Wabah dalam Perspektif Cerita


Nanda Andrea Saputri*


Bumi sedang tidak baik-baik saja ketika wabah mengepungnya. Hari ke hari berita lonjakan kematian selalu terdengar. Di rumah saja katanya, yang membuat seolah-olah kami adalah narapidana penghuni penjara yang tak bisa pergi kemana-mana. Semua menjadi serba terbatas, mengganggu segala aktivitas, ketika makhluk kecil nan kejam datang menyerang. Kesulitan, kesusahan, kesedihan, ketakutan, kecemasan dan kegelisahan menjadi santapan kami setiap harinya.

Begitulah gambaran yang saya peroleh dari kumpulan cerita pendek yang berjudul Wabah karya Rizqi Turama, dan 15 pengarang lainnya (Kibul.in Penerbit, 2021). Kumpulan cerita pendek yang memuat 16 cerpen tersebut ditulis dengan kesadaran bahwa wabah telah mengusik kehidupan manusia. Kumpulan cerpen yang memuat 16 cerpen tersebut menceritakan keadaan wabah dengan versi masing-masing pengarang. Artinya, dari cerita ke cerita tidak mengalir meskipun sama-sama bercerita gambaran kehidupan yang terjadi pada manusia di tengah wabah melanda.

Rizki Turama, dan 15 pengarang lainnya membawakan cerita nyata atau fakta yang terjadi dalam kehidupan masyarakat pada cerpennya, yang dimana wabah telah mengepung kehidupan manusia dari hari ke hari, bulan ke bulan hingga tahun ke tahun yang membuat jungkir balik sisi-sisi kehidupan pada manusia. Mereka yang biasanya melakukan rutinitas, kini menjadi tersingkir dari rutinitasnya. Mereka yang memiliki kemapanan, kini harus merelakan kemapanan tersebut. Mau tidak mau, mereka harus bertahan dari keterpaksaan di tengah wabah. Seperti kisah perjuangan Karno di tengah wabah dalam cerpen Perang Tanding karya Fitri Merawati.

Karno bekerja di sebuah rumah makan di kota. Tetapi sejak wabah melanda, rumah makan tersebut tutup, sehingga membuat Karno dan istrinya kembali ke desa. Bulan-bulan awal mereka hidup mengandalkan uang tabungan yang seharusnya disiapkan untuk biaya persalinan. Hal tersebut membuat Karno hanya bisa pasrah dan bertahan dari keterpaksaan di tengah wabah. Beruntungnya, Karno belum stress, frustasi, putus asa atau memilih mengakhiri hidupnya.

Ia terus memikirkan solusi jalan keluar dari masalah yang ia hadapi. Sebagai bentuk tanggung jawab Karno sebagai kepala keluarga, ia tidak bisa terus menerus meratapi nasibnya. Ia harus mencari penghasilan untuk biaya persalinan istrinya. Dan pada akhirnya ia mendapatkannya, ketika Karno pulang ke desanya.

Ia juga meminta Karno, menantunya untuk tidak bekerja ke kota seperti biasanya. Ia tahu, akan timbul masalah baru, tidak ada penghasilan, tapi apa yang harus diperbuat. Menantunya itu tidak bisa bekerja kasar seperti warga desa lainnya untuk bertani atau menambang pasir. Dan lagi, kini Siti tengah mengandung anak pertamanya. Sejak menikah setahun lalu, Karno dan Siti tinggal di kota. Karno bekerja di sebuah rumah makan. Semenjak wabah dan rumah makan tutup, keduanya memilih kembali ke desa (hlm.33-34).

Kehilangan pekerjaan di kota seperti kisah Karno, mengingatkan saya dari cerita-cerita orang yang sama-sama kehilangan pekerjaan di kota ketika wabah melanda, entah keluar dari pekerjaanya karena situasi pekerjaan yang tidak memungkinkan atau di-PHK karna pengusaha gulung tikar, ataupun sebagainya, yang mau tak mau harus kembali pulang ke kampung halaman.    

Selain kisah Karno, adapun kisah lain yang memiliki kisah memilukan. Seperti kisah Paino dalam cerpen Maling karya Inung Setyami. Cerpen tersebut bercerita tentang tokoh Paino yang menjadi seorang pengangguran semenjak pandemi. Biasanya ia membawa dagangannya di gerbang sekolah. Kondisi pandemi corona pada saat itu, membuat siswa harus belajar dari rumah, sehingga Paino harus terus berkeliling kampung membawa dagangannya. Namun, suasana kini sudah berbeda, dagangan yang biasanya ludes setiap harinya kini justru masih utuh.   

Kondisi pandemi seperti ini membuat pikiran Paino menjadi ruwet, ia harus memikirkan kebutuhan hidup keluarganya dan membayar tagihan kontarakannya. Ia ingin berjualan kembali, tapi kini ia sudah tidak punya modal. Tidak ada uang yang tersisa. Bantuan dari pemerintah yang ia harapkan, tak kunjung sampai padanya.
Kondisi pandemi membuat Paino pusing tujuh keliling. Ia harus memikirkan kebutuhan hidup, belum lagi biaya kebutuhan bayi mereka. Dan kini, ia mendengar keluhan istrinya soal tagihan rumah kontrakan yang harus segera dibayar. Uang darimana? Pikirnya (hlm.73).

Pada suatu hari, bayinya menangis meronta-ronta, lantaran asi dari payudara istrinya mengering. Badan bayi mereka menghangat, mata membelalak dan terus menjerit. Jeritan anaknya membuat dada Paino terasa berat. Pada malam itu Paino dan istrinya panik tak karuan. Mau tidak mau, Paino harus punya uang untuk menebus obat anaknya.

Pikiran Paino yang semakin ruwet, membuat ia terlintas berencana untuk maling. Seumur hidupnya ia tak pernah melakukannya. Tetapi keadaan yang semakin memburuk, membuat Paino harus terpaksa melakukannya. Meskipun ia sudah berniat, tetapi justru ia gagal melakukannya sebab ada suatu hal yang tak terduga yang menimpa dirinya.

Pada saat pikirannya begitu ruwet, terlintas rencana untuk maling. Sungguh ia tak pernah maling seumur hidupnya. Bahkan selama ini, mengambil buah mangga jatuh di jalanan saja ia tidak mau tanpa seizin pemiliknya. Entah iblis mana yang merasuki pikirannya sehingga terlintas untuk maling. Maka malam itu, tanpa sepengetahuan Sri, ia mulai beraksi. Ia sangkal kegalauan dalam dirinya. Niatnya satu, ingin maling! (hlm.74).

Dari kisah Paino tersebut juga realitas terjadi di kehidupan masyarakat di tengah wabah. Banyak dari mereka memutuskan untuk menjadi maling atau pencuri demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Mereka terpaksa melakukannya karena tak ada cara lain. Ekonomi dan finansial yang memburuk disertai kehilangan pekerjaan, membuatnya mau tak mau melakukan perilaku yang menyimpang.

Kisah Karno dan Paino ditulis pengarang yang mewakili jungkir balik sisi-sisi kehidupan manusia dan nilai-nilai kemanusian yang tidak semestinya. Pengarang membawakan cerita sesuai dengan realitas yang terjadi di kehidupan masyarakat di tengah wabah. Dan menghadirkan peristiwa-peristiwa permasalahan ketika wabah mengepung bumi.

Pengarang membuat tema yang menarik sesuai dengan kondisi saat ini yang masih kita alami. Diceritakan pula dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh pembaca. Cerita yang sederhana tetapi bermakna dan dibalut hikmah di dalamnya.

*****

Nanda Andrea Saputri, lahir di Purwokerto, 28 Oktober 2001. Mahasiswi program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Ia saat ini tinggal di Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas. Ia dapat dihubungi melalui ig: nndsaputrii_ dan surel: nandaandreasaputrii90@gmail.com


POSTING PILIHAN

Related

Utama 655346056225340895

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item