Sepucuk Puisi Sugiati


Penulis rampai puisi merupakan seorang perempuan yang bernama Sugiati, mengenyam Pendidikan S1 di Universitas Trunojoyo Madura. Ia memang menyukai aktivitas menulis sedari dulu. Beberapa karyanya juga sudah diterbitkan. Baik berbentuk fisik buku dan ber-ISBN dengan judul “Cerita, Cinta, dan Cita” tahun 2021, tulisannya banyak dimuat di media online, ia juga aktif menulis di media seperti kompasiana, retizen republika, karyakarsa, medium, dunia literasi, yousay atau suara.com, dan blog pribadi.

Salah satu karyanya adalah artikel berita bergenre lifestyle yakni meliput tentang kehidupan artis seperti “Depe Ikhlas Melepas Angga Wijaya, Gabriel Jadi Pelipur Lara” dan “Arsy Hermansyah Bawakan Lagu Sayang Pada Ajang Perlombaan Seni Dunia WCOPA” terbit pada tahun 2022. Selebihnya bisa dikunjungi di web dunia literasi.

Ia juga menulis beberapa karya sastra seperti cerita pendek yang berjudul “Dua Manusia”, “Sepasang”, “Malam Mencekam” dan masih banyak lagi, yang terbit tahun 2022 di web medium dan karyakarsa. Selebihnya bisa kawan-kawan kunjungi di web medium dan karyakarsa.

Kecintaanya pada dunia menulis membawanya menjadi pribadi yang peka terhadap lingkungan sekitar. Pasalnya ia tak pernah kehabisan ide untuk menulis pada hari-hari yang telah ia jadwalkan sendiri. Bahkan ia juga pernah menulis kisah inspiratif tentang bisnis atau kewirausahaan, hal itu berasal dari pengalaman pribadi kawan kuliah yang datanya ia kumpulkan secara tidak langsung dan menuliskannya. Tentu dengan izin yang bersangkutan.

Menulis baginya adalah hidup. Hidupnya selalu dihabiskan untuk menulis. Bagi perempuan kelahiran Tuban, 1 Mei ini, tak sedap rasanya hidup jika sehari saja tidak menghasilkan tulisan, karya.



*****

Rumah

Ribuan kilo ku lewati, dari jalan bebatuan hingga jalan tak mengenakan kaki
aku tak pernah menemukan satu kenyaman yang abadi.
Beberapa tempat yang ku kunjungi, bagiku hanya sekadar rumah singgah yang
pada akhirnya akan ku tinggal pergi.

Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri, perjalanan ini akan sampai
kapan?
Dimana kaki ini akan menapak untuk menetap
Pertanyaan itu terus berulang dan berulang.

Pada suatu pagi buta, aku melihat kabut-kabut membasahi Jerami
jerami itu terlihat menatapku semu.
Telephone genggam berbunyi, “Ibu”. Wanita hebatku menelponku.
Ia hendak memastikan, anak bungsunya baik-baik saja.

Pada percakapan kami, ada yang membuatku terdiam, sesekali mataku berkaca-kaca
ia Ibu, seseorang yang firasanya selalu sama, ia tahu aku sedang tak baik-baik saja.
Ah.. air mataku terlalu payah turun lagi, dan lagi
mengangguku menikmati suara merdu Ibuku.

Akhir percakapan kami begitu mengesankan, ia memintaku untuk pulang
bukan sekadar karena aku tak punya uang
Aku tahu, wanita hebat itu rindu dengan anak bungsunya.
Wanita hebat itu, begitu gigih memperjuangkan senyum anak-anaknya
meski terkadang diam-diam, sendirian ia mengelap air matanya.




Melepas

Kerap kali senja menyamai kemampuannya
Kerap kali senja menyamai kepiawaiannya
Namun senja tak cukup apik menyamai ketulusannya
Senja juga tak cukup apik menyamai kekuatan restunya
Adik, hati-hati di jalan
Kataku, ucapan itu menenangkan
Jangan lupa makan
Kataku, ucapan itu membangkitkan kekuatan
Rentang waktu semakin menjauhkan aku dengan mereka
Mereka disana, aku disini
Teringat jelas, saat dimana mereka melepasku untuk pertama kali
Mereka melepas anak bungsunya menimba ilmu di Pulau Garam
Jauh dari keluarga, lama sekali
Dedaunan melambai pelan, melirikku melewati setapak jalanan
Dedaunan melambai pelan melirikku menuju tempat nan jauh disana
Tak kuasa, seorang anak melihat lambaian tangan Ayah Ibunya
Tak kuasa, seorang anak mencium tangan Ayah Ibunya
Sebelum aku pergi, dalam kurun waktu lama
Meski bertemu kembali, rasanya tidak akan pernah sama
Namun Ayah begitu pandai menyembunyikan rasa sedihnya
Ayah pandai menyembunyikannya dan memastikan semua baik-baik saja
Aku tahu, ia begitu teriris, melihat anak gadisnya pergi jauh darinya
Meski tak selamanya, tetap saja terasa.



Hening Diantara Keramaian

Disebuah desa kecil dan terpencil seseorang yang begitu gigih mengais rejeki
mereka ditinggalkan anak gadisnya, mencari ilmu, di pulau orang.
Agustus, pada bulan itu semua bersokrak gembira,
merayakan hari ulang tahun negara nampaknya dua pasang manusia itu hanya bisa menyaksikan sambil menopang dagunya dengan tangan keriputnya.

Sesekali menyeka air matanya, aspal depan rumah menyaksikannya
hanya diam, merenung, merindukan puteri bungsunya.
Sedangkan banyak pasang mata manusia berlalu melewatinya
hendak menyaksikan keramaian.

Suara ajakan beberapa orang tak juga dihiraukan,
benar mereka sedang memikirkan putrinya
Kala hanya suara yang mereka dengar,
itu tak akan mempan mengobati rasa rindunya.

Putriku sedang apa?
Sudah makan belum ya?
bebrapa pertanyaan selalu berkutat dalam pikirnya
dua pasang manusia itu saling menimpal lirikan.

Siapakah anak yang begit beruntung memiliki kedua orang tua,
pasangan yang kala itu mengenakan baju polkadot,
tak henti merindukan anaknya.




Minyak Tawon

Jam menunjukan pukul delapan malam
namun Ayah dan Ibu masih sibuk membuatku merasa aman.
Hari ini aku sakit mata, entah karena apa
entah karena serangga, atau karena aku main kemana-mana.

Ayah dan Ibu mengolesi sekitar mataku dengan minyak cokelat
Ya, minyak itu terlihat cokelat dari luar
Sesekali Ibu mengulurkan tangannya, mengelap mata bengkakku
Ayah melihatnya, tidak tega denganku

Naasnya, beberapa kali minyak itu masuk ke mata anak bungsunya
beberapa kali pula aku menjerit, merasa tidak baik-baik saja
Ayah da Ibu bergegeas meredakan itu
ia lari, mencari air bersih, mengelapnya diantara kelopak mataku.

Aku rindu dengan masa kecil itu
masa-masa yang membuatku sesekali menangis mengingatnya
Ayah, Ibu hari ini anakmu sudah besar
beberapa kali ia tak makan, karena hanya punya cukup uang untuk bertahan.
Ayah Ibu sehat?
ku harap demikian.



Sepucuk Surat


Jika elang-elang yang berterbangan melihatku,
aku ingin menghentikannya sejenak,
ingin ku titipkan surat untuk Ayah, Ibuku.
Mereka sedang apa ya?
Ibu memasak apa?
Sudah makan?

Celakanya elang-elang itu terbang tinggi tak mau berhenti
entah mereka terburu-buru, atau karena tak kenal denganku.
Aku ingin menyapa Ayah dan Ibu lewat udara,
musabab tangan keriputnya sudah tak mampu lagi
memainkan segenggam smartphone.

Ini adalah sepucuk surat yang ku bungkus puisi untuk mereka.
Ayah, Ibu anakmu baik-baik saja
aku rindu kala kita duduk bersama, sembari menikmati secangkir teh bertiga.
Aku rindu kala Ayah menemaniku belajar diruang tamu
Aku rindu celoteh Ibu kala aku meminta uang padanya.

Ayah, Ibu apa kabar?
Kalian merindukanku?
Sebentar lagi aku akan pulang, meski tak lama
Ku harap bisa menuntaskan rindu ini sementara.
Tapi, Yah, Bu…
Rindu ini tidak akan pernah ada akhirnya.

POSTING PILIHAN

Related

Utama 2022049281733549575

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item