Puisi-Puisi Pulo Lasman Simanjuntak


Pulo Lasman Simanjunta
k, sampai saat ini karya puisinya telah dimuat (dipublish) diberbagai media cetak, media online, dan majalah digital di Indonesia dan Malaysia.

Karya puisinya juga telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal dan 16 buku antologi puisi bersama para penyair di seluruh Indonesia.

Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP), anggota Dapur Sastra Jakarta (DSJ), serta anggota Sastera Sahabat Kita (SSK-Sabah, Malaysia.
Bekerja sebagai wartawan dan bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Email      : pulo_lasman@yahoo.com, HP: 08561827332

_____________________________

 
Petra Buta Menari dalam Duka

petra buta datang dengan ucapan selamat datang
dari pastor pendatang negeri seberang

bersama dua tongkat yang sudah matang
kusodorkan cawan lebur penderitaan
seperti pengemis salah beri uang

petra buta lalu mulai menari dalam duka
sedalam sumur tua di samping rumah

kehidupannya yang terus berkembangbiak
mulai dari benturan keras di atas aspal jalanan
sampai terapi tubuh yang tak lagi tumbuh

“mari kita tulis bahwa kelaparan ini karena korupsi yang makin membuat sajakku sunyi, ataukah virus pandemi tak mampu lagi menjalin kemesraan pewarta menggelepar di pinggir jalan,” kataku kepada petra buta sambil menelan rakus penyakit diabetes melitusnya yang makin kurus

“ini ujian iman, ini ujian iman,” jawabnya dengan suara basah mengalir dari kacamata hitamnya

petra buta berdiam diri mengusap masa lalu tertulis dalam ijazah dari negeri cina

"ayo, jual terus harta
 bendamu, rumah yang dibangun di atas batu, sepeda motor yang sering berseliweran dalam sajakmu, atau apa saja yang tersimpan dalam pikiranmu supaya mesin surga ini mau bekerja,” pesannya menutup pintu hari perhentian

Jakarta, Sabtu, 27 Agustus 2022




Rumah Terbelah Dua

dari kota seberang pulau-pulau terluar
sepasang pengantin bisu
masuk permukiman satu hektar
berlantai angan-angan
jadilah anak-anak kembar
tanpa akte kelahiran

memasuki pintu zaman keluh kesah
di pinggir jalan dalam kota tanpa terminal
yang rajin bertelur polusi udara beracun
maka rumah itu terbelah dua
dipotongnya dengan sebilah pisau
seperti orang mabuk
menulis di atas dua lembar kertas
dengan tanda tangan palsu
jadi bencana pandemi yang tak mau pergi

akhirnya mereka terkurung dalam rumah terbelah dua itu
lantaran kelaparan begitu hebat
sampai tiga turunan bermalas-malasan
tidur lelap tak bisa mendendangkan lagu-lagu sion atau menghapal isi kitab suci

kini tinggalkan senjata pertempuran dibidik
antara lelaki berjubah putih dan matahari murtad
kawin mawin lantaran amarah tak berkesudahan

maka rumah terbelah dua itu jadi sarang burung hantu siang dan malam
belum tahu kemana peta angin  
bergerak untuk mengakhiri kisah
rumah terbelah dua

Jakarta, Kamis, 26 Agustus 2021


 Kapal Induk Oleng

mendengar berita Indonesia jaya
merah putih berkibar ria
di samudera raya tak ada keluh kesah
seribu kapal berlayar untuk nusantara

hari ini,
mendengar berita Indonesia jaya
ratusan juta kepala keluarga
terjebak krisis pangan apa adanya

juga krisis energi mendunia
sampai lima benua antartika
haruskah menanam gandum di lahan pekarangan rumah

hari esok
kembali mendengar berita Indonesia jaya
membangun jalan tol, kereta api terbang tanpa utang
kuburan untuk orang-orang
tak punya pengharapan
kemiskinan yang juga tak kunjung
sampai ke pelabuhan

Jakarta, Sabtu, 13 Agustus 2022



Tembok Terkunci

pondok sengketa ini
dicatat tiga belas abad
hanya karena kealpaan
saudaraku tak kembar

sehingga masa lalu
tak bisa melihat dengan kelopak mata
nyaris buta

padahal tubuhnya sudah dibangun
dengan tumpukan batu beton
yang datang dari negeri tirai bambu

kawan seiman jadi senang bertempur
berulang dengan amarah senada

hujan deras sejak dinihari telah menyatukan suara perempuan liar
terekam dalam sinyal radio handytalky
“siapa yang membangunkan tetangga tertidur di ranjang kematian,” teriakmu di pintu gerbang

selesai sudah bencana ini
diselesaikan dengan tembok terkunci

Pamulang, Kamis 16 September 2021




Pesan dari Lelaki Berlemak

lelaki baya berlemak ini
tiap pagi menyodorkan berita ekonomi dan bisnis
dengan kurva gratis

dalam hamparan ladang minyak
serta makin mahalnya dapat bermimpi bersetubuh dengan gandum serta gas beracun

"biarkan mata uang dollar terus berperang dengan mata uang rubbel, tugasmu hanya menulis puisi bermata emas dan terus mempersiapkan perang nuklir supaya penyair bisa angkat senjata," pesan lelaki baya berlemak ini sambil berbisik utang negara harus dibayar dengan jiwa dan raga

aku hanya terdiam karena kehilangan pita suara
nyaris dua hari berenang di padang tandus
sebab menyalin kemiskinan sama dengan membaca mantera bawah tanah

ataukah angan-angan yang terus berterbangan
sampai malam ini
ketakutan virus menusuk-nusuk puisiku
ingin bangkit lagi
dari benua orang mati

Pamulang, Rabu 10 Agustus 2022




Kelaparan Akut Jadi Puisi

kelaparan akut akan kujadikan puisi
pagi hari menembus cuaca mati
bersama jantung matahari

di negeri tanpa kaki-kaki
dimulai dari upacara air tanah ini
diselesaikan dengan sebungkus nasi basi

kelaparan akut akan kujadikan puisi
bersiap untuk menghitung pecahan
mata uang rupiah dikalikan
bertubi-tubi

telah engkau katakan berulangkali
dengan tubuh radikal seperti air kali
yang mengalir lewat mata bank tipuan ini

maka kelaparan akut
telah mengalir deras
dalam payudara puisi
yang diretas terjadi lagi

Pamulang, Minggu 14 Agustus 2022



Pertempuran Hari Terakhir

lewat matahari yang berputar dalam imaji-imaji liar
hari raya yang nyaris kelaparan dalam kesunyian abadi
tanpa tangisan bayi
binatang haram pun jadi santapan rohani
di mezbah batu warna biru
penuh amarah
tanpa dendammu berterbangan
di atas meja makan ini

tegur sapa jadi rajin menolak
sebungkus nyanyian mengerikan
dibuangnya di atas meja kasir
persis berhadapan dengan sekolah
layar lebar dan sulit tidur
di ranjang kematian

lalu kutulis puisi yang paling mengeras
sekeras hatimu perempuan berwajah katarak
doyan mengunyah tumbuh-tumbuhan hijau
rahimnya telah terluka masa lalu
berakar kepahitan dan penyakit kambuhan
dari pulau seberang lautan

Pamulang, Minggu 8 Mei 2022




Mengambang Jauh

rumah bising sewindu mengeja kata batin
barang gadai tercecer
engkau mengalunkan gamelan mati

garis telapak jemari
nomor-nomor kode buntut
disebar kebutuhan perkelahian

kartu dibanting
dibangun persaudaraan kembar memanjang

pernah telegram kanker rahim
anakmu yang perempuan menyilet lengan
sampai membusuk
sudah kehilangan bandar udara
dalam sumur-sumur subur

mengapa nyawamu menghilang
lakon buruk menyantap menu ganja
sejak engkau membenci hiruk pikuk
pasar sekejap
membakar sekolah
tanpa abjad



Cawang–Jatinegara Suatu Siang

matahari ada di telapak kaki ketika gerombolan orang sibuk terpekur
ini pertama bagi kita membuka lembaran kerja
mungkinkah terbayang jika sobat lama
enggan memberi permainan otak

polonia sudah terlewati
singgah di kampung melayu
barangkali ada senyuman menakutkan
hewan membasuh terminal
angan-angan bakal melambungkan
segala rupa menjadi pewarta




Konflik Dalam Peristiwa


1//
para rahib datang berbaju tanpa kancing
menelan rakus birahi
boneka lalu lalang membawa pisau belati
potret bunuh diri
padahal setiap sore
kawan sebangku
gemar berpesta bunga senapan
siapakah gadis mencuri setumpuk perawan
Hingga lengan tanganku
hilang ingatan

2//
lewat monolog alkohol susu
disimak pertemuan tak terduga
patung-patung arca menyambut perkelahian
pegawai pribumi menggelepar
di altar semak belukar

3//
didakinya bukit-bukit logam
tiap persimpangan makam ibu
dalam genangan pasir




POSTING PILIHAN

Related

Utama 687122054810256465

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item