Menumbuhkan Budaya Positif Di SMP Negeri 1 Dasuk (SMENPEDAS)

 Oleh : Yulianti, S.Pd.

Penampilan siswa-siswi pada car free day di Taman Bunga Sumenep sebagai bentuk mencintai dan melestarikan budaya local.

 A.    Latar Belakang

Saat mendengar kata disiplin, tentu yang ada di benak kita adalah sebuah bentuk kepatuhan pada tata tertib dan peraturan. Jika seseorang bertindak tidak berlawanan dengan peraturan, norma, bahkan hukum maka orang tersebut dapat dikatakan disiplin. Begitulah Mindset yang berkembang selama ini tentang disiplin.

Sekolah sebagai sebuah tempat pendidikan pasti menginginkan disiplin yang tinggi dari siswa dan warga sekolah yang lain. Oleh karena itu terlahirlah peraturan-peraturan yang diciptakan oleh sekolah dan wajib dipatuhi oleh siswa. Untuk memastikan tingkat kepatuhan maka sekolah pun memberikan hukuman kepada para siswa yang melanggar tata tertib atau peraturan sekolah. Para guru masih menganggap bahwa hukuman adalah “alat” yang efektif untuk menegakkan aturan di sekolah. Jika disiplin masih berdasarkan rasa takut karena hukuman maka tujuan disiplin hanya sebatas jangka pendek. Siswa mematuhi tata tertib bukan karena dorongan dari dalam dirinya sendiri, namun faktor dari luar.

Kepatuhan yang demikian tidak akan meumbuhkan efek jera atau perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Namun beberapa pendidik masih saja menggunakan hukuman sebagai solusi untuk menegakkan tata tertib di sekolah. Sudah seharusnya kita mencari cara terbaik untuk siswa.  Mari kembali mengingat pemikiran KHD yang mengatakan bahwa kita harus mendidik siswa sesuai zaman dan kodratnya. Banyak faktor mengapa hukuman masih diberlakukan oleh beberapa guru, salah satunya adalah kemungkinan tidak ada sosialisasi tentang menumbuhkan budaya positif di sekolah. Salah-satu penerapan budaya positif yang ada di lingkungan ialah penerapan budaya disiplin. sebagai seorang guru dan siswa, hendaknya terus memperhatikan bagaimana penerapan disiplin di sekolah. Keduanya harus terus berkesinambungan, karena penerapan disiplin tidak bisa diterapkan hanya kepada salah-satu pihak.

Sebelum itu, perlu untuk mengetahui bagaimana pengertian dari disiplin. Ki Hajar Dewantara menyebutkan pengertian disiplin dengan “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ‘self discipline’ yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka. (Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470)

Banyak kegiatan yang dilakukan di SMP Negeri 1 Dasuk (Smenpedas) untuk menumbuhkan budaya positif. Misalnya kegiatan rutin setiap hari Senin yaitu upacara bendera, gerakan pohon asuh, Pungut sampah 5 menit setelah istirahat, wajib baca, dan banyak kegiatan ekstra kurikuler seperti; Pramuka, PIK R, pencak silat, Tari, drumband, dan lain-lain.

Keberadaan guru dan pendidik di Smenpedas turut membantu pada proses budaya positif tersebut. Guru tentunya sudah mengetahui bagaimana menjadi diri yang baik bagi siswa. Bagaimana posisi kontrol yang telah dilakukan oleh guru, dan penerapan segituga restitusi di lingkungan sekolah.

Dengan penerapan budaya positif di Smenpedas, bisa menjadikan Smenpedas lebih baik ke  depannya. Dampak yang diterima oleh Smenpedas adalah dampak baik, yang menjadikan budaya positif semakin membudaya di ligkungan Smenpedas.

 B.    Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dari penerapan budaya positif di lingkungan SMP Negeri 1 Dasuk diantaranya adalah sebagai berikut.

•    Terwujudnya visi sekolah melalui budaya positif
•    Terwujudnya lingkungan belajar yang nyaman dan aman
•    Terbentuknya karakter baik yang kuat
•    Pembelajaran yang berpihak pada siswa.
•    Menumbuhkan karakter baik pada siswa
•    Terciptanya profil pelajar pancasila

C.    Tolok Ukur

Tolok ukur keberhasilan dalam penerapan budaya positif di SMP Negeri 1 Dasuk (Smenpedas) ialah sebagai berikut.
•    Adanya perubahan kontrol pada guru.
•    Pembelajaran yang berpusat pada siswa.
•    Terciptanya lingkungan belajar yang nyaman dan aman.
•    Terwujudnya siswa yang berbudaya positif di sekolah dan masyarakat serta memiliki karakter baik yang sangat kuat.
•    Tercapainya profil pelajar pancasila sebagai tujuan dari pendidikan nasional
•    Terbentuknya keyakinan kelas bersama guru kelas yang dikolaborasikan bersama siswa di kelas masing-masing

D.    Linimasa Tindakan

1.    Agustus Minggu I
Merancang kegiatan aksi nyata dan mendiskusikan aksi nyata dengan kepala sekolah dan guru
2.    Agustus Minggu II
Melaksanakan kegiatan aksi nyata dengan penerapan Budaya Positif di sekolah
3.    Agustus Minggu IV
Melakukan workshop pengimbasan aksi nyata kepada guru-guru
4.    Agustus Minggu IV
Membuat laporan pelaksanaan aksi nyata

E.    Dukungan Yang Dibutuhkan

Agar budaya positif dapat dimplimentasikan oleh semua warga sekolah, maka perlu dukungan dari:
1.    Kepala sekolah
2.    Semua warga sekolah
3.    Siswa
4.    Sarana dan prasarana sekolah
5.    Orang tua
6.    Masyarakat

F.    Hasil Aksi Nyata
Setelah melakukan rencana pelaksanaan aksi nyata seperti yang tertera pada latar belakang di atas, hasil aksi nyata ialah sebagai berikut.

1.    Sosialisasi rancangan aksi nyata kepada kepala sekolah dan rekan guru

Sosialisasi kepada kepala sekolah dan rekan guru

Sosialisasi rancangan aksi nyata yang dilakukan kepada kepala sekolah dan rekan guru ialah untuk meminta ijin melakukan aksi nyata. Selain itu, peran dan dukungan kepala sekolah dan guru juga sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan aksi nyata di SMP Negeri 1 Dasuk.

Melalui kegiatan sosialisasi kepala sekolah dan teman sejawat memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan aksi nyata yang dilaksanakan. Dukungan juga bisa terlihat dengan penggunaan sarana dan prasarana selama aksi nyata berlansung.

2.    Membuat keyakinan bersama antara guru dan siswa.

Membuat keyakinan di dalam kelas bersama siswa-siswa kelas 7-2

Untuk menerapkan budaya positif di sekolah, tentu perlu dilakukan pembiasaan hal positif. Salah-satu pembiasaan positif yang dilakukan ialah dengan membuat keyakinan kelas bersama.

    Adapun hasil keyakinan kelas yang muncul dari kegiatan ini ialah :
    a)    Saling menyayangi
    b)    Saling menghormati
    c)    Saling menjaga kebersihan dan kehijauan kelas.
    d)    Menghormati guru.

Selain membuat keyakinan dalam kelas, di SMP Negeri 1 Dasuk juga menerapkan pembiasaan-pembiasaan yang positif. Misalnya penyambutan siswa di depan gerbang sekolah, Yasinan pada Jumat pagi, wajib baca saat hari Kamis, dan lain sebagainya.
 
3.    Membangun budaya positif di sekolah melalui kegiatan yang kreatif dan inovatif
Budaya positif yang ada di sekolah hendaknya terus dikembangkan. Salah-satu cara untuk mengembangkan budaya positif, ialah dengan terus berkegiatan yang positif. Bentuk dari kegiatan yang positif ini seperti kegiatan ekstrauririkuler dan program tahunan sekolah. Beberapa kegiatan sekolah dan ekstrakurikurikuler yang sudah berjalan dengan baik di SMP Negeri 1 Dasuk, ialah pramuka, PIK R, Seni tari, drum band, silat, volley, futsal. Tujuan dari kegiatan ini tentu saja untuk mendidik siswa menjadi manusia yang disiplin dalam kehidupannya.

4.    Melakukan segitiga restitusi
Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi siswa untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004)
Restitusi juga adalah proses kolaboratif yang mengajarkan siswa untuk mencari solusi untuk masalah, dan membantu siswa berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).

Melalui pendekatan restitusi, ketika siswa berbuat salah, guru akan menanggapi dengan mengajak siswa berefleksi tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka menjadi pribadi yang lebih baik dan menghargai dirinya. Pendekatan restitusi tidak hanya menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah. Restitusi juga sesuai dengan prinsip dari teori kontrol William Glasser tentang solusi menang-menang.

    Kegiatan segitiga restitusi ialah sebagai berikut.
    a)    Menstabilkan identitas
    b)    Validasi tindakan yang salah
    c)    Menanyakan keyakinan

Berikut ini adalah video pelaksaaan segitiga restitusi yang telah dilakukan di SMP Negeri 1 Dasuk.

Video pelaksanaan segitiga restitusi di SMP Negeri 1 Dasuk pada laman :

https://youtu.be/orLGpSV_fx

5.    Melakukan pengimbasan aksi nyata kepada guru-guru di SMP Negeri 1 Dasuk
Setiap rententan kegiatan yang dilakukan pada modul 1 muaranya adalah pengimbasan guru penggerak. Workshop pengimbasan Budaya positif telah selesai dilakukan di SMP Negeri 1 Dasuk pada tanggal 29 Agustus 2022. Berikut ini adalah rincian pelaksanaan Workshop pengimbasan Budaya Positif di SMP Negeri 1 Dasuk.

a)    Judul
       Menumbuhkan Budaya Positif di SMP Negeri 1 Dasuk
b)    Waktu dan Tempat Pelaksanaan
       Senin, 29 Agustus 2022 bertempat di Ruang LAB. IPA SMP Negeri 1 Dasuk
c)    Peserta dan Pemateri
       Jumlah peserta yang hadir ialah : 20 orang.
d)    Dokumentasi

 

Foto bersama peserta pelaksanaan Workshop pengimbasan calon g  uru penggerak.

 

Dokumentasi video workshop pengimbasan Guru Penggerak melalui laman youtube :

https://youtu.be/YvrXTHK-jKw

G.   Penutup

Tidak ada gading yang tak retak. Demikian pula dengan pelaksanaan aksi nyata sebagai wujud nyata pengimplementasian ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh CGP. Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat, memberi inspirasi menjadi pendidik yang lebih baik, inovatif, selalu mau belajar hal baru, serta berpihak pada siswa. Amin.






POSTING PILIHAN

Related

Utama 4865470604085461326

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item