Pergantian Musim


Cerpen: Kholil Ar-rohman

Waktu itu, Rohman sedang duduk santai di depan rumahnya. Mengamati lingkungan sekitar yang sudah banyak berubah. Cerita ibunya semalam membuatnya betah berlama-lama. Ditemani secangkir kopi dan dua batang rokok, di hari libur tanpa kesibukan apapun, sepertinya melamun adalah kegiatan yang cukup menyenangkan.

***

Malam itu Rohman duduk di depan toko bersama ibunya. Karena bosan menunggu pembeli yang tak kunjung tiba, sang ibu akhirnya bercerita tentang kehidupan masa lalu.

"Dulu itu, meskipun teknologi masih belum canggih, tapi banyak memiliki keistimewaan dibanding zaman sekarang," ucap sang ibu sambil menatap jalan depan toko.

Rohman terdiam. Kemudian timbul sedikit rasa penasaran.

"Kayak apa Bu?" tanya Rohman

"Dulu itu, semasa ibu masih muda, silaturrahmi antar tetangga dan kerabat masih sangat kuat. Tak peduli jarak rumah yang jauh, perbedaan usia dan kasta, semuanya saling berbaur satu sama lain. Nggak ada gengsi, baper-baperan, atau merasa lebih hebat dibanding yang lain," jelas Ibu Rohman panjang lebar.

Hening. Sampai jam sembilan malam, tidak ada satu pun pembeli yang datang. Malam semakin larut. Tetangga depan toko sudah menutup gerbang dan mematikan lampu. Tanda hendak istirahat.

Jam sepuluh malam, Rohman dan ibunya memutuskan untuk menutup toko. Setelah berbenah dan mengemasi barang yang akan dibawa, dengan cepat Rohman dan ibunya menutup toko langsung pulang. Tak lupa lampu depan toko dinyalakan.

Suasana sepanjang depan rumah (Tanean Lanjhang) tampak sepi. Dari 6 rumah yang berjejer dari ujung barat sampai timur, semuanya sudah menutup pintu. Mungkin sudah istirahat semua. Atau mungkin masih sibuk i'tikaf di depan TV masing-masing. Sementara itu, ibu Rohman kembali terdiam dan kembali bercerita.

"Kalau dulu nggak kayak gini. Dulu jam segini masih ramai. Ya, orang-orang ngumpul di depan halaman sambil jagongan. Ada yang cerita-cerita, ada yang main kartu, ada yang ngupas kulit jagung, macem-macem deh pokoknya," ujar ibu Rohman.

"Sekarang sudah canggih Bu. Setiap rumah sudah ada TV. Apalagi sekarang juga ada HP dan internet, jadi ya sibuk sendiri-sendiri," balas Rohman.

"Kamu benar. Memang ada sisi positif dan negatifnya masing-masing,"

Lalu keduanya masuk rumah. Sang ibu sibuk di dapur dan Rohman sibuk memainkan HP nya. Begitu membuka WA, ternyata banyak pesan yang belum dibalas, juga banyak tugas baru yang berdatangan. Untung besok adalah hari minggu. Jadi ada banyak waktu luang untuk mengerjakan tugas.

***

Hari masih pagi. Tetangga barat dan timur tampak sibuk membersihkan rumah dan halaman masing-masing. Ada yang menyapu teras rumah, ada yang mencabut rumput, dan ada yang memangkas batang pohon. Semuanya terlihat begitu semangat.

Sebelum menyentuh tugas dan mengeksekusinya dengan serius, Rohman masih duduk santai di depan rumah. Mengingat kembali cerita ibunya semalam. Kemudian membayangkan masa lalu itu kembali terjadi. Mungkin tidak akan ada orang yang sibuk sendiri dengan hpnya, tidak akan ada juga streaming youtube, tidak ada live IG, juga situs-situs porno berkeliaran yang seringkali memicu hawa nafsu. Ah, betapa eloknya kehidupan tanpa kemaksiatan.

"Lagi ngapain?" Tanya Pak Parman yang kebetulan melintas hendak berangkat kerja.

"Ini lagi nyantai, Pak" jawab Rohman sekenanya.

Pak Parman hanya tersenyum. Ia terus berjalan ke arah barat sambil membawa tas hitam yang entah berisi apa. Tatapan Rohman masih tertuju pada Pak Parman. Melihat pakaiannya yang ala-ala PNS, bersepatu hitam, dan pastinya wajib bermasker dengan alasan menjaga kesehatan. Hingga kemudian Pak Parman menghilang ditelan tikungan.

Tak lama dari itu, HP Rohman bergetar. Sebuah pesan masuk dari salah satu teman kuliahnya. Namanya Abdul. Sudah bisa ditebak, isi pesannya adalah peringatan terkait rapat yang akan dilaksanakan sepuluh menit lagi. Rapat kali ini membahas tentang persiapan menyambut bulan Ramadan.

"Oh iya, hampir aja lupa," batin Rohman.

Rohman langsung beranjak. Mengambil laptop di kamar lalu menuju ruang tengah. Niatnya untuk menyelesaikan tugas kuliah pupuslah sudah.

Tiba-tiba saja, di ruang tengah sudah terhidang pisang goreng hangat hasil kreasi ibunya. Tak tahu kenapa, pisang goreng buatan ibu memang selalu juara. Beda dari yang lain.

Percakapan di group WA terkait rapat sudah ramai. Dengan cepat Rohman membuat link rapat dan mengirimkannya ke group. Seketika banyak respon yang berdatangan dari anggota.

"Santai sek gaes, masih mau manasin sepeda,"

"Ayo ndang rek. Cepet mulai, cepet selesai,"

"Lek kesusu, budal o wingi, Bro"

Rohman tersenyum membaca respon teman-temannya. Hingga kemudian sang ibu datang dan duduk di sampingnya.

"Lagi ngapain, Nak?" Tanya ibu Rohman dengan lembut.

"Ini Bu, lagi rapat persiapan program kerja di bulan Ramadan," jawab Rohman.

Sejenak sang ibu terdiam. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam kepalanya.

"Sekarang semuanya sudah serba canggih. Nggak bisa ketemu langsung, bisa diatasi dengan forum WA atau yang lain. Tapi anehnya, jarak yang semakin dekat dengan teknologi nggak sepenuhnya bisa mempererat silaturrahmi. Justru kadang malah menjauhkan yang dekat dan tak terlalu mendekatkan yang jauh," jelas Ibu Rohman spontan.

Rohman mendengarkan penjelasan ibunya. Dalam hati ia ikut membenarkan. Namun di sisi yang lain, Rohman juga merasa geli dengan pernyataan ibunya yang cukup kritis dan menohok. “Ternyata ibu sampai berpikir ke sana,” batin Rohman. Sementara itu, peserta forum rapat masih terus masuk secara bergantian.

"Dulu itu, nggak ada HP dan sejenisnya. Jadi kalau mau tanya kabar atau silaturrahmi, harus datang langsung ke tempat atau dengan cara berkirim surat. Jadi nggak ada yang namanya ranah privasi bisa terbuka ke ranah publik. Nggak ada ceritanya aib terbuka ke khalayak. Karena selain nggak ada media, juga orang-orang dulu lebih mengedepankan akhlak," tambahnya.

***

“Kenapa ya kok toko sering sepi?” tanya Ibu Rohman membuka percakapan.

Rohman tak langsung menjawab. Pikirannya masih berputar mencari jawaban yang tepat dan memuaskan.

“Mungkin, selain banyaknya pesaing yang juga buka toko seperti kita, faktor hadirnya toko online yang sudah ramai dengan segala kemudahan dan daya tarik yang ditawarkan,” ucap Rohman menjawab kegelisahan ibunya.

Sang ibu terdiam. Dalam hati membenarkan apa yang baru disampaikan anaknya.

“Hmm..iya ya, sekarang memang sudah musimnya serba online. Nggak beli makan, beli baju, beli buku, orang-orang tinggal pencet dalam satu kali genggaman. Lama-lama nih ya, prediksi ibu ke depan, nikah online pun bisa saja disahkan,”  

“Wah bahaya tuh Bu kalau sampai terjadi,”

“Makanya, di zaman serba mudah seperti sekarang, yang paling penting menurut ibu adalah pendidikan dalam memanfaatkan teknologi. Terutama terhadap generasi-generasi selanjutnya. Sebab kecanggihan teknologi saat ini, menurut ibu loh ya, lebih kuat mengarah ke sisi negatif dibanding positif. Orang lebih suka main game dibanding baca buku versi PDF, orang lebih suka nonton film dibanding berkarya, dan lain sebagainya. Bukannya ibu mau melarang, tapi paling tidak ada batasan agar fenomena seperti itu tidak menjerumuskan,” jelas ibu Rohman.

Tak disangka, jawaban ibu Rohman sampai sepanjang itu. Rohman yang dari tadi rajin mendengarkan sampai kewalahan mau merespon seperti apa.

“Ya semoga saja, presiden baru mendatang bisa mengaplikasikan apa yang ibu maksud tadi,”

“Hahaha. Semoga saja ya,”

Satu pembeli datang. Percakapan itu pun selesai. 

*****

Penulis adalah pegiat literasi yang berasal dari Kota Sumenep


    

POSTING PILIHAN

Related

Utama 6731608832041005491

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item