Fenomena Perundungan Dalam Novel Antariksa Karya Tresia Kajian: Sosiologi Sastra

 


Lely Nur Tachi

Sastra adalah sebuah karya yang dituangkan dalam bentuk tulisan, yang berasal dari pemikiran sang penulis. Sedangkan dikutip dari jurnal milik (Sofia, Lestari, 2021), Wicaksono mengatakan bahwa karya sastra ialah sebuah karya yang diciptakan dengan tujuan agar karya yang diciptakan dapat dinikmati atau dipahami oleh masyarakat umum. Mengutip jurnal milik (Hasanah, 2022) menurut Santoso, Budi Darma membagi sastra menjadi dua genre, yaitu sastra dengan genre serius dan sastra dengan genre popular. Sedangkan, bentuk dari sastra itu sendiri ada dua macam yaitu fiksi dan non fiksi.

Contoh dari karya sastra fiksi yaitu prosa, puisi dan juga drama, sedangkan untuk non fiksi seperti biografi, autobiografi, esai dan juga kritik sastra. Kritik sastra merupakan sebuah tanggapan atau ulasan pada suatu karya sastra. Pengertian lain dari kritik sastra ialah suatu kegiatan yang bertujuan untuk untuk mencari dan menentukan nilai instrinsik dalam suatu karya sastra melalui pemahaman dan interpretasi kritis dalam bentuk tulisan (Herawati, 2021: 3). Maka, dalam melakukan kritik sastra setidaknya ada tiga hal yang perlu kita lakukan yaitu, menganalisis, menafsirkan dan juga melakukan evaluasi

Karya sastra berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat, karena penulis menggambarkan kehidupan tokoh sesuai dengan persoalan sosial yang ada dilingkungan sekitar (Ahmad, 2015). Atau bisa juga sebaliknya, dimana si penulis menggambakan kehidupan tokoh yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis. Karena dalam dunia nyata ia tidak bisa merasakan hal tersebut.

Oleh karena itu, ia menuangkannya ke dalam bentuk karya sastra. Karya sastra yang seperti itu biasanya disebut novel. Novel ialah karya sastra yang berbentuk prosa, dimana pengarang menceritakan sisi dari kehidupan tokoh yang mengalami konflik sehingga si tokoh mengalami perubahan nasib dalam hidupnya (Pangaribuan ,2019). Menurut KBBI novel merupakan karangan prosa panjang yang menceritakan kehidupan seseorang dengan orang-orang disekelilingnya dengan menonjolkan sifat dan watak dari masing–masing tokoh.

Perundungan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti perbuatan merundung seseorang yang menggunakan kekuatan untuk menyakiti atau mengintimidasi seseorang yang lebih lemah darinya. Biasanya pelaku memaksanakan kehendaknya agar kemauanya dapat terlaksana. Perundungan dalam bahasa inggris dikenal dengan bully. Orang yang menjadi korban bullying akan mengalami depresi dan kurang percaya diri. Fenomena bullying merupakan masalah sosial yang harus menjadi perhatian bagi seluruh kalangan, baik itu masyarakat, pemerintah, lembaga perlindungan anak bahkan juga mendapat perhatian dalam dunia sastra. Hal ini terbukti dengan banyaknya karya sastra yang mengusung tema mengenai masalah-masalah sosial termasuk fenomena perundungan atau bullying.

Salah satu karya sastra yang isinya terdapat kasus perundungan adalah novel Antariksa karya Tresia. Dalam novel Antariksa menceritakan tentang seorang anak laki-laki yang ganteng, tajir, dan merupakan ketua geng motor yang bernama (PEDAL) pasukan mandala yang paling disegani oleh pasukan lain diluar. Tokoh laki-laki tersebut bernama Antariksa Sanjaya. Antariksa ini dikenal sebagai sosok yang kejam dan tidak punya hati.

Seperti yang sudah diuraikan diatas, saya memilih novel Antariksa karya Tresia sebagai sumber penelitian ini dikarenakan, biasanya novel menyajikan cerita yang lebih terperinci dan juga memiliki permasalahan yang kompleks. Selain itu, kini novel tengah digemari lagi oleh masyarakat khususnya dikalangan remaja, karena sekarang banyak novel baru yang bermunculan dengan nuansa cerita yang lebih bervariasi. Salah satunya yaitu novel Antariksa, Antariksa merupakan novel karya Tresia.

Tresia atau yang biasa disebut Rere ini mengawali dunia kepenulisan melalui wattpad. Wattpad ialah sebuah aplikasi yang memungkin penggunanya untuk dapat membaca cerita ataupun juga membuat cerita. Pada akun tersebut Rere memiliki followers sebanyak 204 ribu orang dan tiga dari enam karyanya yaitu Raja Ratu, Angkasa dan Antariksa sudah diterbitkan menjadi novel. Tak heran jika karya-karya milik Rere digemari oleh remaja, selain cerita yang menarik Rere juga pandai dalam pemilihan diksi kata sehingga karyanya mudah dipahami. Tanpa ia sadari, ternyata Rere tidak memiliki background yang berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Rere merupakan mahasiswi lulusan Teknik Geodesi. Rere memulai menulis pada tahun 2019 dengan karya pertamanya yang berjudul Raja Ratu.

Novel Antariksa merupakan novel yang diterbitkan pada tahun 2020 oleh Coconut Books, Antariksa termasuk kedalam jajaran novel best seller dengan jumlah halaman sebanyak 382 lembar. Novel Antariksa mengisahkan tentang romansa kisah cinta remaja SMA yang dibalut dengan nuansa geng motor. Dimana Antariksa Sanjaya sebagai tokoh utama merupakan seorang siswa dengan paras tampan rupawan, kaya raya dan merupakan ketua dari geng motor PEDAL (Pasukan Mandala), dikisahkan PEDAL merupakan geng motor yang sangat ditakuti dan disegani oleh geng motor diluar sana. Antariksa Sanjaya digambarkan sebagai lelaki dingin, kejam sehingga tidak ada yang berani mengganggunya namun, sifat itu perlahan meluntur setelah ia bertemu dengan Vanilla Aletta .

Berdasarkan uraian diatas, novel Antariksa milik Tresia ini menarik untuk dikaji lebih mendalam lagi melalui kritik sastra. Karena dalam novel tersebut tidak hanya mengisahkan tentang romatisasi antara dua sejoli remaja SMA, namun juga dalam novel tersebut terdapat beberapa konflik sosial yang menarik untuk dikaji dalam teori sosiologi sastra. Dick Hartoko dan B. Rahmanto mengatakan dalam bukunya yang berjudul Pemandu di Dunia Sastra, bahwa ilmu sosiologi sastra merupakan ilmu yang mempelajari hubungan sastra dengan kenyataan sosial yang ada (Hasanah, 2022).

 Dalam melakukan kritik sastra, penulis menggunakan metode kualitatif yang bentuk analisis deskriptif dengan bentuk pendekatan sosiologis sastra. Objek yang diangkat oleh penulis dalam melakukan kritik sastra ini yaitu menganalisis bentuk konflik sosial yang di ada dalam novel Antariksa milik Tresia. Konflik sosial adalah konflik yang disebabkan oleh masalah-masalah yang mungkin terjadi karena hubungan antar manusia atau konflik sosial ialah pertentangan antara dua orang atau lebih dan salah satu pihak berusaha membuat pihak lain tidak berdaya . Adapun bentuk konflik social yang terdapat dalam novel Antariksa karya Tresia, ialah:

Penindasan atau Bullying yang dilakukan oleh Antariksa Sanjaya

Penindasan atau bullying adalah segala bentuk perundungan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh seseorang atau sekelompok orang yang dianggap lebih kuat atau berkuasa disbanding pihak lain (Kemenpppa.go.id). Mengutip jurnal milik Lestari, Wicaksana mengatakan bahwa penindasan merupakan salah satu bentuk konflik sosial. Berikut merupakan bukti jika tokoh Antariksa melakukan penindasan:

“Duduk”. Kata Antariksa sambil menendang sebuah kursi di hadapannya
Vanila duduk sambil memandang Antariksa kebingungan. “Ada apa ya Kaka?”
Antariksa melemparkan sebuah buku cetak kearah Vanila. Saat itu guru menang tidak ada. “Kerjain tugas Geng PEDAL.”
Vanila mendengus kesal.”Nggak bisa!”
“Melawan lo?”
“Nggak gitu, aku juga punya kesibukan Kak”
Antariksa menatap Vanila tajam.”Kerjain sekarang.”
“I..Iya Kak..”
Tanpa sedikitpun memandang Antariksa, Vanila segera mengerjakan tugasnya. (Antariksa, hlm: 50)

Dari penggalan kalimat diatas terlihat jika sosok Antariksa yang suka memaksakan kehendaknya kepada Vanila. Meskipun Vanila sudah menolaknya namun, Antariksa tidak memperdulikannya. Vanila yang tidak memiliki cukup nyali untuk melawan Antariksa Sanjaya, alhasil ia iya-iya saja dan menuruti semua perintahnya. Dan ya juga, siapa yang berani membantah Antariksa, guru-guru disekolahnya saja memilih cari aman jika berurusan dengannya. Hal tersebut tentu saja tidak lepas dari background keluarga Antariksa yang merupakan orang berpengaruh.

Perkelahian yang dilakukan oleh Antariksa Sanjaya

Sebagai seorang siswa sudah sepantasnya kita bersikap yang sesaui dengan norma yang ada. Kita harus dapat menjaga lisan dan juga perbuatan kita dari tindakan yang kurang pantas.. menurut Muhtadi (2012) sikap erat yang berhubungan dengan perilaku seseorang, mengutip dari penelian Darmiayti mengatakan bahwa tindakan seseorang selain dipengaruhi oleh keyakinan pribadi juga dapat dipengaruh oleh keyakinan kelompok. Artinya, seseorang akan melakukan tindakan tertentu jika tindakannya tersebut didukung oleh kelompoknya atau oleh beberapa orang. Adapaun beberapa bukti jika Antariksa memiliki sikap dan perilaku yang kurang beretika, ialah:

Antariksa menjatuhkan tubuh Mars. Ia memukuli wajah lawannya itu dengan beringas.
(Antariksa, hlm: 185)

“BANGSAT LO!” teriak Antariksa sambil memukuli wajah Hugo dengan beringas, Cowok itu lalu menyeret tubuh Hugo dengan kasar.
“MATI LO, HUGO! GUE UDAH BILANG SAMA LO UNTUK BERHENTI CARI MASALAH!” teriak Antariksa.
(Antariksa, hlm: 352)

Berdasarkan beberapa kutipan diatas, bentuk konflik sosial yang sesuai ialah pertikaian atau perkelahian. Perkelahian merupakan bentuk keberlanjutan dari konflik awal yaitu perdebatan (Taqwiem, 2019). Pada bukti data satu dan dua, ketika Antariksa berkelahi dengan tokoh Mars merupakan kelanjutan dari perdebatan yang sebelumnya terjadi. Pada buki data satu, perdebatan tersebut Mars yang tidak terima dengan sikap kasar Antariksa kepada Capella, sedangkan pada bukti data dua perkelahian tersebut bermula ketika Antariksa yang tidak terima Mars berdekatan dengan Vanila hal teresebut berujung pada cekcok singkat dan berlanjut aksi saling pukul. Sedangkan, pada bukti data ketiga perkelahian terjadi karena tokoh Hago memancing keributan terlebih dahulu kepada sosok Antariksa.

Berdasarkan kritik sastra yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan jika wujud konflik yang terjadi dalam novel Antariksa milik Tresia itu ada dua, yaitu penindasan dan juga perkelahian. Adapun untuk akhir dari kisah Antariksa ialah, Antariksa Sanjaya akhirnya jatuh hati kepada sosok Vanila Aletta gadis yang sebelumnya ia tindas, selain itu Antariksa juga telah berdamai dengan Mars Bagaskara dan Mars pun masuk kembali ke dalam Geng PEDAL. Sayangnya novel ini masih memiliki kekurangan dalam penyelesaian konfliknya. Seperti konflik antara Antariksa dan Hago yang terkesan menggantung dan kurang mendapat spot dalam cerita.

******
Lely Nur Tachi, lahir di Banyumas, 08 Juli 2001. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Berdomisili di Desa Mandirancan RT 02 / RW 03, Kec. Kebasen, Kab. Banyumas. HP: 08112820807. IG: lely_tachi. Surel: lelynurtachi08@gmail.com

POSTING PILIHAN

Related

Utama 3474271446245907307

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item