Aubade Kesedihan


Cerpen: Ita Puspita Sari,


Dari bilik parkiran, aku melihat ibu mengemban baju-baju dalam kardus, disusul kakek nenekku. Tiba-tiba rumah ramai tak seperti biasa. Apa mungkin ada hajatan? Tapi sebelumnya ibu tak memberitahuku. Setidaknya kalau memang benar ada hajatan kecil-kecilan, aku tak akan diizinkan ke luar bermainan di siang bolong ini. Tapi aku melihat ibu pergi dari kerumunan orang-orang. Punggungnya bergetar. Tanpa sedikitpun menoleh ke rumah itu lagi. Rumahku, yang terlihat lebih suram dari sebelumnya.

Aku yang tengah asik bermain petak umpet bersama sekawananku, akhirnya memilih  menyerahkan diri pada si kucing pencari. "Ha! Ketemu!", serunya. Tanpa menghiraukan gertakan kemenangannya itu, aku hanya diam menyisir kebingungan, tak melepas pandang ke arah punggung ibuku yang semakin jauh berjalan. Entah mau ke mana. "Mau ke mana ibumu?", tanya temanku. "Tidak tahu." aku menjawab sekenanya. "Coba panggil, dan tanyakan."

"Ibu..!! Mau ke mana??"
Aku berteriak dengan kepolosanku dari kejauhan.

Akhirnya ibu mendengar suaraku, ia menoleh. Pudar segala kebahagiaan seketika, saat mendapati muka ibu memerah, matanya bengkak, dan bekas tangisnya tak bisa ditutupi dengan senyum yang biasa dibuat-buat. Hatiku seperti tersandung batu kecil, membuat luka lumayan nyeri di dalamnya. Tanpa kusadari bahwa akan ada batu-batu lebih besar lagi yang akan menghambat jalanku selanjutnya. Pemandangan itu tiba-tiba membuat perasaan gelisah, tanpa kumengerti apa yang tengah terjadi di rumah.

"Ibu mau ke rumah kakek nenek sebentar." Jawabnya, pun dengan suara bergetar. Memalingkan wajah seraya mengusap air mata dengan jilbabnya. Air mata yang lagi-lagi tak bisa disembunyikan dari pandanganku.

Sebenarnya, ini bukan pemandangan yang baru pertama kali kulihat. Jauh dari sebelum kejadian ini, aku sudah sering melihat ibu menangis, bahkan di depanku, ketika bapak membentak atau memukulinya. Kerap kali aku menyaksikan percekcokan mereka dengan mata kepalaku yang masih balita. Aku hanya diam. Mungkin mereka menganggap aku belum sempurna bisa merekam kejadian dan perkataan-perkataan menyakitkan dari masing-masing lisannya. Anak umur tujuh tahun ini tak ubahnya kertas kosong penuh hitam coretan-coretan, menyimpan suram kejadian-kejadian. Dengan sekuat tenaga aku membendung tangis, ketakutan luar biasa berbunyi nyaring di dada. Bukan lagi detak jantung yang bersuara, tetapi layaknya tebing yang tak henti-hentinya dihantam badai ombak takdir.

Kerap kali aku jatuh sakit, membuat surat perizinan semakin banyak di absensi sekolah. Tubuhku lemah, perut sakit dan muntah-muntah. Entah ada apa dengan diriku? Dibawa periksa ke mana-mana, tak kunjung sembuh juga. Dari dokter terdekat hingga yang jauh sekalipun, tiada obat yang bisa mengembalikan kebugaran pada tubuhku. Padahal yang kubutuhkan hanyalah kedamaian keluarga. Bukan dokter. Apa lagi obat-obatan.

Dengan keadaanku yang sakit-sakitan ini, mereka tetap tak bisa mengerti juga. Mereka kira, sakit yang kerap kuderita, hanyalah sakit biasa. Disebabkan virus atau barangakali cuaca. Padahal penyakit ini tumbuh dari sebab ketertekanan batin dan pikiran. Di mana anak tujuh tahun yang seharusnya asik belajar dan bermain, kini selalu berhadapan dengan tungku panas api keluarganya.

Hari ini, ternyata api itu semakin gagahnya menyala, gejolaknya tidak hanya dirasakan aku seorang, tetapi saudara-saudaraku juga turut merasakan. Aku sangat malu atas pandangan teman-temanku. Aku sangat malu atas pandangan tetangga-tetanggaku. Terlebih bagaimana nanti aku harus berusaha menutup telinga demi tidak mendengar gosip atau olokan dari mereka. Kini aku mengerti, ternyata dugaan dan ketakutan ini benar-benar terjadi.

Lihat, tak ada yang bisa menunjukkan kesenangan dalam keadaan kacau. Permainanpun terpaksa dihentikan. Aku pamit kepada teman-teman untuk pulang dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Di rumah, bapak duduk di kursi, berhadapan dengan Pak Apel Hasan, tidak lain untuk mengurusi perceraian. Dalam suasana tegang, aku menghampiri bapak seraya duduk di pangkuannya. Seperti biasa bapak langsung memelukku, lebih erat dari biasanya. Aku yang tak nyaman dengan suasana tegang ini, memilih diam dengan harapan-harapan nihil. Selanjutnya, bapak membawaku ke rumah ibu, pun diiring oleh Pak Apel Hasan. Perasaanku campur aduk, antara senang karena kupikir bapak akan menjemput ibu, atau sedih karena takut melenceng dari segenap harapan yang kupupuk dan kusiram sepanjang perjalanan.

Tiba di rumah ibu, aku sama sekali tak mengerti atas apa yang tengah mereka bicarakan. Kemampuan otakku hanya bisa menangkap ketegangan demi ketegangan, suram keadaan, menggumpal kabut di mata mereka. Tiada gambar kebahagiaan di masing-masing wajah bapak ibuku. Ada apa ini? Mau apa pak Apel Hasan membuntuti kami ke mari?. pertanyaan-pertanyaan penuh di kepala. Akhirnya selesailah perkara. Pak Apel Hasal dan bapakku beranjak pergi. Aku diajak pulang. Tapi ibu? Kenapa ibu tetap tinggal?. Buru-buru aku digendong oleh bapak. Tak sempat bertanya bagaimana kehidupan keluarga kita kelak?

Malam ini, aku tidur hanya berdua dengan bapak. Tetap dengan kebingungan-kebingunan yang mengasuhku. Sungguh aku tak berani bertanya. Hanya bisa mengira-ngira, perihal kejadian yang terus membadai di dadaku kini. Selepas bangun, tiada ibu untuk membuatkanku sarapan. Bapak hanya membelikan nasi ke warung. Tanpa ia tahu, bahwa aku lebih nikmat memakan masakan ibu. Suasana menjadi lebih sunyi. Terlebih perasaanku. Kosong sekali. Bangun dari tidur tiba-tiba harus menghadapi kenyataan bahwa orang tuaku sudah bercerai. Bagaimana dengan besok? Lusa? Hingga hari-hari selanjutnya. Di mana duniaku hilang pijar pelita.

Keesokan harinya, ibu datang. Aku senang sekali. Lagi-lagi mengira ibuku akan selamanya kembali. Ternyata tak lebih sekedar menyambangiku, lalu membujukku untuk ikut ke rumah ibu. Aku izin ke bapak. Bapak memperbolehkan, meski hanya satu malam. Akhirnya aku menginap di rumah ibu. Di sana, dengan kesunyian yang sama, tak jarang aku mendapati ibu menangis sesenggukan, barangkali selalu mengingat hari di mana diputuskan perceraian. Entah siapa pemilik hak asuh di antara keduanya?. Aku hanya diseret ke sana ke mari. Semalam di rumah bapak, semalam di rumah ibu. Mondar-mandir. Tuhan, bukan ini keadaan yang kuingin.

Pernah suatu hari, bapak berjanji untuk membelikanku sepeda. Karena dilihat aku baru belajar dan berhasil mengendarai sepeda roda dua. Aku sangat senang dan memberitahu ibu bahwa bapak akan membelikanku sepeda baru. Tapi ternyata keesokan harinya, kakek nenekku yang terlebih dahulu membelikan, demi memancingku agar tinggal di rumah mereka (rumah ibu). Rumah ibu lebih kecil dan lebih sederhana ketimbang rumah bapak. Rumah tanpa kamar, rumah yang dengan susah payah berdiri hanya dari hasil pertanian.

Berbeda dengan rumah bapak, lengkap dengan garasi bermobil. Kebetulan kakek nenekku yang dari bapak, bekerja di Saudi selang beberapa bulan dari semenjak aku dilahirkan. Pengahasilannya begitu mencukupi kehidupan kami. Percuma bagiku, rejeki melimpah tapi kebahagiaan selalu surut di dalamnya. Aku sungguh tak tenang dengan kehidupan yang berantakan ini. Akhirnya, gara-gara umpan kakek nenekku tadi, aku bersedia ikut dan memutuskan untuk tinggal di rumah kecil itu bersama mereka.

Tapi setelah beberapa saat tinggal dan memulai kehidupan baru di sana, ternyata benar, aku mendapati batu-batu lebih besar lagi dihadapan. Sampai aku tak tahu, dari sisi mana lagi aku bisa berjalan? Aku harus menerima kenyataan lebih rumit lagi. Bahwa saat ini, kabarnya bapak sudah menikah dengan perempuan lain.

Perempuan dengan penampilan jauh berbeda dari ibuku. Setiap kali aku diajak bertemu dengannya, ia datang dengan pakaian-pakaian ketat tanpa selembar hijab. Pantas saja bapak suka. Dan ibu ditinggal begitu saja. Anak tujuh tahun ini semakin banyak menyimpan coret-coret hitam di lembaran nasib. Kurasa kenyataan ini sudah cukup menyayat habis lapis-lapis ketabahan. Terlebih ibu. Semakin sering kupergoki ia menangis. Sambil menyuapiku, jatuh air matanya. Sambil mendandaniku, berderai tangisnya. Seakan tiada harapan lain dalam hidupnya, selain diriku.  

Tak jauh dari kabar menyesakkan ini, ibu memutuskan untuk pergi. Mencari penghidupan ke Saudi. Di sisi lain, untuk menyembuhkan kekalutan-kekalutan pilu di hatinya. Terlebih, kakek nenek di sini sangat melarat untuk bisa menghidupi kami. Dengan usia yang sudah senja, tentu akan lebih susah payah mencari uang untuk membeli beras, biaya sekolah, dan segala kemauan-kemauan anak kecil sepertiku yang sudah terbiasa terfasilitasi selama di rumah bapak. Sementara mereka ingin berusaha membuatku betah dan tercukupkan. Agar tidak sekalipun merengek meminta kembali ke rumah bapak.

Tiada cara lain, akhirnya ibu mengambil peran menjadi tulang punggung keluarga kami. Dengan polos, aku langsung menyetujui. Tanpa berpikir panjang, ibu benar-benar pergi dari hadapan. Aku ditinggal bersama kakek nenek. Mereka yang mengasuhku sepanjang waktu.  Di samping asik dengan kehidupan bermain, aku berharap bisa menyembuhkan hal-hal menyedihkan kemarin. Berusaha terbitkan sinau kebahagiaan dari sela hidup yang terlampau suram. Tapi bagaimanapun, coret hitam masa laluku semakin tampak saja, apa lagi saat beranjak remaja hingga dewasa. Semakin hari rasanya duniaku semakin mengecil, dan terus mengecil. 

*****


Ita Puspita Sari, lahir di Sumenep, 01 Januari 2002. Sebagai Mahasiswi aktif di IAIN JEMBER, prodi Bahasa dan Sastra Arab . Puisi-puisinya dimuat di beberapa antologi bersama. Juga dimuat di beberapa media. Saat ini, aktif sebagai petani KALENTENG (Kompolan Kesenian Lenteng). WA: 081998429468, ig: @ipuspitata, e-mail: itapuspitasariii01@gmail.com.





POSTING PILIHAN

Related

Utama 2866018789236310312

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item