Mengenang Perjalanan Menuju CGP 5


Oleh Agus Sugianto


Motivasi saya untuk mengikuti program guru penggerak awalnya ketertarikan saya pada kata penggerak. Saya berpikir pasti ada sesuatu yang lain dari program-program sebelumnya. Dari kata penggerak inilah, kemudian saya mencari tahu lewat googleling apa sebenarnya tujuan dan alasan kemendikbud mengadakan program Calon Guru Penggerak (CGP). Dari hasil googleling tersebut semakin menambah motivasi untuk mengikuti program guru penggerak.

Kesan awal saya mengikuti Diklat CGP adalah nervous dan minder. Pertama, saya adalah peserta tertua di CGP Angkatan 5 ini. umur yang sudah lanjut akan memberikan dampak internal pada diri saya selaku peserta CGP, karena keberadaan umur berbanding lurus dengan ketahanan fisik serta kemerosotan kemampuan saya di bidang-bidang yang lain. Kedua, keberadaan saya yang kurang menguasai teknologi berbasis IT. Padahal kemampuan penguasaan IT di era digital saat ini menjadi modal dasar selama mengikuti CGP, karena berbagai aplikasi yang dipakai selama daring CGP selalu berbasis IT.

Ketiga, jabatan saya ketika mengikuti diklat CGP adalah Kepala Sekolah, ini menimbulkan kesan dan perasaan tersendiri bagi diri saya. Karena CGP dikhususkan untuk guru, sedangkan saya adalah kepala sekolah. Selain itu ada rasa ketakutan yang menghantui yaitu takut tidak bisa membagi waktu antara Diklat CGP dan kesibukan saya sebagai kepala sekolah sekaligus manajer di sekolah semakin membuat saya nervous, minder, dan perasaan bahwa saya sangat kecil kemungkinannya bisa mengikuti diklat CGP dengan baik.

Kendala yang saya hadapi saat pelaksanaan diklat CGP adalah keterbatasan saya dalam penguasaan media yang berbasis IT, baik pada waktu melaksanakan tugas, mengumpulkan tugas, mengubah berbagai bentuk aplikasi dari word ke pdf, atau sebaliknya. Melakukan presentasi, membuat tugas yang berbentuk video, mengunggah tugas ke youtube atau ke google drive serta tugas-tugas lainnya, yang menurut hemat saya sangatlah berat. Bahkan ada cerita lucu yang sedikit membuat saya malu. Saat presentasi tugas, saya mendapatkan peran untuk mempresentasikan tugas dalam ruang kolaborasi.

Saat mempresentasikan PPT hasil kerja kelompok, ternyata PPT yang saya presentasikan tidak muncul di monitor. Beruntung presentasi secara online, sehingga rasa gugup dan keringat dingin yang sebesar kedelai tidak terlihat teman CGP yang lain. Tapi Alhamdulillah berkat kerja sama dan kekompakan teman CGP yang lain, akhirnya teman satu kelompok yang mahir IT membantu saya mempresentasikan di ruang kolaborasi, dan saya hanya tinggal memaparkan  dan mengeksplorasi tugas tersebut. Cerita lucu yang kedua, saat saya dan teman CGP yang lain diminta untuk menuliskan refleksi di Google Jamboard (Papan Tulis Digital). Mau bertanya, malu.

Tidak bertanya, saya tidak bisa mengerjakan tugas. Dilema tersebut terjadi. Dan saya tetap bertahan dengan rasa malu saya untuk bertanya. Pada akhirnya dilema tersebut berakhir, ketika ada teman CGP lain yang juga tidak tahu dengan Google Jamboard tersebut dan menanyakan ke Fasilitator. Alhamdulillah yang kedua, akhirnya pengetahuan saya tentang Google Jamboard (Papan Tulis Digital) bertambah.

Dari sekian modul, modul yang paling berkesan pada diri saya adalah modul budaya positif. Karena ada beberapa hal di modul ini yang sangat memberi makna bagi diri saya. Pertama, keyakinan kelas. Dulu di zaman saya sekolah, yang membuat aturan atau tata tertib adalah sekolah. Tapi pada keyakinan kelas, muridlah yang diarahkan untuk membuat kesepakatan bersama dengan rekan-rekan yang lain. Maka kesadaran siswa untuk mematuhi aturan yang dibuatnya sendiri akan lebih besar, daripada aturan-aturan yang dibuat oleh sekolah.

Kedua, restitusi. Siswa salah selalu identik dengan sanksi/hukuman. Ini sudah dimulai sejak zaman gak enak sampai zaman digital saat ini. Ternyata metode pemberian sanksi/hukuman tidak selamanya efektif untuk memberikan efek jera dan menggugah kesadaran murid atas kesalahan yang telah diperbuatnya, bahkan sebaliknya. Pada modul budaya positif saya menemukan hal baru untuk menggugah kesadaran murid agar menyadari kesalahannya tanpa harus memberikan sanksi/hukuman. Ternyata ketika metode restitusi saya terapkan di sekolah hasilnya sungguh luar biasa.

Seiring dengan perjalanan pembelajaran di CGP, banyak perubahan dalam diri saya. Sebelum mengikuti pendidikan CGP pembelajaran masih berpusat pada guru, guru tidak pernah salah, wajib diikuti titah perintahnya, pembelajaran tidak menyenangkan, guru hanya sebatas menyerahkan RPP untuk persyaratan administrasi belaka. Banyak kesalahan yang saya lakukan pada siswa. Termasuk dalam memberikan sanksi, mulai dari sanksi menulis di kertas, berdiri di depan kelas, dan hukuman fisik dan mental lainnya, yang tak jarang para wali murid tidak terima bahkan sampai menempuh jalur hukum. Setelah enam bulan berproses bersama di pendidikan CGP semua telah saya tinggalkan, meski pun tidak mudah bak membalikkan telapak tangan, perubahan secara betahap telah saya lakukan.

Pendidika CGP sangat penting. Hal Ini sudah saya buktikan sendiri sebagai peserta CGP Angkatan ke 5. Sebagai bahan perbandingan, saya pernah mengikuti Diklat Calon Kepala Sekolah yang diadakan oleh Dinas Pendidikan K abupaten Sumenep selama 3 (tiga) bulan. Pembahasan dari semua modul-modul dalam diklat kepala sekolah hanya pada konsep-konsep dasarnya saja, sehingga gambaran yang saya peroleh hanya gambaran dasar dari seorang kepala sekolah. Berbeda dengan pendidikan CGP, semua modul dibedah secara komprehensip. Baik saat menyelesaikan tugas di LMS, ruang diskusi (kolaborasi), tugas demonstrasi kontekstual maupun saat kita melakukan sebuah aksi nyata modul-modul yang sudah dipelajari.

Bahkan ada sesuatu hal yang baru yang saya dapatkan di CGP yaitu pendekatan berbasis kekurangan. Ini adalah sesuatu yang baru dan tidak saya dapatkan ketika mengikuti diklat calon kepala sekolah.  Semua hal tersebut, semakin menambah keyakinan saya bahwa Program Guru Penggerak ini memang dipersiapkan untuk menjadi kawah candradimuka untuk mencetak agen perubahan, khususnya pada pengambil kebijakan dan pengambil keputusan di tatanan pendidikan Bangsa Indonesia. Sehingga ke depan kita memiliki calon pemimpin pembelajaran, calon pengambil keputusan, dan pengambil kebijakan yang revolusioner dan moderat demi majunya Bangsa ini pada masa yang akan datang.

Saran saya pada pelaksanaan PGP ke depan agar koordinasi antara Dinas Pendidikan Kabupaten, Dinas Pendidikan Propinsi dan BBGP berlangsung intensif dan kondusif. Karena pada pelaksanaan diklat CGP Angkatan 5, ada beberapa hal yang perlu di benahi. Misalnya Pelaksanaan jadwal loka karya yang terkadang berubah. Bagi kami yang berada di daratan, tentu bukanlah suatu kendala yang berarti. Tapi bagi rekan guru yang berasal dari kepulauan, tentu hal ini mendatangkan kesulitan tersendiri.

Tanggal pengumpulan tugas terakhir di LMS yang terkadang tidak sama antara fasilitator yang satu dengan fasilitator yang lain. Belum lagi tempat pelaksanaan lokakarya yang terkadang kurang  representative, misalnya layar monitor yang tidak ada, kipas angin yang kurang memadai serta beberapa fasilitas lainnya yang kurang maksimal. Bahkan pernah coffe break diberikan dalam bentuk kopi saset dan gula pasir yang mengharuskan peserta untuk menyeduh kopi sendiri. Jadi pembenahan-pembenahan memang layak perlu dilakukan demi suksesnya pelaksanaan PGP ke depan.

Setelah lulus dari PGP, saya tidak akan berhenti sampai di sini. Tapi saya akan terus tergerak, bergerak, dan menggerakkan. Pertama, Saya akan mempraktikkan yang sudah  saya peroleh saat mengikuti pendidikan CGP ini pada lingkup sekolah saya. Kedua, saya akan mengimbaskan/menularkan pemahaman dan pengetahuan saya, baik di sekolah saya maupun pada ruang lingkup yang lebih besar. Yang tidak kalah penting adalah saya akan mewujudkan cita-cita saya selanjutnya untuk mengikuti Diklat Pengajar Praktik pada program PGP ini.

*****


Agus Sugianto, S.Pd, lahir di Sumenep pada tanggal 09 Mei 1973. Alumni STKIP PGRI Sumenep yang punya hobby membaca dan menulis ini,memulai kariernya sebagai pendidik pada sebuah Lembaga swasta yang dikelola oleh LP Ma’arif MWC NU Pasongsongan yaitu MTs. Istikmalunnajah Pasongsongan.

Saat ini ia menjadi Kepala sekolah di SDN Panaongan III Kecamatan Pasongsongan  Kabupaten Sumenep serta mengajar di Madrasah Aliyah Itmamunnajah Pasongsongan – Sumenep. Berorganisasi merupakan salah satu  aktifitas lainnya, sehingga beberapa jabatan kepengurusan di berbagai organisasi ia sandang. Beralamat di Dusun Benteng RT 02 RW 02 Desa Panaongan Kec. Pasongsongan Kab. Sumenep. Obsesi terbesar dari guru yang sudah menulis beberapa antologi puisi ini adalah menjadi peserta CGP Angkatan 5, dan Alhamdulillah keinginan tersebut terlaksana. Bagi yang ingin menghubungi si pendiam penyuka warna ungu ini bisa menghubungi lewat account facebook dengan nama Agus Sugianto atau email :  agussugianto95@guru.sd.belajar.id


POSTING PILIHAN

Related

Utama 7478540410703655995

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item