Cinta Pertama


M Faizi

Suatu saat, di hadapan Sydh. Aisyah, Nabi menunjukkan sikap perhatian berlebih terhadap teman-teman Sydh. Khadijah, melampaui perhatian terhadap yang lainnya. Atas tindakan itu, Sydh. Aisyah pun cemburu, bahkan serta-merta menganggap Nabi terlalu larut mengenang kesan cinta pertamanya. Bagaimana bisa cemburu muncul untuk yang telah tiada? Itulah dia! Konon (sebagaimana digambarkan oleh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki di dalam kitab “Al-Busyro”), kecemburuan tersebut bahkan tersurat (bukan lagi tersirat) dalam bentuk ucapan-ucapan yang kurang elok, meskipun hal itu sejujurnya merupakan sikap dan sifat naluriah perempuan secara umum, lagi-lagi kata Syd. Muhammad, bukan merupakan bentuk suatu tindakan kebencian.

Cemburu itu manusiawi. Benihnya ada pada setiap pribadi, dimiliki setiap orang, tak peduli meskipun ia istri seorang Junjungan. Di sisi yang lain, hamdalah, kisah ini membuat saya sedikit lega setiap kali menyadari betapa hati saya tetap selalu bergetar ketika nama almarhumah istri saya disebut namanya: #makkiyahbintiashim. Jadi, kiranya itu wajar bagi manusia dan kerena itu pula sikap saya punya alasan, manusiawi, lebih-lebih saat mengenang cinta pertama.

Sekarang, saya mengerti, mengapa saya selalu senang setiap kali diminta menuturkan lika-liku kisah cinta pertama saya bersama Nyai Makkiyah, atau sekadar diminta untuk menyampaikan sikap dan sifat terpujinya, lebih-lebih kisah ajaib nan istimewa menjelang wafatnya. Semua yang saya sampaikan bukanlah untuk menutupi kekurangan-kekurangannya karena kekurangan adalah milik setiap orang. Lagi pula, semua itu tidak penting bagi saya, lebih-lebih bagi ia yang telah tiada. Seberapa banyak kekurangan yang dimiliki Nyai Makkiyah, beliau dan segala yang melingkupinya adalah bagian terpenting dari hidup saya. Maka, wajarlah jika saya bangga karena ia telah menutup lembar-lembar akhir masa hidupnya dengan begitu mempesona, bahkan berlanjut hingga ke dalam mimpi-mimpi pada santri, para muhibbin, sesudah ia tiada.

Anda pun mungkin begitu, bisa seperti itu, tapi juga mungkin tidak seperti itu.

Sesungguhnya, cinta pertama itu tak dapat tergantikan, tapi tentu saja dapat dilanjutkan. Cinta pertama itu menakjubkan, walaupun acapkali ada orang yang sejauh ini (menurut saya) tidak mengerti, tahu tapi sejatinya tidak benar-benar tahu. Seakan-akan, menurut pandangannya, cinta itu semata-mata syahwat yang membentang di antara hubungan suami-istri sehingga cukup dimaknai tak lebih dari sekadar serangkaian prosesi: kawin, beranak-pinak, lalu mati dan selesailah semuanya, raib dalam kelupaan seiring bergulirnya zaman.

Ah, yang demikian biarlah demikian, tapi saya tidaklah demikian. Sebab itu, terkadang saya berkata-kata dalam kesendirian:

"Biarlah aku hidup tak bersamamu lagi lebih lama di dunia fana, sebab menerima takdir adalah bentuk kebahagiaan yang lain. Akan tetapi, setidaknya aku punya dua hal yang dapat aku banggakan untuk diceritakan, yakni pernah menjadi seorang lelaki yang pernah hidup bersamamu, serta menyimpan harapan untuk kembali padu menjadi satu, di suatu waktu.”

Hiduplah dengan pasangan yang sekiranya engkau akan bangga menjadi pendampingnya saat ia lebih dulu tiada, atau dialah yang akan bangga dan merasa terhormat karena telah menjadi pasanganmu saat engkaulah yang pergi duluan. Karena hidup itu terlalu singkat untuk diatur sesuai kemauan, maka hiduplah lebih lama melalui doa dan kenangan.

Sumber: Akun FB M. Faizi



POSTING PILIHAN

Related

Utama 6925962606305894012

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item