisuri utama. Rumah Dini paling megah dibandingkan kediaman istri kedua dan keempat di area tanah milik Hamdan yang sangat luas. Sedangkan istri ketiga Hamdan tidak berdomisili di Talango tetapi di pulau lain.

Sebagai pewaris tunggal juragan perahu, dan kemudian bidang usahanya merambah home industri hasil olahan laut pundi-pundi kekayaan Hamdan semakin menggunung.

"Apakah di pikiran suamiku hanya ada selangkangan saja? Apakah dia tidak berfikir bagaimana perasaan Cita? Apakah dia akan terluka kalau misalnya Cita kelak diduakan oleh suaminya?"

Aku hanya bisa menggenggam tangannya ketika kalimat beruntun berlomba dengan bulir-bulir bening yang runtuh dan mengalir dipipinya.

"Bukankah lebih baik berterus-terang dari pada mengumbar syahwat di sembarang tempat?"

Matanya membulat dan mrnatapku tajam.

"Cobalah bayangkan ketika suamimu bergelut dan berbagi peluh dengan perempuan lain, " ujar Dini dengan tatapan sendu.

Aku mengedikkan bahu dan bergidik ngeri.

Sungguh, Dini seorang perempuat yang kuat, tegar dan cerdas. Ini dibuktikan dengan kemampuan mengelola emosi ketika berbagi suami dengan madunya. Negitu pula dengan kemampuan memanagemen bisnis Hamdan sehingga mampu meraih kemajuan dan pundi-pundi uang melimpah.

Menghadspi ssng suami yang don yuan, Dini mampu berkompromi dengan drama kehidupannya yang dramatik. Kekuatan bersandar padaNya membuat hatinya demikian lapang membawanya pada kebahagiasn yang hakiki.

Bakti dan memegang amanah sang ibu yang telah merestui Hamdan sebagai suami serta janji kepada anak kedua Fahri untuk tidak meninggalkan sang ayah, Dini mampu mempertahankan mahligai rumah tangga sampai rentang waktu dua puluh enam tahun.

Kembali aku menatapnya dalam kerlip cahaya bulan. Ada getar pilu mengembang disenyumnya yang damai, meski sang suami selalu berkelana pada lubuk hati perempuan lain dan membiarkan dirinya menjadi pelabuhan yang sunyi.

Aku menatap kerjab kilau matanya penuh kekaguman, dan ada energi positif yang menghangatkan seluruh nadi dan hati. Kekuatan yang dibangun dari puing-puing luka menjadikannya setangguh karang.

"Kemarin malam aku katakan pada kak Ham" ujar Dini lirih menggantung kalimatnya.

"Aku meyakini kehidupan sesudah kematian dan kukatakan padanya, kelak aku tidak ingin bersamamu lagi di kehidupan yang abadi. Cukup satu kali saja bersamamu, saat ini."

Hatiku menggigil menatap kerjab kilau bola matanya dan terpaku.

 ______

Sumenep, April2022

POSTING PILIHAN

Related

Utama 4431648671047852855

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item