Membangun Rasa Percaya Diri Melalui Novel “Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja” Karya Dancing Snail


Puja Prasetya Nugraha,  

Psikologi dan sastra merupakan dua sub disiplin ilmu pengetahuan yang berbeda satu sama lain. Tetapi kedua ilmu tersebut berhubungan atau memiliki keterkaitan satu sama lain. Jika dalam psikologi mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan kejiwaan, sastra mempelajari suatu karya seni dalam hal yang bersifat tulis menulis. Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa psikologi sastra merupakan suatu sub disiplin ilmu yang mendalami dan mengkaji suatu karya sastra dilihat dari sudut pandang kejiwaannya. psikologi sastra adalah suatu analisis dari teks yang lebih mempertimbangkan dari relevansi serta perana studi psikologisnya.

Psikologi sastra mempunyai peranan yang cukup penting untuk menganalisis suatu karya sastra melalui sudut pandang kejiwaannya, bisa dari segi pengarangnya, pembacanya maupun tokohnya (Ratna, 2004). Psikologi sastra merupakan sebuah interdisiplin antara ilmu psikologi dan ilmu sastra. Dalam mempelajari ilmu psikologi sastra sebenarnya sama halnya dengan kita mempelajari manusia dari sisi dalam. Daya tarik dari ilmu psikologi sastra terletak pada masalah manusia yang melukiskan potret jiwanya. Tidak hanya jiwanya sendiri yang muncul dalam sastra, tetapi bisa juga mewakili jiwa orang lain (Endraswara, dalam Minderop 2010:14) 

Dasar dari penelitian psikologi sastra antara lain dapat dipengaruhi oleh beberapa hal berikut. Pertama, adanya anggapan bahwa sebuah karya sastra merupakan hasil produk dari suatu pemikiran dan kejiwaan pengarang yang berada pada situasi setengah sadar  (subconcious) seteleh terasa jelas baru dituangkan ke dalam bentuk secara sadar (conscious). Diantara sadar dan tak sadar selalu memberi warna di dalam proses imajinasi pengarang. Kekuatan dari sebuah karya sastra dapat dilihat dari seberapa jauh pengarang dapat menggunakan ekspresi kejiwaan yang tak sadar itu ke dalam sebuah cipta sastra. Kedua, kajian psikologi sastra disamping meneliti perwatakan dari diri tokoh secara psikologi juga meneliti aspek-aspek perasaan dan pemikiran ketika menciptakan karya sastra tersebut (Endraswara, 2008:26). 

Latar Belakang Psikologi Sastra

Perkembangan pendekatan psikologi sastra di latar belakangi oleh meluasnya ajaran-ajaran Freud yang diterbitkan dalam The Interpretation of Dreaming dan Three Contributions to a Theory of Sex. Selain itu, pendekatan psikologi sastra yang lain juga muncul salah satunya oleh L.A. Richads yang menulis buku Principles of Literary. Di dalam buku tersebut dijelaskan mengenai hubungan kritik sastra dengan uraian-uraian yang terdapat pada psikologi sistematik. Menurut Richards, bahasa kritik sastra tersebut akan sangat mendukung pandangannya jika karya sastra merupakan objek yang bersifat estetik dan tidak mempunyai pengaruh. Hal ini dikarenakan sastra sendiri merupakan suatu pengalaman pribadi dari seorang pembacanya.

Karya sastra lahir dari pengekspresian terhadap pengalaman yang telah ada dalam jiwa pengarang secara mendalam melalui proses imajinasi. Permasalahan yang terkandung di dalam karya sastra bukan hanya menyangkut masalah sosial, akan tetapi juga mengangkut masalah kejiwaan pengarang. Secara tidak langsung pengarang dalam menciptakan karya sastra juga menyelipkan keadaan perasaannya. Gejala-gejala kejiwaan tersebut tidak secara langsung diceritakan oleh pengarang, tetapi diceritakan melalui perwatakan para tokohnya.

Novel sebagai salah satu jenis karya sastra yang dapat memberikan banyak manfaat bagi para pembacanya. Diantaranya dapat memberikan pengembangan imajinasi, kepuasan, memberikan pengalaman pengganti, mengembangkan tentang perilaku manusia, serta dapat menyuguhkan pengalaman yang bersifat universal. Pengalaman yang bersifat universal ini tentunya sangat berkaitan dengan kehidupan manusia. Jadi seorang pembaca novel dapat berimajinasi seperti sedang melihat miniatur dari sebuah kehidupan dan dapat pula merasakan kedekatan dengan permasalahan yang ada didalamnya. Oleh karena itu, pembaca dapat terbawa ke dalam alur dan permasalahan cerita di dalam novel tersebut. Bisa pula pikiran dan perasaan pembaca ikut dipermainkan oleh permasalahan yang ada dalam cerita novel tersebut.

Dengan demikian, maka dapat terbukti bahwa karya sastra (Novel) mampu berperan sebagai pemikat, sebagai gambaran dari kenyataan, serta sebagai pengalaman kehidupan. Oleh karena itu, jika karya sastra novel dijadikan sebagai pengalaman dari kehidupan tentunya karya sastra novel akan menjadi lebih hidup dan menjadi lebih menarik. Tidak hanya itu, karya sastra novel dengan segala permasalahannya yang universal itu mampu menarik untuk di kaji. Bahkan seseorang sastrawan yang mengkajinya ikut terbawa alur cerita dari novel tersebut dan mampu menjadi daya pikat bagi sastrawan yang mengkajinya. Apalagi jika karya sastra novel tersebut dikaitkan dengan pengalaman kehidupan. Karya sastra abad 21 dimodernisasi oleh ragam fenomena yang dapat memberikan daya tarik teknologi dan persoalan manusia (Sumartoyo, 2022). Salah satu novel yang memuat segala permasalahan kehidupan tersebut yaitu novel Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja (2020) karya Dancing Snail.

Dipilihnya karya sastra novel karya Dancing Snal ini bukan tanpa mempertimbangkan atau alasan yang jelas, kami memilih mengkritik karya sastra novel karya Dancing Snail ini dikarenakan karya sastra novel yang berjudul Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja karya Dancing Snail ini memiliki suatu keistimewaan dibandingkan dengan karya sastra novel karya Dancing Snail yang lainnya atau karya sastra novel yang ditulis oleh pengarang-pengarang novel yang lainnya. Keistimewaan dari karya sastra novel yang berjudul Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja karya Dancing Snail ini yaitu terletak pada teknik pencitraan pada novel karya Dancing Snail ini yang terlihat tidak biasa. Dikatankan tidak biasa dikarenakan pengarang Dancing Snail dalam menceritakan isi cerita pada karya sastra novel ini berhubungan dengan pengalaman dikehidupan sehari-hari.

Hal yang demikian juga tergambar di dalam karya sastra novel yang berjudul The Life We Bury karya Allen Eskens. Namun, kedua novel ini tetap berbeda. Karya sastra novel yang berjudul The Life We Bury karya Allen Eskens muncul dengan membawa kehidupan dikalangan remaja. Sedangkan karya sastra novel yang berjudul Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja karya Dancing Snail bercerita mengenai permasalahan yang terdapat di kehidupan sehari-hari.

Fenomena mengenai permasalahan kehidupan sosial tersebut tergambar jelas di dalam novel Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja (Dancing Snail, 2020). Kehadiran novel karya Dancing Snail yang terbit pada 2020 mampu memperlihatkan permasalahan-permasalahan di kehidupan sosial sesuai dengan keadaan pada masa sekarang. Melalui novel  Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja karya Dancing Snail seolah-olah kita mampu merasakan fenomena permasalahan kehidupan sosial yang terdapat di dalam novel tersebut seakan kita sedang menonton segala macam permasalahan kehidupan sosial sekarang seperti dalam menghadapi rasa malas, kurang percaya diri (pesimis) dan lain sebagainya. Novel Dancing Snail ini mampu memperkaya wawasan kita mengenai segala macam permasalahan dalam meghadapi kehidupan di masa sekarang terutama dalam masalah kejiwaan. Hal yang paling berkesan dalam novel Dancing Snail ini selain menceritakan segala permasalahan di kehidupan sosial, novel Dancing Snail ini juga berisikan motivasi-motivasi untuk memecahkan segala permasalahan yang ada di kehidupan sosial dan juga cara penyampaian Dancing Snail yang terkesan lugas, baik dalam bentuk tulisan maupun ilustrasi.

Novel Dancing Snail dalam hal ini termasuk ke dalam karya sastra yang memunculkan refleksi peristiwa di dalam kebebasan menulis cerita melalui karya sastra dengan mengacu pada fakta-fakta yang terjadi di kehidupan sosial masyarakat. Di dalam setiap bagian Dancing Snail menambahkan beberapa tips dengan title Kiat Mengatasi Hati agar Tak Hampa. Rangkaian kalimat yang mampu memberi semangat kepada para pembacanya yang disesuaikan dengan judul dan uraian yang menjadi topik atau tema dari setiap bagian tersebut. Selain menemukan sisi positif, Dancing Snail mengajak kita untuk jujur dalam menemukan sisi negatif. Sisi yang pada akhirnya mendorong kita untuk mampu dan mau untuk berusaha menjadi orang yang lebih baik. Kita bisa menilai orang lain, lalu kenapa kita tidak bisa melakukan hal yang demikian kepada diri kita sendiri?

Bandingkan dirimu yang Sekarang dengan dirimu di masa lampau

“Jika kamu berpikir kehidupanmu tidak berubah sama sekali meskipun sudah melakukan banyak usaha, cobalah bandingkan dirimu yang sekarang dengan dirimu di masa lalu. Tutup kedua matamu dan ingat kembali masa di mana kamu sangat merasa buruk. Lalu, anggap dirimu yang dulu adalah orang lain, mulai sekarang pikir bahwa dia adalah orang yang berbeda dengan kamu yang sekarang. Bandingkan dia dengan dirimu, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Cari apakah ada sisi yang lebih baik saat ini”  

Pada bagian ini Dancing Snail mencoba membandingkan diri kita sekarang dengan diri kita di masa lalu dengan cara menutup mata dan mengganggap diri kita di masa lalu adalah orang lain. Dengan demikian kita dapat mencari perbedaanya apakah diri kita sekarang lebih baik dari diri kita di masa lalu atau malah lebih buruk. Hal yang demikian itu tergambar sangat jelas penulis Dancing Snail menggunakan psikologi kejiwaan untuk membandingkan diri kita yang sekarang dan diri kita di masa lalu. Pada bagian ini banyak membahas tentang bagaimana menemukan diri sendiri. Siapa diri kita sebenarnya. Diikuti dengan beberapa kiat-kiat tentang disaat ingin bebas ngapain aja tapi kurang keberanian, hati yang terkadang dipenuhi oleh pikiran-pikiran negatif, dan saat kita merasakan bahwa tidak ada kemajuan diri. Beberapa quote yang sangat bermakna yang terdapat dalam karya sastra novel yang berjudul Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja karya Dancing Snail, adalah sebagai berikut:

“paham pesimis yang kita pilih dan yakini sebenarnya tidak semuanya merupakan kebenaran. Tidak juga hasil dari apa yang kita yakini. Paham pesimis sendiri tumbuh dari rasa ketakutan dalam hati yang lemah akibat luka dan penyesalan yang pernah dialami”.

“semakin kita terlalu sensitif dalam menghadapi situasi yang buruk, hal yang demikian hanya akan membuat diri kita memiliki pola pikir yang tidak sehat”.

“sebagian besar dari hidup ini hampir tidak ada yang sesuai dengan rencana. Mau bagaimanapun kita meramal dan mempersiapkan diri dalam menghadapi sikap dan juga respon dari orang lain, tetap saja ada hal-hal yang tidak sejalan dengan kehendak pribadi”.

Pada bagian ini Dancing Snail memberikan penjelasan bahwa rasa pesimis dalam diri tidak semuanya benar dan rasa pesimis bukan hasil dari apa yang kita yakini  dalam diri kita. Rasa pesimis itu muncul dari rasa takut akan kegagalan yang pernah di alami diri kita. Jika kita terlalu sibuk dalam menghadapi hal yang buruk justru membuat diri kita memiliki pola pikir yang tidak sehat. Kehidupan itu sulit untuk ditebak seringkali ada hal-hal yang tidak sejalan dengan kehendak kita.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam novel Bukannya Malas, Cuma lagi Mager Aja karya Dancing Snail tersebut berisikan banyak cerita mengenai permasalahan-permasalahan di kehidupan yang serimg dialami pada masa sekarang seperti rasa malas, rasa tidak percaya diri, cara mengenal diri sendiri, dll.

*****

Puja Prasetya Nugraha, lahir di Brebes 4 Januari 2001. Mahasiswa S1 program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMP. Ia saat ini tinggal di Desa Langkap DK.Waringin RT 02/03. Kec. Bumiayu. Kab. Brebes. Ia dapat dihubungi melalui wa: 0859-2573-3179,  email: puja08887@gmail.com atau ig:@ puja.prasetya.524_

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 1514459716128952127

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item