Kekerasan Terhadap Anak

Ilustrasi

Damar Bramantyo Dwi Anggono

Kekerasan terhadap anak (Child Abuse) merupakan masalah yang serius dan merugikan bagi kesejahteraan, keberlangsungan hidup, dan pertumbuhan anak. Kekerasan tersebut dapat berupa kekerasan fisik, seksual, emosional, atau neglakson. Penelitian menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka pendek dan jangka panjang, termasuk masalah psikologis, sosial, dan ekonomi. Untuk membantu mengurangi kekerasan terhadap anak, diperlukan tindakan preventif dan intervensi yang efektif. Ini termasuk pendidikan dan pelatihan untuk orang tua dan pengasuh, serta dukungan sosial dan layanan konseling bagi anak yang terkena kekerasan (World Health Organization 2020).

Kekerasan terhadap anak kecil adalah perilaku orang dewasa atau remaja yang tidak bertanggung jawab dan tidak pantas  terhadap anak. Kekerasan terhadap anak kecil dapat bersifat fisik, seksual, emosional atau eksploitatif. Kekerasan ini dapat menyebabkan trauma jangka panjang dan akibat negatif lainnya bagi anak. Kekerasan terhadap anak kecil harus dihentikan dan orang dewasa harus mengambil langkah untuk melindungi anak dari kekerasan (Lulu'il Maknun 2016).

Apa Itu Child Abuse

Menurut UNICEF, kekerasan terhadap anak adalah "setiap tindakan atau kelalaian yang secara fisik, seksual atau emosional menyakiti atau merugikan seorang anak" (UNICEF, 2021). Kekerasan terhadap anak dapat terjadi di rumah, di sekolah atau di lingkungan tempat tinggal anak. Bentuk kekerasan yang paling sering terjadi pada anak adalah kekerasan fisik, kekerasan seksual dan kekerasan mental. Pelecehan anak dapat menimbulkan berbagai masalah fisik dan mental bagi anak yang mengalaminya, antara lain luka fisik, masalah emosional, dan gangguan tidur.

Menurut Kementerian Sosial Republik Indonesia, kekerasan terhadap anak dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti masalah keluarga, masalah sosial dan masalah ekonomi. Untuk memerangi kekerasan terhadap anak, diperlukan upaya dan tindakan pencegahan yang tepat, termasuk dukungan dan bantuan kepada keluarga bermasalah, pendidikan orang tua dan masyarakat tentang cara menangani dan mencegah kekerasan terhadap anak, serta konseling dan terapi. layanan bagi anak – anak yang mengalami kekerasan.

Pelecehan anak adalah tindakan atau perilaku yang menyakiti atau merugikan anak secara fisik, mental atau seksual. Kekerasan terhadap anak dapat terjadi dalam berbagai bentuk, termasuk kekerasan fisik seperti pemukulan atau penyiksaan; pelecehan emosional seperti penghinaan atau penyiksaan mental; dan kekerasan seksual, seperti serangan seksual atau pelecehan seksual. Kekerasan terhadap anak dapat dilakukan oleh orang tua, saudara kandung atau orang lain yang bertanggung jawab atas anak tersebut, atau bahkan oleh orang yang tidak dikenal oleh anak tersebut. Kekerasan terhadap anak dapat menyebabkan luka fisik yang parah dan kerusakan mental permanen pada anak yang mengalami kekerasan (World Health Organization 2002).

Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan seseorang melakukan kekerasan terhadap anak. Beberapa di antaranya adalah Faktor internal pelaku kekerasan, seperti kemampuan emosional yang tidak stabil, konflik dalam diri, dan masalah kepribadian. Faktor lingkungan, seperti tekanan sosial, masalah ekonomi, dan kekurangan dukungan sosial. Faktor keluarga, seperti masalah dalam hubungan antar anggota keluarga, konflik dalam keluarga, dan pola asuh yang tidak baik. Faktor sejarah kekerasan, dimana seseorang yang pernah menjadi korban kekerasan di masa lalu kemungkinan akan melakukan kekerasan terhadap orang lain, termasuk anak-anak. Faktor kultural atau budaya, dimana beberapa budaya atau kebiasaan dapat mempromosikan atau membenarkan kekerasan terhadap anak. Faktor perkembangan anak, dimana anak yang berada pada tahap perkembangan yang tidak sesuai dengan usianya dapat menjadi sasaran kekerasan (Erniwati, Wahidah Fitriani 2020).

Dampak Kekerasan Terhadap Anak

Dampak kekerasan terhadap anak dapat sangat serius dan merugikan. Kekerasan terhadap anak dapat menyebabkan cedera fisik yang serius, termasuk luka bakar, patah tulang, dan cedera kepala yang berat. Kekerasan juga dapat menyebabkan kerusakan emosional yang permanen bagi anak, termasuk depresi, kecemasan, dan trauma yang berkelanjutan. Anak yang mengalami kekerasan juga lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental di masa depan, seperti gangguan stres pasca-trauma dan gangguan kecemasan (Anne Lazenbatt 2010).

Kekerasan terhadap anak juga dapat mempengaruhi perkembangan anak secara keseluruhan, termasuk perkembangan intelektual, bahasa, dan sosial. Anak yang mengalami kekerasan juga lebih rentan terhadap masalah sekolah, seperti rendahnya prestasi akademik dan meninggalkan sekolah lebih awal. Kekerasan terhadap anak juga dapat menyebabkan anak menjadi korban kekerasan lainnya di masa depan, atau bahkan menjadi pelaku kekerasan terhadap orang lain.

Penanganan Kekerasan Terhadap Anak

"Kekerasan terhadap anak adalah masalah serius yang harus ditangani dengan segera dan tepat. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memastikan keamanan dan keselamatan anak yang terkena kekerasan. Jika kekerasan terjadi saat Anda berada di tempat, cobalah untuk menghentikan kekerasan tersebut dengan aman" (UNICEF, 2021). Selanjutnya, "cari bantuan profesional seperti psikolog atau konselor untuk menangani kekerasan terhadap anak. Mereka akan memberikan dukungan dan bantuan yang diperlukan untuk mengatasi masalah ini" (UNICEF, 2021).

Jika kekerasan terhadap anak dilakukan oleh orang lain, segeralah "laporkan kejadian tersebut kepada otoritas yang sesuai seperti polisi atau dinas sosial setempat" (UNICEF, 2021). Selain itu, berikan dukungan emosional kepada anak yang terkena kekerasan dengan "mendengarkan apa yang ia katakan, memberikan rasa aman, dan membantu ia mengekspresikan perasaannya" (UNICEF, 2021). Terakhir, bantulah anak Anda untuk belajar cara menghadapi kekerasan di masa depan dengan memberikan keterampilan yang diperlukan seperti belajar cara "menolak tawaran yang tidak aman atau belajar cara menghadapi tekanan dari teman sebaya" (UNICEF, 2021).

Kekerasan terhadap anak adalah masalah yang serius dan harus segera ditangani. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan keamanan dan keselamatan anak yang terkena kekerasan. Selanjutnya, carilah bantuan profesional seperti psikolog atau konselor untuk menangani kekerasan terhadap anak. Jika kekerasan terhadap anak dilakukan oleh orang lain, segeralah laporkan kejadian tersebut kepada otoritas yang sesuai. Berikan dukungan emosional kepada anak yang terkena kekerasan dengan mendengarkan apa yang ia katakan, memberikan rasa aman, dan membantu ia mengekspresikan perasaannya. Terakhir, bantulah anak Anda untuk belajar cara menghadapi kekerasan di masa depan dengan memberikan keterampilan yang diperlukan seperti belajar cara menolak tawaran yang tidak aman atau belajar cara menghadapi tekanan dari teman sebaya.

Damar Bramantyo Dwi Anggono, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Email: btyo069@gmail.com


POSTING PILIHAN

Related

Utama 9169176250503729876

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item