Olle ollang: Penjelajahan Melintas Batas.

Sejumlah lukisan saat di pajang

Oleh: Hidayat Raharja


Tepat di pintu masuk sebuah gambar kaligrafi karya almarhum K.H.Solahur Rabbani sebuah lukisan berbentuk huruf arab gha. Huruf yang mirip sosok tengah tafakur dalam suasana hening dalam lingkaran penuh cahaya. Sergapan lukisan yang akan salalu mengingatkan memori kemanusiaan kita. Manusia sebagai makhluk dengan segala romantika dan tragikanya.

Pameran yang berlangsung dari tanggal 2 Agustus -3 September2022 di Gedung Dekranasda diikuti puluhan pelukis termasuk juga karya dari keluarga almarhum. Di samping kiri ruangan terpajang instalasi karya Hardy. Dua potongan tubuh yang indah dan di bagian bawah dibalut dengan kain bendera merah putih. Apakah ini potongan keindonesiaan yang indah dengan aneka persoalannya. Ada jam besar di antaranya menunjukkan waktu atau usia. Seusia ini bagaimana dengan Indonesia apakah benar merdeka atau terbelenggu. Sebuah instalasi yang amat menarik dan menyedot perhatian untuk kembali mempertanyakan keindonesiaan itu sendiri.

Di tengah ruang sebuah instalasi karya Chairil Alwan, “Topeng Bertopeng.” Sebuah karya mix media yang mempertanyakan keakuan. Aku yang sok tahu, pintar dan selalu mengurusi orang lain. Aku dengan ego yang tidak mau mengalah dan lapisan topeng yang menutup keakuan. Aku yang palsu dengan berbagai alasan pembenaran. Aku yang ada, dalam diri, di sekitar kita.

Salah satu sujud pameran lukisan

Di ujung kanan instalasi berjudul “Budak Waktu” karya Fahrus Salam. Jam besar yang menandakan waktu. Sangkar burung, dua piramida adalah simbol mengenai bagaimana waktu telah mengurung kita sehingga membuat kita lupa. Kita lupa terhadap waktu 24 jam yang disediakan dalam satu hari. Belenggu yang membuat kita selalu dikejar, selalu ditinggal. Hakikatnya waktu ada di tangan kita. Apakah waktu kita buang sia-sia, atau dikelola secara tepat. Waktulah yang harus kita atur, sehingga kita tidak diperbudaknya.

Dua instalasi karya Hardy dan Fahrus Salam, beririsan dengan waktu, mengingatkan kepada kita keberadaan waktu dalam kehidupan kita. Demi waktu sesungguhnya manusia tidak merugi, jika menggunakan akal untuk memanfaatkannya.

Selain itu beberapa karya Kuntet Dilaga berjudul “Hijrah” (2021). Lukisan yang menggambarkan hijrah yang happy. Sepasang kekasih dalam bentuk gambar kartun yang tengah bergembira di atas kendaraan jeep terbuka. Hijrah yang bahagia penuh suka cita dengan warna-warna cerah. Di karya yang lain Kuntet melukiskan sebuah sosok dengan bentuk kartun berjudul “Idealisku”. Sosok dengan pakaian hoodi dan tangan memegang cat semprot.

Di panggung yang memanjang beberapa karya lukis dari keluarga almarhum K.H. Sholahul Robbani. Pameran berlangsung dari tanggal 26 – 31 Agustus 2022. Pameran Ole ollang ini didedikasikan untuk almarhum K.H. Solahur Rabbani dan ini kali ke tujuh. Sebuah penghormatan atas jasa beliau dalam mendukung berkembangnya seni lukis di kota Sampang. Sebuah konsistensi yang telah berlangsung selama tujuh tahun sehingga ini sebuah aktivitas yang erat hubungannya dengan perkembangan seni rupa di kota Sampang.

KPS ada dan secara rutin melakukan aktivitas pameran baik secara luring dan daring. Ketika situasi negeri ini dihantam pandemi covid -19 mereka masih berpameran secara daring. Komunitas yang mandiri dan tidak bergantung kepada fasilitas yang diberikan pemerintah daerah. Saat gedung kesenian Sampang berubah fungsi posko Satgas Covid 19 kabupaten sampang. KPS memanfaatkan kafe, dan Gedung Poltera untuk berpameran. Sebuah ketangguhan kawan-kawan KPS untuk tetap menjaga marwah kreativitas mereka secara independen. Rutinitas yang semakin menguatkan keberadaannya dalam peta dan sejarah seni rupa di Sampang.

Seni rupa di kota sampang, bagi saya sangat menarik KPS sebagai sebuah komunitas yang menggerakkan dinamika peradaban di kota Sampang. Sebuah dinamika dari seni rupa tradisional dalam Lêncak Palê’ , seni lukis kaca sampai era lukisan kaca Ali Daud Bey dan ke generasi saat ini. Sebuah perkembangan yang saling berkait. Karya-karya Kuntet Dilaga, Hayat Adinata, Ahmad Lutfi, Ghina Zhavira, dan beberapa karya lainnya sangat menarik. Ghina Zhavira dengan judul “New Normal” menggambarkan tiga wajah yang ekspresinya berbeda senang, tertawa, dan bermasker.

Sebuah era baru yang membiasakan diri kita untuk menggunakan masker. Hal baru yang harus dibiasakan dalam kehidupan normal. Sedangkan dalam “ Tafakur” karya dari Ahmad Lutfi menggambarkan orang tengah membungkukkan tubuh di antara hiruk pikuk dengan warna keras dan mencekam. Sementara dalam salah satu karya Hayat Adinata berjudul “Genosida” sebuah perang untuk memusnahkan etnis tertentu. Sebuah kegaduhan dengan gedung-gedung bangunan terbakar dan reruntuhan dalam kobaran perang.

Karya-karya yang sangat terbuka dan melintasi batas-batas tradisi sebagai perwujudan dari keterbukaan dalam akses informasi, sehingga persoalan-persoalan yang mereka angkat bukan lagi persoalan di sekitar, karena persoalan yang jauh jadi dekat melalui perangkat teknologi. Juga dalam dunia seni rupa telah bergerak melintasi batas-batas pengetahuan sehingga bisa saling berpengaruh, berinteraksi, berkolaborasi yang memungkinkan lahirnya entitas-entitas baru dalam dunia seni rupa.

Lebih jauh bahwa gerakan Seni Rupa di Sampang terus bergerak menemukan berbagai bentuk interaksinya, sehingga menjadikannya sesuatu yang spesifik. Seperti sebuah pelayaran, pameran ini telah bergerak menuju ke gerak gelombang lautan kreativitas yang memungkinkan menemukan hal-hal baru dalam bentang waktu yang panjang. Sebuah penjelajahan melintasi berbagai ruang dan kemungkinan di waktu yang akan datang.

Sampang, 30 Agustus 2022

Hidayat Raharja, tinggal di Sampang.
(Jawa Pos Radar Madura, 11 September 2022)


POSTING PILIHAN

Related

Utama 4381987833790139933

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item