Membaca (Ulang) Sejarah Madura

TORON: Dari kiri, Syaf Anton Wr, Prof Dr Abdul Hadi WM, dan Ibnu Hajar dalam satu diskusi tentang sejarah di salah satu kafe di Sumenep, Selasa (2/8). (Rulis))

Oleh Achdiar Redy Setiawan
*

ADA yang perlu dituliskan dari diskusi Menelisik Sejarah dan Budaya Madura di Lee Riya Coffee, Selasa (2/8) malam. Persamuhan yang diinisiasi oleh dua budayawan Ibnu Hajar dan Syaf Anton WR ini menghadirkan narasumber tunggal Prof Dr Abdul Hadi WM. Prof Hadi adalah guru besar ilmu filsafat yang lahir di pesisir utara Sumenep. Namanya masyhur sebagai sastrawan, budayawan cum cendekiawan muslim Indonesia. Momen persuaan malam itu tak pelak menjadi ajang nostalgia sekaligus kesempatan mengunduh ilmu dan pengalaman Prof Hadi yang sangat jarang pulang kampung ini.

Sesuai tema diskusi, Prof Hadi memulai paparannya dengan menguraikan hasil pembacaan (kritis) terkait budaya Madura dan Sumenep secara khusus. Di hadapan sekitar 30 audiens malam itu, Prof Hadi mendedahkan beberapa konten kesejarahan dalam literasi yang tersedia ”banyak bermasalah”. Tatkala dibandingkan dengan narasi sejarah yang ditulis tentang Jawa, Sunda, Melayu, dan kerajaan lainnya dalam periode yang beririsan kerap tidak sinkron. Di beberapa periode yang dituliskan tentang tokoh Arya Wiraraja dan Jokotole misalkan, terdapat misleading ketika dikomparasikan dengan tahun-tahun yang sama di tempat dan peristiwa lain. Ada pula pembelokan yang secara substansi mengarah pada pembohongan sejarah. Pada titik inilah, Prof Hadi menegaskan perlunya membaca dan mengkritisi secara komprehensif sejarah yang dituliskan tentang Madura.

Sejarah (Madura), dalam pandangan Prof Hadi, perlu dibaca dan dikonstruksi ulang dengan basis lintas keilmuan. Sejarah tidak bisa dipandang dari satu sisi ilmu sejarah saja. Unsur dan aspek kesejarahan perlu digali dari disiplin ilmu lainnya, seperti arkeologi, geografi, antropologi, ekonomi, hukum, termasuk sastra (bahasa, linguistik, dan filologi). Sebuah peristiwa di masa tertentu perlu dibaca secara komprehensif dari banyak sudut pandang. Tatkala didapatkan temuan baru tentang ketidaksinkronan sebuah fakta, maka perlu diluruskan dengan cara menuliskan ulang.

Madura, sebagai locus yang kerap terpinggirkan dari narasi besar negeri bernama Indonesia, perlu dikembalikan untuk diletakkan sebagai penanda penting. Sejarah panjang yang terbentang tentang Madura, beserta manusia yang tinggal di atasnya, berperan vital bagi peradaban Nusantara. Arya Wiraraja misalkan, merupakan salah seorang pengasas Kerajaan Majapahit yang menjadi embrio lahirnya negara bangsa Indonesia.

Secara geografi, manusia Madura mendiami pulau yang secara teritori terpisah dari nusa lainnya. Madura juga memiliki kekhasan sendiri terkait karakter dan khazanah kebudayaannya. Di sisi lain, sejarah juga menyebutkan bahwa ada kekerabatan yang kuat antara manusia Madura dengan Jawa, Sunda, Blambangan, Bali, Bima, Melayu, Makassar hingga Aceh. Titik-titik persinggungan ini juga penting digali dan dipelajari. Untuk apa? Mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang asbabunnuzul tentang peristiwa, kejadian, dan tokoh yang membentuk kebudayaan Madura.

Prof Hadi mencontohkan peristiwa perang antar kerajaan kala itu jangan semata-mata dipandang dari perspektif pertarungan antarsuku dalam perebutan kuasa. Jika ditelisik secara mendalam, sejatinya pelbagai perang tersebut adalah perang antarsaudara. Persinggungan antar kerajaan bermuara menjadi kekerabatan dengan adanya ikatan perkawinan. Terjadinya friksi yang berujung perang itu perlu dilihat pula sebagai taktik penjajah Belanda untuk memecah belah hubungan persaudaraan yang telah terjalin antar kerajaan itu.

Sebagaimana dimafhumi, sejarah yang dituliskan mayoritas adalah sejarah milik pemenang atau penguasa. Inilah pentingnya pembacaan kritis terhadap sejarah. Setelah membaca (ulang), hal penting berikutnya adalah mencari makna di balik kisah yang terungkapkan. Narasi makna adalah variabel intrinsik yang perlu diunduh, diresapi, dan dinternalisasikan oleh manusia Madura kiwari. Sebentuk metode sinkronik-diakronik pengetahuan yang perlu dihidupkan. Mencari pemaknaan atas kisah masa lalu, lalu di(re)konstruksi kembali pada konteks ruang dan waktu terkini.

Sejarah Madura, lanjut Prof Hadi, secara substansial sarat dengan pertautan antara agama dan budaya. Keduanya bak dua sisi mata uang. Budaya tanpa agama hanya berujung pada materialisme tak berjiwa. Agama tanpa budaya tercerabut dari lokalitas. Agama dan budaya, dalam perspektif antropologi sosiologis kesejarahan Madura, tidak boleh dipisahkan.

Dua nilai ini perlu digali secara holistik dari setiap untaian sejarah yang tertuliskan, pun sampai ke suasana kebatinan yang melatarinya. Skeptisisme tentang sejarah Keraton Sumenep dan politik akomodatifnya terhadap kaum kolonial misalnya, wajib dikritisi. Namun pada saat yang sama, pencarian alasan atas pilihan kebijakan yang diambil sultan masa itu juga perlu dikuak. Di balik yang tampak (eksterior), ada nilai yang melandasinya (interior). Unsur penggalian aspek interioritas ini penting dikemukakan untuk memberi makna yang lebih holistik atas sesuatu yang tertampakkan.

Narasi (baru) yang ditafsirkan dan disegarkan dari jejak masa lalu ini ialah pijakan penting yang memandu gerak langkah manusia Madura hari ini. Menjadi spirit yang mengilhami peradaban. Pada kontinum inilah (pelajaran) sejarah semestinya ditempatkan. Bahwa masa kini senantiasa berkelindan dengan masa lalu, dan memandu arah masa depan. Ketika periodisasi masa ini tidak terhubung kait, niscaya perjalanan sebuah bangsa akan terombang-ambing dan gagap saat berjumpa dengan kebudayaan bangsa lain.

Pada akhirnya, narasi (baru) kesejarahan Madura ini perlu didiseminasikan dalam sebuah kerja kebudayaan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Prof Hadi mencontohkan kuatnya budaya Aceh dan Minang (yang secara narasi kuat pula komitmen agama Islam dan budayanya). Di dua suku tersebut, ikhtiar menjaga keterpaduan nilai ini dimulai dari keluarga, sekolah, pemerintahan hingga masyarakat secara kolaboratif. Tembang-tembang tentang perang sabil di Aceh misalkan, disenandungkan oleh para ibu ke bayi sejak fase pangkuan dan gendongan.

Internalisasi nilai dalam sebuah kerja kebudayaan yang terorkestrasi sistematis ini adalah ikhtiar yang perlu terus digaungkan. Stereotipe manusia Madura yang dalam banyak hal masih terngiang (kasar, egoistis, dan nilai berkonotasi buruk lainnya) harus digantikan dengan narasi baru yang lebih positif. Etos kerja tinggi, berani melawan kerasnya hidup, toleransi tinggi, adaptif, dan bertumpukan pada nilai agama (Islam) yang kuat adalah deretan nilai yang tertanam dalam sejarah leluhur Madura. Pada gilirannya kemudian, nilai-nilai itu terejawantahkan ke lapangan pengabdian masing-masing. Dengan demikian, manusia Madura konfiden dan mewarnai perkembangan peradaban dunia sebab terhubung kuat dengan spirit masa lalunya secara berkesinambungan. Semoga. (*)
 
*)Pembelajar awam sejarah, pembelajar pada Jurusan Akuntansi UTM

(Tuisan ini telah tayang di Jawa Pos Radar Madura, edisi cetak: Minggu 7 Agustus 2022)


POSTING PILIHAN

Related

Utama 1939070621952311225

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item