“Panggung Sandiwara” Asef Saeful Anwar


 Novita Trinanti*

Manusia, pribadi yang memiliki sejuta asa dan rasa di dalam kehidupan. Saling berdialog, monolog, melakukan beragam aktivitas hidup. Adakalanya senyum merekah bak mawar merah dan garis datar di raut wajah dengan bibir sedikit menyungging. Kehidupan manusia selalu berputar seperti roda, kadang di bawah atau di atas. Dengan seluk beluk dongeng kisahnya masing-masing. Dengan dinamika perasaan yang kadang tak mampu diutarakan. Demikianlah kedekatan antara manusia dengan kehidupan. Namun otak manusia yang manusia yang berkembang tidak memberhentikan problematika kehidupan selesai sebagai asam garam yang dinikmati sendiri. Terkadang di dalamnya tersimpan suatu hal yang inspiratif untuk dikuak sebagai fenomena di balik ceritanya.

Bagi seorang sastrawan, kisah dongeng kehidupan menjadi santapan lezat dan rugi bandar apabila dilewatkan. Sastrawan menjadi pribadi yang peka terhadap kisah dongeng manusia untuk dilambungkan menjadi sebuah karya yang banyak penikmatnya. Karena itu hampir dipastikan bahwa seorang sastrawan tak abai pada problematika kehidupan yang disajikan dalam karya. Kehidupan menyimpan rahasia dan misteri yang mampu menghipnotis mangsanya. Layaknya pelangi di langit, kehidupan setiap manusia memiliki warnanya tersendiri. Cerah dan gelapnya tak terarah. Kadang kehidupan manusia juga seperti bersandiwara, perannya berbeda-beda sesuai dengan jatah yang diskenariokan dalang-Nya.

Antologi cerpen Asef Saeful Anwar berjudul Pandemi, Sekoci,dan Beduk Masjid adalah salah satu contoh, bagaimana langit kehidupan manusia berdampak pada kemampuan sastrawan menjadikannya bentuk lain. Melalui dialog, imajinasi, dan kreativitasnya, lahirlah cerpen yang kemudian disatupadukan, terbitlah antologi cerpen. Mengapa langit kehidupan manusia, karena pada cerita pendek yang diangkat dari kehidupan nyata yang diimajinasikan dari aspek sosial. Mengejawantahkannya sebagai pewarta yang hendak menyampaikan pesan-pesan tersirat pada kisah gelap dan terang. Dengan demikian, pewarta yang bermakna akan memudahkan kita, pembaca, untuk menangkap pesannya.

Bentuk kepekaaan penulis untuk menangkap setiap peristiwa yang muncul di dalam kehidupan saya dapatkan dari penulis Asef Saeful Anwar melalui antologi cerpen berjudul Pandemi, Sekoci, dan Beduk Masjid (2020). Antologi cerpen ini memuat 18 cerpen dari pengarang yang berbeda-beda. Antologi cerpen ini memuat kisah yang berlatarbelakang kehidupan sosial pengarang dipanggungkan dalam cerita. Kisah yang dimuat dominan berasal dari pengalaman tiap personal atau berdasarkan apa yang pengarang baca kemudian ditungkan dalam media karya cerpen.

Membaca antologi cerpen Pandemi, Sekoci, dan Beduk Masjid yang disunting oleh Asef Saeful Anwar yang realis mengingatkan saya pada kisah-kisah nyata yang acapkali terjadi di lingkungan rumah. Kisah tentang seorang penulis yang melibatkan diri pada situasi sosial di sekitarnya. Kisah yang penulis berusaha panggungkan melalui ceritanya. Cerita-cerita tentang perebutan hak waris Abah Sina, Haji Kalimin yang diguna-guna, dan kisah Juminten yang diperjualbelikan Dulimam untuk mencukupi ekonomi. Kisah-kisah semacam itu kerap terjadi di lingkungan sekitar, hanya banyak orang yang menutup telinga, tak simpatik pada cerita mereka. Bahkan beberapa orang menutup mata atau menganggap maklum hal tersebut.

Asef Saeful Anwar, mencoba membaca konteks realitas sosial penulis dengan mengemasnya ke dalam antologi cerpen. Kisah hidup yang realis terjadi di sekitar mencoba ditampilkan oleh Asef di dalam antologi cerpennya. Cerita yang diangkat Asef di antologi cerpen Pandemi, Sekoci, dan Bedug Masjid ceritanya mengalir bak air, pembaca diajak menikmati kelok cerita dan mencampuradukkan perasaan di setiap ceritanya.

Seperti cerita miris sepeninggal Abah Sina dalam cerpen Rumah Terbelah karya Eka Arief Setyawan. Kakak beradik putra putri  Abah Sina mereka berseteru untuk memiliki rumah satu-satunya milik bapaknya, Abah Sina. Kedua anak Abah Sina telah mendapatkan bagiannya masing-masing namun mereka ingin meminta lebih. Pardi menerima jatah kebun tebu di depan rumah, sedangkan Jami menerima jatah kebun nanas di belakang rumah. Mereka bersikeras menolak wasiat yang Abah Sina ucapkan sebelum tiada. Hingga kamar mereka dipisahkan oleh pembatas cat merah tebal. Pardi bersikeras untuk menguasai rumah bapaknya, tanpa memedulikan wasiat yang diucapkan Abah Sina semasa hidup. Abah Sina hanya tak ingin penyesalan kembali terulang untuk kelima kalinya.

Hal menarik dari kisah Pardi yaitu sebab perseteruan dengan Jami karena perebutan warisan rumah dan putus kontak, Pardi pergi merantau ke Kalimantan. Bekerja dialah satu perusahaan kelapa sawit memperistri rekan kerjanya, Sari. Ia engga pulang ke desa karena sudah mapan di perantauan tanpa bantuan keluarga. Namun tanpa disangka, perusahaan menugaskannya untuk menjadi perantara pembelian tanah di desanya. Akhirnya ia pulangke desa bersama istri selepas mendengar kabar duka.

Di masyarakat pedesaan, kisah-kisah perebutan warisan seperti pada keluarga Abah Sina sering saya dengar dari tetangga di sekitar rumah. Mereka menuntut lebih atas wasiat yang telah diucapkan, berseteru dengan anggota keluarga, dan memutuskan pergi merantau. Tulis Eka Arief Setyawan dalam cerpen Rumah Terbelah:

Awal mulanya dipicu karena pembagian warisan sepeninggal Abah Sina yang wafat akibat penyakit strok menahun. Pardi yang mendapat jatah warisan berupa areal perkebunan tebu di depan rumah terus menuntut lebih kepada Jami, yakni penguasaan sepenuhnya terhadap rumah berbentuk joglo yang mereka huni. Sementara Jami yang diserahi warisan kebun nanas di belakang rumah, bersikeras menolak tuntutan sebab melawan wasiat yang diucapkan sang bapak sebelum tiada (hlm.35).

Dari tokoh Pardi beralih ke tokoh Haji Kalimin yang kisahnya tak kalah memprihatinkan dan getir. Cerpen Cawat karya Farah Ramadanti bercerita tentang tokoh Haji Kalimin, seorang pengusaha sukses yang luas tanahnya berhektar-hektar, rumah mewah, dan perabotan yang tak masuk akal. Haji Kalimin memiliki tiga istri. Istri pertama bernama Fatma, wanita konglomerat berdarah Melayu. Istri keduanya merupakan wanita yang ditidurinya di tempat biasa ia melepas penat, dan ia hamil. Istri ketiganya bernama Sarbiah, seorang kuli yang bekerja di pabrik Haji Kalimin. Sarbiah merupakan anak perempuan dari seorang dukun dan ahli ilmu gaib. Sepeninggal istri pertama, Fatma dan istri kedua yang menggugat cerai Haji Kalimin, hanya Sarbiah dan anak-anaknya yang masih bertahan untuk menguasai harta Haji Kalimin. Hingga ia menderita penyakit kelamin, Sarbiah masih bertahan demi harta warisan..

Masyarakat menyimpulkan bahwa lelaki kaya itu sudah buruk. Ia tidak memiliki rasa syukur atas istri pertamanya, Fatma. Ia hanya sibuk “jajan” di luar, hingga mengidap penyakit kelamin parahpun ia masih bermain wanita lagi dan lagi. Haji Kalimin pun tak menyadari bahwa selama ini ia diguna-guna oleh Sarbiah, istri ketiganya. Harta bendanya dihambur-hamburkan Sarbiah dan anaknya tak Haji Kalimin sadari kemana perginya. Dan ia dianggap sebagai pria yang berkhianat pada Tuhan karena mempermainkan pernikahan.

Sudah menjadi rahasia umum dan seluruh warga Desa Kaduwung juga tahu, Sarbiah adalah salah satu pekerja di pabrik Haji Kalimin. Wanita berbadan sekal itu sudah lama menjadi kuli di sana. Karena bapaknya yang seorang dukun dan ahli ilmu-ilmu gaib, tentu pernikahannya dengan Haji Kalimin yang sangat tiba-tiba menimbulkan tanda tanya besar dan kehebohan. Jangan-jangan ada campur tangan bapaknya Sarbiah. Ketika Muji, sopir keluarga Haji Kalimin menemukan sebuah cawat milik perempuan yang ditimbun di dekat pagar rumah, semuanya sudah tidak rancu lagi. Fatma sudah meninggal karena sakit. Istri kedua yang dihamili di luar nikah sudah menggugat cerai. Tinggal ada Sarbiah dan anak-anaknya yang menguasai harta Haji Kalimin (hlm.17-18).

Pardi dan Haji Kalimin setidaknya menggambarkan kekuatan kreativitas imajinasi pengarang dalam bercerita. Pemilihan tokoh di dalam cerita menjadi indikator penting dalam mengembangkan peristiwa dan konflik. Konflik yang muncul di dalam cerita lebih bersifat batin. Hal yang menarik ditelusuri yaitu pemilihan tema yang menganggkat realitas sosial yang pengarang baca ataupun alami secara personal, seperti terwakilkan dalam tokoh Pardi dan Haji Kalimin.

Penguasaan tema yang mumpuni membuat Asef Saeful Anwar leluasa mengarahkan suasana batin yang berkecambuk di dalam antologi cerpennya. Hal ini saling relevan dengan penganggkatan probematika hidup yang secara realis sosial acapkali terdengar bahkan terjadi, bukan hanya halusinasi. Meski kadang saya menjumpai cerpen yang dianggap monoton, setidaknya banyak kesuksesan diraih Asef Saeful Anwar. Cerpen sederhana namun berbobot.

Meski tak menyuarakan teknik bercerita, Asef Saeful Anwar seperti sedang berdongeng kepada lawan bicaranya mengenai suatu peristiwa yang terjadi. Mungkin itu, bentuk kemenangan lain dari Asef Saeful Anwar.

*****

*Novita Trinanti, adalah mahasiswi semester 6 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia dapat dihubungi melalui instagram:@novitatrinantii.

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 1343257965591021065

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item