Feminisme dalam Novel Dua Barista Karya Najhaty Sharma

 Wening Fajriyah Utami


Pernikahan adalah salah satu tahapan yang akan dilalui oleh manusia. Di Indonesia sendiri pernikahan bahkan menjadi salah satu tujuan hidup. Jika seseorang tidak menikah hingga masa tua, maka orang-orang akan memandang remeh kepadanya. Pernikahan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Bersatunya dua kepala manusia yang saling berkomitmen untuk hidup bersama, saling mengasihi, dan saling mendamba hidup yang tentram dan bahagia.

Salah satu fenomena yang memiliki sangkut paut dengan pernikahan adalah poligami. Poligami bagi masyarakat terutama dalam masyarakat Indonesia menjadi sebuah fenomena yang penuh dengan pro dan kontra. Praktik-praktik poligami mulai digaungkan oleh banyak orang, bahkan beberapa tokoh agama mengakui bahwa dirinya mempaktikkan poligami.

Dengan semakin maraknya praktik-praktik poligami yang muncul dalam kalangan masyarakat, maka muncullah sebuah karya yang menjadi representasi mengenai nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Karya sastra sering dianggap sebagai potret tentang kehidupan masyarakat, baik di sekitar pengarang maupun kenyataan sosial. Karya sastra seolah menjadi  memori abadi atas kejadian yang pernah terjadi.

Najhaty Sharma mengemas isu tentang poligami dalam karyanya yang berjudul Dua Barista. Dilihat dari judul yang disajikan oleh Najhaty Sharma, sama sekali tidak menggambarkan tentang poligami, namun isi dalam karyanya sungguh memiliki banyak makna. Ia bisa menuliskan isi hatinya dengan begitu apik meskipun isu yang diangkatnya memiliki banyak pendapat pro dan kontra. Dalam karyanya sama sekali tidak ada pendapat yang memberatkan kubu pro maupun kontra.

Melalui Dua Barista, Najhaty Sharma mengajak kepada para pembacanya untuk menyelam lebih dalam mengenai keadaan bathin sebuah keluarga yang mempraktikkan poligami. Najhaty memperkenalkan Ning Mazarina, Gus Ahvash, dan Meysaroh sebagai tokohnya. Pembaca akan diajak untuk menyelami perasaan seorang Ning Maza yang baru saja menjalani operasi pengangkatan rahim. Dokter memberikan vonis bahwa Ning Maza tidak bisa memberikan keturunan kepada Gus Ahvash.

Setelah lama menjalani kehidupan pernikahan, keluarga Gus Ahvash terus mendesak kepada mereka berdua agar dapat segera memiliki keturunan guna meneruskan estafet kepemimpinan pesantren. Namun dengan keadaan Ning Maza yang tidak dapat memberikan keturunan, keluarga pun memberikan saran agar Gus Ahvash berpoligami. Disinilah pergolakan hati seorang Ning Maza dimulai. Hanya karena ia tidak bisa memberikan keturunan, ia harus merelakan suaminya untuk menikah kembali.

Perempuan manapun tidak akan rela apabila suaminya menikah kembali, namun apalah daya Ning Maza cukup tahu diri. Ia hanya seorang menantu di keluarga tersebut. Ia tidak bisa mengutarakan ketidaksetujuannya terhadap keputusan yang mertuanya ambil.

Hal di atas menggambarkan bagaimana feminisme yang terjadi dalam novel Dua Barista ini. Feminisme tidak hanya sekadar tentang kesetaraan gender, namun lebih kepada perjuangan seorang perempuan dalam mendapatkan hak-haknya. Hak untuk memiliki, hak untuk bekerja, hak untuk mendapatkan keadilan menurutnya.

Demi menjaga dan mempertahankan kelas sosial dalam keluarga pesantren, seorang Kiai sekaligus ayah dengan lantangnya memberikan keputusan yang sebenarnya adalah sebuah penindasan terhadap perempuan. Kedudukan yang dimilikinya membuat keadaan menjadi tidak seimbang. Sehingga perempuan yang dalam hal ini adalah Ning Maza menjadi terdesak akan kultur masyarakat yang sangat mengagungkan kelas sosial. Budaya patriarki yang masih erat di lingkungan masyarakat juga semakin menguatkan keputusan yang diberikan oleh Kiai atau orang tua Gus Ahvash. Masyarakat menganggap bahwa semua keputusan yang diberikannya adalah sebuah kebenaran yang harus dipatuhi oleh siapa saja.

Secara keseluruhan, Najhaty Sharma berhasil menyampaikan pesan dan nilai-nilai yang terkandung dalam ceritanya melalui suasana bathin Ning Maza yang mengalami ketidakadilan dalam hidupnya. Meskipun begitu, bukan berarti karyanya tidak memiliki kelemahan. Hal yang cukup mengganggu pembaca adalah adanya beberapa tulisan yang dirasa kurang sesuai dengan EBI-PUEBI yaitu tidak adanya tanda titik  (.) ataupun koma (,) dalam tag percakapan. Kisah mengenai Dua Barista ini berlatar di Jawa Tengah, sehingga sering dijumpai kalimat-kalimat berbahasa Jawa. Dengan begitu banyaknya penggunaan kalimat berbahasa Jawa, seharusnya penulis mencantumkan arti dari kalimat tersebut mengingat pembacanya tidak hanya berasal dari suku Jawa saja. Apalagi yang digunakan adalah Bahasa Jawa Krama Inggil. Tidak adanya terjemahan ini membuat pembaca menjadi kurang nyaman dalam mendalami novel ini.

*****

Wening Fajriyah Utami, Tempat tanggal lahir : Cilacap, 20 April 2021, Alamat : Jl. Manggis No. 24, Rt. 03/Rw. 03, Ciwuni, Kesugihan, Cilacap. Status : Mahasiswa, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Penddidikan, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. No. Rek. 311501032467535/BRI an. Wening Fajriyah Utami. HP. 087822418340. Instagram: @weningfajriyahutami. Surel: weningfajriyahutami73@gmail.com

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 7807160401493887375

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item