Aku, Soe Hok Gie dan Demonstrasi

 


Cerpen: F. Hidayat


Di sekitar bulan September hingga Desember tahun 2020 lalu, lini media massa di Indonesia dipenuhi pemberitaan terkait penolakan Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja atau Omnibus Law. Banyak dari berbagai pihak yang terlibat dalam penolakan ini, dan yang sudah tentu terlibat adalah dari kelompok Mahasiswa, kelompok yang telah menjadi agen kontrol pemerintahan dari masa ke masa.

Aku Aji mahasiswa semester 3 yang suka memakai jaket kumal dan celana bolong. Teman-teman biasa panggil aku dengan sebutan "Gie", karena aku adalah penggemar berat Soe Hok Gie aktivis 66 dan awal orde baru, yang menjadi ikon idialisme di masanya.

***

Pagi-pagi, tepat pukul 07.29 aku bersama kawan-kawanku kembali mengepung kantor Dewan Perwakilan Rakyat. Kali ini aku mengawal soal kenaikan harga BBM. Sudah kusiapkan mobil komando, dan aku perintahkan berjalan mundur, memposisikan pengeras suara tepat di gerbang utama.

"Turunkan harga BBM, turunkan rezim kriminal" teriakku di atas mimbar orasi, sambil membayangkan menjadi seorang Soe Hok Gie sang orator ulung. Tak kusangka teriakan itu diikuti oleh tepuk tangan seluruh massa aksi.

"Turunkan!, turunkan!," teriak massa aksi membakar semangat.

Tiba-tiba aku teringat, waktu di teras rumah bambu rakitan ayahku sambil membaca buku "Catatan Seorang Demonstran" aku temui diksi hangat "Kaum intelejensia yang terus berdiam di dalam keadaan yang mendesak, telah melunturkan semua kemanusiaan". Semangatku bertambah, aku kembali berteriak sekuat tenaga.

Satu jam sudah aku berorasi, aksi sudah mulai memanas, lempar batu, tarik kawat berduri, bahkan membakar ban sudah terjadi. Semuanya marah karena tak ditemui Dewan. Api menyeruak dan menjalar ke lorong-lorong halaman gedung DPRD, tak mampu dibendung lagi, pagar dan gerbang utamapun sudah hangus terbakar.

Pasukan pengaman yang semula berjejer pas di belakang gerbang, pindah memposisikan diri agar aman dari serangan api. Sebanyak 5 mobil pemadam kebakaran dikerahkan. Namun tak ada satupun bangunan yang bisa diselamatkan. "Bhiarrr" seketika tembakan peringatan menghujam.

"Jangan mundur! Jangan mundur massa aksi!" Aku berteriak lebih kencang. Tiba-tiba suara bising itu ku dengar kembali. Lagi-lagi bunyi senapan, hingga halaman semerbak mesiu. Aku sudah tidak mampu lagi membendung amarah pasukan pengaman. Akhirnya Alvin teman karibku sejak SMA menggantikanku berorasi.

Alvin memulai orasinya dengan nyanyian Buruh Tani. Kira-kira bengini liriknya

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
Bersatu padu rebut demokrasi
Gegap gempita dalam satu suara
Demi tugas suci yang mulia

Hari-hari esok adalah milik kita
Terciptanya masyarakat sejahtera
Terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa orba


Nyanyian itu belum usai, tiba-tiba pasukan pengaman meluncurkan gas air mata.
"Gie, pasukan kita tarik mundur, aku sudah tidak kuat lagi" ucap Alvin meringkih. Lalu sigap aku perintahkan massa aksi untuk mundur. Buyar sudah, mereka pulang berpencar-pencar.

Malam hari sepulang dari lokasi demonstrasi, aku bersama Alvin kembali memikirkan strategi. Tak lama, kemudian si Retno teman sebangku datang membawa informasi. Katanya, banyak orang menilai munculnya berbagai bentuk anarkisme yang dilakukan dalam aksi kami merupakan bagian dari strategi pihak tertentu untuk mendelegitimasi pemerintah dan dimaksudkan untuk menaikkan eskalasi perlawanan. Karena jika eskalasi isu ini meningkat, secara lokal, bahkan nasional maka tentu akan memberikan perhatian.

"Jadi diciptakan satu gimmick ada bentrokan, ada goyang-goyang pagar, ada bakar ban dan vandalisme. Sehingga aksi protes ini menjadi viral, eskalasi isunya kemudian naik, menjadi perhatian begitu banyak orang. Begitu kata orang-orang tadi di pasar, Gie, Vin" lanjut Retno bercerita lebih serius.

"Tak perlu lah kita tanggapi terlalu serius soal itu Ret. Toh kita juga tidak memiliki maksud lain kecuali membela rakyat" ucapku menengahi.

"Iya benar Ret. Kamu kan sudah mengerti. Tidak perlu terlalu dipikirin. Urusan tunggang-menunggangi sudah biasa. Yang penting kita tanamkan niat, berjuang demi keadilan" kata Alvin sok bijak.

"Oke lah, lanjutkan saja" kata si Retno menyunggingkan senyum.

Sejak malam itu, kami bertiga bersumpah tak akan mundur, dan tak akan mengkhianati. Semalaman kami susun rencana, mulai dari surat pemberitahuan aksi, titik kumpul, pembacaan tuntutan, hingga rencana tempat evakuasi jika aksi kita nanti chaos.

Pukul setengah lima pagi baru selesai kami bicarakan semua itu. Kami sepakat lusa akan menggelar aksi lanjutan. Setelah usai, aku bergegas pulang bersama Alvin, bermaksud istirahat baragkali se-jam saja.

Baru saja badanku berbaring, gawai putih di saku celana berbunyi "kring, kring, kring". Aku paling tidak suka mengangkat telepon di pagi hari. Tapi entah, waktu itu tanganku berkeinginan mengangkatnya. Ketika dilihat, ternyata ibuku dari kampung memanggil. "Nak, segera pulang, bapakmu sakitnya semakin parah" suara ibu sayu. Tak sempat ku jawab, langsung aku matikan telepon itu.

Di depan pintu kamarku, Alvin sudah berdiri, baragkali dia sudah mendengar semuanya. "Vin, hari ini aku harus pulang, bapakku sakit, sudah parah. Maaf aku harus mundur, aku harus berkhianat". Ucapku. Sejak itu Alvin tak pernah menghubungiku lagi.

**********

F. Hidayat adalah mahasiswa aktif STKIP PGRI Sumenep, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Aktif berkegiatan di Lembaga Pers Mahasiswa Retorika, Komunitas Sastra 3 Indonesia, dan Kampung Pentigraf Indonesia. Beberapa karyanya telah dibukukan di antologi bersama, antara lain Takziah Bulan Tujuh (Obituari untuk Sapardi), Hari-hari Huru-Hara, Nama-nama yang Dipahat di Batu Karang.


POSTING PILIHAN

Related

Utama 2489059143132089670

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item