Seteguk Kopi Pahit Kinasih


Cerpen: Fadila An Naila


Kletek

Secangkir kopi yang  baru saja disuguhkan seseorang tergeletak di atas meja, mengalihkan perhatianku pada seorang wanita di sampingku. Aku tersenyum, mendapati wajah yang sangat kukenal. Segera ku raih gagang cangkir putih berbahan keramik itu, lalu ku teguk sampai tandas cairan hitam di dalamnya dalam sekali teguk, mencoba meyankinkan dirimu bahwa kopi buatanmu adalah cairan hitam paling nikmat yang bisa diterima lidahku. Tapi, seperti biasa, kau hanya menanggapi dengan senyuman tanpa hasrat. Kau merebut cangkir itu dari tanganku lalu kembali masuk ke dalam rumah.
__________
    
Aku menghela nafas saat tiba-tiba rasa panas seperti membakar dada dan kerongkongaku kembali menyerang. Sebenarnya ini sudah biasa terjadi setelah aku meminum kopi buatan Kinasih. Tapi tak apa, aku rela menahan sakit untuk sebuah senyuman dari bibirnya. Meski senyuman itu tidak ia bagikan dengan suka rela.

Kinasih,  gadis pemilik dua lesung pipi, rambut hitam pekat sebahu dan kulit kuning langsat yang bersinar indah. Yang paling ku suka darinya adalah bibir ranum berwarna merah muda tanpa lipstik. Dia yang paling cantik di mataku setelah ibu. Aku jatuh cinta padanya. Pada gadis yang selalu menghidangkan kopi untukku di setiap pertunjukan fajar dan senja. Kinasih, dia kekasihku. Setiap waktu aku tak henti bersyukur karena memilikinya. Setiap detik selalu merasa beruntung karena menjadi kekasihnya.
__________

Hari ini hujan, sangat lebat sehingga menunda waktuku bertemu Kinasih. Waktu senja sudah terlewat, namun hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan reda. Ku tatap langit yang semakin menggelap, tatapanku meredup.

Kenapa langit?

Kau ingin melarangku menemuinya? Hingga kau kirim hujan yang enggan mereda.

Kenapa? Karena dia selalu menyiksaku dengan cairan hitam itu?

Aku sungguh tak apa, aku senang merayakan sakit demi senyuman tanpa kerelaan itu.

Aku suka menanggung sesak demi dua sumur yang tampak walau sekilas.

Sore ini, ada yang mengganggu hatiku. Menjadikannya gelisah. Rasa ingin marah, rasa ingin protes berkelebat di kepalaku. Ada apa ini? Tidak mungkin aku kecewa padanya hanya karena ia selalu melupakan riwayat penyakitku.

Pagi tadi, usai menenggak segelas kopi buatannya dadaku langsung terasa panas. Rasanya lebih panas dari sebelum-sebelumnya. Aku segera melarikan diri ke klinik terdekat tanpa pamit terlebih dulu padanya. Saat proses pemeriksaan dokter tak henti mengomeliku tentang bahayanya kafein yang terkandung dalam kopi untuk penderita asam lambung seperti diriku. Dokter juga mengingatkan agar berhenti mengkonsumsi kopi sebab tingkat keparahan asam lambungku semakin tinggi. Besar kemungkinan akan berpengaruh pada liver, katanya.

Hujan reda menjelang isya’. Ku raih jaket tebal yang ku punya dalam lemari untuk membalut tubuh menggigilku. Aku berjalan menerobos gerimis yang kerap membasahi permukaan wajah. Sesampainya di rumah Kinasih, dadaku terbakar, kali ini bukan karena kafein. Tapi, karena dua pasang manusia yang tengah berpelukan di depan pintu rumah Kinasih. Ku hampiri dua manusia yang saling berbagi hangat itu.

“Kinasih” gadis yang menangis dalam pelukan mantan kekasihnya itu terkejut mendapatiku telah berdiri di sampingnya.

“Damar” cicitnya.

Menyadari suasana yang berubah tegang, laki-laki yang tadi memeluknya pun pamit padanya. Dan kini, tinggallah kami berdua.

 Aku menatapnya datar. Banyak suara-suara dalam kepalaku yang berontak ingin dilepaskan.

“Apa ini Kinasih? Sebenarnya hubungan seperti apa yang kita jalani selama ini?”

Kulihat wajahnya yang seperti jengah dengan pertanyaanku.

“Sebenarnya kau tidak perlu bersikap seperti ini. kau hanya harus mengajukan permintaan berpisah kepadaku. Tidak perlu membohongi perasaanmu dengan berpura-pura menerimaku.

Karena.. selain menyakitimu, ini juga menyakitiku”

“Kau Hany..

“Yah kau benar, ini menyiksaku” bantanya marah.

Kutatap wajah cantiknya yang memerah.
Mengapa dia marah? Bukankah seharusnya aku yang bersikap begitu?

I“iya lantas mengapa kau tidak segera memutuskan hubungan ini? aku mengahargaimu dengan menyerahkan keputusan itu padamu”

Ia diam, dadanya naik turun. Seperti sedang menahan emosi.

“Atau, kau sedang menunggu stok kopi di dapurmu habis olehku? Oke, kalau begitu hidangkan semuanya malam ini, agar hubungan tanpa kejujuran ini tidak berlangsung lama”

Dan dia benar-benar menghidangkan ku 6 gelas kopi sekaligus. Gelas yang ukuran dan ruangnya lebih besar dari cangkir. Hatiku sakit sekali saat dia benar-benar menghidangkan seluruh stok kopi di dapurnya untukku. Jadi dia benar-benar tidak nyaman dengan hubungan ini?

Ku teguk 6 gelas kopi itu. Tak peduli rasa mual dan panas kembali menyerang, ku teguk semuanya hingga tandas. Mataku memerah menahan sakitnya hati dan fisik secara bersamaan.

Ku lihat tangannya yang hendak menyentuh bahuku namun segera ku tepis.

“Kita usai Kinasih!” ucapku penuh penekanan, kemudian melangkah pergi.

Dari kejauhan samar-samar ku dengar ia memanggil namaku dengan nada khawatir, bahkan ketika ku tepis tangannya tadi tak sengaja ku dapati air mata yang mengalir di pipinya dan itu menggangguku.

Ku langkahkan kakiku tanpa tujuan. Rasa panas dan mual sangat-sangat menyiksaku. Tapi yang lebih menyiksa ialah perih di hati.

Selama ini ternyata hanya aku yang merasa beruntung memiliki mu.

Ternyata hanya aku yang bersyukur atas hubungan yang kita bangun.

Hingga dari semua upayamu menyakitiku, aku selalu berpikir positif akan hal itu.

Bahkan setiap kali kau menghidangkan kopi, tak dapat ku pungkiri rasa kecewa kembali menguasai diri. Namun, agar kecewa itu tidak dirasakan olehmu, aku rela menghabiskan cairan penuh kafein itu, meski setelahnya harus tersiksa lagi dan lagi. Aku selalu menyangkal pikiran-pikiran buruk tentangmu dengan berpikir “barangkali kau sedang lupa”.

Tapi, hari ini aku tahu, kau tidak lupa dengan riwayat penyakitku. Kau tahu betul kelemahanku. Kau sengaja melakukan semua itu untuk melarikan diri dari hubungan ini.

Jadi biarlah aku yang mundur, karena aku yang datang maka aku juga yang harus undur diri bukan?

Tut tuttttt


Suara klakson truk membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arah sumber suara bersamaan dengan tubuhku yang terlempar jauh lalu terhepas keras di tengah jalan raya. Aku merasa kepalaku hancur, seluruh tulangku seolah patah.

“Aaah Kinasihh”

Aku pun tidak ingat apapun lagi.
___________


Bukan kopimu yang terasa pahit, tapi sikapmu.

Kinasih, aku tak mengerti, dari sekian banyak perempuan mempesona mengapa hanya dirimu yang hatiku terima.

Benar, bahwa mencintai tidak mengenal alasan apapun.

Aku mencintaimu kendati sikapmu yang selalu mencoba menyiksa.

Aku mencintaimu kendati sikapmu yang kerap menaburkan rasa kecewa.

Tapi Kinasih, segala kepahitan itu pada akhirnya membuatku candu, karena dirimu yang menghidakannya!
                                    
                                    ___Damar



Aku menangis sesenggukan di hadapan gundukan tanah basah yang kini menjadi rumah terakhirmu. Setelah aku tidak menerimamu pulang, rupanya kau lebih memilih rumah keabadian sebagai gantinya. Untuk apa Damar? Agar kemudian aku kebingungan mencari sosokmu?

Gerimis berhasil membasahi kertas yang ku temukan di atas nakas samping tempat tidurmu, namun airnya tidak dapat melunturkan tulisannya, bahkan setelah aku membacanya. Setiap kalimatnya abadi dalam ingatanku.

Dari semua kegagalan hubungan yang ku alami, yang paling ku sesali adalah ketika hubungan kita berakhir Damar.

Maaf untuk keegoisanku. Maaf untuk semua upayaku yang selalu mencoba melarikan diri dari hubungan kita. Aku buta. Aku menyesal.

“Di mana Damar? “

“Di mana lagi aku bisa menemukan dirimu?

                                    Sumenep, 23 feb 2022.




POSTING PILIHAN

Related

Utama 4995922779027533000

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item