Mala


Cerpen: Zumrotus Sholihah

 Cakrawala menyingsing diufuk timur, kumpulan burung yang bersenandung, menyambut pagi yang tidak lagi mendung, suasana pagi yang indah. Namun tidak dengan suasana rumahku, suasana mencekam yang selalu terjadi, membuatku tidak betah berada di dalamnya. Rumah yang kalian sebut surga, namun bagiku tidak jauh beda dengan neraka. Bahkan sampai lulus SMP pun aku tidak dapat mengekspetasikan apa arti kebahagiaan dalam sebuah keluarga.

Lima menit setelah aku melamun dalam kamar, kumelangkah gontai menuju pintu, berharap tidak ada bapak dan ibu yang bakal ribut. Aku melirik kesekeliling dan syukurlah mereka sudah pergi ketempat kerjanya masing-masing. Akhirnya aku bisa merasakan ketenangan meskipun hanya bersifat sementara. Aku mengambil makanan ringan didalam lemari dapur. Yah begitulah, ibuku tidak pernah masak, pasti maunya yang instan. Aku duduk didepan televisi. Aku selalu menikmati waktu-waktu seperti ini, karna ini adalah suasana terfaforit bagiku. Rasa yang jarang aku alami, yaitu “ Sebuah ketenangan”.

Malampun tiba, kurebahkan badanku diatas kasur kesayanganku, kasur yang tidak terlalu empuk namun mampu membawaku kealam mimpi. Suddenly, suara pintu mengagetkanku membuatku menoleh kearahnya. Kulihat Raufil yang berdiri dipintu dengan memeluk boneka Boboiboy kesayangannya. Akupun bangkit membenarkan posisi dudukku.

“Kakak! Raufil boleh tidur disini nggak?” Pintanya dengan wajah memelas

“Boleh,” ucapku seraya tersenyum padanya

“Kenapa mau tidur disini?,” Tanyaku

“Raufil gak mau tidur sama ibu, nanti bapak datang marah-marah terus berantem tengah malam, Raufil tidak bisa tidur jadinya,” katanya

Aku tersenyum menatap Raufil yang badannya kurus, seharusnya dia belum pantas menyaksikan hal-hal seperti itu, apalagi dia masih kelas 3 SD, membuatku tidak tega membayangkan bagaimana jika nanti orang tua kami cerai.

Keesokan harinya

“Kamu gak pernah nurut ke suami!” Bentaknya

“Buat apa aku harus nurut ke kamu? Suami kok penghasilannya lebih kecil dari istri?!” Ucapnya dengan nada sindiran.

Plak!!

Suara tamparan membangunkan tidurku, kuraih jam weker yang bertengger di atas meja belajar, jam menunjukkan 05:50. Kumemutar bola mata dengan malas setelah apa yang aku dengar dari ruang tengah, yah kini pertengakaran itupun sudah dimulai tanpa tau siapa yang akan menang dan kalah. Kulirik Raufil yang masih terlelap dalam tidurnya.

“Dek…bangun, ayo mandi nanti telat sekolahnya,” ucapku membangunkannya

Raufil menggerakkan badannya setelah akhirnya dia bangkit dari kasur. Aku mengambil handuk untuknya, Raufil melangkah gontai menuju kamar mandi, namun saat hampir kepintu kamar mandi tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan menoleh kearahku.

“Kenapa?” tanyaku

“Bapak dan ibu berantem lagi ya?” Tanya raufil yang mungkin mendengar percekcokan mereka yang belum usai.

 Aku menatapnya tanpa ekspresi. Dia duduk dan menenggelamkan mukanya dikedua lututnya. Aku melangkah menghampirinya yang sudah mulai sesenggukan, sehingga aku juga tak kuasa menahan air mataku.

“Kenapa adek nangis?” Tanyaku dengan lembut

“Kenapa Raufil gak kayak temen-temen., hiks, kenapa Raufil gak pernah merasakan punya bapak dan ibu…hiks..bapak sama ibu sibuk berantem, bahkan saat Raufil menangis disamping mereka, mereka tetep berantem, mereka gak sayang raufil, hiks, semenjak Raufil lahir, Raufil gak pernah liat bapak dan ibu akur. Apakah mereka berantem karna Raufil? Raufil nakal? Hiks..padahal Raufil selalu doa pada Allah, semoga bapak dan ibu nggak berantem terus, tapi Allah gak dengerin doanya raufil,” ucapnya dengan terbata-bata.

Ssttt! Raufil gak boleh gitu, Allah gak bakal pernah mengabaikan permintaan hambanya, apalagi anak baik kayak Raufil, pasti Allah akan mengabulkannya. Cuma waktunya bukan sekarang. Raufil gak nakal, bapak sama ibu berantem bukan karna Raufil , tapi karna masalah mereka sendiri, Raufil percaya akan ada pelangi setelah hujan?” pertanyaanku berhasil menghentikan tangisan Raufil dan mengangguk seraya memandangku.

“Nah seperti itu, Raufil sekarang masih ada dicuaca hujan, petir, badai semua menyambar Raufil sehingga buat Raufil nangis kayak gini,” ucapku seraya mencubit hidungnya yang merah karna nangis.

“Jadi Raufil jangan sampek tumbang karna badai itu, katanya suka Boboiboy yang kuat, jadi Raufil harus seperti Boboiboy. Setelah Raufil berhasil melewati semuanya, maksudnya setelah hujannya sudah reda pasti pelangi akan muncul di hidup Raufil. Nah, disitulah kebahagiaan Raufil tercipta. Jadi mulai sekarang Raufil harus kuat, sabar, dan jangan cengeng lagi, ok!” Ucapku sembari mengajukan jari kelingking, akhirnya dia tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya ke kelingkingku.

“Tapi kan, tak semua hujan akan berakhir pelangi, bahkan kalo hujannya terlalu lebat bisa tsunami,” ucap raufil dengan polosnya.

“Heh, Raufil gak boleh gitu, Raufil kan selalu doa ke Allah, pasti Allah kabulin kok, emangnya Raufil gak percaya ke Allah?” tanyaku

“Percaya!” jawabnya

“Kalau Raufil percaya artinya harus berprasangka baik pada Allah, yaudah ayo mandi udah jam enam,” ucapku

Raufilpun berlari menuju kamar mandi, namun perkataan Raufil masih terngiang ditelingaku, tentang hujan yang tidak selamanya berakhir dengan pelangi.

Sorepun menjelang, langit akan segera petang dan burung sudah pada pulang pada sarangnya, suara deruan ombak membuatku tenggelam dalam lamunan. Namun, baru sebentar kumerasakan ketenangan tiba-tiba suara pecahan piring mengusik ketenanganku, membuatku sontak berlari menuju arah tersebut.

Ternyata peperangan sedang terjadi, aku menghampirinya bukan karna bapak atau ibu, melainkan karna Raufil yang menangis disamping mereka. Kutarik tangan kecilnya agar tubuhnya dapat kudekap.

“Pokoknya Kita Cerai!”  Bentakan itu menbuatku sontak menoleh kearah keduanya. Apa? Cerai? Berani-beraninya mereka mengucapkan hal itu didepan Raufil.

Benar saja suara tangisan Raufil makin menjadi, dia berontak sehingga membuatnya terlepas dari pelukanku. Aku tak bisa melihat adekku begini, aku bangkit menengahi mereka.

“Kalian Gila ya?! Kalian masih punya anak, kalian gak kasian melihat Raufil yang masih kecil, kalian gak malu sama kami? Anak yang kalian lahirkan namun tak pernah merasakan bahagianya punya orang tua, kalian sadar gak sih!!” Tangisanku mulai pecah

“Baiklah jika itu pilihan kalian, aku sama adek bakal pergi dari sini! Percuma ada disini, lebih baik aku gak punya rumah dari pada punya rumah berhawa neraka!” Ucapku seraya bergegas menuju kamar mengambil semua pakaianku dan juga  Raufil, aku menggendong tubuh Raufil dan menarik koper menuju pintu.

“Mala!!” Panggil ibu

Gak usah sok perduli!! Aku tau kalian tak pernah menyayangi kami, maaf pak, bu! Mala memang bukan anak yang baik, tapi Mala gak mau melihat adek yang terus-terusan tertekan batinnya gara-gara kalian. Gak usah cari Mala sama Raufil. Mala bisa ngerawat Raufil sendiri, Assalamualaikum!!”

Kumelangkah tanpa arah, entah kemana aku akan menuju, yang penting aku jauh dari keributan itu, aku yakin mereka tidak akan mengejarku, karna aku tau mereka tidak pernah menyayangiku, tidak pernah merasa kalau punya buah hati yang butuh kasih sayang, yang mereka fikirkan hanya satu uang, uang, dan uang.

Bukan karna umurku yang dewasa, tapi aku dipaksa dewasa oleh keadaan , anak SMA yang seharusnya merasakan masa-masa remajanya dengan tenang, malah harus tertekan karna kedua orang tuanya.

Entah seberapa jauh aku melangkah namun rasa lelahku tidak seberapa dibandingkan rasa sakit hati yang kurasakan selama ini.

“Kakak, Raufil laperr!!” Rengek raufil

“Iya sabar dulu ya dek,” ucapku meski sebenarnya aku tidak ada uang untuk membeli sebungkus  nasi.

Langkahku terhenti disebuah bangunan yang bernama panti asuhan. “kayaknya aku bisa tinggal disini deh!” Batinku, setelah sampai depan diteras aku melihat seorang wanita separuhbaya sedang duduk membaca buku.

“Assalamualaikum,” sapaku

“Waalaikumsalam,” jawabnya seraya menghentikan aktifitasnya.

“Sini duduk, ada apa ya nak?”Tanyanya ramah.

“Ibu, boleh gak kami tinggal disini?” tanyaku dengan sedikit gugup

“Oooh boleh-boleh! Emang orang tuamu kemana?” Tanyanya

Aku hanya menunduk tidak menjawab, entah apa yang ada difikiranku intinya aku belum siap menceritakan ini semua pada orang lain.

“Oh yaudah, kalo belum mau cerita sekarang, cerita kapan-kapan aja! Nama kamu siapa?” Tanyanya

“Nama saya Mala, ini adek saya Raufil,” jawabku

“Kenalin nama ibu, ibu Fatimah. Pemilik panti asuhan disini” aku mengangguk mengerti

“Kakak, apakah kita akan tinggal disini?” Tanya Raufil

“Iya dek,” ucapku mengiakan

“Nggak mau, Raufil kangen ibu!” Rengeknya

“Raufil, dengerin kakak! Raufil tinggal disini dulu ya. Nanti ibu pasti jemput kita, Raufil mau liat ibu sama bapak ribut terus? tidak kan? Jadi Raufil disini dulu bareng kakak, ibu Fatimah, dan banyak nanti temen-temen Raufil disini,” Raufil melirik kearah bu Fatimah yang sedang tersenyum padanya.

“Oh iya bu, bi bisa minta makan gak? Adek saya laper dari tadi,” ucapku

“Oooh ayo kedapur sekalian kamu makan juga,” ucap bu Fatimah seraya berjalan mendahuluiku.

Satu bulan telah berlalu, hidupku berjalan tidak sama dengan masa-masa sebelumnya, meski tanpa seorang bapak dan ibu aku masih bisa tersenyum dan bahkan lebih sering tersenyum. Karna aku hidup bersama pengasuh yang baik dan para anak-anak yatim.

Sekarang jam 08:30 raufil masih sekolah, dia sekolah dibiayai ibu Fatimah sedangkan aku lebih memilih bantu-bantu ibu Fatimah di panti asuhan.

“Mala..” panggil bu Fatimah dari dalam

“Iya bu?”Jawabku seraya bangkit dari taman bermain dihalaman

“Ini bantu ibu membuat kue kering, buat anak-anak nanti” Pinta bu Fatimah

“Baik bu!”

Sepertinya ini pekerjaan yang seru, meskipun aku belum pernah membuat kue kering. Karna, pasti kalau lebaran ibuku beli, bukan buat.

“Mala beneran gak mau pulang kerumah ibunya atau bapaknya?” Tanya bu Fatimah

Enggak bu, saya lebih nyaman tinggal disini,” jawabku

Bu Fatimah menanggapi jawabanku dan tetap memandangku, rasa sesak yang sudah lama terpendam kembali merasuki hatiku, setetes air mata berhasil meluncur, sontak bu Fatimah langsung memeluk tubuhku yang sudah mulai bergetar.

Mungkin aku iri, melihat mereka yang begitu bahagia dengan kisah hidupnya. Dapat kasih sayang seorang ibu, dapat pelukan hangat dari seorang ayah, makan semeja sambil tukar cerita. Tapi, semua hal itu tidak ada dalam hidupku membuatku gagal mengekspetasikan apa arti dari sebuah keluarga.

“Mala harus kuat! Mala gak boleh lemah begini, Mala harus buktikan pada dunia kalau Mala bukan anak yang mudah tumbang. Mala harus menjadi penguatnya Raufil, supaya Raufil bangga punya kakak kayak Mala,” ucap bu Fatimah

Didepan gerbang, para anak-anak masuk berhamburan. Mungkin sudah pulang sekolah, kulihat Raufil yang berlari mendekatiku, wajah cerianya tiba-tiba pupus pelan-pelan, mungkin karna melihatku menangis.

“Kakak kenapa?” katanya seraya berjongkok didepanku

“Kakak kangen bapak sama ibu ya?” Katanya lagi, aku mulai menghapus air mataku aku tidak boleh terlihat lemah didepan Raufil.

Enggak dek, kakak gak papa,” jawabku berusaha tersenyum

“Bohong! Kakak kangen bapak sama ibu kan?” Tanyanya lagi, membuatku tidak kuasa menahan air mata, akhirnya akupun menangis seraya memeluknya.

“Tuh kan bener, hujannya Raufil terlalu lebat,” Aku tetap menangis tidak bisa menyanggah perkataan raufil.

“Kenapa kita kayak gini ya kak? Hiks…punya orang tua, tapi gak sayang sama kita”

“Raufil,Mala,! Gak boleh gitu ya, coba liat temen-temennya yang lain, mereka ditinggal mati oleh orang tuanya, kalian masih mending ada yang ngerawat waktu  bayi. Nah, coba bayangin bagaimana mereka waktu bayi? bahkan ada yang dibuang sama orang tuanya sendiri. Yaudah, Mala sama Raufil sekarang ngambil wudu’, solat, doa kepada Allah karna hanya Allah yang mengerti semua masalah kalian”

 “Ya Allah…bolakkanlah hati kedua orang tua hamba Ya Allah, semoga mereka masih ingat bahwa disini ada buah hatinya yang mengharap kasih sayangnya, ampunilah dosa kedua orang tua hamba Ya Allah, jangan sampai api neraka membakar tubuhnya, kami sudah memaafkan mereka Ya Allah, buatlah mereka bahagia. Kabulkanlah permintaan hamba Ya Allah, karna hanya padamu hamba meminta”

Aku memang tidak mempunyai kebahagiaan dalam memiliki orang tua, tapi aku masih punya adek yang sangat aku sayangi. Setidaknya aku bisa menjadi kakak yang selalu ada, menjadi contoh yang baik untuknya.

Aku berharap, aku dapat bahagia setelah ini. Terserah apa karna orang tuaku kembali Untuk menjemputku, atau kebahagiaan yang lain. Dari tempat ini aku belajar bahwa masih ada tanah dibawah tanah, Aku percaya bahwa setiap orang mempunyai jatah kebahagiaannya masing-masing, dan inilah jatah kebahagiaanku. Bersyukur adalah jawaban terbaik.

*****

Zumrotus Sholihah, adalah mahasiswi Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan (IDIA), Semester 4, Fakultas Tarbiah, Prodi PAI berasal dari  Ambunten Barat, Ambunten, Sumenep, Madura

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5148422301856887730

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item