Minyak Goreng Ibu


 Cerpen : Adri Hidayatullah

Doni terduduk di balik tembok timbunan bata sebelah kandang sapi milik pak Saiful. Sembari memegang kakinya dengan wajah yang mengerut kesakitan. Ternyata sedang kram usai berlari tanpa pemanasan. Walaupun sesungguhnya jarak yang ditempuh dari rumah Mak Salama, pemilik toko yang tua renta ketempatnya sekarang tak lebih dari dua tarus meter

Memikirkan karut marutnya minyak goreng saat ini Doni tak habis pikir. Padahal katanya pemerintah telah mensubsidinya. Namun di masyarakat masih saja per liternya dengan harga hampir dua kali lipat dari harga normal. Itupun barangnya sulit didapatkan. Disisi lain dari WA ke WA dan medsos lainnya banyak yang menawarakn minyak goreng secara mudah walaupun harganya tetap mahal. Semakin bingung lagi jika menyaksikan berita di televisi kala menayangkan banyak konsumen yang antre mengular saat ada kesempatan menebus minyak goreng  murah

Sejagung jagung ia menyeka keringat di dahinya dengan sisa nafas yang masih terengah-engah. Betapa ia tadi berniat membeli serenteng permen mint dengan sisa uangnya. Penjual toko yang sudah kurang awas perlihatannya itu berbalik badan untuk mengambil pesanannya. Sebaliknya, Doni secepat kilat membawa kabur satu kemasan minyak goreng

Lamunan Doni mendadak buyar ketika pundaknya tiba tiba ditepuk seseorang yang berdiri tepat dibelakang punggungnya.

“Kenapa kamu tersengal sambil membawa minyak goreng itu?” tanya pak Saiful yang tidak curiga sama sekali.

“Tidak pak, saya hanya sedikit genting karena ibu akan menggoreng.” balasnya

Kalau menurut banyak orang termasuk pak Saiful, Doni memang seorang yang rajin dan baik dalam keluarganya. Bapak paruh baya itu mempersilahkannya lewat.

Kerling mata Doni selalu waspada. Dalam pikirannya ia akan membuang minyak goreng ditangannya jika ada yang berpotensi membongkar kedoknya. Remaja kelas dua SMA itu mengeja merk minyak goreng di tangannya, tulisannya Langkah Kiri. Hemm, merk baru yang aneh

Dia tidak bisa membayangkan andai perbuatannya tadi kepergok Mas Sultan, cucu Mak Salama yang tubuhnya kekar pintar pencak silat lagi. Mungkin saja tubuh Doni yang kurus kerempeng langsung dibantingnya dengan marah

***

Mentari mulai bangkit mengintip dari ufuk timur. Seberkas cahaya sebagian merasuk melalui ventilasi teras rumahnya. Tatkala pendar itu mulai mengindik untuk menghangatkan tubuhnya seusai mandi dalam merajut hari seperti biasanya.

Anak sulung dari dua bersaudara itupun menjadikan kursi dan mejanya teman akrab merenung sejenak. Entah formalitas atau benar benar mengembara bersama halimunnya minyak goreng sebagai benda bertuah.

Tak lama ia beranjak dari singgasananya sewaktu  menerawang jam dinding. Tak terasa telah menunjuk pukul 06.15 membuatnya melangkahkan kaki menuju bilik kamar untuk bersiap berangkat ke sekolahnya. Mengganti kaos yang dipakainya dengan seragam putih biru. Seusainya, ia bergegas pergi ke dapur karena terdengar panggilan ibunya.

“Nak sarapan dulu sebelum berangkat, ini lauknya sudah siap, maaf sementara hanya ini saja yang bisa ibu sajikan di meja.” tutur ibunya dengan tatapan kosongnya

“Tidak bu, Doni tetap bersyukur. Aku lebih merasa beruntung karena diluar sana mungkin masih ada yang kasih sayangnya tidak sedalam ibu.” balasnya

Doni sangat menyayangi adiknya. Terutama kepada ibunya sejak mereka ditinggal berpulang mendiang bapaknya. Ia merasa ibunya adalah harta yang sangat berharga kendati hanya seorang buruh cuci baju dengan pendapatan per hari yang tidak menentu. Selama ini ibunya menjadi tulang punggung keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari hari maupun beban biaya sekolahnya. Meskipun terkadang sering kali tidak terwujud.

Suatu ketika, remaja berusia 17 tahun itu mengobrol dengan ibunya karena ingin sekali untuk segera putus sekolah dan akan mencari pekerjaan saja. Setidaknya ada tambahan penghasilan untuk membantu perekonomian rumah tangga katanya. Tetapi ibunya mengubur dalam anganya.

“Ibu tidak mau kamu sebagai anak sulung putus pendidikannya. Kamu masih punya adik. Pendidikan itu untuk pekerjaan kamu nanti. Siapa tau dapat kerja yang halal dan upahnya lebih dari pria berdasi itu. Biarkan meski pekerjaan ibu yang seperti ini, yang paling penting halal dan tidak makan uang rakyat” Seloroh ibu dengan tawa kecilnya.

“Kamu tidak perlu memikirkan biaya ini itu. Tugas kamu hanya fokus ke materi pelajaran. Ibu akan terus berusaha bekerja, semoga Allah memberikan hidayah-Nya” Imbuhnya.

Agak terbuRu buru Doni menyantap sarapannya yang sebelumnya diracik ibunya. Khawatir terlambat tiba di sekolah. Lauknya sederhana, hanya nasi, telur rebus dan kacang petis yang dihaluskan. Jadilah telur rebus bumbu ulek kacang goreng.

Rampung sudah seisi piring dilahap bersih. Ia berjalan ke dapur untuk minum. Kemudian segera pamit kepada ibunya.

“Bu, Doni ijin berangkat sekolah dulu.” Sembari mencium tangan ibunya.

“ Ya, hati hati dijalan nak, belajar yang giat ya. Semoga nanti jadi orang sukses” nasihat ibunya sambil mengusap helai rambut anaknya.

Doni segera bergegas ke sekolahnya yang tidak seberapa jauh dari rumahnya. Hanya sekitar satu setengah kilo saja. Ia naik kendaraan sepeda motor bekas peninggalan bapaknya.

Setibanya berlabuh melintasi gerbang sekolahnya, ia segera memasuki ruangan kelas IPA B. Kemudian menyelempangkan tasnya pada sandaran kursi tempat duduknya. Ya, Doni memang anak yang cerdas walaupun tidak ranking satu. Ia duduk di urutan bangku kedua dari depan. Selama ini peringkat dalam buku rapornya selalu dalam urutan lima besar setiap semesternya.

***

Pada akhir pekan ia tak sengaja mendengar kabar dari para ibu tetangganya yang sedang rapat paripurna ngegosip kondisi terkini minyak goreng yang katanya harganya sudah diserahkan pada mekanisme pasar. Tentu tanpa pimpinan sidang. Tanpa bahasa sastra. Karena kuali tak butuh puisi dan prosa.

“Balai desa akan diserbu. Satu hari lagi minyak goreng ditawarkan dengan harga normal, empat belas ribu” ucap salah satu ibu.

“Kalau acaranya pukul 8 pagi, ya kita harus sudah tiba sebelum para suami bangun dari tidurnya. Hihihi” sambung lainnya.

“Sebelum subuh, maksudnya?” canda ibu yang mengenakan baju motif bunga Janda Bolong

Saat tiba di rumah Doni menghantarkan kabar tadi kepada ibunya. Bahwa demi dua liter kemasan minyak goreng ia siap mengantri dibawah terik matahari. Tetapi ibunya melarang

“Bukannya ibu keberatan Nak, minggu ini orderan cuci baju begitu sepi. Jangankan untuk beli minyak goreng. Buat beli beras dan ikan saja pas pasan. Kamu yang sabar ya.” Suara ibunya dengan lemah lembut

“Baik bu, Doni mengerti tidak mau menambah beban kerja ibu.” Balasnya dengan hati terenyuh

Doni kembali ke kamarnyanya, berbaring dengan serumbai imaji yang mendawai. Betapa selama ini ia selalu bertekad membantu ibunya. Dalam beberapa hari terakhir, ia selalu disuguhi nasi dengan satu telur modifikasi, yakni ditambah tepung yang banyak dan garam agar cukup untuk tiga orang: ibunya, adiknya, dan ia sendiri. 

Hari esok bertepatan dengan event yang dibicarakan ibu ibu. Benar saja, ahad itu mereka sudah mengantri sejak pagi buta. Padahal masih jam 8 gerbang balai desa dibuka. Doni juga ikut andil dalam mengantri.

Ia tak membawa uang sepeser pun. Alhasil nasibnya nahas. Pak Hansip telah memegang erat tangannya yang tertangkap tak jauh dari tempat antrean setelah sebelumnya berkejaran. Sesegera mungkin ia diamankan sementara dirumah kepala desa dengan tuduhan menjambret minyak goreng milik seorang ibu yang baru saja keluar dari antrean

Doni tertunduk hambar ketika bertemu langsung dengan kepala desa beserta perangkatnya yangbterus menatap dalam dalam. Ibunya juga turut dipanggil untuk secepatnya menuju lokasi.

“Kenapa kamu begitu nekad. Usiamu masih muda sayang sekali berbuat tercela seperti ini.” sergah kepala desa berpeci dan berbaju batik.

“Terdesak kebutuhan pak. Selama ini minyak goreng sulit didapat dan harganya mahal. Untuk keluarga miskin seperti kami beli beras saja masih mikir mikir.” Doni tertunduk malu didepan ibunya

“Nak, ibu tahu Doni sayang pada ibu. Tetapi selama ini kamu kan tidak pernah diajari mencuri.” Ibunya juga menahan malu tak terhingga

“Saya mohon maaf bu. Juga pak Kades. Saya khilaf” Doni pasrah meratapi nasibnya.

“Ya sudah, kali ini kamu saya maafkan. Bapak hanya ingin bahwa ini menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir. Saya hanya berharap kamu menjadi anak yang baik. Karena selama ini keluargamu adalah keluarga tak tercela” nasehat Pak Kades sambil memberikan bingkisan dua kemasan minyak goreng

***

Doni tidak seperti biasanya. Ia merasa bahwa hari harinya semakin suram bagai mentari diufuk barat yang diselimuti awan kelabu. Dari pagi hingga tidurnya selalu dihantui rasa bersalah. Tetap tertulis rapi dalam ingatannya kejadian di balai desa itu, hingga seminggu lebih ia sengaja bolos sekolah. Ia juga keluar dari grup WA kelasnya. Ada satu dua teman dekatnya yang menghubungi

“Don, kenapa kamu lama sekali nggak masuk?” tanya Rizki dalam chat WA nya.

“Aku sakit.” singkat saja Doni membalasnya.

Ternyata tindakan Doni tidak masuk sekolah dalam waktu lama membuat wali kelas dan kepala sekolahnya sedikit cemas. Anak didik mereka yang dikenal cerdas, selalu bersikap baik dan suka menolong alpa lama tanpa keterangan.

Sepintas terdengar kasak kusuk diantara para siswa terkait yang dialami Doni di balai desa saat antrean itu. Ada yang mencemooh tapi ada yang positif simpati. Pihak sekolah penasaran untuk membuktikan akar permasalahannya, dan memutuskan mendatangi kediaman Doni.

Wali kelas Doni sempat terkejut dengan penjelasan yang dituturkan ibunya. Pak Slamet sebagai wali kelas turut prihatin dengan sikap Doni saat ini. Menurut sang ibu perubahan putra sulungnya drastis, mulai dari jarang makan, murung setiap harinya, bahkan juga sengaja bolos sekolah.

Pak Slamet menemui Doni di kamarnya. Ia diberikan semacam dorongan psikologis untuk menambal sedikit mentalnya yang luruh. Doni tetap enggan masuk sekolah karena sudah kadung tersebar tentang peristiwa itu. Ia malu bertemu dengan teman dan guru katanya.

“Bapak memahami perasaan kamu sekarang. Tetapi kamu masih harus menempuh pendidikan. Sayang kalau berhenti ditengah jalan. Besok bapak mau Doni masuk sekolah ya” Pak Slamet membujuk susah payah.

“Yakinlah teman temanmu masih terus menunggu dikelas, karena kamu anak baik, pintar dan rajin. Bapak jamin kamu akan tetap diterima oleh seluruh lingkungan sekolah” tambah pak Slamet terus membujuk

Melalui WA grup kelas Pak Slamet menghimbau memberi perhatian kepada seluruh siswa kelasnya untuk tidak menyinggung masalah peristiwa Doni lagi, baru kemudian menambahkan nomor telepon seluler Doni ke dalam grup WA kelas.**

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5869841447421683309

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item