Sejumput Pentigraf Ken Agnibaya

 


Pentigrafis: Ken Agnibaya

 

Malam Malam Yang Tak Bercerita

"Akhirnya Tuhan memberikan yang terbaik untuk bapakmu, Nak... ," bisik Ibu sambil memelukku. Air mata kami bercucuran melepas kepergiannya. Bapak telah tergolek di tempat tidur sebulan lebih. Tak bisa apa-apa. Hidupnya disokong infus, sonde, dan selang oksigen. Bapak tersiksa, Ibu juga lelah. Aku paham itu.

Sepuluh hari setelah kepergian Bapak kami kedatangan tamu. Pria parlente bersahaja. Ibu mengajakku duduk di ruang tamu. "Nak, Ibu masih terlalu ringkih untuk sendiri. Butuh teman bicara. Beliau ini sangat mengerti Ibu. Kamu izinkan, kan?" geledek menyambar jiwaku, kubur Bapak pun masih merah. Kujawab dengan senyuman dan kukatakan tak apa.

Malamnya kuintip Ibu yang tampak tidur pulas. Pelan berjingkat kumasuki kamar Ibu dan kubenamkan bantal ke wajahnya. Ibu tersengal, matanya melotot meregang nyawa. Kutahan tangis. Mata itu seperti mata Bapak yang menatapku saat kulepas selang oksigennya saat itu. Malam ini biarlah kupilih nasibku sendiri karena sesal telah membunuh Bapak.

Yogyakarta, Juni 2022

Kado Ulang Tahun

Tawanya seperti dera, tangisnya seperti luka. Disusurinya jalan-jalan desa sambil mengoceh sekenanya. Rambutnya berurai kusut masai, pakaiannya cabik compang camping, giginya kuning kulitnya berdaki. Sejak Tatu mati, kewarasan bergegas pergi meninggalkan hidup Lingsih.

Sebelas tahun silam kematian Prana mengubah status Lingsih menjadi janda. Tubuh Prana remuk tertabrak truk saat usai membeli mori untuk membungkus ari-ari jabang bayi mereka, Tatu. Mori itu justru menjadi pembungkus tubuhnya. Dan oleh Lingsih, nama Tatu disematkan sebagai lambang bencinya pada si orok yang ia anggap telah merenggut kepergiannya.

Bertahun hidup dalam neraka, akhirnya Lingsih gila saat diulangtahunnya yang kesekian ia menemukan anaknya kaku menggantung di atap ruang tamu. Tulisan di secarik kertas menghantam perasaannya. "Selamat ulang tahun, Ma. Ini hadiah untuk Mama, kematianku, si penyebab hilangnya kebahagiaan Mama. Si penghilang nyawa Papa, yang membuatku menyandang nama Tatu, luka yang Mama rawat dalam benci dan cinta. Semoga Mama bahagia."

Yogyakarta, Juni 2021

 

Percakapan Lengang.

Untuk perempuan yang dipanggil 'Ibu'

Kami duduk saja berhadapan, tanpa bicara. Kusantap menu buka sore ini sementara Ibu melihatiku. Ini ramadhan ketiga beliau tak puasa. Stroke yang menyerangnya 9 tahun lalu membuat raganya tak sekuat dulu. Tiga tahun lalu Ibu berusaha puasa, namun justru harus opname berhari-hari. Sejak itu kuputuskan fidyah saja, toh sah hukumnya.

Sambil makan sesekali kubuka tiktok. Aplikasi yang sedang kugemari karena dapat menyajikan informasi lengkap dalam waktu singkat. Beritanya mengejutkan. Karena masalah ekonomi seorang nenek tua membunuh suami, anak, serta cucunya. Lalu kubaca komentar yang muncul di bawahnya, "ternyata ibu ku sangat kuat, pernah ada dlm masalah yg lebih buruk dari itu tapi masih berpikir jernih dan waras."

Aku tercekat. Kutaruh sendok dan piringku. Kuhampiri Ibu dan kucium pipinya. Lalu ku melangkah ke dapur, kutumpahkan tangisku sejadi-jadinya. Ibu masih diam di ruang tamu dan keheranan. Sementara air mataku menganak sungai melambang kenakalanku, ketidakpekaanku, kepongahanku, yang selama ini ditahan Ibu dalam senyumnya. Kugigit bibir sambil berbisik tiga kali; Ibu, Ibu... Ibu.

Trenggalek, Maret 2021

 

Tawa dan Musim Hujan

"Maafin aku ya, Dek...," bisik Tanto lirih sambil menarik selimut. Lestari memandang wajah suaminya lekat-lekat. Lelaki bertanggungjawab yang menikahinya dua tahun lalu dan sudah memberikannya seorang anak yang lucu.

Hujan turun. Tanto bangkit dan mengambil ember, menadahi tetesan air yang bocor di pojok kamar. Lalu ia duduk di samping ranjang sambil menundukkan kepala. Lestari bangun dan menghampiri. "Mas... sakit hati yang ia simpan menunjukkan bahwa ia tak pernah bahagia. Meski kita miskin harta, tapi kita saling melengkapi. Dan kebahagiaan itu ada di sini," ucap Lestari sambil menepuk dada suaminya.

Lelaki itu mengembus nafas lega. Ingatan tadi siang saat mereka berpapasan dengan mantan pacar sang istri, yang sukses menjadi pengusaha dan menghina kehidupan mereka, mulai pudar. Tak salah ia memilih Lestari, perempuan yang mencintainya apa adanya. Keheningan hilang saat putra kecilnya masuk dan memainkan air di ember pojok kamar. Tawa berderai, lebih keras dari suara hujan, guntur, bahkan suara apapun di dunia.

Yogyakarta. Desember 2021.

 

Warisan Ibu

Perlahan kami tinggalkan gundukan tanah merah tempat Ibu Lantih dilahatkan. Sesekali berbicara, sisanya lebih banyak diam. Lantih tak terlalu menangis, bahkan tampak sangat tegar. Kakak-kakaknya yang rerata bermata bengkak memandangnya sinis.

Rumah besar dan pekarangan akan jatuh ke tangan Lantih, si bungsu yang 'manggon keprabon'. Pantas saja ia tak sedih. Dunia bergunjing, bahkan sampai keluar kata-kata yang sampai di telinganya.

Lantih menghampiri saudaranya yang sedang berkumpul. "Kalian ke mana saat ibu masih ada? Bahkan tak kau sempatkan video call meski hanya sesekali dalam sehari. Dan sekarang kalian mengharu-biru saat dia sudah pergi? Menyedihkan...," Lantih menarik nafas panjang lalu melihat ke arah kita, "dan kalian para tetangga. Jangan mudah berprasangka, menggunjing orang tak membuat hidup bahagia. Sayangi dan rindui saat masih hidup, karena saat mati ia hanya butuh doa. Bukan tangisan dan gunjingan." Langit mulai mendung dan angin bertiup sepoi. Tiga bulan kemudian terpampang tulisan 'DIJUAL' di gerbang rumah Ibu.

Di atas bus, Trenggalek, Desember 2021

 

Kisah-Kisah Di Atas Roda-Roda

Bus melaju dan tempat duduk penuh. Ibu hamil itu berdiri hati-hati, pun juga yang lainnya. Akhirnya seorang lelaki muda menyilahkannya duduk. Dunia seperti lepas dari sesak nafas; lega sekali. Ternyata masih ada orang baik di bumi. Si Ibu bersandar memejamkan mata, pikirannya berkecamuk. Menghidupi suami yang lumpuh dan seorang balita bukan hal mudah baginya.

Di suatu perempatan ibu hamil turun. Sejurus setelah bus berlalu ia berlari ke belakang gapura. Dirogohnya perut buncitnya dan lahirlah beranekaragam barang; jajan dan minuman, odol dan sampo, minyak goreng dan susu, pun rerupa lainnya. Dibungkusnya dengan plastik hitam dari sakunya. Sang ibu melangkah pasti. Di matanya membayang wajah-wajah yang merindukannya pulang.

Sementara itu di beranda rumah ujung jalan, sang suami duduk di kursi roda memangku anaknya. Rahangnya gemeretak menahan amarah. Barusan ia mendapat telpon bahwa istrinya terekam cctv telah mencuri lagi; sudah ketiga kalinya. Martabatnya sebagai imam lagi-lagi dilanggar dan dihancurkan. Mulutnya mengatup, begitu istrinya datang kata talak siap diucap. Sesekali hati kecilnya bertanya apa mau Tuhan atas kecelakaan kerjanya saat sedang berjihad menafkahi keluarga.

***

Semua orang bisa berubah karena keadaan. Don't trust anyone fully.

(Yogyakarta - Desember 2021)

 *****

(dari akun Group FB: Kampung Pentigraf Indonesia)

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8492828227589743041

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item