Kisah Menarik Anak SD dalam Kumpulan Cerpen Siswa SD Muhammadiyah 4 Kota Malang


Yuliana Sukma Lestari

Pemaparan pada cerpen singkat yang pengarang sampaikan sangatlah sederhana, namun makna yang mendalam ada didalamnya. Pada cerpen berjudul “Ibuku adalah Pahlawanku” karya Abhivandya Shagufta memperlihatkan sebuah bahasa sederhana, mudah dipahami, serta dikemas dalam pembahasan yang luar biasa singkat. Isi ceritanya memang sangatlah biasa saja, namun pembaca mungkin dapat mengambil hikmah dari cerita tersebut.

Pengarang yang menggunakan bahasa kaum awam, memudahkan pembaca untuk tidak lagi memikirkan hal-hal rumit yang terlintas dipikiran. Ada hal unik yang dapat kita ketahui dari cerpen berjudul “Ibuku adalah Pahlawanku” karya Abhivandya Shagufta menceritakan sesuatu hal yang berdasarkan real life (kehidupan nyata).

Sebuah uangkapan rasa terima kasih yang tersirat kepada ibunya, rasa bangga yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata serta alur cerita yang runtut membawa pembaca merasakan apa yang sedang ia rasakan. Sekilas membaca karya Abhivandya Shagufta membuat bernostalgia pada zaman SD dahulu pembahasan yang selalu dipakai adalah topik ayah, ibu, atau alam karena dirasa lebih mudah merangkai katanya.

Luar biasa pengungkapan pengarang kepada seorang ibu, ia menceritakan penderitaan seorang ibu yang mengandung selama sembilan bulan, peran seorang ibu yang harus sigap terhadap situasi serta mampu menjadi berbagai profesi demi anaknya yaitu sopir, saudara perempuan, koki serta seorang guru.

Cerpen berjudul “Ibuku adalah Pahlawanku” karya Abhivandya Shagufta memperlihatkan fakta sosial yang sering dialami oleh seorang ibu yang begitu repot saat mengandung dan mengurus anak, namun harus tetap terlihat kuat dihadapan buah hatinya meskipun lelah melanda.

Ibuku adalah pahlawan bagiku. Saya lahir di dunia sebagai sesuatu yang besar dilakukan oleh ibu saya. Dia mengandung saya selama Sembilan bulan. Dia tidak bisa makan enak seperti biasanya karena saya, dia juga harus mengurangi aktivitasnya karena saya. Dia melahirkan saya dengan mempertaruhkan nyawa.

Ibuku adalah wanita yang kuat dan hebat buatku. Ketika beberapa masalah datang, dia selalu mengatakan kepada saya bahawa kami bisa melakukannya. Ibu saya selalu memiliki banyak cara untuk membuat saya lebih semangat untuk melakukan apa saja dalam hidup saya. Ibuku adalah yang terbaik untukku, aku sayang ibu. Ibu adalah seorang pahlawan bagiku. (hlm. 1-2)

Beralih menuju cerita yang kedua, pengarang lebih memberikan edukasi tentang hal yang penting untuk dilakukan. Bahasa yang digunakan memang tidak sulit untuk dipahami hanya saja pada pemaparan sedikit terlihat membaca sebuah berita.

Pada cerpen yang berjudul “Belajar dari Covid-19” karya Arista Putri Maharani membahas tentang sebuah virus yaitu Covid-19 yang merenggut kebahagiaan siswa disekolah, mereka harus belajar dirumah lumayan lama yang membuat mereka bosan. Tidak hanya itu, pada cerpen ini memaparkan hal-hal yang dilakukan selama pandemi seperti adanya PSBB dan KKM serta menjelaskan pengertian dan tujuannya. Tidak berhenti disitu, pengarang juga menampilkan bagaimana cara menghidari tertularnya Covid-19 melalui beberapa langkah.

Arista Putri Maharani berusaha mengangkat topik tersebut sesuai dengan realitas sosial masyarakat, dan pengalaman pribadi, hanya saja penyampaiannya sedikit membosankan, tidak ada hal yang membuat pembaca lebih antusias saat membaca karangan tersebut. Bahasa yang telalu monoton membuat pembaca kurang merasakan dan meresapi apa yang ada pada isi cerpen. Pengarang menyelipkan sedikit hikmah pada paragraf terakhir mungkin ini akan menjadi bagian terunik. Jika biasanya pengarang lebih suka memberikan hikmah secara tersurat, tapi beda dengan pengarang yang satu ini.

Jadi, selama pandemi ini kita jadi banyak belajar dan bersyukur banyak manfaat yang diperoleh dari kegiatan dan masa-masa sekarang ini. Sebagai contoh, selama karantina ini lingkungan menjadi lebih bersih karena jarang orang membuang sampah sembarangan lagi, udara menjadi sejuk dan segar karena berkurangnya polusi udara dari kendaraan. Selain itu, kita jadi mempunyai banyak waktu dengan keluarga. Kita juga jadi tahu pentingnya menjaga kesehatan dan menjaga kebersihan. Pada akhirnya, kita jadi tahu pentingnya kebersamaan, kekeluargaan, dan banyak lagi manfaat yang dapat kita petik dari cerita di atas. (hlm. 6)

 Pada cerpen berjudul “Belajar dari rumah” karya Khaizuran Adam D pengarang sedikit menggunakan pemaparan yang rumit. Bahasa yang digunakan sangat mudah dipahami bagi kaum awam. Jika dilihat dari cerpen-cerpen sebelumnya, pada cerpen ini menggunakan tokoh utama yaitu Rudi. Cerita didalamnya tidak klise dan asik jika dibaca, hikmah pada cerpen tersirat, sehingga pembaca menyimpulkan sendiri apa hikmah yang dapat diambil dari cerita tersebut.

Cerita pada cerpen tersebut membahas tentang seorang anak yang bernama Rudi. Ia susah belajar karena dalam pikirannya masih libur karena Covid-19. Namun, setelah menolak bujukan ibunya untuk belajar, ia bermimpi buruk yaitu seperti tidak naik kelas dan bermimpi buruk yang berkaitan dengan belajar. 

Memang pada pemaparan cerita biasa saja, mungkin karena alasan masih penulis tingkat SD. Hanya saja jika dilihat dari keruntutan bahasa sudah sangat luar biasa karena bahasanya benar-benar tersusun rapi. Menampilkan percakapan antara tokoh utama Rudi dan tokoh pendukung ibu serta kakak, ini menjadi bagian paling unik menurut saya karena pengalaman pengarang terhadap hal yang disajikan dalam bentuk percakapan sangat real life (kehidupan nyata).

“Memang, kakak sering juara lomba tapi sekarang kan sedang libur karena ada virus corona dan juga tidak ada PR dari sekolah lagipula kakak yang dapat PR dari sekolah jadi kakak saja yang harusnya belajar,” sahut Rudi.

“Terserah kamu Rudi,” ucap ibu Rudi dengan sedikit kesal.

Lalu pada keesokan harinya, “Rudi, ibu mau keluar sebentar mau beli barang,” kata ibu Rudi.

“Baiklah ibu hati-hati di jalan dan jangan lupa selalu pakai masker,” jawab Rudi, lalau ibu Rudi pergi meninggalkan rumah.

Pada siang harinya, sesampainya ibu di rumah, “Rudi, ibu bawa sesuatu lho buat Rudi,” kata ibu Rudi. “Apa itu, Bu?” tanya Rudi dengan penasaran, saat Rudi lihat. “Lho, mana hadiahnya” tanya Rudi.

“Ini hadiahnya,” kata ibu Rudi. “Lho inikan buku pelajaran,” kata Rudi dengan terheran-heran. “Iya hadiahnya memang buku pelajaran, agar kamu lebih semangat belajarnya,” kata ibu Rudi. “Bu akukan sudah bilang kalau hari ini sedang libur sebaiknya berikan kakak saja,” jawab Rudi dengan nada agak kesal. (hlm. 11)

*****

Yuliana Sukma Lestari, mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Lahir di Wonosobo, 03 Juli 2000. Agama Islam. Berdomisili di Desa Sribit, Wonolelo Rt 04/03. No. Rek. 1629-01-005240-50-1/BRI an. Yuliana Sukma Lestari. HP. 083861016088. E-mail: yulianasukmalestari@gmail.com

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8325198532065845721

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item