Kepenulisan, Elan Vital, dan Teknik Menjala


Mashuri Alhamdulillah


Elan vital! Istilah itu memang dapat berlaku dalam banyak bidang dan banyak hal. Namun, bagi seorang penulis, yang sering disebut dengan hormat di tanah air tercintah dengan sastrawan ---yang sering bermain dalam medan semantik khusus dengan kesejarahan berliku yang berbeda dengan 'profesi' lainnya-- elan vital adalah salah satu visi dan bukti pergulatan yang ditandai dengan peneloran karya dan gagasan. Artinya, seorang penulis tidak hanya berhenti melakoni kodratnya untuk menulis, karena disebut penulis adalah menulis, tetapi ia terus bereksperimen sepanjang hayat untuk menangkap 'ruh' yang namanya elan vital, yang kadang hakekatnya segaib perasaan cinta.

Eskeprimen yang dimaksud memang tidak hanya pada level kerajinan atau keterampilan yang kerap menjadi tolak ukur, sekaligus debat di kalangan penulis sendiri. Eksperimen yang dimaksud juga masuk wilayah lain, yang mendasari kerajinan tersebut. Yang dalam ilmu penulisan sering disederhanakan dengan kegelisahan. Uhui. Tanpa yang kedua ini, kerajinan seorang penulis hanyalah bermaqom tukang.

Lalu di mana elan vital berada? Yeah, dalam proses yang terus berlangsung tersebut penulis berusaha untuk menebar jala, atau memancing, dalam pengalaman hidup yang bermuara pada karya-karyanya, karena elan vital itu membaur dalam samudera kehidupan. Dalam posisi ini, penulis hanya pihak yang berusaha. Elan vital itu dapat menyatroninya atau menjauh dari dirinya. Sungguh, proses ini tidak hanya dibutuhkan kerja keras, tetapi juga kerja yang pada level tertentu dapat dikatakan menyelaraskan diri dengan ritme semesta sehingga kuasa menangkap dengan tepat elan vital ---yang kerap menyelinap di antara kerja keras, kerajinan, proses yang keras kepala, pengalaman hidup/batin, dan lain sebagainya.

Di antara penyair kita, Chairil Anwar adalah salah satu contoh. Meski 'hanya' protolan MULO, anak Medan itu mampu menangkap elan vital zamannya lewat karya-karyanya. Dia seperti punya visi menangkap gerak zaman di tengah arus peralihan zaman dan proses hadirnya sebuah kebaruan, sekaligus perlunya peralihan dalam estetika. Hebatnya, ada seorang kritikus yang selevel dengannya, yang bervisi makrifat, yang menjadikan elan vital karya-karya Chairil semakin 'terhubung' dengan publik.

Dalam sastra Jawa ada Ronggowarsito. Dia kuasa menangkap peralihan zaman lewat karya dan imajinasinya. Dia tetap memegang tradisi kapujanggan Jawa, tetapi tidak alergi dengan perubahan baru terkait dengan mesin cetak, berkolaborasi dengan intelektual asing, dan sebangsanya. Dalam prosa, ada Pramudya Ananta Toer. Meski tema yang digarap Pramudya juga digarap orang lain, tetapi karya-karya Pramudya seakan-akan tak tergoyahkan dalam menangkap semangat zaman.

Chairil Anwar hingga 100 tahun kewafatannya selalu saja aktual. Ronggowarsito selalu saja membikin decak kagum. Pram selalu saja menjadi perbincangan. Yeah, mungkin kunci yang mereka wariskan pada generasi penerusnya adalah tak pernah berhenti berkarya, tak pernah berhenti untuk bereksperimen, dan mengasah visi dengan bergelut dan bergelimang dengan kehidupan pada zamannya, kemudian melampauinya. Dengan demikian, elan vital itu terjala, dan menjadi penanda zamannya yang terus saja melahirkan generasi penulis baru, yang berhasrat untuk meniru, mengekor atau melampauinya, dengan mencecap elan vital baru di sebuah zaman yang kuyup dengan godaan yang juga baru.


Diangkat dari akun FB Mashuri Alhamdulillah


POSTING PILIHAN

Related

Utama 2172227455927567969

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item