Hanya Gelar, Kok Marah!


Halimi Zuhdy


Seorang teman lupa mengucapkan kata "Pak Haji" ketika menjadi MC dalam suatu acara yang digelar oleh salah seorang tokoh masyarakat. Setelah acara selesai, pak haji tersebut menegur si MC dengan cukup keras.

Ternyata, itu tidak hanya terjadi pada Pak Haji, yang berada di masyarakat umum. Tapi, juga sering terjadi di kalangan akademisi (oknum). Pernah seorang profesor marah besar, ketika seorang mahasiswa lupa membubuhkan gelar "prof" sebelum namanya. Bahkan, hampir-hampir tidak lulus kuliahnya. Pernah juga mahasiswa mengadu, bahwa pesan di hpnya tidak dibuka beberapa bulan, karena lupa membubuhkan gelar "Dr" di depan namanya. "Untuk memperoleh gelar ini mahal lo mas, kok kamu tidak mencantumkan!".

Tidak hanya di "masyarakat" umum dan di kalangan "akademisi" (oknum lo ya), juga pernah terjadi di kalangan tokoh agama, yang namanya tidak diawali dengan Romo, Kyai, Tuan Guru, Ajengan, tengku, Buya, Gus, Bu Nyai, Neng, Lora, Kaeh, Syekh dan atau sebutan lainnya. Mereka marah besar dengan berbagai ekspresinya.

Ternyata tidak hanya gelar, titel, julukan, atau sebutan di atas yang mendatangkan amarah kalau tidak dicantumkan atau tidak disebutkan. Tapi, bagi yang memangku jabatan juga marah (oknum lo ya), seperti Pak Menteri, Pak Gubernur, Pak Camat, Pak Kades, Pak RW, Pak RT dan Pak-Pak yang lain.

Gelar, jabatan, titel, atau sebutan apa pun bukan tidak penting dan bukan hal yang sepele, tetapi bila hanya ada kesalahan atau lupa menyebutkan kemudian marah besar itu tidak pada tempatnya, apalagi yang marah adalah yang bersangkutan. Bukankah kalau tidak disebut "pak haji" tetaplah ia seorang haji? Apalagi ia bukan sebuah gelar, ia hanyalah pengingat padaNya. Disebut haji atau tidak akan merubah ibadah kepadaNya.

Bagaimana dengan "Prof, Dr, Magister, Sarjana" sama saja, tidak harus marah besar, cukup mengingatkan kalau lupa menyebutkan (itu pun kalau ada keharusan untuk disebutkan), kalau tidak?! Maka, tidak elok bila marah. Bukankah seorang ilmuan yang sesungguhnya adalah mereka yang punya kompetensi dalam keilmuannya?!. Bukan karena gelar atau sebutan. Karena tidak sedikit oknum yang membeli gelar, dan kemudian dicantumkan di depannya?!.

Juga lagi marak sebutan kyai, gus, ajengan, tuan guru, dan buya walau secara keilmuan (agama) belum "pantas" untuk itu. Tapi, kalau tidak disebut dengan gelar di atas, mereka muring-muring. Bahkan sekarang mudah sekali menyebut gelar-gelar yang belum "maqam"nya. Atau mencantumkan sendiri di depan namanya.

Biarlah ia berjalan dengan sendirinya. Tidak terlalu bangga dengan berbagai sebutan yang dikalungkan, dan tidak terlalu sedih bila diletakkan. Apalagi sampai marah memerah, bila kata-kata indah tidak dilabelkan. Sesungguhnya gelar "hamba Allah" yang paling pantas untuk direbutkan.

“Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.” (Al-Qur'an).

Peristiwa di atas hanyalah oknum lo ya. Tidak boleh baper, apalagi marah. Masih banyak dan lebih banyak yang tidak marah, kalau gelar namanya "lupa" disebutkan.

***

"Gelar yang sesungguhnya, bila ia benar-benar sesuai dengan gelarnya, kalau profesor maka bagaimana ia menjadi sumber keilmuan dan memproduksi ilmu pengetahuan, sebagai pelaku bukan lagi hanya sebagai penikmat" pesan Prof Muhammad Zainuddin (Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang).

Sumber tulisan Akun FB Halimi Zuhdy



POSTING PILIHAN

Related

Utama 8761742168808166810

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item