Penyimpangan Sosial dalam Dongeng Mancanegara Karya Heru Kurniawan & Umi Khomsiyatun


 Rifyal Viranti Wibowo*

Kehidupan dahulu hingga sekarang kita tak asing dengan buku yang bernama dongeng ini. Kita semua mengetahui cerita-cerita yang dibuat semenarik mungkin dan disertai gambar-gambar yang lucu untuk menarik perhatian pembacanya khusunya anak-anak. Jangan disangka buku dongeng yang sudah banyak tersebar diberbagai macam gramedia juga menarik perhatian bagi orang dewasa juga loh. Karena mereka mungkin ingin bernostalgia kembali mengenai cerita-cerita yang dahulu mereka sering dengar dengan didampingi gambar-gambar ilustrasi yang ada di dalamnya.

Manfaat dan tujuan membaca dongeng sedari kecil sangatlah banyak. Mengapa orang tua kita sering memberikan buku dongeng untuk dibaca? Karena untuk melatih kemampuan membaca anaknya sedini mungkin. Dengan begitu semakin dia bertumbuh besar, maka kemampuan membacanya akan semakin baik tidak lupa ada makna yang terkandung di dalam cerita yang dibaca. Dan tentunya memilih buku juga tidak sembarang buku, kita juga harus melihat mana buku yang khusus dibaca orang dewasa mana juga buku yang harus dibaca untuk anak yang masih di bawah umur.

Pada umumnya cerita dongeng isinya hanya itu-itu saja. Dan sering juga cerita yang dihasilkan ceritanya tidak masuk akal dan imajinasi yang dibuat terlalu tinggi. Ada juga cerita yang hanya untuk hiburan saja, ataupun masih ada unsur tradisional di dalamnya. Tidak lupa juga alur ceritanya yang ada di dalamnya sangat mudah ditebak bagaimana cerita akhirnya.

Walaupun begitu, kita sebagai pembaca atau penikmat karya orang lain harus tetap memberikan dukungan agar karya-karya yang dibuatnya terus berkembang dan menjadi lebih baik. Dan tentunya kita terus memberikan masukan atau kritikan yang bijak sebagai pembaca tentunya. Jangan langsung menjudge atau menjelek-jelekkan suatu karya sastra milik orang lain. Belum tentu kita bisa membuat hasil karya yang dibuat oleh orang lain.

Sekarang masuk kepada buku dongeng karya Heru Kurniawan dan Umi Khomsiyatun, sebenarnya cerita-cerita dongeng pada umumnya semuanya sama. Tetapi berbeda dengan dongeng yang dihasilkan oleh Heru Kurniawan dan Umi Khomsiyatun ini dengan didampingi ilustrasi bernama Bella Ansori yang membuat pembaca tertarik membaca dongeng tersebut. Dalam buku dongeng tersebut berisi 25 judul dongeng dengan ceritanya masing-masing. Dan yang membuat penulis tertarik apa yang akan dibahas yakni mengenai penyimpangan sosial yang ada di dalam buku dongeng karya Heru Kurniawan dan Umi Khomsiyatun.

Saat Heru Kurniawan dan Umi Khomsiyatun membuat cerita ini, ada beberapa judul yang terjadi penyimpangan sosial di dalamnya. Seperti dongeng yang berjudul Cinderela yang sudah tidak asing didengar oleh orang banyak. Tapi jangan disangka, dongeng tersebut termasuk dalam penyimpangan sosial apalagi di dalam lingkungan keluarga. Cinderela ini sering kali mendapatkan perlakuan tidak baik yang dilakukan oleh ibu tirinya dan suadara tirinya.

Sosok gadis cantik bernama Cinderela, merupakan sosok yang sangat baik hati dan tentunya apa yang dikatakan ibu tiri dan saudara tirinya untuk melakukan sesuatu seperti pekerjaan rumah yang sebenarnya bukan pekerjaannya. Tetapi apa boleh buat, jika dia tidak menuruti semua perintah yang sudah dikatakan oleh ibu tiri dan suadara tirinya dia akan dihukum dan diperlakukan kasar oleh mereka. Banyak orang disekitarnya ingin membantu Cinderela, tetapi jika ada yang menolongnya maka semua akan mendapatkan apa yang sering kali Cinderela dapatkan.

Tidak lupa juga dengan judul Putri Salju yang kisah serupa dengan Cinderela. Namun kisah Putri Salju memiliki kisah yang sangat kurang patut di contoh oleh orang tua manapun yang memiliki anak baik laki-laki ataupun perempuan. Kisah Putri Salju merupakan kisah seorang anak perempuan yang sangat cantik dan memiliki kepribadian baik sangat disukai oleh banyak orang. Akan tetapi, ibu tiri dari Putri Salju sendiri tidak mau kalah dengan anak tirinya ini. Karena banyak orang lain yang memujinya karena dirinya sangat cantik.

Hingga suatu saat, emosi ibu tirinya sudah berada di level paling atas. Dia tidak mau dirinya kalah cantik dengan sang anak. Pada suatu saat, ibu tiri Putri Salju berniat membuang anaknya dan meracuni makanannya agar niat jeleknya ini tercapai. Tidak hanya itu, Putri Saljupun ketika di rumah tidak diakui layaknya anak-anak pada umumnya. Ketika keesokan harinya, ibu tiri dari Putri Salju menjalannkan misinya yaitu memberikan racun yang ada di dalam makanan Putri Salju. Setelah Putri Salju memakannya dan tidak sadarkan diri, ibu tiri Putri Salju langsung bergegas membuang anak tirinya di dalam hutan yang berisi binatang buas.

Ketika Putri Salju sadar, dia menangis. Mengapa dirinya berada di dalam hutan, tak lama kemudian datang sekelompok orang berbadan kecil yang datang menghampirinya dan menolongnya. Ketika berita ini sampai ke rumah Putri Salju, ibu tirinya sangat marah. Bahwa anak tirinya ini tidak meninggal dan kembali menemukan keberadaannya untuk memberikan buah yang berisi racun. Setelah melalui masa-masa sulit yang dialami sekelompok orang yang menolongnya tadi, datang seorang laki-laki ke rumah tersebut yang pada akhirnya menyadarkan Putri Salju dari tidurnya yang panjang.

Dari dua kisah di atas yakni Cinderela dan Putri Salju penulis yakni Heru Kurniawan dan Umi Khomsiyatun sangat detail dalam menceritakan dua kisah tersebut. Dan tokoh yang dipilihna menjadi karakter utama dalam cerita tersebut. Cerita yang dibuat dengan alur maju yang sangat indah dan tidak terkesan membosankan, membuat pembaca semakin tertarik akan cerita yang dibuat oleh Heru Kurniawan dan Umi Khomsiyatun. Bentuk cerita dongeng yang dibuat oleh Heru Kurniawan dan Umi Khomsiyatun yang mungkin pada umumnya orang sudah tidak asing mendengar ceritanya, tetapi di balik cerita tersebut terdapat penyimpangan sosial yang terjadi di dalam lingkungan keluarga. Dengan cerita itulah, buku dongeng ini sangat mendukung untuk dibaca dan ditunggu karya-karya selanjutnya yang dibuat oleh Heru Kurniawan dan Umi Khomsiyatun, kemudian tidak lupa juga sang ilustrasi bernama Bella Ansori yang turut andil dalam pembuatan Dongeng Mancanegara Pilihan.

*****

Rifyal Viranti Wibowo, lahir di Purbalingga 10 Desember 2000. Mahasiswi program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMP. Saya tinggal di Kalimanah, Purbalingga. Dan dapat dihubungi melalui nomor 082146014457.

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5699219240925949787

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item