Melek Berliterasi melalui Puisi Secangkir Kopi Pegiat Literasi, Karya Muhammad Syarif Bando

Oleh: Azizah Irma Pada dasarnya sebuah karya sastra tidak lepas dari imajinatif penyair termasuk puisi. Dapat kita ketahui bahwasanya puisi ...


Oleh: Azizah Irma

Pada dasarnya sebuah karya sastra tidak lepas dari imajinatif penyair termasuk puisi. Dapat kita ketahui bahwasanya puisi itu pada hakikatnya adalah sebuah karya sastra hasil pemikiran atau imajinasi penyair menggunakan kata-kata indah, menggunakan diksi dan sebuah bentuk ekspresi seni yang mencerminkan sebuah cipta, kemudian rasa, karsa, serta sebuah kearifan sehingga menghasilkan sebuah karya sastra yang apik. Dalam menyajikan sebuah karya berbentuk puisi itu adalah hasil kejujuran penyair dengan Sang Maha Kuasa yang disajikan secara elegan, natural dengan tutur bahasa yang memiliki ciri khas yang terangkum dalam lembaran-lembaran yang tak lepas dari kejujuran. Dalam hal demikian, bahwasanya puisi itu lahir dari ketajaman nurani penyair. Bukan sekadar membariskan nada dan rasa.

Seiring perkembangan zaman, banyak penyair modern yang menghiasi panggung sastra di Indonesia yang tentunya memiliki ciri khas dalam penulisannya, ataupun dalam penyampaian maknanya. Seperti yang dapat kita ketahui, bahwasanya penyair terdahulu lebih menyajikan syair tentang sebuah perjuangan dengan menggunakan diksi yang memiliki makna mendalam. Selain itu, menggambarkan keadaan sosial, politik, dan budaya yang tak lepas dari kehidupan masyarakat. Dengan demikian, bahwasanya penyair itu menuangkan syair puisi sesuai dengan imajinasi ataupun dengan cara merasakan apa yang sedang terjadi, dan apa yang sedang dilihatnya. Sehingga pembaca hanyut dalam syairnya.

Hal yang berbeda penulis temukan melalui karya Muhammad Syarif Bando, dkk dalam buku antologi Puisi yang berjudul Secangkir Kopi Pegiat Literasi GPMB Press, 2021). Kumpulan puisi tersebut memuat berbagai syair yang menggambarkan rasa dari seseorang yang berpengaruh penting dalam kemajuan pendidikan di Indonesia, seseorang yang gemar membuat karya dan membaca atau dapat dikatakan sesuai judul buku yaitu pegiat literasi. Hal tersebut menjadi keunikan tersendiri bagi penulis ketika membaca berbagai puisi tersebut.

Muhammad Syarif Bando, dkk berusaha membaca realita sosial mengenai faktor penyebab budaya baca masyarakat Indonesia belum setara dengan negara-negara maju lainnya. Oleh karena itu, dalam antologi puisinya yang bertajuk pegiat literasi ini menggambarkan sosok yang memiliki cita-cita untuk membangun masyarakat yang berliterasi seperti puisi karya Yoseph Nai Helly yang berjudul Pustakawan dalam antologi puisi "Secangkir Kopi Pegiat Literasi" yang menggambarkan pustakawan.

Menurut penulis bahwasanya sosok pustakawan itu dapat diartikan sebagai seorang yang mempunyai kemampuan dalam bidang pendidikan yang bisa menyelenggarakan aktivitas di perpustakaan serta memberikan pelayanan untuk pemustaka di perpustakaan. Namun, dalam puisinya itu menggambarkan bahwa belum banyak orang yang mengetahui keberadaan pustakawan, dalam artian bahwasanya masih jarang orang yang mengetahui tugas dari seorang pustakawan itu sebenarnya sangat mulia dan sangat berjasa untuk masa depan generasi bangsa. Dapat dilihat dalam kutipan syair puisinya :

Aku
Siapakah aku
Aku pegiat literasi
Aku pustakawan
Banyak yang tak tahu tentang pustakawan
Salakah mereka, salahkah pustakawan?
Mungkin alam masih membisu
Mungkin juga penyandang kata iti masih terbius
Pustakawan itu bukan kutu buku
Pustakawan itu manusia pekerja keras
Dia membawa secercah cahaya terang
Dia peduli tentang masa depan generasi
Ia turun naik tangga setiap hari
tanpa keluh kesah, sebab, tugasnya sebagai pustakawan
Pikiran dan hatinya hanya untuk melayani
Penuh sabar, tampak raut wajah kusut

Tersungging senyuman bahagia
Kala pemustaka puas
Kala layanannya menembus batas ruang
Juga menembus batas waktu.
(hlm 115).

Dalam kutipan tersebut, dapat penulis katakan bahwasanya seorang pustakawan itu tidak semuanya kutu buku, melainkan hanya seseorang yang bekerja keras layaknya pekerja lain, berjuang setiap hari untuk melayani pemustaka. Selain itu seorang pustakawan selalu memprioritaskan pemustaka dan bertugas untuk memberi dan berbagi informasi serta memiliki cita-cita untuk membangun negeri yang memiliki masyarakat yang gemar membaca.

Hal yang sama juga penulis temukan dari penyair Wuriyanti melalui syairnya yang berjudul Namaku Buku dalam antologi puisi "Secangkir Kopi Pegiat Literasi". Dalam syairnya Wuriyanti memfokuskan pada objek benda mati tetapi digambarkan sebagai sosok yang berpengaruh dalam mewujudkan generasi yang memeliki kemampuan dalam literasi. Tak jauh berbeda dengan syair puisi Yoseph, Wuriyanti juga menggambarkan sosok yang berpengaruh dalam mewujudkan generasi yang gemar membaca dan manulis.

Dapat kita ketahui bahwa buku itu dapat diartikan sebagai benda mati yang berisi kumpulan lembar kertas yang memuat berbagai aksara dan tulisan. Puisinya menceritakan tentang sosok buku yang memiliki cita-cita untuk membangun negeri melalui tulisan-tulisannya yang mampu mengubah nasib seseorang menjadi lebih baik, menunjang karir, prestasi, dan mampu mengubah pola pikir dan mengubah peradaban dunia menjadi lebih baik.

Namaku Buku
Aku bukan hanya mampu mengubah nasibmu
Aku juga jendela dunia bagimu
Penunjang karir dan prestasi bagimu
Namaku Buku
Aksara dan tulisan memenuhi wajahku
Gambaran cerita panjang seseorang yang bermutu
Yang berdedikasi membangun negeri di segala penjuru
Namaku Buku
Aku bukan hanya bermanfaat bagimu
Aku juga mampu mengubah pola pikirmu
Bijaksana dan cerdas menyikapi lak liku hidupmu
(hlm 84).

Penguasaan tema yang bagus menjadikan Muhammad Syarif Bando, dkk dalam menuliskan syairnya menjadi karya yang indah untuk disajikan kepada pembaca. Penggunaan kata-kata, makna, diksi, dan objek juga menjadi faktor yang sangat mendukung. Selain itu penggambaran suasana dalam setiap puisi yang dihadirkan oleh Muhammad Syarif, dkk membuat pembaca hanyut membayangkan pengorbanan dan tugas dari sosok yang sangat penting dalam negeri untuk mewujudkan masyarakat yang gemar membaca dan menulis. Puisinya mampu menggelorakan semangat untuk gemar berkarya dan dapat meningkatkan minat baca untuk semua generasi di dalam negeri.

Selain itu, berbagai pengalaman dari penyair menghasilkan syair yang menarik untuk disuguhkan di era sekarang ini. Selain itu, dapat dilihat dari kebebasan penggunaan latar puisi juga menjadi poin tambahan dalam syairnya karena penyair diberi kebebasan untuk memperkaya imajinasi sehingga menghasilkan suasana yang sangat cocok untuk disuguhkan kepada pembaca.

*****

Azizah Irma, lahir di Kebumen, 19 September 2000. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Hasil karyanya diantaranya sejumlah puisi yang berjudul Tari Lawet dan Di Kota Kebumen dalam buku Antologi Puisi “Menengok Kampung Halaman” (Penerbit : SIP Publishing), Bingkai Rindu, Dialog Tentang Cahaya, Serpihan Luka, Sajadah Biru, dan Hampa. Ia saat ini tinggal di Mangunranan, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen. Ia dapat di hubungi melalui email: azizahirma19@gmail.com atau Ig: Azizahirma19

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 4619258859450694294

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item