Perjuangan Cita-cita dan Cinta dalam Novel Senyawa karya Sdavincii


 Arif Setiyono


Seumpama senyawa, cinta 2 insan yang padu akan sulit dipishkan, tetapi apa yang tidak mungkin di dunia ini ketika takdir mengucap lain, walau hati tak ingin. Mau seberapa keras pun berusaha melupakan jika memang dasarnya tak mampu melupa, lantas untuk apa? Biarkan saja cinta itu mati secara tidak sengaja.

Begitulah sekiranya kisah sdavincii yang diungkapkan melalui tulisan dalam bukunya dengan judul “Senyawa”. Novel romantisme yang mengangkat kisah anak pesantren yang berakhir tidak bahagia ini mengusung cerita  seorang penulis, yang diungkapkannya melalui cerita yang tidak membosankan dan terbilang detail. Dengan kata lain sdavincii menyandingkan candaan-candaan yang membuat pembaca terbawa suasana yang membuat jalan ceritanyapun tidak melulu hanya percintaan dan kesedihan.

Membaca novel Senyawa karya Sdavincii ini memberikan gambaran bagi saya pribadi yang belum pernah menjadi anak pesantren dan mengenal kehidupan seorang santri. Sdavincii menuntun pembaca mengenal kehidupan seorang santri melalui tokoh utama dengan nama Sultan. Sultan ini adalah seorang remaja pesantren yang sejak awal cerita sudah dikisahkan menyukai perempuan dengan nama kinan, sedangkan kinan adalah anak rumahan yang bersekolah di dekat pesantren. Sementara itu, ia juga menyadari bahwa kinan juga mempunyai perasaan yang sama kepadanya.

Awal mula perkenalan mereka dipersandingkan atau dibantu oleh teman dari Sultan yang bernama Murad. Singkatnya mereka menjalani kisah percintaan tanpa adanya ikatan, Sultan sering mencuri-curi waktu keluar dari pesantren untuk menemui kinan. Masa-masa ini adalah masa SMA akhir yang mana pada masa ini adalah sebuah momen untuk menentukan pilihan bagi mereka lebih memilih mana antara mengejar cinta dan cita-cita.

Setelah lulus SMA mereka masing-masing mulai sibuk dengan mencari dan mengejar sekolah lanjutan yang mereka inginkan. Tetapi kisah mereka masih tetap berjalan, dan bahkan sultan yang dari dulu sudah menyukai dunia menulis, sudah membicarakan kepada ayahnya bahwa mempunyai cita-cita menikah muda dengan perempuan yang disuka yaitu kinan dengan modal yaitu hidup dari kegiatannya menulis, tetapi ayahnya meragukannya. Sebagaimana yang Sdanincii tuliskan dalam novelnya

“Beberapa orang bilang, saat mereka membaca apa yang sultan tulis di majalah pesantren dulu, layak juga  diterbitkan seperti buku ini. Sultan harus menulis setiap hari, menjadikannya pekerjaan. Kelak saat sudah berhasil dan mencapai hasil, sultan bisa menikah bah, itulah yang sultan kejar”
“Abah belum pernah dengar orang bekerja menulis buku lantas bisa menikah dengan hasil dari tulisannya sendiri, Tan”(jawab abah dari Sultan)

Kisah cinta masa remaja dengan orang seumuran ini memang menjadi masalah yang mungkin banyak dijumpai, dimana seorang laki-laki cenderung mengejar karir terlebih dahulu, sedangkan si perempuan ingin segera menikah dikarenakan dikejar umur.

Kisah mereka masih saja berjalan, sultan sibuk dengan kuliah dan pekerjaanya berusaha untuk terus menulis dan menerbitkan buku demi buku, untuk segera bisa menikahi kinan. Sedangkan kinan terus menunggu sultan yang tak kunjung datang. Hingga akhirnya pada akhir cerita mereka merencanakan pertemuan yang Sultan kira pertemuan itu untuk menyatukan rindu, tetapi ternyata pertemuan itu adalah pertemuan terakhir atau sebuah perpisahan karena kinan telah menerima lamaran dan menunjukan cincin tunangannya dengan laki-laki lain walau sebenarnya dia masih mencintai sultan.

Kekuatan atau sorotan yang diberikan oleh Sdavincii kepada 2 tokoh yaitu Sultan dan Kinan menjadi kemenangan pengarang, membuat peristiwa dan konflik konflik utama yang ada di dalam novel bisa dirasakan dengan jelas oleh saya sebagai pembaca.

Pemilihan latar pesantren oleh Sdavincii pada genre novel Romance seperti ini juga menjadi kekuatan tersendiri bagi pengarang untuk memberikan ragam opsi dari konflik dan peristiwa yang disajikan. Seperti kita ketahuai secara umum bahwa di tempat yang kental akan agama yaitu pesantren, hubungan antara lelaki dan perempuan yang belum muhrim hukumnya adalah diharamkan(sangat ditentang)

Kemudian adanya kutipan-kutipan puitis sebagai ujung dari setiap konflik juga memberikan warna bagi pembaca, walaupun di beberapa bagian ada kutipan-kutipan yang bisa dibilang kurang memberikan kesan karena beberapa kutipan itu sudah familiar terdengar.

*****

Arif Setiyono, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Muhammadiyah Purwokerto.



POSTING PILIHAN

Related

Utama 5663146429319252232

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item