Sejumput Pentrigraf Elisabeth Tri Susilawati Priyanti

·

Ilustrasi (foto: Elisabeth Tri Susilawati Priyanti)

Buah Ketabahan


Uang lembaran kertas di dompet Tirta tinggal beberapa puluh ribu saja. Dua batang terong segar, sejumput cabe rawit, bawang merah serta putih cukuplah mengisi keranjang belanjaannya. Perempuan ini memang cerdik mengatur keuangan rumah tangga. Meskipun terpaan badai kehidupan sering menghampirinya, dia tidak pernah segan menyunggingkan senyum kepada pedagang-pedagang di pasar tradisional langganannya.

"Maaf, Ibu Tirta ya? Saya agak pangling dengan Ibu, tetapi suara Ibu yang kalem selalu terkenang di ingatan saya," sapa seorang Ibu berkebaya di sebelah Tirta. Dua perempuan itu nampak larut dalam obrolan beberapa saat di depan gelaran pedagang sayur yang sesekali ikut menimpali.

Sore itu, seperti biasanya Tirta mengisi hari-hari sepinya dengan membaca. Sejak dokter mendiagnosa ada kanker ganas yang menggerogoti rahimnya, perempuan yang sejatinya seorang Guru di Sekolah Menengah Atas itu mengundurkan diri dari mengajar. Dia bergegas membuka pintu yang diketuk beberapa kali. Dari balik pintu, berdirilah Ibu berkebaya yang dijumpai Tirta di pasar, pagi hari tadi. Perempuan berkebaya itu bersama pemuda gagah, putranya. Mereka akan membiayai dan mendampingi Tirta berobat ke Singapura. Pemuda gagah itu seorang dokter yang ingin membalas budi kepada Tirta, Ibu Gurunya semasa di Sekolah Menengah Atas.



 Tergapai Semua

Sambil menutup laptop untuk mengakhiri pengetikan surat lamaran pekerjaan, sesekali Yusuf menatap bangga pada foto wisudanya. Harapannya menjadi tenaga pendidik di kota Malang segera kesampaian.

Tak terasa, tiga puluh enam purnama telah dilewati Yusuf dengan membagikan ilmu kepada siswa siswi di Sekolah Menengah Atas. Kurun waktu tersebut, memberi ruang kepadanya untuk mengenal lebih dekat seorang teman sejawat, Maria.

"Suf... Ini namanya cempedak berbuah nangka," suara sang Ibu begitu renyah di seberang telepon. Iya, Yusuf yang merantau untuk menempuh pendidikan sarjana pendidikan, ternyata mendapatkan pekerjaan dan akan segera melangsungkan pernikahan dengan Maria.

Catatan:
~ Cempedak berbuah nangka =
Mendapatkan hasil lebih dari yang diharapkan.

Malang, 20.11.2021 || 36


  ·
Ikhlas Dibayar Kasih

Veda mengetuk pintu kaca ruang perawat. Uneg-uneg sedari Minggu lalu terlontar tuntas. Marah. Kakak kandungnya setelah mendapat suntikan di ruang instalasi gawat darurat, mendadak buta. Dia mengancam akan mempidanakan dokter yang merekomendasikan suntikan kepada kakaknya.

Dokter Oshadi menjelaskan secara gamblang perihal kebutaan kakak Veda. Bukan karena suntikan. Ada gumpalan di otak kiri. Kepanikan yang menggerogoti pikiran anak muda itu, menjadi pemicu ketidak terimaannya pada semua penjelasan sang dokter.

"Jangan bagaikan anjing menyalak di ekor gajah, Nak," kata-kata lembut itu terucap dari Bu Tirta, sesama pasien di sebelah kakak Veda. Beliau menyarankan untuk membawa kakak Veda ke Panti Tuna Netra miliknya. Bu Tirta tidak akan memungut biaya sepeserpun kelak.

Catatan:
~ Bagaikan anjing menyalak di ekor gajah = Orang yang lemah hendak melawan orang yang kuat atau berkuasa.

Malang, 20.11.2021 || 35



 Bukan Menyamar

Pembawaan diri Urvil yang kalem, sering membuat Inka, kekasihnya, menjadi gunjingan teman-teman di kampus. Terutama teman-teman perempuan. Ada saja olok-olok mereka. Menyebut laki-laki jangkung itu tidak punya kosa kata-lah, sampai dibilang tidak maskulin, juga pernah.

Siang yang terik, jam kuliah usai lebih awal. Inka berjalan menuju kost bersama teman-teman perempuannya, tanpa Urvil. Dari arah belakang, sepeda motor merapat ke rombongan gadis-gadis usia dua puluhan itu. Jovan, salah satu dari mereka menjerit. Tas-nya dijambret.

Ada satu sepeda motor lagi yang mengejar penjambret. Menikung. Merebut kembali tas Jovan. Urvil menyerahkan tas itu kepada Jovan dan berbisik, "Air tenang jangan disangka tak ada buayanya."

Catatan:
~ Air tenang jangan disangka tak ada buayanya = orang pendiam, jangan disangka penakut. 

Malang, 20.11.2021 || 34


  ·
Edelweis Yang Tak Selalu Abadi

Barisan tak beraturan jejak tapak kuda membentuk gambar abstrak di hamparan pasir hitam keabuan. Inka tak mau menengok ke penjaja bunga edelweis di samping kiri dan kanan. Pandangannya hanya tertuju pada puncak kawah gunung Bromo.
Urvil menggandeng Inka yang mulai gontai. Sesekali menoleh kepada sang kekasih. Tubuh ramping itu seperti semakin lemah saat Urvil menghampiri penjual bunga edelweis.
Urvil menyodorkan buket bunga edelweis dengan sumringah. "Aku benci bunga edelweis, sejak aku melihat kakakku terpeleset dan jatuh ke jurang saat memetiknya di tebing gunung Panderman," gumam Inka lalu pingsan.
 

Malang, 16.11.2021 || 33



  ·
Tamu Yang Sengaja Diundang

Kecipak ikan ko'i di kolam terdengar samar dari celah ventilasi kamar hotel. Kusingkap korden kuning gading. Tidak ada seorang pun lalu lalang. Satu jam aku menunggu kedatangan pemilik nomor telepon yang kupesan.

Bel kamar berbunyi. Kuintip dari lubang lensa yang menerobos ke luar, kuharap dia yang datang. Seseorang tinggi semampai dan cantik. Kubukakan pintu, dia nampak gugup. Meskipun sedikit ragu, akhirnya dia masuk juga.

"Malam ini kamu tidak usah bekerja," kata-kataku sedikit mengagetkannya dari lamunan. Aku menyodorkan beberapa lembar rupiah sesuai tarifnya dan menyematkan kartu nama pabrik garmen. Kuceritakan bahwa aku wanita pengusaha garmen dan pekerja sosial yang menyamar untuk mengangkat pekerja seks komersial dari pekerjaan lama.

Malang, 28.10.2021 || 32



  ·
Siapakah Aku?

Dentang piano bersautan dengan suara nyanyian selamat ulang tahun, seiring dibukanya pintu oleh Suster Dionesia. Anak-anak memeluk Pak Benediktus sambil mengucap salam kepada pria yang hari itu genap berusia empat puluh tahun. Suster Dionesia membimbing Skolastika yang tuna netra ke pelukan pria berambut cepak itu. Hubungan keduanya begitu hangat, semenjak pria budiman itu menjadi donatur tetap di Panti Asuhan tersebut.

Meskipun usia sudah mencapai kepala empat, pria gagah itu masih betah menduda. Pak Benediktus masih setia menunggu kedatangan istrinya yang tidak diketahui keberadaannya. Hatinya sedikit terhibur jika sedang bersama anak-anak Panti Asuhan. Pertemuannya dengan Skolastika seperti sebuah harapan, yang dulu sempat sirna.

Suster Dionesia menyerahkan sepucuk surat kepada Pak Benediktus. Sambil menggenggam surat itu, beliau bergegas ke ruang Suster Kepala Panti Asuhan. Di dalam ruangan asri penuh bunga-bunga itu duduk seorang wanita berambut sebahu, membelakangi pintu masuk. "Veronika... Aku sudah lama mencarimu. Maafkan aku, sayang... Aku tidak sanggup mencegah Mama yang mengusirmu bersama bayi kita," seru Pak Benediktus. Skolastika juga berada di situ. Dia termenung sambil mendengarkan percakapan dua orang di depannya. Setelah mendapat penjelasan dari Suster Kepala, Pak Benediktus, Ibu Veronika dan Skolastika saling berpelukan dan menangis haru. Sepuluh tahun yang lalu, sepucuk surat terselip di keranjang bayi Skolastika yang ditinggalkan di depan pintu Panti Asuhan. Ibunya akan menjemputnya jika sudah mempunyai pekerjaan dan tempat tinggal.
 

Malang, 17 September 2020 || 27



  ·
Sepak Bola

Bayu berulang kali mengubah saluran televisi. Itu membuat jengkel Topan, kakaknya. Sebenarnya mereka anak-anak yang manis, tetapi kalau sudah duduk bersama untuk menonton film kartun dengan keinginan yang berbeda, mereka selalu saja bertengkar.

Bu Tirta, ibunda mereka hanya menengok dari balik kelambu setiap kali mereka berebut remote televisi. Hanya sesekali kalau ributnya berlebihan, Bu Tirta menghampiri dan menyita remote televisi itu.

Sore itu tidak seperti biasanya. Dua bocah SD kakak beradik itu tidak ribut saluran televisi. Bu Tirta sedikit heran. Untuk mengobati penasarannya, beliau mendatangi anak-anaknya. Ternyata Topan dan Bayu tidak sedang menonton film kartun. Mereka nonton sepak bola anak-anak. Bu Tirta masuk ke kamar, mengambil bola dan mengajak anak-anaknya bermain sepak bola di halaman belakang. Topan dan Bayu bersemangat. Mata Bu Tirta pun berkaca-kaca, terharu. Anak-anaknya lebih akur sekarang.
 

Malang, 24 Agustus 2018 | 7 |

*****

Elisabeth Tri Susilawati Priyanti. Seorang Ibu Rumah Tangga yang membantu suami dalam menjalankan usaha perjalanan wisata dan sewa mobil berbendera KHARISMA. Menyukai sastra, seni dan fotografi. Sudah menerbitkan 6 buku antologi berisi pentigraf, puisi, pantun dan cerpen duet bersama penulis-penulis yang menyukai dunia literasi. Lahir dan besar di Malang Jawa Timur.


POSTING PILIHAN

Related

Utama 326344748105857408

Posting Komentar

  1. Elisabeth Tri Susilawati PriyantiKamis, 10 November 2022 06.44.00 PST

    Terima kasih, Bapak dan Ibu Redaksi yang sudah berkenan memuat pentigraf-cerpen tiga paragraf karya saya.

    BalasHapus

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item