Puisi Ridoni, SMA Zainussalim Ganding

 



Ridoni,  lahir di Sumenep, 5 September 2004, kini menempuh pendidikan di SMA Zainussalim Gadu Barat, Kec. Ganding, Kab. Sumenep Prov. Jawa Timur



Pena

Kutulis cerita dengan tetesan lensa
Kuputar jari-jemari demi bintang
Aku ukir semua angan-angan
Kuasah otak demi kebahagiaan
Kamu jadikanku sastrawan
Kamu lukis dunia dalam kertas
Kugenggam bulan untuk malam
Kau tancapkan literasi dalam kehidupan
Semuanya memang penuh dengan perjuangan
Aku anak yang tinggal di pegunungan
Aku anak petani yang kekurangan
Melalui bukit-bukit kuberjalan
Sungai-sungai kuterjang
Aku akan terus berjalan
Meski kaki tertancap duri tajam
Hanya air mata yang menetes dan jatuh ke- telapak tangan
Tapi semangat juang akan terus bagaikan elang
Aku lahir dari dunia kekerasan, tumbuh denga iman
Aku dikekang oleh keilmuan
Pena pernah mengatakan
Kejarlah impian meski pedang menghadang
Musnahkan setan walau jadi setan
Buang kemalasan walau banyak alasan
Karena dunia takkan pernah berhenti untuk berputar



Doa Dalam Sujudku

Tuhanku

Aku pasrah dari sekian usahaku
Dari sudut gelap puing matamu
Menyeruak seluruh nyawa tak berdosa
Menutupi jalan-jalan cahaya

Waktu yang terus berputar,
mengikis alif panjangmu
Tubuh berlumuran nafsu
Melalui kain kafan tiga tali itu
Mengikat dalam bola-bola biru

Tuhanku

Dalam sepertiga malam
Aku buka tiap halaman
Qun fayaqun, dalam syair yang terlontar
Kubaca berulang kali
Sampai aku berhenti untuk bermimpi

Ketika embun menetes di pagi hari
Lembaran baru, seribu cerita yang baku
Dengan syair itu
Tiap sujud tak lagi beradu
Susuk yang berada dalam ragaku, kian Melay



Semangkok Air Mata

Kau termenung dalam keburukan
Mengikat asal usul kebohongan
Lisan yang terus mengumandang
Tanpa harus bertanya bagaimana dan mengapa
Telinga yang dibisiki ketakutan
Dihampiri tanpa tau arti
Begitu kecil pandangan yang kau miliki
Seakan bermacam lubang menelan sebuah citra
Termakan mentah-mentah logisnya dunia
Kini kau berfikir apakah air menetes
Menyebarkan harum bunga mawar?
Ada banyak mutiara menyerba
Menelusuri hati yang kian luka
Termenung seluruh antera
Berfikir membolak balikkan fakta
Bagaimana?
Kebahagian, canada tawa berat kau pikul bersama
Mewadahi embun yang kau lakukan dengan seketika
Hilang karena mulut tak beraroma
Kini hanya tersirat dalam sajak maha karya




Ibu

Hari itu perut yang keroncongan ini berbunyi
Melihat tungku masih belum berasap
Suara tarinya piring tak terdengar lagi
Aroma tumis kangkung tak dapat menyengat hidung kecil ini

Pintu yang tertutup dan lampu masih menyala
Aku terpontang panting mencari bunda
Lengkingan suara demi suara mengisi tiap telinga
 Nafas naik turun disetiap indra

Kutekuk lutut, mengangkat tangan
Apakah ada jalan? Kegelisahan yang kian mendatang
Dibalik gunung muncul matahari bersinar
Para semut berbondong bondong entah kemana

Tapi aku tetap berlari sambil menatap semut itu
Seakan mengasih tanda aku mendekat ke semut itu
Dan gemetar sekujur tubuh menetes air mata
Waktu itu seakan raga telah tiada

Darah mengalir dari bukit itu
Aku merangkak mengikuti alirannya, hingga kulihat gundukan semut itu
Bunda........separuh tubuh yang dikerumuni semut
Terlihat wajah bunda telah luka sambil menghadap kiblatnya
Aku merangkulnya seakan menyuguhkan susu setiap paginya
Aku masih terpontang panting melihat tawa setiap malamnya
Aku angkat dengan sekuat tenaga, air mata membasahi tiap kainnya
Diriku seperti orang orangan sawah yang tidak bisa hidup tanpa bunda




Sang Legenda

Waktu itu seakan tangismu telah tiada
Lelahmu hilangan tanpa suara
Kau merangkak menuju lorong-lorong para penguasa
Redup muka dalam lobang buaya
Demi seusap kapas dalam sakumu
Dan jeritan yang hinggap di telingamu
Tertanam sebercak garis pipi, dalam tawa ambigu

Tersungkur, disingkirkan
Hujan membasahi tubuh yang kedinginan
Gemetar dalam perut kering kerontang
Dengan bau yang hendak datang seakan menyampaikan
Lalu lalang hidup para amabarawa
Membawa segelintir hasyrat tak bernyawa
Menyisipkan percikan percikan lentera
Dalam duka tangan tak berbudaya

Kau rajut satu persatu dengan benang sutra
Kiprah politik berkeliaran dimana mana
Yang ada ditiadakan yang tidak ada diada ada
Melingakar seperti ulara mencari mangsa
Menyulap lilin dalam seribu mantra
Sumpah dilantunkan seakan sudah terbiasa
Kini kata demi kata membunuh makna yang telah ada
Seakan terbayar dengan janji manisnya

Kau hadir dari teriakan dibalik jeruji besi
Menyampaikan perih aspirasi bertubi-tubi
Terkumpul seperti serat serat batang padi
Tapi secangkir kopi susu menjadi obat pemilu hati
Seakan hanya tertusuk kecilnya duri
Padamu yang tak letih menelusuri jalan hitam
Rumah panjang yang selalu kau tempatkan
Pulang, mulutmu hanya sekedar pondasi ocehan
Ketika mata mereka telah tertutupi oleh nikmat kehidupan






POSTING PILIHAN

Related

Utama 2590856321375201301

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item