Hitam Putih: Upaya Kembali ke Sudut


Oleh: Ramlah Q.
*

Beragam warna dapat kita temukan, darinya beragam pula manfaat yang dapat kita ambil. Kondisi jiwa seseorang terkadang bisa dipengaruhi oleh keberadaan warna yang ada. Kejadian itu mesti berangkat dari kecenderungan atau asumsi masing-masing terhadap suatu warna.

Meski tidak semua orang memiliki kesamaan dalam memilih warna yang disukai, tapi setidaknya ada satu-dua warna yang dipilih untuk menjadi instrumen sebagai refleksi. Akan ada efek tertentu selama proses mediasi diri, bahkan akan cukup mampu membuka mata dan hati manusia tentang hidup kedepannya; problema dan penyelesaiannya.

Mendiami dunia cukup lama, membuat kita sadar bahwa tidak hanya ada satu warna dalam kehidupan ini. Semakin lama, pengetahuan tentang keberagaman warna diperoleh oleh mata kita. Kecenderungan-kecenderungan mulai tampak, kegiatan memilih warna ini dan itu kian kentara, dan pelabelan terhadap warna yang disukai dan warna yang dibenci bukan lagi satu hal yang perlu ditutupi. Semua itu membentuk sebuah realitas.

Tentu tidak salah, sebab kegiatan memilih memang kodrat manusia. Hanya saja yang merisaukan, ketika perbuatan itu memicu terhadap timbulnya karakter fanatik pada diri seseorang. Sebab, hakikat dari “memilih” adalah menyukai satu hal dengan tidak membenci lain hal.

Ketika kita sudah terlanjur memilih, maka konsep harmoni cepat-cepat kita terapkan. Menciptakan harmoni tentu membutuhkan keseimbangan antara dua hal bahkan lebih. Menjalani hidup mesti beriringan tidak cukup dengan satu hal saja. Semuanya memiliki timbal balik, membentuk satu kesatuan yang utuh dan ritmis.

Begitu halnya dengan pilihan pada warna. Kita ambil contoh warna hitam. Sekilas, warna hitam menyiratkan kesedihan, perpisahan, keangkuhan, dan seringkali dianggapnya kotor; bernoda. Lalu akan ada sikap sebaliknya apabila dihadapkan dengan warna putih. Meski secara umum, asumsi demikian diakui, tapi tidak sebagai kebenaran yang absolut.

Mari kita mencoba untuk memindahalihkan asumsi warna hitam dengan warna putih, begitu sebaliknya. Apa kira-kira yang akan terjadi? Adakah satu hal yang dapat kita ambil dari pertukaran asumsi ini? Saya rasa ada. Kembali kita melihat para pendosa, jelas kita akan memberikan label menggunakan simbol warna hitam. Namun, ketika kita lebih dalam melihat pada diri para pendosa itu, mungkin tidak, untuk memberikan label menggunakan warna putih. Ini hanya soal menukar sudut pandang.

Titik persoalan manusia sering kali berasal dari sudut pandang yang terjadi, yang acapkali berakhir dengan timbulnya kesalahpaman. Padahal, kesalahpahaman muncul sepaket dengan kesepemahaman. Kita hanya perlu beberapa waktu menuju kesepemahaman itu. Lagi-lagi kita dihadapkan dengan pilihan, tetap dalam kesalahpahaman atau mau berupaya untuk menemukan kesepemahaman.

Warna hitam tidak selamanya mewakili sifat, sikap, atau pelabelan buruk dari sesuatu, baik sesuatu itu manusia, binatang, mainan, dan semacamnya. Begitupun juga dengan warna putih. Ia tidak selamanya mewakili yang baik-baik saja. Bahkan dua warna itu mampu mewakili sekian warna yang dapat dilihat oleh mata. Dua warna itu pantas menyandang sebagai warna dasar dari semua warna. Keduanya menyiratkan simbol gelap dan terang; semacam timbal balik dari sedih menuju bahagia, dari angan menjadi kenyataan, dan dari hidup menuju kematian.

Lalu kombinasi cahaya dari dua warna itu, akan menggambarkan sosok warna yang persis (sering kali) kita temukan di sudut-sudut ruang; samar-samar, tapi tidak gelap tidak juga terang. Menenangkan.

Suasana di atas mendorong kita untuk melakukan meditasi untuk merefleksi diri. Tentu dalam menjalankan proses ini, membutuhkan keheningan. Keheningan yang tidak terbatas pada mulut yang berhenti berbicara, telinga berhenti mendengar, dan sebagainya. Melainkan juga mengaktifkan organ-organ rohani untuk mencapai titik maksimal.

Peleburan ini akan menemukan sinyal guna menyetir “aku” pada diri, yang kadang kala menjadi pusat persoalan hidup terjadi. Bahkan, sebisa mungkin menyadari bahwa “aku” pada diri mampu berkomunikasi dengan “Aku” di luar diri. Meski sebenarnya, antara “aku” pada diri dan “Aku” di luar diri itu, memiliki kedekatan yang luar biasa, yang bisa dicapai dengan pendekatan-pendekatan spiritual.

Refleksi diri akan membantu kita untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan pengaruh aura negatif yang ada dalam diri. Mensyukuri apa yang ada dan merelakan yang pergi. Kembali memasrahkan segala halnya pada pencipta. Sadar diri bahwa segala hal yang ada di dunia, yang dimiliki diri, hanya sebatas titipan belaka. Sebab manusia tidak akan jauh dari tiga siklus, yakni mencari, menjadi, dan kembali.

*****

*Santri PPA. Latee 1, anggota Café Latee 52, dan mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah Instika Guluk-Guluk Sumenep.

POSTING PILIHAN

Related

Utama 7105107090508539137

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item