Lalat, Bunga dan Sampah

Ada pepapah;
“Sulit Meyakinkan Lalat Jika Bunga Itu Lebih Indah Dari Pada Sampah”

Kalimat sederhana ini mempunyai makna yang cukup dalam dan begitu luas. Sebagaimana kalimat atau ucapan dalam bentuk pepapatah, pribahasa, kata bijak dan lainnya yang pada  umumnya sebagai bentuk pesan yang disampaikan secara implisit sebagai petunjuk untuk menggugah hari dan perasaan seseorang.

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), mendefinisikan pepatah sebagai sebuah peribahasa yang mengandung nasihat atau ajaran dari orang tua. Biasanya pepatah dipakai atau diucapkan untuk mematahkan perkataan dari lawan bicara.

Maka secara tidak langsung akan menjadi sebuah nasihat kebenaran. Nasihat sendiri  itu kadang seperti jamu, memang pahit dirasa, Bagi orang yg menolak sebab ia tak mau pahitnya. Bagi orang yg menerima sebab ia tahu manfaatnya.

Itulah mengapa ketika menyampaikan kebenaran kadang akan menemukan dua reaksi orang yang berbeda: orang yang bijak akan merenung, orang yang bodoh akan tersinggung. Orang yang bijak merenung karena ia sadar bahwa itu bermanfaat baginya, Sedangkan orang bodoh tersinggung karena menganggap itu merupakan hinaan baginya.

Demikian pula hal ini seperti sulitnya meyakinkan lalat, Bahwa bunga itu jauh lebih indah dari pada sampah ia tak percaya. Sebab ia sudah terbiasa hidup di antara tumpukan sampah dan mencium bau busuknya. Sehingga ketika kita tunjukkan bunga yang indah dan harum, ia pun tak terima.
 

Jadi makna dari pepatah diatas tidaklah  mudah dan bahkan sulit meyakinkan lalat, bahwa bunga itu jauh lebih indah dari pada sampah. Bahwa kodrat lalat sudah terbiasa hidup di antara tumpukan sampah dan mencium bau busuknya. Sehingga ketika kita tunjukkan bunga yang indah dan harum, ia pun tak terima.

Ketika badan sakit, makanan selezat apapun tidak akan terasa di mulut dan lidah,
Demikian juga apabila hati seseorang sakit (bahkan hati yang mati), ia tidak akan mempan menerima nasihat. Sebab ia memang tak merasakan manisnya iman yaitu kebahagiaan dan ketenangan sejati di dunia-akhirat.

Hal ini sejalan dengan ucapan Malik bin Dinar. Beliau berkata,

إن البدن إذا سقم لا ينجع فيه طعام ولا شراب ، وكذلك القلب إذا علق حب الدنيا لم ينجع فيه المواعظ

“Sesungguhnya badan apabila terkena penyakit maka akan sulit untuk menelan makanan dan minuman, demikian pula hati apabila telah tertutup dengan kecintaan kepada dunia, maka akan sulit menerima nasihat.” [Sifatus Shafwah 2/172]

Demikian barangkali bisa menjadi renungan.

(Rulis)

POSTING PILIHAN

Related

Utama 238989624423095771

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item