Setumpuk Pentigraf Hasani Hamzah


Pentigrafis Hasani Hamzah


Kucing Pagi Hari

Pagi-pagi ia menjadi kucing bagi bayi-bayi yang dilahirkan. Sudah berapa hari tak mencium aroma magis dari merah ingsan. Di atas meja terhidang kopi dan roti. Disajikannya selalu setiap pagi. Sudah menjadi rutinitasnya melayani dari malam hingga pagi. Lelakinya duduk dengan menselonjorkan dua kaki. "Apalagi yang dihayalkannya?" Perempuan itu bertanya dalam benaknya.

Baginya, bukan cuma tentang pagi yang indah bak bunga-bunga di luar jendela. Namun, tak cukup piranti atau antena. Sebab kucing bukan kupu-kupu atau kumbang. Terlebih dirinya. Perempuan mana yang tak mendamba kasih sayang. Setiap perempuan pasti ingin dimengerti, diperlakukan selayaknya oleh lelaki pasangannya dengan sepenuh cinta dan rasa tanggung jawab. Lahirdan batin.

Suara tevi di ruang depan terdengar kencang. Mula-mula mengalun. Lalu meraung-raung. Suara tevi beradu suara kucing yang saling cakar. Di langit, gerimis turun perlahan. Lama-lama menderas menimpa atap rumah. Kucing-kucing berhenti bertengkar, sebelum kemudian berlalu. Segala melupa seakan tak pernah terjadi apa-apa. Benar apa kata nenek. Nanti juga mereka saling jilat. Tevi masih menyala lalu mati sesaat setelah teriakannya. "Oi, matikan saja tevinya. Anakmu nangis terus tidak bisa tidur!" Mama muda itu mengusap kepala bayinya sampai tertidur lelap. Ia pun tergolek di atas kasur.

Sumenep, 18 Oktober 2022



 

Tengah Malam

Tengah malam, aku terbangun oleh suara yang seperti desir angin, seperti air mengalir. Kubuka jendela. Dilangit kulihat bulan seperti alis. Kuamati daun-daun tak bergerak. Cuaca begitu tenang. Sesekali buah jatuh yang digugurkan binatang malam pemakan buah, menimpa atap rumah, terdengar seperti orang melempar dari jauh.

Bagi para mahluk seperti kalong, malam adalah kelezatan. Malam adalah kebebasan setelah seharian menghukum diri. Lalu berpesta sampai puas sampai lemas. Di malam yang keramat ini, tentu orang-orang tak akan melewatkannya begitu saja. Malam yang lezat penuh gairah. Bercinta sepanjang malam merupakan nikmat yang tak tertara Tuhan berikan.

Aku masih bangun dan bersandar pada dinding. Ada suara seperti langkah kaki yang cepat-cepat membawa tubuhnya yang malas dan berat menuju ruang belakang. Pikirku istriku yang terjaga dan kebelet, tapi pintu tak berderit. Aku ikuti. Pintu belakang tertutup rapat. Tidak terbuka. Di dalam kamar, dua penghuninya pulas berteman lantunan ayat suci dari empetiga yang sengaja dinyalakan sepanjang malam.

Sumenep, 30 September 2022



  ·
Lelaki dan Sepotong Cerita

Sudah tiga pulu menit berlalu. Lelaki itu, ia ingin bercerita. Namun, tak tau bagaimana dan dari mana harus memulainya. Apa yang ingin diungkapnya seolah nyangkut di antara lipatan kata yang tak sanggup dikuasainya. Ada kata yang tak terkatakan. Sepotong cerita yang terpendam. Wajahnya mendongak lalu tertunduk. Sesekali memandang ke depan dengan sebuah diplomasi senyuman yang dipaksakan.

"Berceritalah kepadaku walau sepotong saja!" Ia hanya bergeming. Dingin seperti patung logam. Dua jarum jam besar terpampang di tembok dilihatnya seolah tak bergerak. Dari sorot matanya aku membaca kesuraman yang tersimpan. Kutahu ia tidak berdusta. Ketidakjujuran justru dan terkadang lahir dari sebuah kepandaian merangkai cerita, membolak-balikkan fakta dari realitas yang sebenarnya terjadi. Yang benar bisa jadi salah dan sebaliknya yang salah menjadi benar. Cerita diputar-putar. Menggelinding bagai bola saju.

Waktu terus berjalan. Lelaki itu mencoba mengingat-ingat sekaligus melupakan peristiwa yang telah dialaminya belum lama ini. Dan sejak itu, ia suka menyendiri, memilih enggan bicara. Menerima adalah hal terbaik baginya. Tanpa pemberontakan atau perlawananan. Ia lalui hari-harinya dengan kebesaran jiwa, menghadapi hidup dari sisa usia. Bahwa ia masih ada, dari keadaan yang ada. Setiap yang terjadi, tentu bukan suatu kebetulan. Tapi barangkali ada hikmah di balik semua peristiwa. Sedang Tuhan tidak buta.

Sumenep, 29 September 2022



  ·
Wajan

Melihat wajan, entah kenapa setiap kali mata tertuju pada benda satu itu, membayang di pikiranku pantat hitam. Pantat-pantat itu berkilauan. Seperti yang selalu ingin ia tampakkan. Barangkali demi mencari dengan mencuri perhatian. Ingin supaya memancar. Sebentar lalu memencar dan lama-lama lenyap setelah di mataku ia merasa viral.

Di era yang melompat-lompat, memang semuanya nyaris mau laris dan tentu saja punya hak. Bukan cuma sepatu. Bahkan sandal jepit dapat tempat. Kunyalakan lagi ponsel pintar. Di beranda, telah tersaji beraneka makanan dan minuman yang menggugah selera. Ah, membikin perut lapar saja. Ada gambar bercerita. Ada cerita tanpa gambar. Cerita saja. Gambar saja. Tanpa apa-apa. Tanpa aroma apa pun. Tanpa rasa. Sama sekali. Seperti juga berita soal keadilan dan kemanusiaan di negeri ini.

"Makan itu hape!" Terdengar suara dari sebelah. "Hah?" Melihatku, istriku tersenyum sambil mengiris kangkung buat dioseng.

Sumenep, 27 September 2022



  ·
Widara

Pagi. Angin berhembus. Pohon widara gugurkan buahnya, menebar kecut aromanya. Berserakan di tanah. Buah-buah yang masak dan ranum. Buah-buah yang busuk menyimpan mata. Kulintasi lorong setapak. Ranting-ranting bergemertak ditikam angin, diterjang debu kemarau yang dingin. Begitu kencang. Langkahku serupa orang menuruni gunung, memikul punggung.

Sepasang mata, berpasang-pasang mata ulat mengintipku dari dalam daging. Daging buah yang terluka. Kiranya, ulat-ulat itu tidak menjelma sendok yang menghantui langkah mematuk mata kaki. "Hi, Ngeri!". Terlebih ular berkepala dua. Sebab sebangsa ular itu, ia tangkas bergerak serta pandai meniru gerak angin dan lawan. Seperti setan menakutkan.

Dengan antena. Aku ingin menjadi kupu-kupu. Aku ingin seperti capung. Bebas bergerak, melangkah, terbang kian kemari. Tidak membebani siapa. Tidak susah. Bahkan saat bertengger di ranting yang lemah.

Sumenep, 26 September 2022



 Lukisan Senja

Senja tak selalu tentang perpisahan atau kehilangan atau kemuraman. Namun, ia bisa sesuatu yang datang tiba-tiba membawa suka cita, muncul dari dalam diri atau yang lain di luar diri. Bahkan jauh di cakrawala. Tak terduga. Serius. Begitu misterius.

Sore itu. Sebuah kiriman kuterima dari sahabatku berupa sesuatu yang aku tak tau. Aku buka kresek putih yang membungkus benda pemberian sahabatku itu. "Topi Pet?" Aku suka. Langsung kukenakan di kepala.

Tiba-tiba aku teringat pada suatu senja, ketika aku dengan Giyo sahabatku itu pernah terlibat percakapan. Di akhir percakapan di senja itu ia mengucapkan kata-kata. Dan ternyata, ini kali ia tepati. Walau sederhana, sekedar bingkisan berupa topi. Topi pelukis. Cakrawala menjelma kanvas, menuntun tanganku untuk melukiskan sesuatu yang mendalam.

Sumenep, 20 September 2022

 *****

 Hasani Hamzah lahir di Sumenep pada 16 Agustus 1974. Menulis puisi dan cerpen. Karyanya termuat dalam sejumlah antologi bersama antara lain: Doa Dunia Antologi Puisi Solidatitas untuk Palestina, Kemanusiaan dan Pembebasan, Diandra Yogyakarta 2915; Perjalanan Merdeka Antologi Puisi Internasional Dua Bahasa Indonesia-Inggris Lumbung Puisi 2019; Kata Kita Antologi Puisi Dua Larik, Komunitas Puisi Dua Baris, CV. Aksara Sastra Mendunia 2020; Jejak Puisi Digital 100 Puisi Terpilih Lomba Cipta Puisi Grup Facebook Yayasan Hari Puisi Indonesia 2021; Antologi Puisi Budaya Indonesia Spanyol, Asih Sasami Indonesia, Farha 2022; Para Penyintas Makna Antologi Puisi Dapur Satra Jakarta 2021-2022, Teras Budaya Jakarta 2022; Kutulisi Awalan Namamu, Hyang Pustaka 2022 dan masih banyak lagi.

Selain menulis juga sebagai penggiat seni budaya dan literasi di kampung halamannya serta sebagai pendiri dan ketua Komunitas Literasi Anak Pulau. Email: hasanihamzah1@gmail.com WhatsApp 081249572614 Alamat: Kampung Kota, RT: 004 RW: 001 Desa Sapeken Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep, Kode Pos 69493


POSTING PILIHAN

Related

Utama 163118328601356571

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item