Sajak-sajak  Ach Zainuddin, STKIP PGRI Sumenep


Ach Zainuddin
kelahiran Sumenep, Madura, adalah mahasiswa STKIP PGRI Sumenep. Selain suka menulis, juga aktif diberbagai organisasi antaranya Sanggar Bintang Sembilan, LPM Retorika serta PK PMII STKIP PGRI Sumenep.


_____

Malam Hitam Yang Mencekam

Kabar duka itu telah menyebar di seluruh sudut desa,
bahkan sampai pada sudut kota.
Asap rokok berselubung di taman sudut kota tua
menggali aksara yang berselinap oada balik bunga di taman.
Kusirami dengan kasih sayang di tengah gempuran berbagai badai menerjang.
Melumpuhkan Bunga yang bermekaran di taman .

Malam hitam yang mencekam semua orang berhamburan menuju
rumah duka yang berselimut lara lantas waktu yang merenggut semuanya,
kesedihan tak dapat lagi dicegahnya
Menangis, meratap, mengingat mengenang semasa hidupnya.
Rumah duka masih berselimut kesedihan yang melanda.

Bayangmu semu bagiku
Bayangmu menghiasi sudut ruang dan waktu
Bayangmu  hadir bersama mimpi malamku
Malam yang mencekam masih asyik
Buatku bercumbu mesra dengan diksi penuh asmara
.
Taman tajamara, 09 November 2022




Senyummu Buatku Dikutuk Oleh Waktu

Aku hanya insan biasa mempunyai keinginan luar biasa
Spek Supra selera satria
Spek panasonic selera Polytron
Spek Honda selera Yamaha
Spek mitsubishi selera lamborghini.

Senyummu bagaikan antrariksa yang menyinari
Bogambala namun itu semua tidaklah bertahan lama
Waktu mengutuk semuanya
lenyap sudah hanya detik penantian yang kurasa.
Tetap sama tidak ada titik terang dimendung yang hitam
Hanya ketidakjelasan yang tampak menawan.

Aku ingatkan pada awan yang hitam
kalau hati ini mudah tenggelam
Bersama derasnya ombak dilautan
sebab pulang dengan rasa
kekecewaan.

Apa yang kau inginkan
Aku sabar sudah kulakukan
Minta kuberjuang sudah kuperjuangkan
Disetiap waktu kucoba menepis ambisiku

Akankah rasa ini bisu sampai waktu subuh ada dibenalu
Atau hanya akan dijadikan bonekamu.

Tanah kelahiran, 020122




Antara Setia dan Dunia

Ketika cinta sungguh mencinta ia pasti menjaga
Ketika rasa saling percaya ia pasti tidak akan mendua
Ketika rindu menggebu tidak ada bara api bersekutu.

Ketika setia akan kalah dengan harta
Akupun diam,
Ketika bahagia kalah akan janji manis
Aku cengigis,
Ketika bait bait puisi ternodai oleh penghianatan cinta yang suci
Yang katanya abadi sampai kiamat nanti.
Ketika angin tidak lagi berseteru
Setia mulai menderu gelimang harta yang buat orang candu.
Tak dapat di pungkiri bahwa cinta sejati
Akan kalah dengan yang penuh sensasi oleh gelombang harta
Buat manusia berkuasa dan lupa pada sang pencipta.
Sehingga istri orang jadi korbannya.

Namun ada keyakinan di hati kecil ini bahwa
Air putih akan menang melawan air yang keruh.
Malam hitam yang mencekam




Hujan Bulan Oktober

Tidak ada pilihan karena berdiam akan di kalahkan oleh kebansatan
Tidak ada pilihan selain lawan. Gempuran ombak yang menerpa singgasana kerajaan .
Tetap kuat seperti batu karang .
Tak pedulikan caci makian bergelantungan di bibir pantai

Jalani kesendirian menikmati kesengsaraan hidup yang penuh
Tantangan melintang di atas bentala aku bersumpah tidak
Menyerah sampai usaha membuahkan hasil maksimal.

Embun pagi menyumblim di rerumputan
 hiasan tanaman bunga di taman dengan keindahan ciptaan sang tuhan .
 Kunikmati hirup udara segar perlahan, lalu kehembuskan pelan pelan  
benak fikiran masih bergelantungan berbagai polemik hidup yang buat hati terbelati
Oleh kata yang tidak tertata oleh keputusan yang berujung kematian.

Aku binatang jalang yang mencoba mensetubuhi kembang yang bergelantungan di bibir rumah ,
utarakan hasrat yang kian melekat
Gugur bersama jatuhnya rintik langit, :menderu hati yag tergores oleh
duri keindahan patahkan semua keraguan mantapkan keyakinan.




Banjir Darah Kanjuruhan

Malam Minggu taman Adipura dihiasi lilin dan atribut kesolidan
Mengasikkan untuk yang punya pasangan
Dan menyenangkan untuk orang yang bersama kawan.
 Malam ini kuuntai sajak sajak ku
Yang menyelimuti duka atas tragedi yang hampir sama
dengan sejarah G30S PKI, kekuasaan merajalela sampai nyawa melayang sia sia.

Dendangan doa telah di panjatkan berharap yang gugur segera segera tenang di alam baka dana keluarganya di berikan dada yang lebar, hati yang luas.
Atas tragedi yang begitu mengerikan .

Seminggu lalu masih sangat jelas jeritan kata tolong
Tersulam dalam memory ingatan
Saat itu nyawa di tengah tenggorakan
Tak ada yang pedulikan,
Hanya semburan asap mematikan yang menjadi jawaban.

Tak kuasa menahan bendungan hilir air mata yang membanjiri pipi
Menetaskan pada bumi pertiwi sebagai bukti, kita peduli dengan saudara yang menjadi santapan asap mematikan .

Siapakah yang pantas untuk di salahkan
Kata saling tuduh menuduh, saling tindih menindih, saling salah menyalahkan,  bergelantungan di kedua belah pihak Jika semua itu terjadi maka kekonyolan yang pantas kita sandangkan .

Daun gugur berjatuhan layaknya air hujan yang bergelantungan
Di teras rumahku, dingin membisikkan kekejaman yang menghujani Kanjuruhan.

Malang, 28 Agustus 2022.



POSTING PILIHAN

Related

Utama 867157412989213298

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item