Variasi Kalimat Dalam Pentigraf

Buku Pentrigraf karya Lilik Rosida Irmawati

Tengsoe Tjahjono

Kalimat merupakan elemen penting dalam penulisan pentigraf, lebih-lebih pentigraf hanya terdiri atas 3 paragraf. Keindahan pentigraf bukan hanya ditentukan oleh kelengkapan elemen narasi (alur, tokoh, dan latar yang berkelindan membangun dan mendukung tema), tetapi juga ditentukan oleh efektivitas penyusunan kalimat.

Pola kalimat yang tidak bervariasi membuat ekspresi pentigraf itu monoton, sangat tidak menarik. Misalnya pentigraf berikut ini.

Perjumpaan

Herman hidup sendiri sejak bencana air bah itu melanda kampungnya. Herman kehilangan kedua orangtuanya dan seorang adiknya. Herman tidak memiliki harapan lagi bertemu keluarganya itu. Herman sudah pasrah.

Herman itu pemuda yang rajin. Majikannya sangat menyayanginya. Kebetulan majikannya tidak memiliki anak. Herman diserahi mengelola penggilingan padi miliknya. Hanya Herman terus bersedih selalu ingat keluarganya.

Suatu hari Herman pergi ke kota. Majikannya memintanya menagih pinjaman ke sebuah toko di pasar. Herman pun kelaparan karena sudah siang. Herman pergi ke warung. Herman terkejut sebab pemilik warung itu mirip ayahnya. Pemilik warung itu juga terkejut. Mereka berpelukan sebab mereka sadar bahwa telah berjumpa keluarga yang dicari. Ibu dan adiknya juga sehat walafiat. Herman sungguh bahagia.

Sebagai sebuah cerita pentigraf tersebut sudah memenuhi syarat, walaupun akhir cerita masih terkesan dipaksakan. Akhir yang dipaksakan seperti ini masih sering saya temukan. Ujung-ujungnya terjebak pada cerita yang dibuat-buat dan tidak masuk akal.

Lebih dari itu pentigraf tersebut disusun dengan memakai pola kalimat yang tidak bervariasi. Akibatnya, pentigraf itu menjadi monoton, tanpa riak, apalagi gelombang, tidak menarik. Mari kita coba revisi pentigraf itu.

Perjumpaan

Semenjak bencana air baih melanda kampungnya Herman hidup seorang diri. Kedua orang tua dan adiknya lenyap entah kemana dalam kepanikan saat itu. Masihkah ia boleh berharap bertemu mereka? Rasanya kecil sekali harapan itu ada. Mungkin ini takdir, Herman pasrah.

Dia masih 17 tahun saat itu. Tetapi, dia tidak mau menyerah karena musibah. Akhirnya dia bekerja di sebuah penggilingan padi. Alhamdulillah, majikannya sangat baik. Majikannya itu sangat menyukai kerja Herman yang selalu beres dan tidak malas. “Aku sudah tua, kelolalah penggilingan padi ini. Kamu telah kuanggap sebagai anakku sendiri,” kata majikannya yang sampai usia tua tidak dikaruniai seorang putra. Hanya kadang-kadang kebaikan sang majikan tidak bisa menghiburnya manakala ia rindu kepada ayah, ibu, dan adiknya.

Suatu hari Herman pergi ke kota. Majikannya memintanya menagih pinjaman ke sebuah toko di pasar kota. Karena banyak toko yang harus dikunjungi, rasa lapar pun menyerang perutnya. Herman pun melesat ke warung nasi terdekat. Untung saja warung itu agak sepi. Saat ia memesan makanan, matanya terpaku pada penjualnya. “Benarkah Bapak ini Pak Sudi?” Lelaki itu pun terkejut. Dia melihat anak yang dicarinya berdiri di depannya. Ia pun menjerit meneriakkan nama Herman. Hanya istri dan anak bungsunya tak diketahui rimbanya.

Nah, saya mencoba mengubah pola kalimat pentigraf itu serta mengubah pula ending cerita. Variasi kalimat membuat pentigraf itu terasa tidak monoton. Sedangkan, ending cerita saya ubah agar lebih logis dan tidak terkesan dibuat-buat.

Selamat menulis.
Tengsoe Tjahjono, Penemu Pentigraf



POSTING PILIHAN

Related

Utama 906761327430597415

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item