Perempuan yang Lebih Senyap dari Bisikan


Adisti Nur Aisyah *)


Sebuah karya sastra pada intinya memberikan kesan terhadap pembacanya. Kesan itu lah yang diberikan oleh pengarang lewat isi dari sebuah tulisan. Isi cerita merupakan tujuan akhir seorang pembaca mengetahui apa pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Alur cerita yang dibuat oleh pengarang ditampilkan sekompleks mungkin, namun pembaca tetap dapat memahami cerita dengan baik. Pemilihan tokoh yang baik menjadi peran dalam sebuah cerita yang seklaigus menghidupkan cerita. Terkadang beberapa pengarang sengaja membuat alur cerita yang rumit, agar terkesan lebih mendalami sebuah konflik.

Hal tersebut berbeda halnya ketika saya membaca sebuah novel karya Andina Dwifatma yang berjudul Lebih Senyap Dari Bisikan. Novel tersebut menceritakan kehidupan perempuan setelah menikah, walaupun saat-saat ini banyak yang menjadikan pernikahan sebagai ide cerita. Namun hanya mengulas kehidupan pernikahan dari sisi suami dan istri. Hal berbeda saya temukan dalam novel karya Andina Dwifatma yang mengisahkan kehidupan pernikahan dibersamai dengan problematika rumah tangga dan juga menggambarkan kehidupan sosial di tengah masyarakat. Pada novel karya Andina Dwifatma, pembaca dibawa dengan alur plot yang sederhana, namun pembaca dapat ikut merasakan betapa sulitnya menjalani kehidupan pernikahan yang dipenuhi dengan berbagai tuntutan.

Novel Andina Dwifatma mengingatkan saya salah satu penulis terkenal yaitu NH Dini, termasuk dalam novel karyanya yang sama-sama menceritakan kehidupan perempuan setelah menikah sekaligus kehidupan sosial dan permasalahan dalam rumah tangganya. Seperti kisah Sri dalam novel Pada Sebuah Kapal kisahnya sebagai seorang istri dan perempuan yang tidak bahagia dalam pernikahannya, perilaku kasar suaminya membuat pertengkaran hampir terjadi setiap hari, dan sampailah sebuah perselingkuhan yang dilakukan Sri itu terjadi.  

Andini Dwifatma mencoba mengangkat tema perempuan, namun tetap memperlihatkan kehidupan sosial di tengah masyarakat dalam suasana pernikahan. Pernikahan yang awlanya dimulai tanpa restu Ibu Amara karena Amara dan Baron menikah beda agama. Tokoh Amara dalam novel Lebih Senyap Dari Bisikan kisahnya sebagai seorang istri yang mandiri dan memiliki karir yang bagus. Namun cibiran sosial yang berasal dari tetangganya membuat pernikahannya dengan Baron, suaminya terusik karena pertanyaan rentan “ Kapan punya anak?”. Salah satu pertanyaan kramat pada sebuah pernikahan.

Amara lambat laun merasa bahwa tanggung jawab atas pertanyaan “ Kapan punya anak?” hanya ada pada dirinya. Amara merasa hanya dirinya yang patut disalahkan atas keterlambatan memiliki anak dalam kehidupan rumah tangganya. Amara tertekan secara mental atas pertanyaan tersebut. dirinya memiliki harapan dan keinginan yang sama seperti halnya pertanyaan yang selalu diucapkan tetangganya. Amara ingin memiliki anak bersama Baron, suaminya. Namun, waktu belum berpihak padanya pada saat itu.

Walaupun pada akhirnya Amara hamil, tekanan mental yang dialami Amara sebagai seorang istri tidak berhenti sampai saat itu saja. Kelahiran Yuki yang diidam-idamkan pasangan itu malah membuat tanggung jawab Amara bertambah. Memiliki anak merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya condong pada satu peran saja. Namun hal itu terjadi pada Amara, pengasuhan Yuki dilimpahkan semua pada Amara dengan dalih lelah pekerjaan.

Tulis Andina Dwifatma dalam novelnya Lebih Senyap Dari Bisikan:

“Mengapa Baron bisa tenang meninggalkan Yuki bersamaku? Apa karena aku seornag ibu dan dengan sendiriinya aku tahu apa yang harus aku lakukan dengan anakky? Seandainya situasi dibalik, aku ingih tahu apakah aku sanggup meninggalkan Yuki dengan Baron sementara aku berkelana dekadar membuat perasaanku lebih baik.” (halamn 120)

Dari tokoh Amara kita menjadi tahu seperti apa kehidupan perempuan sekaligus istri di sebuah pernikahan. Amara merasakan kelelahan yang amat sangat saat menjadi ibu bagi anaknya. Ia harus berjuang memompa asi ekslusif untuk persediaan karena harus bekerja. Sampai pada akhirnya Amara berhenti dari pekerjaannya. Tulis Andina Dwifatma dalam novelnya Lebih Senyap Dari Bisikan:

“Semua perusahaan yang kuincar sepertinya mencari karyawan dibawah 30 tahun, single, dan bisa bekerja dari pagi sampai pagi lagi” (halaman 180)

Amara dalam statusnya kini yang telah menikah, merasa terlalu sulit dengan statusnya dalam mencari pekerjaan. Dirinya merasa sangat terikat dalam sebuah pernikahan, setelah beban dalam mengurus rumah tangga hanya pada dirinya. Amara merasa setelah menikah eksistensinya terancam karena tidak memenuhi kriteria perusahaan yang diinginkan.
    
Namun hal menarik ditemukan dalam peran Amara sebagai istri. Amara menjadi salah satu wanita yang berserah, bukan menyerah. Sosok kuat Amara bersembunyi di balik tubuh seorang perempuan yang menyimpan berbagai keluh kesah yang di simpan begitu dalam. Tidak ada tempat untuk bercerita.

Tokoh Amara setidaknya menggambarkan bagaimana kehidupan perempuan setelah menikah. Andina Dwifatma yang membawa masalah kehidupan rumah tangga pada umumnya tergambar dengan jelas dan kompleks melalui tokoh Amara dan Baron.

Andina Dwifatma dalam menuliskan konflik tidak membuat pembaca diseret lebih jauh untuk cerita-cerita yang tidak penting. Pembawaannya dalam menghentikan suatu plot cerita, kemudian mengalihkan pembaca ke fase selanjutnya Ia ketahui dengan betul Ia harus melakukan itu. Selain itu penguasaaan materi Andina Dwifatma terhadap ceritanya sangat membantunya dalam menuliskan cerita seakan-akan mengalir, tanpa perlu bertele-tele. Pandangan Andina Dwifatma yang seorang perempuan memudahkannya dan mengetahui persis bagaimana sosok perempuan dalam sebuah pernikahan.

Hal yang menarik juga disampaikan dengan baik pemilihan seputar persoalan sosial yang hidup di tengah masyarakat dan sangat nyata pada kehidupan rumah tangga. Tema cerita yang mudah dan menggambarkan kehidupan nyata, sangat memudahkan pembaca dalam mengetahui isi dan dapat ikut serta merasakan pergolakan batin yang dialami tokoh Amara sebagai seorang istri dan ibu. Pergolakan batin Amara dapat dikatakan mewakili apa yang terjadi dalam fase hidup perempuan.

Dari novel ini kita harusnya mengakui bahwa dunia perempuan hanya perempuanlah yang paham dan dituliskan dengan apil oleh perempuan pula. Dari novel Lebih Senyap Dari Bisikan ini telah membawa sebuah permasalahan yang biasnaya dianggap sepele, namun berkat karya ini menjadi persoalan yang besar dan harus diperhatikan.
*****

*) Adisti Nur Aisyah, lahir di Purbalingga, 30 September 2001. Mahasiswa program sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Sebuah karya  berupa cerpen, yang berjudul Vas Bunga Milik Alona merupakan cerpen pertama yang Ia tulis. Ia saat ini tinggal di Bojong, Purbalingga. Ia dapat dihubungi melalui ig @aisyahnadis_ atau melalui surel adistiaisyah30@gmail.com. Ponsel 08981399682.











 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 2817769878135726585

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item