Sosok di Balik Jendela Kelas


Cerpen: Arif Maulana

Aku ingin sekali berhenti sekolah tidak betah dengan segala aturan apalagi dengan tingkat kedisiplinan di sekolah itu. Merasa sangat tertekan dan tidak bergairah lagi. Tiba-tiba ada sosok  yang mengubah hidupku. Semenjak itulah aku memiliki tujuan hidup entah tujuan itu benar atau salah aku tidak tahu. Namun, kala itu aku benar-benar merasakan masa-masa indah di sekolah.

Setelah lulus sekolah SMP aku sangat kebingungan mau melanjutkan sekolah SMA dimana, dalam benakku sudah lama tertanam ada dua pilihan antara SMA Negeri dan SMK negeri. Namun tidaklah mudah untuk bisa masuk di sekolah SMA Negeri. Sebab, sekolah itu adalah satu-satunya sekolah  terbaik serta menjadi sekolah idaman para siswa-siswi dan orang tuanya. Aku mencoba bertanya pada teman-teman yang selalu bersamaku sejak sekolah SMP. Mereka aku anggap sebagai sahabat. Ternyata mereka semua ingin mendaftar di sekolah SMA Negeri itu.

Berbaring diatas bantal usang dengan meniduri tangan kanan sambil menatap langit-langit kamar purba dengan jendela kesunyian yang bertirai lara sembari merenung.

 “Jujur aku tidak ingin terpisah dengan mereka dan aku harus bisa mendaftar di sekolah itu juga.” Hati kecilku bergumam.

“Mana mungkin, aku bisa diterima di sekolah itu?” pikirku ragu dan bertanya-tanya.

Aku sangat kelimpungan karena dari dulu otak dan hati tidak pernah sinkron yang aku rasakan hanyalah cemas, gelisah dan resah. Kata optimis dan pesimis selalu bertentangan saling bertengkar demi mempertahankan ideaslinya. Namun aku memcoba mengikuti kata hati  memberanikan diri untuk mendaftar di sekolah SMA Negeri itu.

Tibalah saatnya, hari dimana ujian tes akan dilaksanakan. Aku benar-benar grogi dan sedikit kaku ketika memasuki gerbang melihat begitu banyaknya siswa-siswi yang mendaftar. Penampilan mereka sangat berbeda seolah memiliki aura yang penuh percaya diri rata-rata ditangan mereka ada buku yang ia pegang, walaupun duduknya bersamaan ia amat serius tidak peduli dengan teman disampingya mereka sibuk memelototi buku yang ada ditangannya.

Supaya tidak kaku dan semakin grogi aku berusaha memaksakan kakiku untuk melangkah menyusuri ruang-ruang yang terdapat di sekolah itu. Tanpa disengaja mataku tertuju pada beberapa siswa yang ada didalam ruangan, kelihatan amat serius menatap buku yang berada di atas meja yang ia pegang sambil memainkan jari jemarinya untuk menyusuri halaman demi halaman buku itu.

Dari penampilannya yang membuat aku yakin bahwa mereka adalah orang-orang genius lantaran ia semua memakai kacamata. Saat itu pun aku langsung down dan tidak percaya diri melihat sosok dalam diri ini yang begitu santainya bermalas-malasan tidak pernah belajar, seolah tidak memiliki tujuan datang ke sini melainkan hanya terbawa oleh arus.

“Mendingan  kamu pulang tidur aja sana, jangan bikin malu dan membuang-buang waktu di sini.” Pikirku.

“Jangan sampai sia-siakan do’a dan restu ibumu!” hati berbisik.

Sejurus, aku terdiam dan merenung. pikiranku perlahan mulai melindap. “hatimu ada benarnya juga, kalau tidak mencoba maka kita tidak pernah tahu apa yang akan tejadi.”

Sebelum berangkat untuk mengikuti uji tes. Aku meminta restu kedua orang tuaku dan mencium tangannya.

“Do’akan anakmu, ya bu.!”

“Ibu selalu mendo’akanmu nak. Ini air diminum agar kamu lebih tenang nantinya.” Ibu mengulurkan segelas air putih.

Kalimat yang diucapkan dengan syahdu dari mulut ibuku perlahan mengubah pikiran. Kalimat inilah yang paling menggores hingga membekas dalam ingatan menjadikan  keyakinan yang searah dengan hati. “Ibu selalu mendo’akanmu nak!”

Masuk ruang ujian tes aku menunduk tidak menatap wajah para peserta itu. Akan tetapi, membayangkan wajah ibu dengan restu yang menjadi bekal untuk aku memberanikan diri ikut tes. Aku memilih duduk dibangku paling belakang lantaran tidak ingin dilihat atau menjadi perhatian orang lain. Dan aku punya kelemahan ketika berbicara dengan orang lain tidak bisa menatap langsung mata mereka sebab itu akan membuatku semakain gugup lebih tepatnya aku pemalu.

Apalagi saat berbicara dengan lawan jenis keringat dingin bercucuran hingga tubuh gemetar. Kertas ujiannya sudah dibagi oleh guru pengawas aku pun mengerjakannya dengan tenang penuh percaya diri. Banyak diantara mereka terlihat sudah selesai mengerjakan, aku tidak ingin kalah dengan mereka harus bisa menyelesaikannya segera mungkin. Tidak sampai waktu yang telah ditentukan mereka semua sudah selesai mengerjakan.

“Terima kasih. Dan untuk hasilnya nanti akan diumumkan paling lambat empat hari.” Pemberitahuan dari guru pengawas ujian.

“Baik, terima kasih pak!” sahut beberapa diantara mereka secara bersamaan.

Empat hari berlalu, tibalah saatnya pengumuman. Terlihat sudah ramai sekali di sekolah itu mereka tampak sibuk mencari nama-namanya yang tertempel diruang-ruang kelas X MIPA dan X IPS. Lantaran, aku mendaftar jurusan MIPA jadi aku harus mencari diruang MIPA itu sendiri.

Dari ruang ke ruang aku mencari namaku tetapi tak kunjung ketemu aku tidak putus asa dan mencari dari ruang awal lagi mungkin namaku terselip atau tidak terbaca. akan tetapi masih belum ketemu juga aku mulai putus asa dan beranjak pergi ke parkiran sepeda motor aku melihat teman-temanku di sana sedang ngobrol.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Khalil.

“Ya, pasti loloslah! Masa iya ketua tidak lolos. Hehehe.. iya kan bos?” sahut Akel seolah mengejek dengan bercanda.

“Kamu masuk MIPA, IPS?” giliran Hafiz bertanya.

Lantaran suasana hati yang masih buruk dibuntuti rasa kecewa aku diam dan tidak menjawab pertanyaan itu, disisi lain aku iri dengan mereka yang berhasil masuk  sekolah terbaik ini aku juga merasa sedikit sedih merasa telah dipisahkan darinya.

“Aku pulang duluan, capek mau tidur. Oke.!”

“Oke, hati-hati kawan!” teriak  Khalil sambil mengakat tangannya.

Disepanjang perjalanan pulang aku terus berfikir bagaimana cara memberi tahu kedua orang tuaku terutama kepada ibuku. Aku tidak ingin melihat wajah kecewanya.

“Mending jujur saja, itu akan lebih baik.” Hati kecil.

“Nanti kalau ditanya ibumu, bilang saja kalau kamu lagi capek mau tidur.” Pikiran.

Hati dan pikiranku terus bertentangan.

Dari kemarin ibu tidak bertanya soal hasil dari ujian tes itu. Aku sedikit heran apa mungkin ibu sudah tahu atau memang tidak peduli. Hati terus bertanya-tanya.

“Kapan kamu mau bayar daftar ulang?”

“Daftar ulang apa ya bu?” tanya balik keheranan.

“Tadi pihak sekolah nelpon ibu. Katanya kamu disuruh secepatnya bayar daftar ulang”

“Masa iya? Padahal namaku tidak ada didaftar kelas.” Semakin dibuat keheranan.

“Semalam dari pihak sekolah nelpon ke nomer ibu katanya hasil nilai tes kamu tidak memenuhi target yang telah ditentukan oleh sekolah. Namun pihak sekolah siap menerima kamu lantaran ada beberapa siswa yang mengundurkan diri.”

Aku sangat girang mendengar hal itu dan aku berharap semoga bisa satu kelas dengan teman-temanku. Namun, takdir berkata lain teman-temanku ternyata tidak satu kelas denganku aku pun sedikit kecewa.

Sudah dua bulan lebih berada di sekolah itu. Aku pun mulai malas tidak betah dengan peraturan yang amat ketat setakat dituntut untuk disiplin. Dan akhir-akhir ini aku sering telat masuk sekolah. Merasa sudah tidak bergairah lagi. Pikiran pun mulai layu. sempat berfikir ingin berhenti.

Disisi lain, kepikiran ibu yang selalu mendukung  aku untuk bisa sekolah seperti anak-anak lainnya. setiap hari senin aku sering telat ikut upacara, untuk hukuman dari yang sekian kalinya aku disuruh membersihkan toilet. Sekilas aroma semerbak melintas dihidung ternyata ada sosok laksmi masuk ketoilet laki-laki yang sudah aku  bersihkan. Jujur saat itu aku ingin sekali menegurnya lamun hati seolah membeku bibir pun terbungkam sulit untuk digerakkan.

Rasa penasaran meluap inginku cari tahu siapa dia. Lantaran aku pemalu aku tidak berani mendekatinya secara langsung. Aku diam-diam memperhatikannya ketika ia berjalan pandanganku terus membuntutinya. Ternyata ia kakak tingkatku aku sangat bersyukur karena ia tetanggaan dengan kelasku hanya saja dipisahkan oleh gang.

Hari-hariku mulai berwarna, seakan aku sudah menemukan tujuan dalam hidupku. Pagi buta aku sudah ada di sekolah duduk-duduk didepan kelas.

“Mimpi apa?” Ejek Toni.

“Wihh…! Tumben sekali.” Putri keheranan

Aku sengaja datang lebih pagi. Sebab, aku dibuat mati penasaran oleh sosok itu. saat masuk kelas ia pasti lewat didepan kelasku aku merasa amat beruntung sekali berada dikelas itu. Dari kejauhan auranya sudah terpancar tubuhku mulai gemetar. Ia, berjalan penuh anggun lewat di depanku seketika sekujur tubuh terasa kaku hanya aromanya yang dapat aku nikmati. Itu, sudah membuatku bersyukur setengah mati.

Sungguh, aku ingin sekali mendekatinya. tapi entahlah, aku tidak punya nyali aku hanya bisa mengaguminya di balik jendela. Rasa tidak percaya diri merasa tak pantas untuknya.

Malam pekat diselimuti awan gelap, hujan mulai turun membasahi bumi. Sejenak ku terdiam di depan teras berandai-andai bisa bersama sosok laksmi yang selalu membuatku kagum akan keanggunannya. Dalam do’aku, aku selalu menyilipkan namanya dan enggak tahu kenapa akhir-akhir ini aku selalu memimpikannya. “Mungkin, aku sudah gila.” Pikirku. Aku selalu memendam perasaan ini dan hanya bisa berharap ia tahu bahwa aku mengaguminya.

Suatu hari, aku melihat ia berduaan bersama seorang laki-laki di kantin.   Api cemburu membakar tak kuasa aku menahan sakit merasa hidupku sudah hancur. Aku izin sakit ke BK (bimbingan Konseling) untuk pulang duluan.

Semenjak peristiwa itu. Aku mencari tahu tentang dia kepada teman dekatnya dari namanya hingga media sosialnya aku tanyakan. Ia, memberi tahu segalanya tentangnya. “Nama dia Aelin orangnya agak pendiam.”  Sekilas terakhir dari temannya itu. Ia, pun langsung beranjak pergi tidak sempat aku bertanya soal lelaki itu. Aku diam-diam mencari tahu lebih dalam tentang ia di Instagram ironis akunnya di privasi aku pun mengikutinya tetapi ia tidak mengikuti balik.

Sudah beberapa hari aromanya tidak tercium. Aku sangat gelisah akan hal itu. Aku melihat teman dekatnya Aelin masuk ke dalam perpus sendirian.

“Hai Far..”

“Eh.. kamu ya, ada apa?”

“Aku mau ngobrol sama kamu.”

“Iya, boleh.”

“Soal Aelin Far! Kenapa belakangan ini aku tidak pernah melihatnya lagi?”

“Owalah.. tak kirain ada apa. Iya memang sekarang ini dia jarang keluar kelas sekarang.”

“Kok kamu kepo ya?” Ujar Farah penasaran.

“Iy Far, jujur aku sangat mengakhawatirkannya. Semenjak pertama kali aku melihatnya aku benar-benar mengaguminya. akan tetapi aku tidak pernah berani berbicara secara langsung kepadanya.”

“Eehhh….” Farah terkejut lalu tersenyum.

“Tapi aku minta tolong sama kamu, jangan kasih tahu Aelin ya..ya...” Memohon-mohon. Merasa malu sekali karena tadi secara tidak sadar aku menceritakannya.

“Oke, dehhh..!”

Aku sering melamun di dalam kelas sembari memandangi kaca jendela, teringat saat Aelin lewat depan kelas. Ia, berjalan dengan anggun dua bola mata indahnya bagaikan nebula menghablur di angkasa ingin ku rasanya selalu menatapnya sepanjang waktu. Aku benar-benar merindukannya, perasan sedih bercampur penyesalan semakin menjadi-jadi.

Semenjak itu, aku menjadi rapuh seperti kayu purba yang kelihatan kokoh berdiri sementara dalam tubuhnya digerogoti rayap. Selepas pulang sekolah aku terus kepikiran akan hal itu tanpa ganti seragam aku langsung berbaring di Kasur.

“Nak, ada teman kelasmu di depan.”

“Siapa bu?” kedaan terbaring dikasur

“Makanya keluar biar tahu nanti.”

Aku pun memaksakan tubuhku untuk bisa terbangun dari Kasur tak kuasa aku menahan letih sulit sekali untuk menggerakkan tubuhku. Tiba-tiba Farah langsung masuk kekamarku. Katanya disuruh masuk oleh ibu.

“Dasar pemalas!”

“Eh.. kamu Far.” Kaget dan tidak tahu kenapa tubuhku langsung bisa berdiri seolah ada sesuatu yang menarik untuk aku bangun dari Kasur itu. Jantung terus berdegub malu bercampur panik. “kenapa Farah bisa masuk kekamarku ya?” hati bertanya-tanya keheranan. Tanpa banyak bicara Farah langsung memberikan undangan kepadaku.

“Aku pulang dulu ya, dasar pemalas.”

“Iya, terima kasih.”

“Dasar perempuan tidak tahu sopan santun.” Bergumam.

Tidak peduli dengan undangan yang dibawa Farah. Aku menlanjutkan tidur siang. “siapa tahu mimpi Aelin” sambil senyum-senyum sendiri.

Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba Aelin menghubungiku.

“Kamu besok sibuk enggak?”

“Enggak kok!”

“Aku mau mengajak kamu jalan-jalan besok.”

“Boleh, kemana?”

“Kok jadi cowok enngak peka amat sih.”

“Iya maaf, bagaimana kalau kita kepantai aja besok?” suara kaku agak gugup serasa kelenjar keringat pecah seketika hingga keringat dingin bercucuran.

“Oke, boleh juga tu lagian aku sangat menyukai pantai.”

Keesokan harinya. Aku sudah siap-siap mau pergi kepantai bersama Aelin. Tok..tok.tok… terdengar suara pintu ada yang mengetuk. Aku mengira bahwa yang mengetuk pintu itu Aelin aku mengira ia datang kerumah.

“Bangun..Bangun..!” suara itu terdengar melengking di telinga.

“siapa sih berisik itu?” dalam hati dengan mata yang masih terpejam dan agak pekat ingin membuka mata. “Masa iya itu suara Aelin.”

“Bangun kalau enggak bangun, nanti ibu siram sudah malam ini!”

“kok aku ketiduran ya, padahal ada janjian sama Aelin.” Sangat kaget melihat hari sudah malam.

“Kok panik, lagi mimpi buruk ya?” ucap ibu.

“Ahhhh…..” Berteriak kesal sambil garuk-garuk kepala. “Ternyata hanya mimpi.”

“Ini undangan apa?” Tanya ibu.

“Ooh.. itu engak tahu bu. Belum aku baca dari temanku yang tadi siang.”

“Iya sudah, mandi dulu aja sana.”

Aku pun membaca undangan itu. Setelah melihat nama Aelin ditulis besar dengan tinta merah dibawah gambar love hatiku langsung pecah nafas terengah-engah tidak kuat aku menahan luka yang tak membekas tapi bersemayam dalam tubuhku dan ia tak mau pergi. Mencoba untuk kuat menahan air mata yang ingin jatuh. Air mata terus memberontak berusaha untuk keluar dari selaput mataku. Hari itu aku benar-benar merasa sangat setres merasa tujuan yang ingin dicapai selama ini hilang seketika.

Di hari pernikahan Aelin aku berusaha sebisa mungkin menghadiri acara itu meskipun sakitnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Lantaran aku mempunyai tujuan untuk mengungkapkan persaanku yang menjadi unek-unek selama beberapa tahun ini. Aku menulis puisi dalam bentuk surat yang dimasukkan ke dalam kado pribadi.

“Aroma kerinduan terhirup
di bawah hujan malam itu
rintikannya berirama
bersenandung rindu
bintang kecil tampak muram
memandang mega sedang berduka
menghapus asa diatas bumi
lentera tak lagi bersinar
cahayanya sirna terbawa
hujan malam itu”

Aku hanya berharap Aelin bisa membaca puisi yang aku berikan dibalik puisi itu aku mengungkapkan perasaanku pada Aelin. Setidaknya aku bisa mengungkapkan rasa itu walaupun mustahil aku miliki.

 Setelah pernikan itu. Aelin nge-DM aku di Instagram.

“Terima kasih, untuk kado yang kamu berikan kepadaku, aku sangat meyukainya. Kenapa kamu baru bilang sekarang kalau kamu itu sebenarnya suka sama aku. Kamu ingat enngak, waktu kamu di hukum membersihkan toilet aku hanya pura-pura masuk ke toilet itu dan aku baru sadar sekarang bahwa aku salah masuk toilet. Dan kamu masih ingat waktu dihukum oleh kesiswaan gara-gara terlambat ikut upacara aku selalu memperhatikanmu lewat jendela.”

“Maaf kamu sudah terlambat. Sekarang aku ingin membahagiakan sepupuku dengan menikahinya.”

“Dan terakhir, aku minta izin untuk menyimpan surat ini di balik foto pernikahanku.”

*****

Arif Maulana, lahir di Sumenep, 21 April 2000, adalah mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, berasal dari Pulau Kangean Sumenep.


POSTING PILIHAN

Related

Utama 4558440669322206256

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item