Suatu Hari di Pesantren Tuffahul Ulum

Pengajian santri (sumber gambar: google.image)

M. Faizi

Pagi hari Kamis
 
Para santri masih ada di dalam bilik masing-masing. Sehabis shalat berjamaah Subuh dan mengaji Alquran, anak-anak kembali ke kamar. Ini pemandangan tidak biasa. Memang, sebagian dari mereka sudah naik kembali ke surau dengan kitab irsyadul iBad dalam dekapan. Namun, sebagian yang lain, mungkin karena cuaca, memilih ngumpet di dalam.
 
Tiba-tiba, terdengar suara Gaffar, lalu suara gedoran.
“Naik, naik, naik.. Irsyaaaad…”
Satu-dua kepala nongol dari balik daun pintu. Ada yang keluar dan langsung naik ke surau, ada seseorang yang justru menutup pintu dari dalam.
* * *
“Pe’ mana?” tanya Hambali.
“Tanbihun…” jawab Zaki.
“Iya, tapi tanbihun yang sebelah mana? Tanbihun-nya banyak banget soalnya.” Hambali bertanya lagi.
“Loh, kemarin kamu ngaji, nggak? Ya, tanbihun yang itu, yang terakhir.”
“Halaman berapa?”
 
Kelihatannya, Hambali memang sengaja mempermainkan Zaki. Merasa diolok-olok oleh pertanyaan yang menyebalkan, Zaki pun mengurusnya secara detil agar Hambali tidak bertanya lagi, siap untuk mengaji.
“Kitab Irsyad-mu terbitan Mahkota apa terbitan Nur Asia? Kalau terbitan Nur Asia, tanbihun-nya itu ada di halaman 94, yang bunyi lanjutannya itu lho… qad naqala Al Qurthubi fi tafsirihi…
“Oh, biar kucari. Maaf, ya, aku pakai PDF Reader soalnya, Mas,” balas Hambali cengengesan lalu mulai membuka kitabnya sambil mengusap-usap layar selebar 9,7 inci, gadget barunya.
 
Anak-anak menunduk. Kitab mulai dibuka, mulai dibaca. Tiba-tiba, anak-anak gaduh. Terdengar suara riuh. Gaffar melarang, anak-anak kembali tenang. Rupanya, Kiai Amang tak ada di surau itu. Kehadirannya diwaklili oleh wajah beliau di tembok yang kini menjadi layar. Suaranya terdengar di seluruh surau.
 
Dari gambar di tembok putih surau yang dipancarkan oleh proyektor LCD gantung, wajah kiai Amang kelihatan. Beliau tampak sedang membaca kitab dengan latar marka jalan yang bergerak di balik kaca belakang mobilnya yang berjalan. Rupanya, saat itu Kiai Amang masih sedang dalam perjalanan menuju undangan. Atas bantuan—mungkin—Skype dan koneksi internet yang bagus, pengajian Irsyadul iBad pagi itu tidak diliburkan. Menurut Gaffar, kiai akan kembali sore nanti.
 
Beberapa menit kemudian, tiba-tiba suara kiai menghilang. Gambar statis. Santri menduga, sinyal terganggu sehingga streaming tersendat. Ternyata tidak, kiai melakukan jeda untuk bertanya, sejenak menghentikan pembacaan kitabnya.
 
Khatimatun, fi Shilatir rahmi… Eh, Hawi ke mana?”
 
Semua santri diam. Sebagaian saling toleh. Hawi tidak ada di antara mereka. Anak-anak menduga, barangkali Hawi masih bersembunyi di dalam biliknya. Maklum, Hawi adalah santri pindahan, dan masih baru. Orangtuanya berharap banyak pada Kiai Amang agar Hawi dipantau secara khusus agar tetap kerasan di pesantren itu. Soalnya, Hawi sudah merasa tidak betah di pondok asalnya, Ponpes "Nawafidz". Kata sang ayah, di Nawafidz banyak hacker-nya. Maka, atas saran temannya, ayah Hawi memindahkannya ke Tuffahul Ulum asuhan Kiai Amang.  
 
“Hawi ada di kamar. Sakit kepala katanya,” Ini suara dari Gaffar.
“Masa? Tadi saya lihat dia ikut berjamaah Subuh, kan?”
 
Kali ini tak ada jawaban. Semua santri terdiam. Kiai Amang pun tidak mengusut lebih dalam. Santri-santri pun kembali melihat ke dinding surau, mengikuti pengajian kitab. Kiai Amang pun melanjutkan: “Akhraja as-Syaikhanu ‘an Abi Hurairata qaala…
* * *
Betul seperti yang dikatakan Gaffar, Kiai Amang datang menjelang azan Maghrib. Maklum, malam itu adalah malam Jumat. Kiai Amang biasanya selalu berusaha berada di rumah sebelum azan Maghrib berkumandang, tentu jika hal itu mungkin dilakukan. Malam Jumat adalah malam liburan bagi santri. Mereka akan membacakan puisi-puisi terindah untuk Nabi, puisi Addayba’i diiringi dengan musik hadrah.
 
Sehabis mengimami shalat berjamaah Maghrib dan anak-anak sudah melakukan pembacaan Yasin dan tahlil bersama, Kiai Amang memanggil Gaffar.
“Far…”
“Iya.”
“Tadi pagi kamu tidak lupa sediakan sarapan untuk Pak Toni?”
“Sudah.”
“Tapi kamu tidak beli di S7 03 40,6 E113 42 54,7, kan?”
“Tidak, yang di sana terlalu kental. Mas Toni ndak suka. Tadi saya pesankan soto di S7 04 07,1 E113 40 26,9!”
 
Kiai Amang diam sesaat. Ia menatap wajah Gaffar lekat-lekat.
 
“Gaffar, soal Hawi, kenapa kamu bilang sakit kepala tadi pagi sewaktu dia tidak naik ke surau dan tidak mengaji?
“Dia bilangnya begitu.”
“Ah, tapi mengapa kamu menyuruhnya pergi dan terbukti dia mau, kan?”
 
Gaffar Diam. Ia terkejut, lalu menunduk ke tanah. Apa yang disampaikannya kepada Kiai Amang tadi pagi lewat Skype di surau itu mulai tampak bolongnya.
“Anak-anak itu kalau memang tidak mau mengaji karena sakit kepala, ya, nggak apa-apa,” sambung Kiai Amang. “Tapi jangan biarkan mereka berbohong.”
“Soalnya dia bilang begitu ketika saya bangunkan.” Gaffar berkelit mengajukan alasan.
“Iya. Tapi kamu suruh Hawi pergi ke S7 02 27,0 E113 41 31,4 dan dia berangkat, kan?
 
Air muka Gaffar berubah. Ia kini sadar, apa yang dirahasiakannya terbongkar sudah. Memang, karena tadi ia capek, ia menugaskan Hawi untuk membeli gorengan bulud ke sebuah warung di kordinat tersebut, di Ganding. Bulud merupakan kegemaran Pak Toni, tamu Kiai Amang yang datang tadi pagi.
 
Gaffar masih tertunduk. Dari pikirannya berloncatan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya; mengapa Kiai Amang bisa tahu kalau Hawi itu saya suruh membeli bulud untuk Pak Toni, ya? Apakah Kiai Amang punya ilmu terawang, atau ilmu titen? Atau, jangan-jangan Kiai Amang sudah membenamkan sekeping chip di dalam tubuh atau pakaian si Hawi sehingga kordinat-nya bisa diketahui? Ilmu terawang atau Syaikh Garmin?
 
“Iya, sudah! Sana kembali.”
Gaffar mengiyakan lalu membalikkan punggungnya.
 
Malam Jumat itu, anak-anak kembali merayakan malam liburnya dengan pembacaan puisi shalawat nabi. Mamat mengambil peran sebagai hadi, alias lead vocal-nya, sementara Muhsi dan Hamdan pada korbiyan; Suhdi dan Naufal masing-masing pada pecca’an dan budu’an. Lima tablet berwarna keperakan dibagikan untuk kelima personel. Aplikasi hadrah yang telah dijalankan di gadget dengan layar sentuh 9,7" itu hanya membutuhkan satu jari telunjuk dengan sedikit sentuhan saja untuk memainkan irama yahum, rampas, ataupun maténnu' sebagai variasi pukulannya.
 
Malam itu, lagu “Marhaban Bik” dari lagu Ahmad bin Ta’lab dimainkan. Dengan dukungan pelantang Shure dan koneksi audio nirkabnel Jabra, hadrah mengalun dari empat speaker Peavey yang terpasak di empat sudut surau. Amplifier-nya buatan Kiai Soklancar, kuat dan jernih. Watts-nya sih tidak seberapa. Namun, sentuhan Asma’ Daud yang ditanamkan di dalamnya itulah yang membuat kabinet ampli sejenis Hughes and Kettner ataupun Marshall menjadi tidak berdaya.

Smber tulisan : M.Faizi


POSTING PILIHAN

Related

Utama 7776396749842294069

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item