Potret Memaknai Setiap Perjalanan CGP dengan Bahagia


Oleh Tirto Wiyono


Motivasi sederahan dal  diri saya mendorong saya untuk mengikuti seleksi Calon Guru Penggerak (CGP), yaitu saya ingin mengembangkan kompetensi diri sehingga saya mampu menjadi pendidik sekaligus motivator dan fasilitator bagi murid saya sesuai perkembangan zaman.

Kesan awal saya mengikuti CGP, saya marasa kesulitan dalam mengatur waktu. Di satu sisi saya harus menyelesaikan tugas pokok di sekolah di sisi lain saya harus menyelesaikan tugas CGP melaui LMS serta mengikuti Ruang Kolaborasi dan Elaborasi melalui Google meet.

Kendala pasti ada, seperti kesulitan mengatur waktu, kurang terampil dalam editing video, dan kendala jaringan internet. Di awal mengikuti Program Guru Penggerak (PGP) ini banyak tugas yang harus dibuat dalam format video dan diunggah ke chanel Youtube. Sementara, terus terang saya belum terbiasa mengedit video. Awalanya karya video yang saya buat terbilang sederhana jika dibanding dengan karya teman-teman CGP lainnya. Namun, sejalan dengan waktu saya belajar menggunakan aplikasi Canva dan Kine Master, dan akhirya saya bisa membuat karya video yang lumayan bagus, menurut saya pribadi, sih.

Kendala jaringan internet sering saya alami ketika saya harus mengunggah file video yang ukurannya cukup besar ke Youtube, sementara jaringan internet di sekolah maupun di rumah sangat lemah dan seringkali gagal, akhirnya saya harus mengunggah ulang di tempat yang jaringan internetnya bagus dan biasanya menggunakan hostpot seluler.

Dari sekian banyak modul, modul yang paling berkesan bagi saya adalah Modul 2. Pada modul 2.1 saya banyak memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru tentang pembelajaran berdiferensiasi, yang banyak membantu murid belajar sesuai gaya belajarnya. Pada modul 2.2 saya bisa memahami bagaimana kita bisa melakukan praktik kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab baik bagi diri saya sebagai guru maupun murid saya. Pada mudul 2.3 saya belajar melakukan praktik coaching untuk supervisi akademik yang tentunya akan memberikan bekal kepada saya bagaimana melakukan praktik supervisi yang semestinya dilakukan oleh seorang kepala sekolah.

Perjalanan CGP membuat saya mengalami banyak perubahan. Misalnya bagaimana mulai memperlakukan murid sebagai subjek dalam pembelajaran, menerapakan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional yang sebelumnya pelum pernah saya lakukan. Menerapkan keyakinan sekolah dan keyakinan kelas serta mengganti hukuman dengan restitusi. Bagi murid, banyak perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik, senang dalam mengikuti pembelajaran dan yang pasti muirid-murid lebih bersemangat.

Menurut saya PGP sangat penting karena sebagai guru kita dihadapkan dengan perubahan dan dan perkembangan zaman, murid yang kita didik sepuluh dua puluh tentu sangat berbeda dengan murid yang kita bersamai hari ini. Maka sebagai guru kita harus meningkatkan kompetensi diri dan terus berinovasi sesuai perkembangan teknologi dan informasi. Kita harus keluar dari zona nyaman dan terus bergerak. Di PGP ini kita akan mendapatkan bekal untuk menyiapkan itu semua terlebih nantinya kita diharapkan menjadi pemimpin yang bukan hanya tergerak dan bergerak, namun juga menggerakkan orang-orang disekeliling kita, para guru dan komunitas-komunitas dunia pendidikan.

Kegiatan PGP sudah bagus namun kalau boleh memberikan saran  sebaiknya pelaksnaan PGP khusunya kegiatan Lokakarya dilaksanakan di tempat yang sarananya layak untuk ruang pertemuan seperti ruangan ber-AC dan tersedia sound system.

Harapan saya setelah lulus PPGP dapat mengaplikasikan ilmu yang saya terima selama mengikuti PPGP untuk menigkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dan menularkannya kepada guru lain serta menggerakkan komunitas yang saya ikuti.

*****

 
Tirto Wiyono,
seorang kepala sekolah di SDN Duko II Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep. Setiap hari jarak 65 km pulang pergi dia tempuh dengan motor untuk sampai ke tempat tugasnya, sekolah yang sederhana dengan sarana apa adanya. Meski demikian dia syukuri dan tak pernah mengeluh karena jiwa pendidik sudah menyatu dalam jiwanya.  

Dia gemar membaca, namun sayang tidak terampil menulis. Meski begitu,  ternyata ada karya buku yang pernah dia tulis seperti: “Cara Praktis Membuat Media Pembelajaran Berbasis Android”. Ada pula karya kolaborasi bersama komunitas Kata Bintang yang tertuang dalam buku Antologi “Catatan Harian Terakhir  Jessica” dan “Gagal Nyantri”.

Sempat pula  meraih Juara I Guru SD Berperstasi dan Berdedikasi pada tahun 2018 Kabupaten Sumenep. Usianya yang kini hampir kepala lima, meski tak muda lagi, tapi jangan ditanya semangatnya. Terbukti meski sudah menjadi kepala sekolah masih semangat mengikuti Pendidkan Guru Penggerak Angkatan 5, alasannya adalah ingin memberikan teladan dan motivasi kepada para guru muda untuk terus meningkatkan kompetensi diri dan berinovasi.








POSTING PILIHAN

Related

Utama 6303795277556139964

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item