Cinta, Rumah dan Luka

Para siswa SMAN 4 Sampang

Hidayat Raharja

Kegiatan literasi di SMAN 4 Telah berjalan dua bulan. Waktu yang masih sangat belia, mereka terus membangun harapan, belajar untuk memahami diri, sebagai manusia dengan segala keterbatasannya. Namun di antara keterbatasan mereka selalu mengasah apa yang mereka bisa dan mampu. Mereka tidak suka membaca bukan berarti tidak butuh informasi dan pengetahuan. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat dan dari apa yang dilakukan. Juga dalam kegiatan literasi kadang guru membacakan buku, cerita, ataupun puisi, dan mereka mendengarkannya. Kadang di antara mereka berkisah tentang buku yang dibaca, semampu dan sebisa mereka.

Pagi ini mereka bersama dalam ruangan dengan perasaan gembira untuk belajar menulis puisi dengan bermain kata memasukkan tiga kata yang telah ditentukan ke dalam puisi. Bukan hal yang mudah mereka lakukan. Tetapi setidaknya mereka belajar untuk mampu membuat sebuah puisi dari apa yang mereka pahami. Suasana ramai dan penuh tawa karena tiga kata yang harus mereka masukkan ke dalam puisi, yaitu: Cinta, Rumah dan Luka. Mereka menawar untuk mengambil salah satu kata, tetapi tidak diperbolehkan. Dalam satu puisi harus ada tiga kata yang telah ditentukan.

Saya yakin mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk menuliskan puisi yang diinginkan. Mereka browing di internet, namun tidak akan mampu menemukan tiga kata itu dalam satu puisi. Sehingga ada di antara mereka yang mengutip puisi Sapardi Djoko Damono tentang cinta karena mereka takluk untuk menciptakannya. Sebagian yang lain membuat puisi saling mencontek dan puisinya sama, dan sebagian yang lain bersusah payah untuk membangun sebuah puisi dengan seluruh pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.

Di antara karya yang dihasilkan mereka ada yang cukup menarik untuk kita bahas. Puisi-puisi mereka bertema tentang Rumah dan Cinta. Apa yang dikatakan Ahmad Nabil salah seorang siswa kelas X tentang cinta rumah dan luka, sangat sederhana seperti kabar biasa dan tidak ada apa-apanya. Namun juga menyimpan seluruh makna yang terpendam. Sebuah puisi yang sangat terbuka, seperti berikut:

Rumahku, kaulah tempat
tinggal bagi keluarga
Ku


Syarif Mustofa Amin, menuliskan tentang rumah sebagai tempat kembali juga sebagai tempat banyak peristiwa terjadi;

Rumahku di sanalah saya kembali
di rumahku terdapat banyak peristiwa
mulai dari cinta sampai luka
telah saya lalui di rumahku.


Bagi David rumah merupakan tempat ternyaman, bukan karena mewah dan segala perlengkapannya, tetapi di dalam rumah cinta bersemayam, sebagaimana pada puisi berikut:

Rumahku tempat tercintaku
suka dan luka, hanya engkaulah
tempat ternyaman untukku.


Sementara Rubiatun Adawiyah menuliskan tentang seorang ibu laksana sebuah rumah yang indah yang dipenuhi dengan cinta. Rubi menuturkan;

seorang ibu
rumah yang indah
luka di perkataan
namun doanya
menjadi cinta


Layli Nafilah mengumpamakan rumah sebagi tempat cinta dan pelukan, namun juga dalam rumah bisa terjadi luka goresan kecil yang mampu melahirkan dendam. rumah tidak selalu nyaman, karena bisa jadi dalam rumah terjadi petaka ketika cinta di antara mereka telah hilang sehingga menimbulkan saling curiga, tidak percaya. Sebuah puisi yang cukup menarik berikut ini;

Pintu-Pintu Yang Masih Terbuka

Di Sinilah Rumahku
tempat paling tepat
untuk membawa cinta
pulang dalam pelukan
Namun di balik waktu yang memerangkap
ada goresan kecil yang menyakitkan
mampu lahirkan dendam


Layli, melihat rumah yang muram, rumah diharapkan membawa cinta dan menerangi di dalamnya, namun dalam perangkap waktu di dalam rumah ia menemukan goresan kecil yang menyakitkan. Kadang dengan ketidak sabaran kita, luka kecil itu menyakitkan dan tumbuh menjadi dendam. Redamlah dendam itu sehingga cinta selalu bertabur dalam rumah kita sebagaimana Hoirul Soleh mengungkapkan kebahagiaannya bisa pulang ke rumah. Bahagia bisa bertemu dengan adik-adiknya yang tersenyum dan disitu bisa merasakan kebahagiaan dan kadang juga berbaur dengan luka. Hoirul Soleh menuliskan tentang rumah sebagai berikut;

Bahagia itu bisa pulang ke rumah
disambut senyum adik-adik. Bahagia itu sederhana
dan di situlah saya menemukan cinta atau luka.

Huslifatun Jennah menggambarkan rumah dengan cara sederhana; dindingnya yang memberi kehangatan dengan langit-langit yang datar. Warna dekorasinya dan ruangannya sebagai tempat tumbuh kembang dengan seorang ibu dengan cinta yang tak pernah luntur kepada anaknya.

Sederhana

Dinding kayu yang hangat
Warna yang kaku kekurangan dekorasi
Langit-langit rumah datar
Gerendel yang mulai berkarat
Masih sama persis
Saat aku tinggalkan pertama kali
Ruangan luka
Tempat aku tumbuh
Lantainya yang dingin
Tempatku sering terjatuh
Kala itu masih berjalan
Cinta seorang ibu
Tidak pernah luntur, kepada anaknya


(Sumber FB: Hidayat Raharja)


POSTING PILIHAN

Related

Utama 3413398810096788762

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item